Feeds:
Posts
Comments

Hari ini saya berencana bekerja menyusun proposal dari rumah. Dalam membuat proposal memang saya lebih nyaman mengerjakan di rumah karena memang diperlukan ketenangan, fokus dan referensi yang banyak melalui googling. Memang harus saya akui menyusun proposal di era sekarang ini jauh lebih mudah karena setiap saat saya bisa mendapatkan referensi dan komparasi yang banyak sekali melalui googling.

Namun sayangnya koneksi internet saya di rumah menggunakan First Media hari ini mengalami gangguan sehingga saat inipun pada saat menulis ini saya terpaksa menggunakan HP Android saya. Saya heran apa yang sebenarnya terjadi dengan FM hari ini. Saya sudah berusaha menghubungi customera service nya melalui telpon namun sayang semua petugasnya lined-up melayani customer lainnya. Cukup lama saya menunggu mendapat antrian namun tak juga kunjunvi dilayani sehingga akhirnya saya memutuskan mengirim email pengaduan ke customer.service@firstmedia.com sesuai anjuran mesin IVR nya FM. Untung juga saya punya nomer HP salah satu boss di FM yang dulu pernah sama2 kerja di Citibank. Dia memang memberi jawaban bahwa sedang terjadi outage di daerah saya tanpa ada janji berapa lama akan diselesaikan.

Saya jadi ingat dengan konsep six sigma dimana hanya boleh terjadi kesalahan atau gangguan dalam layanan maksimum 3.4 kesalahan per satu juta kejadian. Bila dalam bahasa sederhana kira2 maknanya adalah dari satu juta jam layanan maka hanya boleh ada gangguan atau outage sebangak 3.4 jam. Bahasa kerennya adalah 3.4 DPMO (defects per million opportunities). Hal yang saya alami dengan FM ini telah melebihi dari 3.4 jam dan secara total dari kejadian sebelumnya saya yakin masih jauh di bawah satu juta jam layanan FM total untuk saya. Katakanlah satu tahun saya menggunakan FM maka jumlah jam layana. Hanyalah 8,760 jam masih jauh sekali dari satu juta jam. Jelas sekali FM bukanlah Six Sigma provider karena juga beberapa bulan lalu pernah terjadi gangguan sekitar 3 jam juga. Saya sekarang merasakan betapa melelahkan menunggu sambungan internet FM on kembali. Apalagi Bolt! saya kemarin juga habis pulsanya. Saya memang menerima tawaran paket Bolt sebagai pelanggan FM. Namun dengan kinerja FM seperti sekarang saya menjadi ragu menggunakan tawaran bundling tersebut.

Sampai saya akhiri tulisan ini,  internet saya belum ON juga. Menyebalkan sekali.

Ditengah kepenatan saya terlibat dalam kegiatan reformasi birokrasi di negeri ini saya sempat bertandang ke kantor teman baik saya,  mas Irwan Rei, yang menfokuskan bisnis nya di area payroll outsourcing. Mas Irwan ini sebenarnya bisa saya katakan sebagai teman berbagi karena saya banyak sekali mendapatkan lead dari beliau dan kemudian saya kerjakan atau bekerjasama dengannya misalnya beberapa tahun lalu memfasilitasi Coca Cola untuk program revitalisasi brand. Saat pertemuan dengan mas Irwan tsb di awal Nov saya mengungkapkan keinginan saya untuk kembalu ke maqom saya di area strategi dan manajemen perubahan.

Tak sampai menginap,  sore harinya setelah pertemuan pagi hari di kantor mas Irwan,  beliau menghubungi saya bahwa ada sebuah perusahaan yang memerlukan jasa saya memfasilitasi BoD Retreat yakni pertemuan intensif diantara anggota Direksi dipimpin oleh CEO nya. Tentu saya tanggapi dengan senang setelah cukup lama saya tak memfasilitasi Round Table Discussion untuk pimpinan perusahaan. Seneng sekali saya. Dalam waktu singkat saya sudah susun proposal dengan mengacu pada informasi awal melalui percakapan di telpon dan situs resmi perusahaan tersebut. Di jaman ini memang mudah sekali menyusun proposal karena informasi tersebar kuas di internet. Tak ada alsan tak bisa menyusun proposal. Semuanya saya susun dalam format PPT dan kemudian saya PDF kan.

Saya selalu menyusun proposal dengan embel-embel DRAFT for discussion. Standar kinerja yang saya berlakukan kepada diri saya adalah satu minggu setelah pembicaraan harus sudah bisa membuat proposal. Tak perlu akurat karena nantinya akan dibahas dan pasti akan berubah namun tak boleh lebih dari 7 hari kerja. Draftvproposal yang saya susun biasanya berisi:

- latar belakang
- pemahaman thd permasalahan
- tujuan penugasan
- pendekatan dan metodologi
- rencana kerja
- tindak-lanjut
- value proposition

Dengan kerangka yg standar tersebut sangat memudahkan saya untuk memancing keseriusan calon klien. Bila lama tak ditanggapi maka pertanda dia tak serius. Tapi kalau segera ia telpon atau membalas email berarti pertanda serius. Dalam hal ini ternyata saya segera mendapatkan tanggapan dan segera saya tangkap untuk ajak tatap muka. Akhirnya tatap muka dengab CFO dan Divisi SDM segera terlaksana dan beberapa hari kemudian kontrak kerja beres. Yeszzz!

Setiap melakukan RTD untuk levwl pimpinan selalu saja tak ada pendekatan yang standar dan saya sangat serius dan detil sekali mengenai hal ini. Syarat utama yang saya ajukan sebelum tanda tangan kontrak kerja adalah persyaratan yang saya ajukan: saya tak akan mau memfasilitasi bila tak diberi kesempatan wawancara empat mata dengan masing-masing Direktur termasuk Presdir. Setelah saya mendapatkan persetujuan tersebut,  saya baru mau menandatangani kontrak kerja. Saya melakukan hal ini bukan tanpa alasan kuat. Saya gak mau memfasilitasi RTD tanpa memahami masing-masing individu anggota Direksi. Ini wajib ada.

Copas dari milis MD79

Sharing untuk motivasi …

Sebelum Pak Professor akan membagikan soal ujian semester kepada para mahasiswanya, ia mengajukan suatu tawaran istimewa kepada mereka.

Ia berkata, “Siapa yang mau mendapat nilai C otomatis dalam ujian ini, angkat tangan dan kamu tidak perlu mengikuti ujian. Saya akan langsung memberikanmu nilai C”.

Satu tangan terangkat. Kemudian yang lainnya, dan yang lainnya hingga lebih dari setengah jumlah mahasiswa tersebut telah memilih untuk tidak mengikuti ujian itu. Mereka akan menerima nilai C secara otomatis dan mereka pun keluar ruangan dengan gembira karena telah memperoleh syarat lulus ujian minimal nilai C.

Pak Profesor itu kemudian membagikan lembaran ujian kepada mahasiswa yang masih tinggal di ruangan itu. Ia meletakkan lembaran2 soal tersebut di meja dan meminta mereka tidak membaliknya sebelum diperintahkan.

Ia memberi ucapan selamat kepada para mahasiswa tersebut karena mereka tidak mau menerima nilai rata2 dan bahwa mereka bersedia melakukan hal2 yang luar biasa dalam hidup mereka.

Kemudian Pak Professor itu memerintahkan mahasiswanya untuk memulai ujian mereka. Para mahasiswa menemukan bahwa lembaran ujian mereka hanya tertulis kalimat singkat : “Selamat. Anda baru saja mendapatkan nilai A.”

Terlalu sering kita mengambil jalan pintas yang mudah dan menerima keadaan biasa2 saja saat seharusnya kita bisa membangun potensi diri kita.

Kita berpikir bahwa nilai C tidak begitu buruk dan cukup pantas untuk kita peroleh.

Dan Hidup biasa2 saja, tanpa mengeluarkan potensi maksimal dalam hidup kita, merupakan suatu sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan juga merendahkan kemampuan diri sendiri.

Lakukanlah yang terbaik untuk apapun yang sedang menjadi tanggung jawabmu saat ini. Pantang menyerah dan tetap semangat untuk mencapai apa yang sepantasnya kita capai.

image

Tersinggung

Saya lupa tepatnya kapan ketika saya mendengar ulasan AA Gym bahwa bila setiap individu telah berhasil menghilangkan ke”aku”annya maka sebagian besar permasalahan di dunia ini bisa diselesaikan dengan baik dan tak perlu gontok-gontokan mempertahankan pendapat. Salah satu contohnya bila ada orang secara tak sengaja maupun sengaja lewat di depan kita dan bahkan menyenggol kita, bila kita tak memiliki ke”aku”an maka tak mungkin kita merasa sakit hati dengan adanya kejadian ini. Toh, kita juga tak kurang satu hal pun dengan disenggolnya.

Lalu, mengapa orang bisa tersinggung ya?

Ini juga tak lepas dari derajat ke”aku”annya yang terlalu tinggi sehingga bila sedikita saja disinggung namanya untuk suatu hal yang sifatnya masukan untuk perbaikan maka harga dirinya merasa diinjak-injak sehingga ia perlu melakukan pembelaan bahkan dalam beberapa hal justru melakukan serangan balik.  Dalam tulisan saya sebelumnya saya pernah mengatakan bahwa kita tak bisa mengatur bahkan memprediksi bagaimana orang memperlakukan kita. Namun, kita bisa mengendalikan bagaimana kita bersikap terhadap perlakuannya yang mungkin sangat tidak enak bagi kita.

Bila orang sudah merasa tersinggung maka ia akan menggunakan segala daya upaya untuk mepertahankan posisinya, sekurangnya menetralisr bahwa yang dikatakan kurang bagus tentang dirinya adalah tidak benar adanya. Bahkan dalam kondisi tertentu, orang yang tersinggung melakukan pembalasan dengan menyerang kembali pihak yang memberikan masukan dan menyebabkan dirinya tersinggung.

Apakah dengan tersinggung martabat seseorang menjadi naik?

Tidak juga. Pada kenyataannya orang yang tersinggung akan secara defensif mengatakan bahwa yang dikatakan orang tentang dirinya tidaklah benar. Sampai di sini, upayanya untuk mempertahankan dirinya ternyata tak juga mengangkat martabatnya bahkan ada potensi malah membuat martabatnya menjadi jatuh karena secara tidak langsung dia memproklamirkan dirinya bahwa ia tak terbuka terhadap kritik atau masukan orang.

Jadi, buat apa tersinggung?

Itulah dia. Kita harus belajar dari pengalaman Nabi Muhammad yang berniat dakwah di Thaif dan berharap disambut oleh rakyat Thaif namun ternyata malah dilempari batu hingga berdarah-darah kepalanya. Saat itu malaikat menawarkan diri untuk membalas rakyat Thaif atas perbuatan keji tersebut. Apa yang dilakukan nabi yang mulia ini? Beliau justru mendoakan rakyat Thaif agar diberi hidayah. Subhanallah ….

 

Sila

Seorang bijak mengatakan bahwa syarat pertama dan paling mendasar dalam perubahan adalah keterbukaan. Saya rasa ini bukan suatu hal baru karena sudah banyak yang menyatakan hal ini. Tantangannya adalah bagaimana menyikapi hal ini bila pada kenyataannya kita menjumpai orang-orang yang secara sengaja memang sudah tak mau terbuka. Sebabnya bisa macam-macam termasuk merasa sudah nyaman dengan kondisi yang berlaku,  cukup puas dengan hasil yang telah dicapai sehingga tak perlu lagi berubah atau takut melakukan hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Lantas apa hubungannya dengan sila?

Tak ada hubungannya secara langsung antara keterbukaan dengan sila kecuali bila kita mau sedikit merenung. Orang Jawa menamakan dengan “lungguh silo” untuk posisi duduk di lantai dengan kedua kaki ditekuk ke arah dalam atau dalam bahasa Indonesianya “duduk dengan bersila”. Mungkin juga ini bukan bahasa Indonesia yang baik namun justru yang penting adalah pemaknaan dari duduk sejenis ini. Pernahkah Anda merasakan bahwa pada saat duduk dalam posisi ini pikiran seketika menjadi terbuka? Cobalah Anda rasakan dan buktikan sendiri saat ini juga apakah yang saya katakan benar. Ambillah contoh orang yang sedang mengikuti kajian di masjid atau mengikuti kutbah Jumat dimana semua jamaah duduk manis bersila. Coba rasakan bahwa dalam kondisi duduk seperti ini pikiran kita menjadi rileks dan hati kita menjadi lunak seperti bubur sehingga dengan kondisi ini jauh lebih mudah untuk menyerap nasehat dan tausiyah yang disampaikan penceramah atau pengkutbah. Artinya, dengan posisi duduk bersila kita bisa lebih jauh terbuka menerima masukan maupun kritikan.

Kalau Anda sepakat dengan saya dan ingin membiasakan hal ini, maka dampaknya dahzyat. Di kantor2, terutama ruang rapat, kita perlu ganti meja dengan yang rendah dan perlu adanya tikar atau karpet yang menjadi tempat kita duduk. Dengan posisi duduk di lantai kita harapkan peserta rapat bisa berpikir lebih jernih dan ego sektoral bisa luluh berantakan. Dengan demikian maka kesepakatan rapat cepat tercapai.

Masalahnya posisi duduk bersila menyebabkan rasa capai dan bisa berakibat terjadinya fatigue. Tapi tidak masalah, karena rapat bisa berlangsung efektif dan efisien karena tak perlu berlama-lama.

Bagaimana menurut Anda?

Jeda

Suatu ketika saya menelpon seorang kawan melalui ponsel saya dan seketika begitu dia mengangkat telpon, langsung ia berbicara nyerocos tentang apa yang ia lakukan. Memang, saya pada awalnya merasa tersanjung pada awal pembicaraan karena justru ia berterima kasih kepada saya karena salah satu yang pernah saya bahas bersamanya sambil ngopi adalah tentang bagaimana kita harus bersikap bila orang lain memperlakukan kita semena-mena. Sebenarnya ini adalah cerita yang bukan luar biasa namun karena ia baru saja mengalami bahwa ia diperlakukan tak adil oleh lingkungannya, ia langsung ingat saya dan menerapkan jurus-jurus yang pernah saya bahas dengannya. Sebenarnya jurus itu bukanlah dari saya sejatinya karena saya membaca dari sebuah buku yang pada dasarnya bahwa kita tak bisa mengatur bagaimana orang lain memperlakukan kita, namun kita bisa mengatur bagaimana kita bersikap dari perlakuan dia kepada kita. Sayangnya , pembicaraan ini berlarut-larut dan bahkan saya tak diberi kesempatan olehnya untuk berbicara. Akhirnya, tujuan saya untuk menelpon dia dalam hal yang lain tak tersampaikan karena keburu ia sudah mulai dalam agenda sebuah rapat.

Telah begitu banyak buku yang mengulas dan mengajarkan kita bagaimana menjadi pembicara ulung yang bisa memikat puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan manusia yang mendengarkannya. Satu hal yang mungkin sering luput dalam ilmu menjadi pembicara baik adalah jeda. Orang akan bertanya, mengapa jeda diperlukan dalam imu membangun komunikasi yang baik melalui public speaking yang baik. Banyak yang terkecoh dengan hal ini karena sejatinya ahli komunikasi yang handal tentunya harus paling bagus teknik bicaranya. Lantas apa relevansinya dengan jeda?

Jeda padahal amat sangat diperlukan. Hal pertama yang menjadi alasan mengapa jeda diperlukan meski kita sedang bicara adalah terkait meningkatkan self-esteem (citra diri) dari lawan bicara atau pendengar kita. Bila kita menciptakan jeda pada saat berinteraksi dengan seseorang teman maka ia akan merasa dihormati karena kita beri kesempatan untuk menanggapi atau menyampaikan sesuatu. Kedua, jeda juga berfungsi untuk memberikan aba-aba bahwa setiap orang yang mendengarkan kita bicara memfokuskan kembali kepada pembicaraan yang sedang berlangsung. Contoh kongkritnnya bila kita sedang berbicara via mikrofon di depan orang banyak, menciptakan jeda secara sengaja yang menyebabkan pengeras suara berhenti, akan membuat pendengar memfokuskan kepada pembicara. Ketiga, jeda juga punya makna untuk memikirkan ulang mengenai pokok pembicaraan yang sedang kita bawakan di depan umum.

Kita harus membiasakan sikap dengan sengaja menciptakan jeda dalam berinteraksi dengan orang lain sehingga masing-masing pihak merasa diberi kesempatan menyampaikan aspirasinya. Kalau ini sudah biasa kita lakukan, maka kita lebih mudah dan lancar membangun kerjasama dengan orang lain dan membangun tim kerja yang solid.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.