Memanusiakan Bisnis
Apa yang terlintas di benak Anda begitu mendengar kata “bisnis”? Wajar bila Anda langsung mengasosiasikannya dengan sesuatu yang menguntungkan, secara finansial. Tentu, ini bukan hal
yang salah. Yang kemudian berkembang adalah suatu anggapan bahwa yang namanya bisnis adalah animal yang berorientasi keuntungan dengan jalan mengeksploitasi sumber daya. Tidak jarang orang mengatakan bahwa bisnis itu kejam, egois, tidak mengenal perasaan, tidak peduli dan sebagainya yang sifatnya negatif. Buku ini justru mengajak kita memandang bisnis secara manusiawi. Setelah itu kita diajak berbuat sesuatu dengan tujuan tunggal: membuat dunia lebih baik.
Ihwal bisnis yang tak berorientasi keuntungan semata sebenarnya telah dicontohkan oleh Konosuke Matshusita yang merasa tersentuh melihat seorang fakir miskin sulit mendapatkan air minum yang layak. Sejak itu ia bertekad membangun bisnis dengan tujuan utama menciptakan dunia yang lebih baik. Mungkin kita terheran-heran dengan apa yang dilakukan Konosuke ini. Betapa tidak, dia membeli paten transistor dan kemudian menyilahkan pihak lain menggunakannya tanpa dipungut biaya apapun. Demikian halnya dengan seorang Muhammad Yunus yang trenyuh melihat pengrajin miskin di kampung-kampung, kesulitan membeli bahan baku yang hanya sekitar sepuluh dolar. Ia kemudian membangung Grameen Bank yang fokus pada usaha kecil dengan nasabah ibu-ibu.
Kita juga mengenal istilah pemangku kepentingan atau biasa disebut dengan stakeholders di buku-buku manajemen. Pemangku kepentingan perlu diperhatikan dan dipenuhi kepentingannya agar bisnis berjalan langgeng. Bahkan, belakangan ini menjadi tren bila perusahaan ingin diklaim sebagai peduli lingkungan maka ada kegiatan yang disebut corporate social responsibility. Artinya, bisnis tak semata mengejar keuntungan. Kalau begitu, hal apa lagi yang ditawarkan oleh buku ini? Ada tiga hal pokok: mengajak kita berpikir mendalam tentang tujuan utama bisnis, memberi inspirasi tentang contoh ril, dan menyusun rencana ke depan.
Sejarah telah membuktikan bahwa pengusaha (entrepreneur) melakukan hal yang menurut mayoritas orang tak mungkin dilakukan (hal 53). Contohnya banyak: walkman, personal computer, laptop, google. Namun sering kita tidak menggali maknanya lebih dalam lagi tentang apa tujuan utamanya. Sebelum ditemukan, pendiri Google tidak pernah bisa mentargetkan berapa besar keuntungan yang dia bisa peroleh. Namun yang pasti, mereka yakin bahwa Google akan membantu banyak orang efisien menggunakan internet. Jadi, sebenarnya keuntungan merupakan efek samping belaka (hal 83). Seperti halnya dalam upaya mengejar kebahagiaan hidup. Orang yang mengejar kebahagiaan hidup sering dijumpai justru mengalami keterpurukan. Padahal kebahagiaan bisa diraih dengan meningkatkan kepekaan dalam mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, memiliki teman-teman baik, belajar dan tumbuh, serta membantu orang lain.
Contoh nyata yang telah dilakukan oleh perusahaan seperti Whole Foods memberikan pembelajaran pentingnya core values dan budaya perusahaan membantu perusahaan bertahan dan bahkan bertumbuh-kembang menjadi perusahaan Fortune 500. Keseimbangan dalam memuaskan lima pemangku kepentingan (anggota tim, pemasok, pelanggan, penyangga dana, dan lingkungan) benar-benar dijalankan dan dipantau regular. Hasilnya adalah bisnis yang sehat dan pada akhirnya menguntungkan meskipun pada tahun-tahun awal mengalami kerugian. (hal 102). Sepertinya bukan hal baru. Namun, cara penyajiannya menarik dan patut dicontoh perusahaan nasional yang umumnya menganggap core values sebagai pajangan dinding.
Setelah memaknai lebih dalam tujuan bisnis dan melihat contoh-contoh nyata, langkah selanjutnya adalah bagaimana merealisasikannya ke bisnis kita. Bagian akhir buku ini menguraikan panduan rinci dengan menggunakan metaphor sebuah drama. Ini juga merupakan penyajian yang menarik. Yang perlu digarisbawahi adalah penekanan pada visi pendidikan yang solid. Bagian ini wajib dibaca oleh pemimpin bangsa ini agar tidak berorientasi kepada mempertahankan kekuasan melalui program yang hanya memiliki horizon lima tahun sesuai perioda kepemimpinan. Sedangkan, pendidikan perlu direncanakan untuk sekurang-kurangnya tiga puluh tahun ke depan.
Meskipun demikian, buku ini juga memiliki kekurangan yaitu sulitnya menarik benang merah esensi buku ini di bagian awal. Buku yang sempurna memberikan gambaran menyeluruh mengenai substansinya di bagian awal. Hal ini bisa dipahami karena buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa ahli dan praktisi. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya Michael Strong merangkum dan menarik benang merah yang jelas di awal buku.
Buku ini layak dibaca siapa saja yang peduli dengan upaya membuat dunia ini lebih baik, termasuk negeri ini menjadi lebih baik. Bila politikus, yang saat ini sedang bertarung untuk kekuasaan, membaca buku ini dan memaknainya dengan baik, mereka bisa menjadi pemimpin bangsa yang efektif. Di jaman krisis global ini setiap individu perlu menjadi solusi dari permasalahan di seputarnya.
Gatot Widayanto
Konsultan Bisnis dan Manajemen
Be the Solution
How Entrepreneurs and Conscious Capitalists Can Solve All the Worlds Problems
by Michael Strong, Wiley, 2009
(374 pages)
Resensi di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu 30 Mei 2009.









Buku ini, sesuai judulnya, mengajak kita untuk lebih peka terhadap apoa-apa yang terjadi di alam sekitar kita. Sang penulis, Dadang Kadarusman, yang menjalani masa kecilnya di sebuah daerah di Bandung Selatan. Pengalaman masa kecilnya inilah yang membuatnya piawai dalam megikat makna dari kejadian di seputar alam pertanian untuk kita merenungkan pembelajaran dari alam yang merupakan sumbe inspirasi dalam kehidupan ini. Setiap bab yang dibahas selalu mengambil dari kejadian di seputar lahan pertanian yang kemudian dikupas maknanya secara lebih mendalam. Hal ini yang membuat buku ini menarik dibaca, direnungkan dan diambil saripati maknanya untuk penguatan jiwa kita.
Pengambilan keputusan telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, suka maupun tidak suka, diharapkan maupun tidak, dalam kondisi apapun. Setiap pergerakan kita selalu diawali dengan pengambilan keputusan. Bahkan bila Anda sedang duduk kemudian berdiri dan berjalan menuju ke tempat lain itu tentunya setelah Anda mengambil keputusan bahwa Anda mau bergerak dan meninggalkan tempat duduk Anda. Namun, hal ini mungkin tdk pernah Anda pikirkan karena hanya melibatkan keputusan “kecil” yang terlalu remeh untuk dipikirkan.
