Feeds:
Posts
Comments

Dalam setiap memulai lokakarya membangun corporate culture, saya hampir selalu membuka dengan ini:

“Semangat pagi! Senang sekali berada ditengah-tengah Bapak dan Ibu sekalian di sebuah sesi yang sangat penting dan bisa menjadi tonggak sejarah perusahaan ini tiga puluh atau bahkan lima puluh tahun ke depan. Konosuke Matsushita, ketika masih hidup, membuat visi perusahaannya tiga ratus tahun ke depan. Jadi, lima puluh tahun tak ada apa-apanya …. Namun sayangnya, hal yang kita bahas di dalam sesi ini seringkali oleh banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang GARING. Ngapain sih ngomongin masalah budaya kerja? Yang penting saya kerja dengan baik dan memberikan hasil kepada perusahaan. Gak usah diatur lagi cara kerja saya musti begini atau begitu. Garing ah! …. Nah …saya yakin sebagian dari Bapak atau Ibu ada yang datang ke sini dengan pola pikir seperti ini. Dan itu wajar …..”

Untuk mengatasi kegaringan ini saya selalu membuat alur lokakarya yang baku dan selalu saya sempurnakan: ice breaking activity – debriefing – sedikit lecturing “what the hell corporate culture is all about and why many people don’t like talking about it” – sedikit hasil riset terkait “corporate culture and performance” dari Booz & Co (2013) untuk memancing reaksi dan memahami persepsi – dan diskusi …diskusi …diskusi …sampek dobol …..Dan akhirnya ….mereka (peserta) sampai meyakini bahwa corporate culture is “THE” most crucial factor for growth and sustainability …. (gaya banget ya gw …kayak John Kotter aja ngomongnya …sok tehu banget …..).

Prinsip utama yang saya anut adalah keterlibatan “langsung” dari CEO dan Directors dalam prosesnya. Kalau CEO gak terlibat, ya pasti gagal. Lokakarya di akhir pekan lalu, pada awalnya klien saya ngotot bilang bahwa Direksi nya orang2 sibuk yang gak bisa diganggu. Lha? Apa yang mereka lakukan padahal membangun budaya perusahaan adalah tugas utama mereka? Dia masih ngotot bahwa akan jalan tanpa Direksi dan yang penting Direksi telah “merestui” acara lokakarya. Saya bilang: “Gak cukup hanya merestui pak, karena ini bisnis, bukan masalah restu”. Selama dua minggu saya bersikukuh bahwa CEO harus terlibat langsung. Akhirnya …tak hanya CEO, namun Direksi juga hadir kecuali satu orang Direktur yang berhalangan. Tapi OK lah …yang penting pak CEO ikut dalam proses sebagai “peserta” bukan CEO karena membahas budaya perusahaan tak bisa bersikap instruksional, namun harus ada keterbuakaan karena kita bicara dari hati ke hati sampai bisa sepakat tentang core values nya, dan tentu key behaviors sebagai landasan.

Alhamdulillah, sesi dinamis interaktif tersebut menghasilkan kesepakatan bersama dari tiga puluh orang yang hadir (termasuk CEO dan Direksi) tentang the NEW corporate culture perusahaan tersebut. Hal yang tadinya dianggap oleh sebagian orang sebagai “garing” ternyata justru dibuat suatu kesepakatan mengenai “doing business differently” yang akan dijalankan sepenuhnya dengan di “drive” langsung oleh CEO didukung oleh dua puluh sembilan orang sebagai Agen Perubahan yang siap bergerak. Proses yang melelahkan dan berakhir pada pukul 22:30 setidaknya mengubah pikiran orang tentang hal yang “garing” tersebut ….

Keep on proggin’ ….!!!

“Those who have progressive mind believe that extraordinary results can be achieved by capitalizing human potentials from ordinary people through building a solid corporate culture”

Gatot Widayanto 

Dua kata ini serupa namun bila dimaknai lebih jauh lagi ternyata ada perbedaan yang signifikan. Sering kali kedua istilah ini digunakan dengan arti yang sama,  juga dengan kata ‘pegawai’ yang merupakan adopsi dari kata ‘gawe’ yang dalam bahasa Jaw artinya ya pekerjaan.

Seorang pekerja tugasnya menjalankan apa-apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya sesuai dengan uraian pekerjaan sesuai fungsi yang ia emban. Bila ia adalah tenaga penjual maka ia mengerjakan segala sesuatu terkait kegiatan menjual barang dan/atau jasa yang ditwarkan perusahaan tempatnya bekerja.  Bila ia adalah tenaga akuntansi maka ia menjalankan fungsi pembukuan dan pelaporan keuangan. Diharapkan bila semua pekerja menjalankan fungsinya maka tujuan perusahaan akan tercapai.

Karyawan

Sesuai dengan namanya,  seorang karyawan fokusnya adalah menghasilkan sebuah “karya” yang bermanfaat bagi perusahaannya,  pelanggannya dan dirinya. Dia juga seorang pekerja karena dalam berkarya ia harus mengikuti pakem-pakem yang ada sesuai fungsi masing-masih. Tak ubahnya seperti wartawan yang tugasnya menghasilkan berita (warta). Perbedaan signifikan antara karyawan dengan pegawai adalah dalam hal pola pikir terhadap hasil dari apa yang dikerjakan yakni sebuah “karya”.

Selamat pagi!



Tom Peters mengatakan Hukum 18 Detik berdasarkan survei yang dilakukannya. Menurut survei tsb, rata-rata seorang dokter hanya sabar mendengarkan keluhan pasien selama 18 detik saja dan segera memotong pembicaraan sang pasien. Ah …jangan-jangan kitapun juga seperti itu, masuk dalam Hukum 18 Detik nya Tom Peters. Bisa jadi.

Mendengarkan (secara aktif) memang merupakan ketrampilan yang harus dikuasai demi meningkatkan kualitas interaksi kita dengan teman bicara yang berada di hadapan kita. Bila kualitas interaksi meningkat mencapai engagement excellence, kesuksesan insya Allah dicapai.

Beberapa tip dalam meningkatkan ketrampilan mendengarkan:

1. Usahakan sepenuh hati menganggap teman bicara kita adalah orang paling penting di dunia dengan sedikit mencondongkan postur badan kita ke arahnya, saat ia berbicara.

2. Abaikan segala jenis gadget yang ada di tangan Anda, tatap matanya. Ini menunjukkan bahwa kita serius sedang mendengarkannya. Bila pembicaraan berlangsung di mall yang hiruk pikuk dan banyak orang berseliweran, jangan sedetikpun mata Anda melihat orang lain yang lalu lalang. Ini akan memberi kesan mata Anda jelalatan (maaf) yang segera bisa membunuh kualitas interaksi Anda.

3. Take note. Bila ada pena dan secarik kertas, catatlah hal hal penting yang menurut Anda perlu klarifikasi atau tanggapan dari Anda. Ini akan meningkatkan rasa percaya diri teman bicara Anda karena Anda terbukti menperhatikannya saat ia berbicara.

Bagaimana menurut Anda?

Hari ini saya berencana bekerja menyusun proposal dari rumah. Dalam membuat proposal memang saya lebih nyaman mengerjakan di rumah karena memang diperlukan ketenangan, fokus dan referensi yang banyak melalui googling. Memang harus saya akui menyusun proposal di era sekarang ini jauh lebih mudah karena setiap saat saya bisa mendapatkan referensi dan komparasi yang banyak sekali melalui googling.

Namun sayangnya koneksi internet saya di rumah menggunakan First Media hari ini mengalami gangguan sehingga saat inipun pada saat menulis ini saya terpaksa menggunakan HP Android saya. Saya heran apa yang sebenarnya terjadi dengan FM hari ini. Saya sudah berusaha menghubungi customera service nya melalui telpon namun sayang semua petugasnya lined-up melayani customer lainnya. Cukup lama saya menunggu mendapat antrian namun tak juga kunjunvi dilayani sehingga akhirnya saya memutuskan mengirim email pengaduan ke customer.service@firstmedia.com sesuai anjuran mesin IVR nya FM. Untung juga saya punya nomer HP salah satu boss di FM yang dulu pernah sama2 kerja di Citibank. Dia memang memberi jawaban bahwa sedang terjadi outage di daerah saya tanpa ada janji berapa lama akan diselesaikan.

Saya jadi ingat dengan konsep six sigma dimana hanya boleh terjadi kesalahan atau gangguan dalam layanan maksimum 3.4 kesalahan per satu juta kejadian. Bila dalam bahasa sederhana kira2 maknanya adalah dari satu juta jam layanan maka hanya boleh ada gangguan atau outage sebangak 3.4 jam. Bahasa kerennya adalah 3.4 DPMO (defects per million opportunities). Hal yang saya alami dengan FM ini telah melebihi dari 3.4 jam dan secara total dari kejadian sebelumnya saya yakin masih jauh di bawah satu juta jam layanan FM total untuk saya. Katakanlah satu tahun saya menggunakan FM maka jumlah jam layana. Hanyalah 8,760 jam masih jauh sekali dari satu juta jam. Jelas sekali FM bukanlah Six Sigma provider karena juga beberapa bulan lalu pernah terjadi gangguan sekitar 3 jam juga. Saya sekarang merasakan betapa melelahkan menunggu sambungan internet FM on kembali. Apalagi Bolt! saya kemarin juga habis pulsanya. Saya memang menerima tawaran paket Bolt sebagai pelanggan FM. Namun dengan kinerja FM seperti sekarang saya menjadi ragu menggunakan tawaran bundling tersebut.

Sampai saya akhiri tulisan ini,  internet saya belum ON juga. Menyebalkan sekali.

Ditengah kepenatan saya terlibat dalam kegiatan reformasi birokrasi di negeri ini saya sempat bertandang ke kantor teman baik saya,  mas Irwan Rei, yang menfokuskan bisnis nya di area payroll outsourcing. Mas Irwan ini sebenarnya bisa saya katakan sebagai teman berbagi karena saya banyak sekali mendapatkan lead dari beliau dan kemudian saya kerjakan atau bekerjasama dengannya misalnya beberapa tahun lalu memfasilitasi Coca Cola untuk program revitalisasi brand. Saat pertemuan dengan mas Irwan tsb di awal Nov saya mengungkapkan keinginan saya untuk kembalu ke maqom saya di area strategi dan manajemen perubahan.

Tak sampai menginap,  sore harinya setelah pertemuan pagi hari di kantor mas Irwan,  beliau menghubungi saya bahwa ada sebuah perusahaan yang memerlukan jasa saya memfasilitasi BoD Retreat yakni pertemuan intensif diantara anggota Direksi dipimpin oleh CEO nya. Tentu saya tanggapi dengan senang setelah cukup lama saya tak memfasilitasi Round Table Discussion untuk pimpinan perusahaan. Seneng sekali saya. Dalam waktu singkat saya sudah susun proposal dengan mengacu pada informasi awal melalui percakapan di telpon dan situs resmi perusahaan tersebut. Di jaman ini memang mudah sekali menyusun proposal karena informasi tersebar kuas di internet. Tak ada alsan tak bisa menyusun proposal. Semuanya saya susun dalam format PPT dan kemudian saya PDF kan.

Saya selalu menyusun proposal dengan embel-embel DRAFT for discussion. Standar kinerja yang saya berlakukan kepada diri saya adalah satu minggu setelah pembicaraan harus sudah bisa membuat proposal. Tak perlu akurat karena nantinya akan dibahas dan pasti akan berubah namun tak boleh lebih dari 7 hari kerja. Draftvproposal yang saya susun biasanya berisi:

- latar belakang
– pemahaman thd permasalahan
– tujuan penugasan
– pendekatan dan metodologi
– rencana kerja
– tindak-lanjut
– value proposition

Dengan kerangka yg standar tersebut sangat memudahkan saya untuk memancing keseriusan calon klien. Bila lama tak ditanggapi maka pertanda dia tak serius. Tapi kalau segera ia telpon atau membalas email berarti pertanda serius. Dalam hal ini ternyata saya segera mendapatkan tanggapan dan segera saya tangkap untuk ajak tatap muka. Akhirnya tatap muka dengab CFO dan Divisi SDM segera terlaksana dan beberapa hari kemudian kontrak kerja beres. Yeszzz!

Setiap melakukan RTD untuk levwl pimpinan selalu saja tak ada pendekatan yang standar dan saya sangat serius dan detil sekali mengenai hal ini. Syarat utama yang saya ajukan sebelum tanda tangan kontrak kerja adalah persyaratan yang saya ajukan: saya tak akan mau memfasilitasi bila tak diberi kesempatan wawancara empat mata dengan masing-masing Direktur termasuk Presdir. Setelah saya mendapatkan persetujuan tersebut,  saya baru mau menandatangani kontrak kerja. Saya melakukan hal ini bukan tanpa alasan kuat. Saya gak mau memfasilitasi RTD tanpa memahami masing-masing individu anggota Direksi. Ini wajib ada.

Copas dari milis MD79

Sharing untuk motivasi …

Sebelum Pak Professor akan membagikan soal ujian semester kepada para mahasiswanya, ia mengajukan suatu tawaran istimewa kepada mereka.

Ia berkata, “Siapa yang mau mendapat nilai C otomatis dalam ujian ini, angkat tangan dan kamu tidak perlu mengikuti ujian. Saya akan langsung memberikanmu nilai C”.

Satu tangan terangkat. Kemudian yang lainnya, dan yang lainnya hingga lebih dari setengah jumlah mahasiswa tersebut telah memilih untuk tidak mengikuti ujian itu. Mereka akan menerima nilai C secara otomatis dan mereka pun keluar ruangan dengan gembira karena telah memperoleh syarat lulus ujian minimal nilai C.

Pak Profesor itu kemudian membagikan lembaran ujian kepada mahasiswa yang masih tinggal di ruangan itu. Ia meletakkan lembaran2 soal tersebut di meja dan meminta mereka tidak membaliknya sebelum diperintahkan.

Ia memberi ucapan selamat kepada para mahasiswa tersebut karena mereka tidak mau menerima nilai rata2 dan bahwa mereka bersedia melakukan hal2 yang luar biasa dalam hidup mereka.

Kemudian Pak Professor itu memerintahkan mahasiswanya untuk memulai ujian mereka. Para mahasiswa menemukan bahwa lembaran ujian mereka hanya tertulis kalimat singkat : “Selamat. Anda baru saja mendapatkan nilai A.”

Terlalu sering kita mengambil jalan pintas yang mudah dan menerima keadaan biasa2 saja saat seharusnya kita bisa membangun potensi diri kita.

Kita berpikir bahwa nilai C tidak begitu buruk dan cukup pantas untuk kita peroleh.

Dan Hidup biasa2 saja, tanpa mengeluarkan potensi maksimal dalam hidup kita, merupakan suatu sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan juga merendahkan kemampuan diri sendiri.

Lakukanlah yang terbaik untuk apapun yang sedang menjadi tanggung jawabmu saat ini. Pantang menyerah dan tetap semangat untuk mencapai apa yang sepantasnya kita capai.

image

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.