Resensi ini telah dimuat di Ruang Baca, Koran Tempo Minggu, 29 Nopember 2009 halaman 11.
Mengelola dalam Turbulensi
Bagi Anda yang pernah belajar manajemen, nama Philip Kotler sudah tak asing lagi sebagai maha guru yang terkenal
dengan prinsip bauran pemasaran 4P (product, place, promotion & price). Kali ini, bersama John A. Caslione ia mengeksplorasi keahliannya ke cakupan agak luas tanpa meninggalkan kompetensi intinya. Seperti buku klasiknya Principles of Marketing, Chaotics disajikan dengan bahasan yang runtut diperkuat dengan tampilan grafis yang memudahkan pemahaman dan menarik. Proposisi yang disampaikan sebenarnya sederhana, yakni bagaimana perusahaan menghadapi perubahan iklim bisnis yang begitu dinamis, tidak terpola, sehingga sulit diprediksi atau disebut sebagai era turbulensi. Sekurang-kurangnya sudah satu dekade lebih kita mendengar istilah ini dalam kosa kata yang berbeda namun bermuara pada satu hal: ketidakpastian. Masih hangat di ingatan saya bahwa pada tahun 1994 saja Richard d’Aveni telah menulis buku bertajuk “Hyper Competition” yang pada dasarnya dipicu oleh perubahan iklim bisnis yang dinamis. Hanya saja, turbulensinya semakin cepat dipicu oleh teknologi dan globalisasi.
Kotler dan Caslione menguraikan secara deskriptif era turbulensi ini di bagian-bagian awal dari buku dan menekankan bagaimana perusahaan bisa hidup berdamai dengan turbulensi. Artinya, turbulensi sudah menjadi hal yang normal, tidak lagi mengharapkan sesuatu yang stabil. Kalau meminjam istilahnya Jack Welch: bagaimana mengganti ban kendaraan tanpa berhenti. Sepertinya absurd, namun ya begitulah kira-kira kondisi bisnis dewasa ini. Krisis keuangan yang melanda AS pada 2008 membuat kita semua tersentak melihat fakta perusahaan raksasa nan perkasa pada akhirnya bisa runtuh juga. Pertanyaan seperti “sampai kapan situasi ini berakhir?” menjadi tak relevan lagi. Jangankan mencari solusi, memahami persoalannya saja tidak. Jawaban paling bijak adalah ”saya tidak tahu” meski itu kelihatan bodoh sekali.
Nah dalam rangka mengarungi lautan ketidak tahuan inilah penulis buku ini mengajukan resep daya tahan dengan menjalankan kerangka kerja yang dinamai dengan Chaotics Implementation Cycle (siklus implementasi dalam situasi kekacauan). Ada delapan langkah yang diajukan dimana yang menarik adalah langkah nomer dua yaitu Identifikasi Kesalahan Manajemen dalam Merespons Turbulensi. (hal 107). Menarik di sini karena yang menjadi fokus perhatian adalah respons terhadap perubahan. Di dalam teori manajemen selama ini kita diharuskan memahami situasi dan masalahnya terlebih dahulu. Ini juga diperlukan kedewasaan dan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak karena pada umumnya kita seringkali enggan menyalahkan diri sendiri.
Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah keberlanjutan (sustainability) perusahaan menghadapi turbulensi dimana kekacauan (chaos) sering terjadi dan menjadi sesuatu yang normal. Perusahaan harus memiliki tiga karakter yang disingkat 3R: responsive, robust, resilience. Suatu bisnis harus tanggap (responsive) menyikapi stimulus dari luar, kuat (robust) dan tegar menghadapi semua tekanan dan perubahan yang terjadi, memiliki kelenturan (resilience) yaitu bisa kembali ke bentuk semula setelah mengalami terpaan badai. Bila kita ambil contoh dengan situasi bencana alam seperti gempa bumi, misalnya. sebuah bank yang ambruk harus segera bisa secepatnya melayani nasabah seperti normal.
Pada bagian pamungkas, penulis menguraikan tiga tindakan spesifik yang harus dilakukan: perlunya perencanaan strategis yang dinamis dan interaktif dalam siklus pendek; memfasilitasi pengambilan keputusan lintas-fungsi; memilah organisasi menjadi beberapa unit agar responsif. Melakukan perencanaan strategis sudah merupakan kebutuhan utama perusahaan. Namun, mengevaluasi perencanaan trategis setiap bulan, mungkin suatu hal yang aneh di masa lalu. Namun, dewasa ini sudah saatnya kita tinjau perencanaan strategis setiap bulan. Pengambilan keputusan yang terkotak-kotak juga bisa menimbulkan perbedaan tindakan dalam merespons stimulus sehingga perlu dilakukan secara lintas fungsional di perusahaan. Beberapa resep ampuh juga diuraikan, antara lain: gaji eksekutif yang tak terlalu tinggi, merekrut karyawan yang benar-benar memiliki gairah melayani pelanggan, gaya manajemen yang terbuka, budaya perusahaan sebagai keunggulan daya saing, dan sebagainya (halaman 182).
Dunia ini semakin saling berhubungan dan saling bergantung dibandingkan sebelumnya.
Turbulensi, dengan akibatnya kekacauan, risiko dan ketidakpastian sudah menjadi kondisi normal di industri, pasar dan perusahaan. Turbulensi memiliki dua efek utama, yakni kerentanan dan peluang baru yang bisa diraih. Yang ditawarkan oleh penulis buku ini justru mencegah terjadinya kerentanan di bisnis Anda. Banyak juga perusahaan yang memanfaatkan kekacauan untuk keuntungan mereka. Contoh paling sederhana dalam situasi di Indonesia ini adalah maraknya terorisme yang menyebabkan permintaan jasa keamanan meningkat. Industri musik, sebagai contoh, juga mengalami perubahan fundamental dimana mengunduh lagu secara digital semakin menjadi tren dan menurunkan secara tajam penjualan cakram padat (CD). Tak salah bila kelompok musik metal progresif dari AS yang menamakan dirinya Dream Theater merilis album ke sembilannya dengan tajuk Systematic Chaos.
Buku ini layak dibaca bagi yang ingin menyiapkan perusahaannya mengarungi, bukan menghindari, lautan kekacauan di dalam era turbulensi ini.
Gatot Widayanto
Managing Director – Value Quest
http://www.valuequest.co.id
Judul : Chaotics – The Business of Managing and Marketing in The Age of Turbulence
Oleh : Philip Kotler & John A. Caslione
Penerbit : Amacom
Tahun : 2009 (15 Mei 2009)
Tebal : 224 (termasuk index)