Feeds:
Posts
Comments

Promo Bersayap

Di sebuah gerai McD seorang pembeli ngotot minta pesanannya sesuai dengan apa yang ditampilkan di foto dan terpampang jelas bahwa kopinya disajikan dalam cangkir beling (bukan plastik). Baristanya mencoba menjelaskan dengan bahasa berbunga-bunga bahwa yang penting isinya sama, bukan tempatnya. Si pembeli tak mau terima dan terjadi adu argumentasi panjang hingga pembeli yang mengantri lainnya protes.
Starbucks kemarin (15 Desember) mengirim email kepada pemegang kartunya bahwa pada hari tersebut pukul 15:00 sd 19:00 bisa membeli minuman apa saja dengan harga 50%. Tentu menarik sekali. Ternyata begitu email dibuka, ada syaratnya: harus beli makanan yang tersedia di Starbucks terlebih dulu.
Mengapa ya PROMO kok mesti bersayap begitu? Apa ini yang disebut dengan Marketing GIMMICK? Mbok yao kalau ngasih diskon itu yang ikhlas …mbok yao kalau ngasih pesanan itu yang sesuai foto (kasus McD) ….

The Five Most Important Coaching questions:
1. What are you trying to achieve?
2. What seems to be the issues?
3. What have you tried?
4. What options have you considered?
5. What do you recommend?

David and Goliath

Pada saat Anda dihadapkan dalam situasi yang bernuansa persaingan, misalnya dalam lomba, atau dalam tender sekalipun, atau dalam menjalankan pertarungan merebut pangsa pasar, apa yang biasanya Anda alami? Anda merasa selalu pada posisi paling kuat, atau paling lemah atu sekurangnya relatif lemah dibandingkan pesaing Anda? Kalaupun Anda hampir selalu merasa bahwa pihak lawan selalu memiliki keunggulan dan untuk itu harus berhati-hati maka Anda berada pada pihak yang lemah secara psikologis meskipun dalam perhitungan lapangan Anda adalah pemenangnya, misalnya pangsa pasar Anda paling besar dibandingkan lainnya. Namun memang ada kalanya mungkin Anda merasa bahwa posisi Anda tak tergoyahkan maka tak perlu ragu dengan pesaing lainnya – bahkan mungkin Anda tak menganggapnya sebagai pesaing karena mereka terlalu kecil bagi bisnis Anda.

Apapun jawabannya, Anda perlu membaca buku David and Goliath karya Malcolm Gladwell ini. Bila Anda seringkali merasa kalah, bacalah buku ini agar Anda semakin kontekstual dalam menyikapi situasi yang ada sehingga malah bisa menemukan kreasi atau inovasi baru yang membuat posisi Anda malah jauh lebih menguntungkan dibandingkan lawan yang jauh lebih unggul. Gladwell menyebutnya dengan “keuntungan dari kelemahan” atau the advantages of the disadvantages. Namun bila Anda merasa selalu di atas angin, Anda juga perlu membaca buku ini karena ternyata menurut Gladwell ada “kelemahan dari keunggulan” atau the disadvantages of advantages. Jawabannya sudah bisa Anda tebak sendiri dari judul buku yang mengisahkan pertarungan antara Nabi Daud dengan Raja Jalut yang raksasa.

Dalam hal yang pertama, kita selalu merasa lemah, maka kita diminta melihat kisah ksatria dari Nabi Daud dimana dengan percaya-diri beliau berani melawan Raja Jalut nan raksasa perkasa. Perhitungan di atas kertas jelas sekali bila berhadapan langsung hampir bisa dipastikan nabi Daud yang badannya relatif kecil akan dilumat habis oleh pedang Raja Jalut. Namun Nabi daud tak kehilangan akalnya dan memutar otaknya secara keras bagaimana cara melumpuhkan Raja Jalut, yakni dengan cara melakukan peperangan berjarak, menggunakan ketapel yang ditujukan kepada mata Raja Jalut sehingga tumbang. Pada saat Raja Jalut tumbang itulah maka Nabi Daud mengambil pedang dan membunuh Raja Jalut. Hal yang sepertinya absurd – bagaimana mungkin sebagai seorang yang bertubuh kecil bisa menumbangkan raksasa yang gagah perkasa.

Justru dari perspektif si lemah inilah banyak pembelajaran yang bisa kita ambil dari kisah-kisah yang diuraikan dengan apik oleh Malcolm Gladwell ini. Semua kisah nyata adanya dan bersumber dari kejadian belakangan ini maupun puluhan tahun yang lalu dan telah terekam dalam sejarah.

Pertama adalah sosok Vivek Ranadive yang mendadak menjadi pelatih tim basket putrinya, Redwood City, meski dia sendiri bukan pemain basket. Untuk ini ia menerapkan dua prinsip dalam melatih basket yakni pertama ia tak akan melatih dengan cara berteriak-teriak dan kedua ia akan memberlakukan prinsip yang sama seperti ia memimpin bisnis piranti lunaknya. Dari segi anggota tim, tak ada terlihat yang menonjol dalam bermain basket, bahkan mereka relatif pendek dalambtinggi badan, tak seperti biasanya pemain basket profesional. Namun justru tim ini malah solid dan seringkali memenangkan pertandingan basket. Filosofi yang ditanamkan okeh Vivek ke tim bola basketnya adalah kemauan unruk mencoba lebih keras dari yang umumnya dilakukan orang atau pemain lain.

Kemudian Gladwell mengambil fakta lainnya yakni tentang Teresa deBritto, seorang guru sekolah dasar dimana di sekolahnya jumlah muridnya selalu menurun. Pada umumnya, baik orang tua maupun ahli pendidikan bepikir bahwa yang namanya kelas semakin sedikit jumlah muridnya maka semakin bagus kualitasnya. Banyak penelitian membuktikan hal ini. Namun pada kenyataannya justru ada batas minimum dimana semakin sedikit lagi proses belajar-mengajar menjadi kurang berkualitas karena berkurangnya keragaman pendapat diantara murid karena jumlah yng sedikit.

Pada bagian inilah justru Gladwell dengan piawainya merangkai sebuah hipotesa yang ia lakukan dengan menukil pengalaman seorang bintang Holywood. Sang bintang mengisahkan bahwa ia lahir dari keluarga yg miskin dan melakoni hidup yang keras sehingga saat ia berusia sekolah dasar ia sudah harus mencari uang. Ia mengumpulkan reruntuhan daun kering setelah musim gugur dan juga membersihkan sisa salju setelah musim dingin dari rumah2 tetangganya dengan harapan upah tentunya. Bahkan sang bintang bisa mengumpulkan tman2 sesama anak2 untuk mengerjakan proyeknya. Tak ayal ketika usia sebelas tahun ia punya tabungan sebesar USD 600 dan iru di tahun 1950an sehingga kalau dihitung saat ini ya sekitar USD 5 ribu. Jumlah yang amat besar untuk seorang bocah.

Ketika lulus SMA pun sang bintang disuruh kerja di ayahnya yang seorang pedagang besi bekas kumuh dan kotor sehingga ia gak kerasan kerja di situ. “Ayah saya tahu bahwa saya tak bakal betah kerja di tempat yang kumuh dan keras supaya saya keluar dari zona itu,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Akhirnya ia kuliah dan bisa bekerja di Holywood dan kaya raya.

Dari kisah sang bintang inilah Gladwell membuat hipotesa bahwa ternyata semakin kaya kita maka kita semakin tak efektif menjadi orang tua bagi anak-anak kita. Bahkan ia berani mematok angka sebesar 75 ribu dollar per tahun merupakan titik dimana efektivitas sebagai orang tua menjadi menurun. Ini berdasarkan hasil penelitian dimana uang tak lagi membuat orang bertambah bahagia bila ia berpenghasilan di atas 75 ribu dolar (sekitar 900 juta rupiah) per tahun. Sulit untuk menolak permintaan anak dibelikan sebuah mobil dengan alasan gak punya uang sementara ayah dan ibunya masing-masing mengendarai Maserati dan Porche. Ini tentu sebuah hipotesa yang menarik dan bisa bervariasi dari orang ke orang tergantung status ekonomu sebelumnya.

Disinilah kejeniusanseorang Gladwell teruji karena ia menperkenalkan kurva U terbalik dengan puncaknya apa angka 900 juta rupiah tersebut untuk menunjukkan bahwa peran kita sebagai orang tua (parenting) semakin efektif bila penghasilan kita naik hingga mencapai angka 900 juta rupiah. Selebihnya kita semakin tak berdaya menjadi orang tua yng efektif. Maka, berbahagialah Anda bila penghasilan Anda setahun masih dibawah angka 900 juta rupiah karena selebihnya Anda tergoling sangat kaya dan semakin tak berdaya dalam mendidik anak. Ingat, sang bintang Holywood berasal dari keluarga miskin.

Lantas, apa hubungannya dengan kisah Nabi Daud? Justru di sinilah pusat perenungan terjadi. Selama ini banyak kita mengeluh bahwa kemiskinan membuat kita menjadi tak berdaya menjadi orangtua efektif (parenting). Namun ternyata semakin kaya kita memang ada kecenderungan membaik efektivitas kita karena bisa menyekolahkan anak dan memnuhi kebutuhan pertumbuhannya hingga sampai pada suatu titik yakni bila penghasilan kita mencapai Rp. 900 juta pertahun. Di atas penghasilan ini berlakulah hukum yang semakin menurunkan efektivitas kita sebagai orang tua atau dalam ilmu ekonomi biasa disebut dengan ‘the law of diminishing returns’. Artinya, jangan kita menganggap bahwa kemiskinan kita merupakan suatu kelemahan dalam menjalankan peran sebagai orangtua efektif, namun justru kita mencari cara mendidik terbaik disertai dengan mencari pendapatan agar tak miskin, namun musti hati-hati ketika mencapai Rp. 900 juta.

Banyak kisah lainnya yang diambil dengan penyajian yang menarik dan sering membuat hati ini berdegup melihat fakta-fakta yang ia ungkapkan, menambah kekaguman kita kepada kejeliannya dalam mengangkat suatu isu. Bahkan pertanyaan mengenai lebih baik menjadi ikan kecil di kolam yang besar atau menjadi ikan besar di kolam yang kecil dari kasus mengambil jurusan kuliah yang dialami Caroline Sacks, misalnya. Bila ingin menjadi seorang ilmuwan, lebih baik sekolah di universtas ternama namun dengan resiko drop out karena ketatnya persaingan saat kuliah karena mahasiswanya pinter-pinter atau sekolah di universitas biasa namun akhirnya memang jadi limuwan, meski dari universitas tak dikenal.

Di bagian kedua buku ini Gladwell justru mengungkapkan teori tentang kesulitan yang diinginkan (The Theory of Desirable Difficulty) bagi saya justru menarik untuk diresapi maknanya. Ternyata justru kelemahan sesorang yang mengalami kesulitan dalam membaca (dislexia) justru merupakan kekuatan karena melalui hambatan yang ia jalani adalah justru peluang untuk menekuni agar tak menjadi hambatan. Kisah inspiratif yang diuraikannya salah satunya justru terkait dengan seorang bernama Gary Cohn. Dalam setiap mata pelajaran atau mata kuliah yang ia ikuti, Gary selalu merasa dirinya lambat dalam mencermati buku-buku pelajaran maupun buku kuliah. Hal ini justru merupakan peluang baginya dimanapun ia sekolah bahwa bila nilainya D dalam suatu mata kuliah, maka ia minta waktu secara personal dengan dosennya untuk negosiasi mengapa ia mendapatkan nilai D. Dalam setiap kesempatan akhirnya ia selalu mendapatkan koreksi postif dari yang awalnya D menjadi C, dari yang C bahkan bisa menjadi B, atu dari B menjadi A. Coba bayangkan bila teman kuliahnya yang selalu mendapatkan nilai A , maka tak ada perlunya bertemu dengan dosennya secara personal karena ia sudah mendapatkan nilai maksimum.

Kegigihan Gary ini sungguh membuat saya membaca kisahnya berulang-kali untuk memastikan bahwa saya mengerti apa yang dimaksud oleh Gladwell dari kisah Gary Cohn ini. Dalam arti luas, kita tak boleh berkecil hati bila mendapatkan suatu penilaian dari siapapun karena justru itulah “peluang” bagi kita untuk membahas lebih lanjut dengan penilai sehingga hasilnya bahkan bisa terkoreksi secara positif. Gary ternyata merupakan trader sejati karena akhirnya ia pun bisa berkaris di sektor keuangan melalui kisah yang unik dimana untuk menuju kota harus berani saweran dengan orang lain untuk biaya taksi sehingga ia hanya perlu membayar separuhnya saja. Gary Cohn saat ini adalah orang nomer satu di Goldman Sach (halaman 124). Kalimat ini membuat saya tertegun, tak pernah membayangkan bahwa seorang CEO bisa berasal dari kaum dislexia. Sungguh luar biasa!

Tak akan habis saya mengulas buku bagus ini karena setiap bab nya menguraikan kisah yang menyentuh hati dan luar biasa sekali sehingga sulit untuk melewati satu atau beberapa bab karena memang sayang untuk dilewatkan. Masih ada kisah mengharukan tentang seorang penemu pengibatan leukimia yang memiliki kepribadian unik namun memberikan manfaat positif dalam kehidupan ini, karena menyelamatkan nyawa anak2 yang terserang leukimia.

Menurut saya, buku ini amat layak untuk dimiliki karena memang sangat inspiratif dan membuat kita merasa termotivasi setelah membacanya, meski di dalamnya tak ada kalimat ajakan dari Gladwell agar kita memiliki motivasi yang tinggi. Hebat!

image

Baru pertama kali ini hotel tak menyediakan hal2 yang harusnya standard ini. Bagi saya sangat menjengkelkan kalau mau sikat gigi di malam hari seperti sekarang ini musti telpon dulu minta sikat gigi dan pastanya diantar ke kamar. Itupun saya harus menunggu lama dan gak lengkap karena ternyata alat cukur tak diantar, hanya sikat gigi dan sisir saja. Aduh pelitnya keterlaluan. Kalau orang Melayu bilang “kedekut” alias puwelit pol!

Pengalaman pertama di Ibis Jl. Rajawali, Tanjung Perak , Surabaya. Sepertinya semua Ibis sedang ada internal program cost reduction on the expense of customer. Atau semua Accorhotels ya? Untung saya ditawari berkali kali jadi member saya gak mau. Kalau gak, rugi besar karena pelit banget. Substandard.

— tulisan saya lanjutkan lagi 27 Sep 2014 —

Kekecewaan saya terhadap buruknya layanan standar di Ibis Hotel, jl. rajawali, Tanjung Perak, Surabaya ini akhirnya saya sampaikan secara lisan kepada petugas hotel yang melayani di saat sarapan pagi di lantai Mezzanine esok harinya. Inipun saya lakukan bukan dengan sengaja karena pagi itu memang saya langsung checkout sekitar pukul 7:15 , artinya saya hanya menumpang tidur saja di hotel ini karena acara saya padat di tanggal 19 September 2014 hingga sore hari. Pemicunya adalah saat saya memesan omelette ternyata saya harus menunggu lama di omelette counter karena tak ada petugasnya. Sementara itubpetugas lainnya tak ada yang peduli saya berdiri di counter tersebut tanpa ada petugasnya. Tak lama kemudian muncul tamu lain, seorang bule lapangan, yang juga mau memesan namun tiada petugas. Bule tersebut gak sabar terus nggebrak meja. Akhirnya petugas keluar dan saya langsung memesannya.

Bebeberapa menit yang cukup lama pesanan saya tak kunjung tiba. Saya semakin panas ketika melihat si mbak petugas omelette malahan sudah mengantarkan lebih dulu pesnan si bule yang jelas antriannya setelah saya. Saya akhirnya mengingatkan seorang petugas yang lewat di meja saya untuk mengambilkan omelette saya. Namanya SOFA seperti tertulis di name tag nya. Tak kunjung juga omelette saya tiba setelah beberapa menit yg cukup lama. Saya terpaksa berdiri dan menagih kepada pal Sofa serta mempertanyakan mengapa si bule yang jelas antriannya sesudah saya malah sudah mendapatkan jatahnya? Sofa tak bisa menjawab. Namun akhirnya diantar juga pesanan saya tanpa basa basi minta maaf karena lelet pelayanannya dan mendahulukan orng lain yg jelas antriannya sesudah saya.

Pada saat Sofa mengantar pesanan saya, langsung secara lisan saya sampaikan keluhan saya terhadap pasta gigi dan sikat gigi yang disembunyikan di House Keeping dan hanya diberikan pada saat tamu menelpon nomer ext 4. Dia mendengarkan dan sekaligus mengatakan bahwa ini kebijakan dari pusat. Saya katakan agar keluhan saya ini disampaikan. Ia menyanggupi.

Tak lama kemudian Sofa memberikan update bahwa keluhan saya sudah disampaikan ke pak Agus, Manajer yang bertugas di pagi itu, sekaligus katanya email sudah dikirimkan ke saya. Saya pikir pada saat check out saya akan ditemui oleh orang yang katanya pak Sofa adalah pak Agus. Ternyata tak terjadi apa2 dan saya keluar begiti saja dari hotel ini. Ternyata juga tak ada email dari Ibis ke saya.

Mengecewakan.

Dalam setiap memulai lokakarya membangun corporate culture, saya hampir selalu membuka dengan ini:

“Semangat pagi! Senang sekali berada ditengah-tengah Bapak dan Ibu sekalian di sebuah sesi yang sangat penting dan bisa menjadi tonggak sejarah perusahaan ini tiga puluh atau bahkan lima puluh tahun ke depan. Konosuke Matsushita, ketika masih hidup, membuat visi perusahaannya tiga ratus tahun ke depan. Jadi, lima puluh tahun tak ada apa-apanya …. Namun sayangnya, hal yang kita bahas di dalam sesi ini seringkali oleh banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang GARING. Ngapain sih ngomongin masalah budaya kerja? Yang penting saya kerja dengan baik dan memberikan hasil kepada perusahaan. Gak usah diatur lagi cara kerja saya musti begini atau begitu. Garing ah! …. Nah …saya yakin sebagian dari Bapak atau Ibu ada yang datang ke sini dengan pola pikir seperti ini. Dan itu wajar …..”

Untuk mengatasi kegaringan ini saya selalu membuat alur lokakarya yang baku dan selalu saya sempurnakan: ice breaking activity – debriefing – sedikit lecturing “what the hell corporate culture is all about and why many people don’t like talking about it” – sedikit hasil riset terkait “corporate culture and performance” dari Booz & Co (2013) untuk memancing reaksi dan memahami persepsi – dan diskusi …diskusi …diskusi …sampek dobol …..Dan akhirnya ….mereka (peserta) sampai meyakini bahwa corporate culture is “THE” most crucial factor for growth and sustainability …. (gaya banget ya gw …kayak John Kotter aja ngomongnya …sok tehu banget …..).

Prinsip utama yang saya anut adalah keterlibatan “langsung” dari CEO dan Directors dalam prosesnya. Kalau CEO gak terlibat, ya pasti gagal. Lokakarya di akhir pekan lalu, pada awalnya klien saya ngotot bilang bahwa Direksi nya orang2 sibuk yang gak bisa diganggu. Lha? Apa yang mereka lakukan padahal membangun budaya perusahaan adalah tugas utama mereka? Dia masih ngotot bahwa akan jalan tanpa Direksi dan yang penting Direksi telah “merestui” acara lokakarya. Saya bilang: “Gak cukup hanya merestui pak, karena ini bisnis, bukan masalah restu”. Selama dua minggu saya bersikukuh bahwa CEO harus terlibat langsung. Akhirnya …tak hanya CEO, namun Direksi juga hadir kecuali satu orang Direktur yang berhalangan. Tapi OK lah …yang penting pak CEO ikut dalam proses sebagai “peserta” bukan CEO karena membahas budaya perusahaan tak bisa bersikap instruksional, namun harus ada keterbuakaan karena kita bicara dari hati ke hati sampai bisa sepakat tentang core values nya, dan tentu key behaviors sebagai landasan.

Alhamdulillah, sesi dinamis interaktif tersebut menghasilkan kesepakatan bersama dari tiga puluh orang yang hadir (termasuk CEO dan Direksi) tentang the NEW corporate culture perusahaan tersebut. Hal yang tadinya dianggap oleh sebagian orang sebagai “garing” ternyata justru dibuat suatu kesepakatan mengenai “doing business differently” yang akan dijalankan sepenuhnya dengan di “drive” langsung oleh CEO didukung oleh dua puluh sembilan orang sebagai Agen Perubahan yang siap bergerak. Proses yang melelahkan dan berakhir pada pukul 22:30 setidaknya mengubah pikiran orang tentang hal yang “garing” tersebut ….

Keep on proggin’ ….!!!

“Those who have progressive mind believe that extraordinary results can be achieved by capitalizing human potentials from ordinary people through building a solid corporate culture”

Gatot Widayanto 

Dua kata ini serupa namun bila dimaknai lebih jauh lagi ternyata ada perbedaan yang signifikan. Sering kali kedua istilah ini digunakan dengan arti yang sama,  juga dengan kata ‘pegawai’ yang merupakan adopsi dari kata ‘gawe’ yang dalam bahasa Jaw artinya ya pekerjaan.

Seorang pekerja tugasnya menjalankan apa-apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya sesuai dengan uraian pekerjaan sesuai fungsi yang ia emban. Bila ia adalah tenaga penjual maka ia mengerjakan segala sesuatu terkait kegiatan menjual barang dan/atau jasa yang ditwarkan perusahaan tempatnya bekerja.  Bila ia adalah tenaga akuntansi maka ia menjalankan fungsi pembukuan dan pelaporan keuangan. Diharapkan bila semua pekerja menjalankan fungsinya maka tujuan perusahaan akan tercapai.

Karyawan

Sesuai dengan namanya,  seorang karyawan fokusnya adalah menghasilkan sebuah “karya” yang bermanfaat bagi perusahaannya,  pelanggannya dan dirinya. Dia juga seorang pekerja karena dalam berkarya ia harus mengikuti pakem-pakem yang ada sesuai fungsi masing-masih. Tak ubahnya seperti wartawan yang tugasnya menghasilkan berita (warta). Perbedaan signifikan antara karyawan dengan pegawai adalah dalam hal pola pikir terhadap hasil dari apa yang dikerjakan yakni sebuah “karya”.

Selamat pagi!



Tom Peters mengatakan Hukum 18 Detik berdasarkan survei yang dilakukannya. Menurut survei tsb, rata-rata seorang dokter hanya sabar mendengarkan keluhan pasien selama 18 detik saja dan segera memotong pembicaraan sang pasien. Ah …jangan-jangan kitapun juga seperti itu, masuk dalam Hukum 18 Detik nya Tom Peters. Bisa jadi.

Mendengarkan (secara aktif) memang merupakan ketrampilan yang harus dikuasai demi meningkatkan kualitas interaksi kita dengan teman bicara yang berada di hadapan kita. Bila kualitas interaksi meningkat mencapai engagement excellence, kesuksesan insya Allah dicapai.

Beberapa tip dalam meningkatkan ketrampilan mendengarkan:

1. Usahakan sepenuh hati menganggap teman bicara kita adalah orang paling penting di dunia dengan sedikit mencondongkan postur badan kita ke arahnya, saat ia berbicara.

2. Abaikan segala jenis gadget yang ada di tangan Anda, tatap matanya. Ini menunjukkan bahwa kita serius sedang mendengarkannya. Bila pembicaraan berlangsung di mall yang hiruk pikuk dan banyak orang berseliweran, jangan sedetikpun mata Anda melihat orang lain yang lalu lalang. Ini akan memberi kesan mata Anda jelalatan (maaf) yang segera bisa membunuh kualitas interaksi Anda.

3. Take note. Bila ada pena dan secarik kertas, catatlah hal hal penting yang menurut Anda perlu klarifikasi atau tanggapan dari Anda. Ini akan meningkatkan rasa percaya diri teman bicara Anda karena Anda terbukti menperhatikannya saat ia berbicara.

Bagaimana menurut Anda?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.