Feeds:
Posts
Comments

Memanusiakan Bisnis

Apa yang terlintas di benak Anda begitu mendengar kata “bisnis”? Wajar bila Anda langsung mengasosiasikannya dengan sesuatu yang menguntungkan, secara finansial. Tentu, ini bukan hal http://www.mcnallyrobinson.com/img/prod/49d4e1b610cc0.jpgyang salah. Yang kemudian berkembang adalah suatu anggapan bahwa yang namanya bisnis adalah animal yang berorientasi keuntungan dengan jalan mengeksploitasi sumber daya. Tidak jarang orang mengatakan bahwa bisnis itu kejam, egois, tidak mengenal perasaan, tidak peduli dan sebagainya yang sifatnya negatif. Buku ini justru mengajak kita memandang bisnis secara manusiawi. Setelah itu kita diajak berbuat sesuatu dengan tujuan tunggal: membuat dunia lebih baik.

Ihwal bisnis yang tak berorientasi keuntungan semata sebenarnya telah dicontohkan oleh Konosuke Matshusita yang merasa tersentuh melihat seorang fakir miskin sulit mendapatkan air minum yang layak. Sejak itu ia bertekad membangun bisnis dengan tujuan utama menciptakan dunia yang lebih baik. Mungkin kita terheran-heran dengan apa yang dilakukan Konosuke ini. Betapa tidak, dia membeli paten transistor dan kemudian menyilahkan pihak lain menggunakannya tanpa dipungut biaya apapun. Demikian halnya dengan seorang Muhammad Yunus yang trenyuh melihat pengrajin miskin di kampung-kampung, kesulitan membeli bahan baku yang hanya sekitar sepuluh dolar. Ia kemudian membangung Grameen Bank yang fokus pada usaha kecil dengan nasabah ibu-ibu.

Kita juga mengenal istilah pemangku kepentingan atau biasa disebut dengan stakeholders di buku-buku manajemen. Pemangku kepentingan perlu diperhatikan dan dipenuhi kepentingannya agar bisnis berjalan langgeng. Bahkan, belakangan ini menjadi tren bila perusahaan ingin diklaim sebagai peduli lingkungan maka ada kegiatan yang disebut corporate social responsibility. Artinya, bisnis tak semata mengejar keuntungan. Kalau begitu, hal apa lagi yang ditawarkan oleh buku ini? Ada tiga hal pokok: mengajak kita berpikir mendalam tentang tujuan utama bisnis, memberi inspirasi tentang contoh ril, dan menyusun rencana ke depan.

Sejarah telah membuktikan bahwa pengusaha (entrepreneur) melakukan hal yang menurut mayoritas orang tak mungkin dilakukan (hal 53). Contohnya banyak: walkman, personal computer, laptop, google. Namun sering kita tidak menggali maknanya lebih dalam lagi tentang apa tujuan utamanya. Sebelum ditemukan, pendiri Google tidak pernah bisa mentargetkan berapa besar keuntungan yang dia bisa peroleh. Namun yang pasti, mereka yakin bahwa Google akan membantu banyak orang efisien menggunakan internet. Jadi, sebenarnya keuntungan merupakan efek samping belaka (hal 83). Seperti halnya dalam upaya mengejar kebahagiaan hidup. Orang yang mengejar kebahagiaan hidup sering dijumpai justru mengalami keterpurukan. Padahal kebahagiaan bisa diraih dengan meningkatkan kepekaan dalam mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, memiliki teman-teman baik, belajar dan tumbuh, serta membantu orang lain.

Contoh nyata yang telah dilakukan oleh perusahaan seperti Whole Foods memberikan pembelajaran pentingnya core values dan budaya perusahaan membantu perusahaan bertahan dan bahkan bertumbuh-kembang menjadi perusahaan Fortune 500. Keseimbangan dalam memuaskan lima pemangku kepentingan (anggota tim, pemasok, pelanggan, penyangga dana, dan lingkungan) benar-benar dijalankan dan dipantau regular. Hasilnya adalah bisnis yang sehat dan pada akhirnya menguntungkan meskipun pada tahun-tahun awal mengalami kerugian. (hal 102). Sepertinya bukan hal baru. Namun, cara penyajiannya menarik dan patut dicontoh perusahaan nasional yang umumnya menganggap core values sebagai pajangan dinding.

Setelah memaknai lebih dalam tujuan bisnis dan melihat contoh-contoh nyata, langkah selanjutnya adalah bagaimana merealisasikannya ke bisnis kita. Bagian akhir buku ini menguraikan panduan rinci dengan menggunakan metaphor sebuah drama. Ini juga merupakan penyajian yang menarik. Yang perlu digarisbawahi adalah penekanan pada visi pendidikan yang solid. Bagian ini wajib dibaca oleh pemimpin bangsa ini agar tidak berorientasi kepada mempertahankan kekuasan melalui program yang hanya memiliki horizon lima tahun sesuai perioda kepemimpinan. Sedangkan, pendidikan perlu direncanakan untuk sekurang-kurangnya tiga puluh tahun ke depan.

Meskipun demikian, buku ini juga memiliki kekurangan yaitu sulitnya menarik benang merah esensi buku ini di bagian awal. Buku yang sempurna memberikan gambaran menyeluruh mengenai substansinya di bagian awal. Hal ini bisa dipahami karena buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa ahli dan praktisi. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya Michael Strong merangkum dan menarik benang merah yang jelas di awal buku.

Buku ini layak dibaca siapa saja yang peduli dengan upaya membuat dunia ini lebih baik, termasuk negeri ini menjadi lebih baik. Bila politikus, yang saat ini sedang bertarung untuk kekuasaan, membaca buku ini dan memaknainya dengan baik, mereka bisa menjadi pemimpin bangsa yang efektif. Di jaman krisis global ini setiap individu perlu menjadi solusi dari permasalahan di seputarnya.

Gatot Widayanto

Konsultan Bisnis dan Manajemen

www.valuquest.co.id

Be the Solution

How Entrepreneurs and Conscious Capitalists Can Solve All the Worlds Problems

by Michael Strong, Wiley, 2009

(374 pages)

Resensi di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu 30 Mei 2009.

Outliers

Ihwal Hukum 10.000 Jam

Judul: Outliers: The Story of Success

Penulis: Malcolm Gladwell

Penerbit: Little, Brown and Company

Tahun: edisi pertama, November 2008

Tebal: 320 halaman


Nama Malcolm Gladwell mungkin sudah tak asing lagi. Ia adalah pengarang buku Tipping Point dan Blink, yang sudah diterjemahkan ke edisi Indonesia. Dengan gaya penulisan yang enak diikuti dari awal hingga akhir, ia mengulas fenomena sosio-kultural secara jelas di Tipping Point dan pengambilan keputusan cepat bak mengerdipkan mata di Blink.

Inilah buku ketiganya: Outliers. Buku ini memusatkan perhatian pada ketajaman analisisnya dalam mengamati fenomena sukses dengan gaya penuturan dongeng (story-telling) seperti halnya yang ia lakukan pada dua buku sebelumnya. Di sinilah kekuatan buku-buku Gladwell yang selalu menekankan gaya dongeng memikat berdasarkan fakta-fakta penelitian yang telah dilakukan orang lain. Tak salah bila ia termasuk penulis berprestasi dan disegani di dunia penulisan.

Sepintas, Outliers seperti bertolak-belakang dengan Blink, karena di sini diperlukan ketajaman analisis berdasarkan kedalaman observasi. Namun konteksnya berbeda. Di sini Gladwell menekankan faktor apa yang menyebabkan seseorang sukses dan berbeda dari yang lain (outlier). Bila Anda mengikuti halaman demi halaman, mungkin sulit Anda jumpai salah satu tokoh dalam buku ini yang menerapkan teknik Blink. Namun bukan di situ fokus bahasan Gladwell karena justru ia ingin membawa kita ke keyakinan bahwa sukses bisa diraih siapa pun asal bekerja keras.


Ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari buku ini. Pertama, tentang relasi antara kesehatan atau umur panjang dan kehidupan komunitas. Ini yang sungguh memikat saya sejak saya baca buku ini dari awal. Gladwell berhasil membidik potret sebuah kelompok yg tinggal di daerah bernama Roseto di Pensylvania, yang populasinya dua ribu orang. Daerah ini dihuni oleh orang-orang keturunan Italia yang bermukim dan hidup di Amerika.

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa penduduk Roseto memiliki umur hidup di atas rata-rata dan sangat jarang yang terkena serangan jantung. Setelah menelusuri dan menyajikannya secara menarik, Gladwell menemukan bahwa faktor penyebab umur panjang dan kesehatan bukan karena penduduk Roseto rajin berolahraga, atau keterunan moyang mereka sehat-sehat semua. Justru gaya hidup penduduk Roseto yang menyebabkan mereka memiliki ketahanan daya hidup yang panjang.

Mereka hidup saling mengenal satu sama lain dalam ikatan silaturahmi yang dekat. Tidak ada kesan di antara penduduknya yang mengejar kemewahan hidup, bahkan jarang dijumpai mobil mewah di sana. Pada sore hari mereka biasa mengobrol dengan tetangga. Para wanita sehari-hari bekerja di rumah. Tidak jarang dijumpai rumah tangga berpenghuni tiga generasi hidup dalam satu atap pada saat bersamaan. Dengan gaya hidup kekeluargaan ini mereka terbebas dari tekanan hidup dan menjadi panjang umur.

Kedua, secara tegas Gladwell menekankan bahwa sukses hanya bisa diraih melalui kerja keras. Mungkin hal ini sudah sering kita dengar dari buku-buku pengembangan diri. Namun Gladwell meninjaunya dengan kajian mendalam dan berani menyimpulkan Hukum 10.000 Jam. Apa pun profesi Anda, bila Anda berlatih dengan serius selama 10.000 jam, hampir bisa dipastikan Anda sukses.

Gladwell mengambil contoh The Beatles dan Bill Gates. Untuk mencapai ketenaran, The Beatles telah bekerja keras sebelum meluncurkan album sendiri. Mereka bermain nonstop hampir tiap malam di Hamburg sejak 1960 hingga 1962. Pada awalnya mereka bermain selama 106 malam dengan masing-masig durasi anatara 5-6 jam sekali main. Kemudian semakin meningkat lagi frekuensi dan durasinya sehingga secara total mereka telah naik panggung sebanyak seribu dua ratus (1.200) kali sebelum mereka mulai dikenal pada 1964.

Jumlah itu merupakan angka yang fantastis karena tidak pernah ada lagi band yang selama kariernya bermain sebanyak ini. John Lennon mengatakan pada sebuah wawancara bahwa mereka memilih bermain di Hamburg karena frekuensinya, karena di Liverpool mereka hanya diberi kesempatan main satu jam setiap naik panggung.

Kisah kerja keras juga disajikan menarik terkait dengan Bill Gates yang begitu persisten mempelajari komputer sejak di bangku sekolah. Ia bahkan sering menginap di laboratorium komputer milik sekolah.

Pesan yang disampaikan Gladwell jelas: kita tidak bisa memisahkan kisah sukses Bill Gates maupun The Beatles tanpa mendalami apa yang telah mereka lakukan sebelum mereka dikenal. Lebih jauh lagi, ia menyatakan ada kabar baik bagi mereka yang ingin fokus pada bidang tertentu, ada jaminan sukses bila kerja keras menggunakan Hukum 10.000 Jam.

Ketiga, buku ini mengajari kita tentang bagaimana menyambungkan fakta, informasi, maupun data yang sebenarnya begitu tersebar di sekitar kita yang kemudian dikemas menjadi suatu fenomena yang bisa diberlakukan secara umum. Connecting the dots, mungkin ini istilah tepatnya.

Sering pola pikir kita berorientasi pada usaha membuktikan hipotesis berdasarkan data dan fakta yang relevan. Buku ini bekerja sebaliknya. Hipotesisnya belum ada. Justru begitu banyak fakta, data, dan informasi tersebar di seputar kita yang memicu kita menemukan fenomena. Dalam wacana praktis masa kini, ini artinya kita tidak perlu, misalnya, mencari jawaban mengapa orang berbondong-bondong memiliki akun Facebook. Kita perlu fokus pada hal ini: menyikapi menjamurnya Facebook, fenomena apa yang bisa kita ajukan berkaitan dengan kenyataan ini.

Itulah yang harus kita contoh dari pola pikir Gladwell. Bila kita kuasai hal ini, kita jauh lebih bagus dalam mengantisipasi masa depan. Dan, bukan hanya itu saja. Kita bisa melihat setiap fakta yang diamati bila digabung satu dengan yang lainnya bisa menjadi fenomena tertentu yang bisa kita gunakan untuk menciptakan peluang.

Gatot Widayanto, konsultan bisnis dan manajemen

http://www.valuequest.co.id/

Catatan:

Tulisan di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 29 Maret 2009 – Ruang Baca.


Ini adalah oleh-oleh dari kegiatan Launching dan Seminar “Teachers Working Group” (TWG) yang diselenggarakan kemarin, Minggu 22 Maret 2009 di masjid Al Hikmah, Kompleks Peruri, Ciledug. Sungguh saya senang mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu pembicara dalam seminar ini oleh bu Tyas dari TWG.

Topik ini saya angkat karena peran guru sangat kritikal dalam proses transformasi nilai dan perilaku bagi anak didik (siswa) yang pada akhirnya sebagai generasi penerus bangsa ini. Berikut ini adalah kumpulan slide yang saya gunakan dalam sesi tersebut:

front1

sasaran

situasi

tantangan

ikhtiarnya

guru-sbg-agen-perubahan

sulitkah

Hukum Newton untuk Pemasaran

http://z.about.com/d/entrepreneurs/1/G/e/1/GravitationalMarketing.jpgSeberapa banyak Anda belajar dari membaca buku? Sebagian dari Anda mungkin memetik manfaatnya. Namun, cukup banyak orang yang saya jumpai meremehkan manfaatnya. Tidak demikian halnya saya. Saya menjalani kehidupan sebagai karyawan dan kemudian sebagai konsultan independen hingga sekarang, tak pernah bisa lepas dari buku. Tentu, buku bukan merupakan satu-satunya penyokong terbesar dalam berkarya. Mungkin juga kontribusinya hanya 10% dari hal-hal lain yang mempengaruhi kesuksesan kita. Namun, saya tidak bisa membayangkan melakoni profesi tanpa pernah membaca buku. Bisa jadi 90% sisanya juga tidak bisa saya peroleh karena wawasan yang tidak bertambah dalam menyikapi suatu persoalan. Wawasan sempit mebuat otak kita kerdil dan tidak bisa secara maksimal memanfaatkan potensi diri. Orang bijak mengatakan bahwa otak manusia seperti halnya payung, baru bekerja bila terbuka.

Topik pemasaran bisa dikatakan salah satu yang paling tua. Bila Anda membuka Google dengan pencarian “book on marketing” maka akan muncul lebih dari 138 juta item ditemukan. Ini artinya pemasaran merupakan topik yang banyak dibicarakan orang dan sudah beredar jutaan buku atau artikel terkait dengan pemasaran. Lalu, kenapa pula musti baca “Gravitational Marketing”? Satu hal yang pasti, istilah yang digunakan cukup menarik dan sepertinya merupakan terobosan baru dalam pemasaran. Ditambah lagi, sub judul “The Science of Attracting Customers” cukup menjanjikan bagi calon pembaca. Betulkah? Mari kita lihat isinya.

Siapa tidak menginginkan pelanggan? Semuanya butuh pelanggan dan itu merupakan hal penting. Buku ini memperkenalkan cara untuk menarik pelanggan tanpa susah payah karena secara otomatis sudah menarik. Jimmy Vee, Travis Miller, dan Joel Bauer mengulas secara rinci dalam tujuh cara. Salah satunya adalah mengidentifikasi diri kita sebagai seorang ahli (expert). Pendefinisian sebagai ahli pun cukup sederhana, yaitu menggunakan kriteria lamanya menekuni suatu bidang, keahlian menanganinya, dan kemampuan untuk mengerjakan secara memuaskan untuk pelanggan. Artinya, bila Anda mengidentifikasi diri sebagai seorang ahli memasak, maka Anda sudah pasti harus telah lama menggelutinya, menguasai secara baik menu makanan yang sesuai dengan acaranya (pernikahan, seminar, khitanan, misalnya), dan mampu memuaskan pelanggan. Bila kriteria ini dipenuhi, maka Anda bisa disebut sebagai seorang ahli.

Struktur buku ini dibagi menjadi dua bagian besar dengan bagian pertama berbicara pada tingkat konsep sedangkan bagian dua fokus pada teknik pelaksanaan. Gravitational Marketing memiliki tiga lingkaran (three rings) yang merupakan elemen penting: pasar, pesan, dan media. Ini artinya pendefinisian pasar harus sudah jelas agar pesan yang dibuat tepat mengenai sasaran, menggunakan media yang tepat. Dengan menggunakan gravitasi (mengambil analogi dari Prinsip Newton) pelanggan akan tertarik secara otomatis. Selain mengulas pada tingkat konsep, buku ini juga dilengkapi dengan panduan teknis di bagian dua. Bagi Anda yang merasa sudah bosan dengan konsep, disarankan langsung membaca bagian dua tanpa harus membaca bagian pertama sekalipun. Bagian ini terdiri dari tujuh bab yang secara rinci memandu pembaca melalui 36 teknik pemasaran dengan media yang berbeda.

Salah satu taktik menarik yang perlu Anda pertimbangkan adalah dalam pertukaran kartu nama. Disarankan Anda untuk tidak memberikan kartu nama pada suatu jamuan atau pertemuan. Yang disarankan justru meminta kartu nama orang lain dan Anda menyiapkan suatu penawaran gratis berupa laporan, analisis, kertas kerja, perangkat lunak diagnosis, atau layanan lainnya sebagai pintu masuk Anda kepada calon pelanggan. Ini tidak lazim kita lakukan karena bisanya kita bertukar kartu nama saat bertemu dengan orang lain di suatu jamuan atau pertemuan seminar. Jimmy, Travis & Joel menganggap pemberian kartu nama akan berujung sia-sia karena pada akhirnya akan masuk tong sampah. Anda siapkan brosur / pamflet yang menawarkan layanan gratis tersebut. Bila Anda seorang psikolog, Anda cantumkan layanan gratis konsultasi via internet, misalnya.

Meskipun secara penampilan cukup menarik dan istilah yang digunakan menimbulkan rasa penasaran, buku ini menuai dua hal yang mengganggu. Pertama, terlalu berani mendeklarasikan bahwa konsep dan teknik yang ditawarkan merupakan hal baru dan sensasional. Ini benar bila yang membaca buku ini pertama kali belajar pemasaran. Bagi yang faham pemasaran, bukan hal yang baru. Contoh paling mudah adalah networking yang sudah sangat lazim dan menjadi “bahasa gaul”. Kedua, buku ini terlalu naif dalam memberikan nasehat menjanjikan kepada pembaca. Seolah bila pembaca melakukan hal-hal yang disarankan, dijamin keberhasilan dicapai. Dari halaman demi halaman yang saya baca saya sering tertegun dengan kenaifan para penulis yang seolah menggurui kisah suksesnya untuk pembaca.

Premis sederhana yang ditawarkan buku ini memang pas bila dikaitkan dengan mahalnya biaya promosi dan iklan. Belum lagi semakin banyak iklan beredar yang membuat calon pelanggan bingung dalam mengambil keputusan. Bila secara intrinsik Anda sebagai seorang ahli sudah menarik, maka pesanan datang secara otomatis. Sebagai konsultan independen sejak 2002, saya merasakan sendiri manfaat dari networking. Sebagai konsultan independen, praktis saya hanya mengandalkan jejaring kenalan untuk mendapatkan pesanan, baik itu jasa konsultasi maupun pelatihan in-house. Jadi, jangan remehken kenalan Anda dan selalu tingkatkan pengembangan diri Anda di bidang yang ditekuni agar selalu meningkat keahlian Anda. Bagi saya sendiri, beberapa taktik yang diuraikan buku ini tetap menarik dilaksanakan dalam profesi saya, dengan beberapa penyesuaian.

Gatot Widayanto

Konsultan Manajemen

http://www.valuequest.co.id/

Resensi di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 25 Februari 2009.


Buku ini, sesuai judulnya, mengajak kita untuk lebih peka terhadap apoa-apa yang terjadi di alam sekitar kita. Sang penulis, Dadang Kadarusman, yang menjalani masa kecilnya di sebuah daerah di Bandung Selatan. Pengalaman masa kecilnya inilah yang membuatnya piawai dalam megikat makna dari kejadian di seputar alam pertanian untuk kita merenungkan pembelajaran dari alam yang merupakan sumbe inspirasi dalam kehidupan ini. Setiap bab yang dibahas selalu mengambil dari kejadian di seputar lahan pertanian yang kemudian dikupas maknanya secara lebih mendalam. Hal ini yang membuat buku ini menarik dibaca, direnungkan dan diambil saripati maknanya untuk penguatan jiwa kita.

Penulis menggunakan Pak Tani sebagai orang bijak yang siap membagi cerita mengenai makna dari sebuah peristiwa. Misalnya, di awal buku ini sudah mengingatkan kita akan kokok ayam jantan (jago) di saat Subuh yang memberikan nuansa optimisme dalam mengarungi kehidupan pada hari itu. Kokok tersebut sekaligus sebagai suatu alarm bagi Pak Tani untuk bangun dan bersiap kerja. Kemudian mengenai pohon pisang yang bertahan hidup hingga memberikan manfaat bagi manusia. Bila kita tebang batang pisang, beberapa minggu kemudian ia akan tumbuh lagi, sampai meghasilkan buah pisang. Keteguhan hati batang pisang inilah yang memberikan kita tentang falsafah hidup pantang menyerah. Layak baca ….

Cuplikan dialog pak Sastro dan Agam:

Agam:
“Iya pak …memang sering kali saya mendapatkan ide-ide gila .. yah kalo kata temen2 saya yang melek manajemen …itu istilahnya inovatif gitu pak … Tapi gimana ya ..kok rasanya sering gak yakin ya …?”

Pak Sastro:
“Gam, masalahnya bukan seorang yang otaknya brilian seperti kamu bisa membuat perubahan berarti…itu malah tidak penting!!”

Agam:
“Lho pak …bukankah sebagai karyawan yang professional saya harus berpikir sebagai pengusaha? …hmm…dituntut untuk memiliki ide2 brilian dan berpikir out of the box?”

Pak Sastro:
“Betul … itu 100% betul dan tidak ada satu orang bahkan buku manajemen paling mutakhir yang pernah ada yang menyangkal perkataanmu itu ….”

“Namun …” (Pak Sastro melanjutkan nyeruput kopi luwaknya …

”…itu hanya satu persen dari keberhasilan!”

Agam:
”Ah pak .. bapak ini gimana sih …orang udah mikirnya susah2 sampai mencari sumber inspirasi di malam hari …eh cuman dibilang satu persen …kumaha’ atuh???”

Pak Sastro:
”99% lainnya adalah membangun rasa memiliki bersama ….”

”Maksud bapak?”, sergah Agam tidak mengerti penjelasan Pak Sastro ini …

Pak Sastro:
”Sipapaun punya ide brilian, maka tidak akan pernah menjadi perubahan signifikan yang positif bila itu hanya ada di benak si penemu ide. Dia harus menjual ide tersebut ke orang lain dan secara tekun membangun rasa memiliki ide itu secara bersama dan membuatnya menjadi perubahan! Kalau setiap orang melihat bahwa itu melulu ide kamu, mana mungkin mereka mau menjalankan kalau mereka tidak merasa memiliki ide tersebut. Buatlah seolah ide yang tadinya adalah ide kamu, menjadi ide orang lain sehingga mereka merasa memilikinya. Jadi kuncinya, kalau punya ide tidak usah takut kehilangan pujian kalau ide itu tidak dianggap sebagai ide kamu meskipun sebetulnya kamu pencetusnya. Ini penting sekali, Agam …. Tidak ada suatu perubahan signifikan terjadi tanpa ada dukungan penuh dari orang-orang yang ada di organisasi tersebut. Dan .. dukungan terbaik adalah dengan memilikinya …”

Agam:
”Ooooooooooo ……”.

Toyota Culture

Resensi ini telah dimuat di Ruang Baca, KORAN TEMPO Minggu, 30 Desember 2008.

Akhir dari Trilogi Toyota


Sehari sebelum menulis resensi ini kebetulan saya membaca berita tentang rencana pengajuan bangkrut oleh raksasa otomotif terbesar di dunia, yaitu General Motors. Apa hubungannya dengan buku bertajuk Toyota Culture – The Heart and Soul of Toyota Way ini? Sangat erat, karena Toyota hanya terpaut sedikit (3.524 unit) dalam penjualan mobil secara global pada 2007 dari sang rasaksa, yang mencapai 9.369.524 unit di seluruh dunia. Selain itu, Toyota masih belum merencanakan kebangkrutan.

Apakah posisi yang masih kukuh itu disebabkan oleh faktor budaya perusahaan yang melekat pada Toyota sehingga perusahaan ini tahan terhadap gempuran krisis global dunia? Jawaban atas pertanyaan ini akan kita lihat di masa mendatang. Sementara itu, buku ini mengulas bagaimana budaya perusahaan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Buku ini jelas akan meledak penjualannya setelah satu dekade dari sekarang, yaitu pada 2018, bila terbukti Toyota semakin merajai pasar otomotif dunia.

Buku ini menyajikan ulasan mendalam, lengkap dengan diagram pemikiran struktural yang terperinci dan menarik, mengenai hal-hal mendasar yang membentuk The Toyota Way. Memang, setiap perusahaan memiliki ”caranya” sendiri dalam meraih sukses, namun apa yang telah dicapai Toyota perlu dipelajari secara seksama. Tujuan akhirnya adalah bagaimana pelajaran bisa dipetik dari pengalaman Toyota.

Nama Jeffrey K Liker sudah tak asing lagi menulis pemikirannya dalam buku mengenai Toyota. Kali ini dia menggandeng Michael Hoseus, yang telah bekerja lebih dari 12 tahun di pabrik Toyota di Georgetown, Kentucky. Liker dan Hoseus menekankan keterkaitan signifikan antara budaya perusahaan dan kinerja usaha.

Ada tiga hal yang bisa dipetik dari buku ini: membangun budaya perusahaan tak kalah pentingnya dengan membangun pabrik mutakhir, perubahan budaya merupakan tantangan besar, dan pentingnya mengambil sikap dalam menentukan arah perusahaan.

Dalam hal yang pertama, penulis cukup cerdik dengan memanfaatkan hasil riset budaya dari Hofstede dan Hofstede (2004) tentang tingkat budaya beberapa negara, termasuk Amerika dan Jepang, terhadap lima dimensi utama yang diukur (hlm. 20-21). Ini menarik dipelajari mengingat perbedaan sikap dan preferensi terhadap lima dimensi itu berbeda cukup mencolok antara Timur (Jepang) dan Barat (Amerika). Lima dimensi itu adalah kekuasaan, individualitas, maskulinitas, menghindari ketidakpastian, pemikiran jangka panjang.

Berdasarkan survei Hofstede itu, penulis mengupas secara mendalam isi perut Toyota dengan pemetaan yang berfokus pada pemecahan masalah. Budaya Toyota memayungi siklus pemecahan masalah sejak masalah diidentifikasi disertai dengan pembangunan kepercayaan pada lini manusia di setiap lini produk yang ada untuk mencapai penyelesaian optimal. Hal itu dicapai melalui teknik yang dikenal dengan JIT (just-in-time), stabilisasi, visualisasi, dan standarisasi (hlm. 40).

Bila melihat peta yang dijabarkan, kelihatannya mudah. Namun, Toyota harus bekerja keras merealisasikannya. Salah satunya, pada Bab 5 diulas secara mendalam program pengembangan sumber daya manusia agar kompeten menjalankan peta tersebut.

Budaya didefinisikan dalam perspektif mengenai artifak atau perilaku, norma dan nilai, serta asumsi dasar yang digunakan. Melalui kerangka inilah pemahaman budaya perusahaan ditelusuri lebih mendalam. Membangun budaya perusahaan dilakukan melalui proses perubahan yang penuh tantangan. Syarat yang harus ada dalam mengarungi tantangan ini adalah mutlaknya pimpinan puncak menggulirkan perubahan. Pimpinan harus mengubah dirinya lebih dulu sebelum menjadi pemimpin transformasional. Kemajuan perubahan harus kemudian didukung dengan kejujuran dan keterbukaan terhadap kondisi sebenarnya dari perusahaan, tanpa tedeng aling-aling karena takut pada atasan.

Ada kisah menarik yang ditorehkan dari pengalaman pribadi Hoseus, yakni pengalaman pertamanya sebagai pemimpin kelompok yang baru. Setelah membuat kesalahan, dia malah mendapatkan tepuk tangan meriah karena berani mengungkapkan apa adanya. Siapkah perusahaan Indonesia memberi penghargaan kepada yang mengaku salah? Ini merupakan tantangan kita bersama.

Mengambil sikap terhadap pengendalian arah perusahaan perlu dilakukan meski mungkin sikap itu masih diperdebatkan. Pada suatu pertemuan kekeluargaan dengan beberapa teman eksekutif yang menduduki jabatan puncak di perusahaan asing, salah seorang teman saya menceritakan tentang program budaya perusahaan di tempatnya bekerja sambil mencibirkan mulut. Dia mengatakan bahwa membicarakan budaya perusahaan akan membuang-buang waktu, lebih baik mengerjakan tugas saja, langsung ada hasilnya.

Dalam hal itulah pimpinan puncak perlu mengambil sikap (make a stand) bahwa untuk menjamin kinerja yang bagus dan konsisten, sebuah perusahaan perlu memiliki budaya perusahaan yang kuat. Tanpa ada kesatuan pola pikir yang menentukan sikap kuat, sangat sulit menakhodai perusahaan menghadapi terpaan badai yang semakin hari semakin ganas. Agus Martowardoyo dari Bank Mandiri bisa diambil sebagai contoh. Sejak memimpin bank itu, dengan tegas dia menanamkan budaya yang terkenal dengan TIPCE (Trust, Integrity, Professionalism, Customer focus, dan Excellence). Kinerja bank itu meningkat signifikan sejak kepemimpinannya.

Memang, buku ini semestinya tidak dibaca terpisah karena merupakan rangkaian kesatuan yang merupakan trilogi dengan yang lainnya: The Toyota Way (2004) dan Toyota Talent (2007). Ketiga buku ini menjadi sejenis cetak biru dalam menggapai keberhasilan secara damai, dengan cara: membentuk cara kerja efektif (Toyota Way) melalui pengembangan sumber daya manusia yang terprogram rapi (Toyota Talent) dengan pola yang terstruktur dalam menghadapi perubahan (Toyota Culture).

Gatot Widayanto

Konsultan Manajemen

Pengelola blog:

http://thevaluequest.wordpress.com , http://gwmusic.wordpress.com, dan http://gatotwid.wordpress.com.Bisa juga dilihat di Ruang Baca ini.

  • Best Coffee

    Sinopsis

    best-coffee-cover1Pengambilan keputusan telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, suka maupun tidak suka, diharapkan maupun tidak, dalam kondisi apapun. Setiap pergerakan kita selalu diawali dengan pengambilan keputusan. Bahkan bila Anda sedang duduk kemudian berdiri dan berjalan menuju ke tempat lain itu tentunya setelah Anda mengambil keputusan bahwa Anda mau bergerak dan meninggalkan tempat duduk Anda. Namun, hal ini mungkin tdk pernah Anda pikirkan karena hanya melibatkan keputusan “kecil” yang terlalu remeh untuk dipikirkan.

    Dalam kondisi lain, Anda mungkin dihadapi dengan keputusan yang agak besar dan bahkan mungkin sangat besar, misalnya: memilih jurusan mana setelah lulus SMA, mau bekerja di bidang apa, pasangan hidup seperti apa yang Anda inginkan, dan sebagainya. Dalam konteks pekerjaan sering juga kita dihadapi dg situasi mengenai apa yang musti kita lakukan agar perusahaan tempat Anda bekerja tetap bertahan. Produk apa yang musti ditawarkan? Bagaimana promosi yang diperlukan? Bagaimana distribusinya? Pada harga berapa yang Anda anggap pas agar bisa diserap pasar dan memberi keuntungan berarti bagi perusahaan Anda.

    Melalui tokoh Agam, buku ini mencoba mengulas proses pengambilan keputusan secara rasional menggunakan metode baku berdasarkan common sense. Agam telah enam tahun bekerja di sebuah perusahaan yang berbisnis dalam kedai kopi atau yang dewasa ini biasa disebut dengan istilah kafe gaul. Agam menikmati pekerjaannya karena memang secara naluri dia sangat senang melayani dan menyukai kopi sejak usia relatif remaja. Selain itu dia juga senang karena bisa bertemu banyak orang.

    Kedai kopi Best Coffee telah beroperasi cukup lama dan pertumbuhannya cukup menggembirakan sehingga setiap tahun dibuka gerai baru. Namun, belakangan ini Agam dan juga Manajemen Best Coffee merasakan stagnasi yang pada masa mendatang bisa malah membawa ke kemunduran bagi Best Coffee. Agam tiap hari memikirkan hal ini dan mencari solusinya baik dari segi pelayanan maupun penataan kedai. Segala pernik detil menyangkut kedai ia perhatikan sehingga sering kali ia meluangkan waktu yg lama tiap jam kedai tutup untuk mencari solusinya.

    Perbincangan dengan pak Sastro, salah satu pengunjung setia Best Coffee, yg terjadi beberapa minggu lalu, cukup mengganggu pikirannya. Ada dua hal yg membuatnya terusik. Pertama, terkait dengan pentingnya menyelesaikan masalah secara kelompok dan kedua, tentang pentingnya pemahaman mengenai permasalahan. Dari pikiran yg terusik tersebut akhirnya berlanjut dg beberapa perbincangan lanjutan pada setiap kunjungan pak Sastro di kedai Best Coffee. Perbincangan demi perbincangan akhirnya mengerucut bahwa Agam perlu mulai sounding ke Manajemen Best Coffee untuk perbaikan bisnis. Tidak hanya itu, pak Satro akhirnya memberikan inspirasi mendalam kepada Agam tentang pentingnya proses rasional dalam pengambilan keputusan.

    Melalui perbincangan informal akhirnya hubungan Agam dan Pak Sastro berkelanjutan menjadi hubungan formal dalam bisnis karena akhirnya pak Sastro direkrut oleh Best Coffee sebagai konsultan bisnis. Yang menarik di sini adalah keterlibatan pak Sastro dalam proses transformasi Best Coffee menjadi konsep kedai baru yang berbeda dari sebelumnya. Tidak hanya itu, nama Best Coffee yang dianggap sebagai provider-centric diubah dengan sengaja menjadi customer-centric dengan nama baru MyChoice. Yang menarik, proses ini berlangsung cukup lama karena melalui proses rasional dengan metoda baku yang biasa disebut sebagai Problem Solving & Decision Making. Namun, hasilnya sungguh luar biasa bahkan memberikan dampak bisnis yang signifikan dan sangat positif. Bagaimana prosesnya dan apa dampaknya bagi Best Coffee dalam bisnisnya? Inilah yang akan dibahas dalam buku ini.

    Nantikan segera penerbitan buku yang dikonsep dengan format nobiz (novel bisnis) dengan inspirasi dari The Goal (Eliyahu Goldratt) dan It’s Not Luck (Eliyahu Goldratt) atau The Power of Six Sigma (Subir Chowdury). Disajikan dengan penuturan santai namun serius dan filosofis …karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam berpikir!

    Buku ini adalah karya pertama dari Gatot Widayanto, seorang konsultan bisnis yang telah dua puluh tiga tahun malang-melintang di dunia profesional mulai dari bidang penjualan (sales), project engineering, pemasaran, strategi bisnis, Six Sigma Quality, Human Capital Management dan project management. Gatot adalah juga seorang Corporate Facilitator dengan jam terbang lebih dari 300 hari pelatihan dan dengan jumlah peserta lebih dari 1.200 orang, diluar seminar. Di buku ini Gatot mengulas pendekatan rasional sistematis namun dengan dampak yang dramatis.

    Judul:

    Best CoffeeTransformasi Bisnis Revolusioner, Sebuah Novel Bisnis, 2009

    Jakarta, 15 Des 2008

    Everything is created twice. First is in the mind of the creator or inventor before the thing is materialized. Second is when the thing is materialized in its final form: be it a tangible thing (like a cellular phone, car, etc) or an intangible thing (like cleaning service, insurance, banking, etc). When we talk about the first creation, it definitely deals with what we call a vision – someone’s foresight about the future. This is something about the ability to see the unseen (for most other people) future. It’s like a dream basically – it depicts someone crazy desire(s) for the future. Who had ever predicted that the boy that did daily trading of goods and merchandize in the commuting train between two cities had finally changed the world due to his dream and vision? The boy was Thomas A. Edison who invented light-bulbs and other hundred patented inventions. It started with a vision!

     

    One day in 1932, Konosuke Matsushita saw a tramp in the street of Tokyo tapping a water to drink. Since that experience he contemplated himself and came out with a strong conviction and belief about the concept of “abundance”, ie. Mankind should search for new inventions to create better life for others in the lowest possible cost. He built Matsushita with this concept and planted a 250 Years Corporate Strategy! (Please note, this is beyond the life of typical human-being!). In one of business deals he purchased a patent item in electronic radio and made it free to the world to copy because he has a conviction to lower the cost for all so that everyone on planet earth would enjoy the inventions. What a fabulous dream man ….!!! [I still remember this story vividly in my mind since I read and analyzed the Matsushita case during my MBA class, from the book by Henry Mintzberg “The Strategy Process” – what a great and memorable book man …!! You must have it!]

     

    The best vision should focus on three things, as I understand from knowledge searching through practices and reading hundred of books on how great companies sustain their competitiveness. Those three things are: 1. it should focus on operations, 2. it must be measurable 3. it must challenge the competition. You know what is the best example on this? It’s FedEx man! Yeah … my prog mate Hardiansyah Rizal – who was FedEx Country Manger and now is stationed in Singapore for greater responsibility (but less prog music – pity you, Rizal!) would be happy hearing this. Oh yes … because this example came to me early nineties when the Re-Engineering buzzwords overdosed business leaders at the time. Remember that time? FedEx vision at its infancy was simple and very straight forward: We deliver your package next day by 10:30. It’s clear that this vision focus on operations (deliver your package); measurable (next day by 10:30) and it challenge the industry competition (at the time it was tough to deliver one day).

     

    The other example that shows the importance of vision is about instant noodle. Thirty years ago Indofood mentioned that they wanted to be the largest instant noodle producer in the world. People were laughing at it at the time. Why? By the time China had already the largest producer while Indonesia was none compared to them. What happen today? Indofood is the largest producer of instant noodle in the world! That’s the power of strong and clear vision man! This story on Indofood was energetically shared by my MBA guru, my motivational guru, and my best friend Pak Max Makahinda – motivational leader in one of luncheons that we regularly meet. Thanks pak Max!

     

    So man … it’s clear, I think, that first important part is “the” vision. Don’t play around with it if you wanna succeed and win in life! If you don’t have it yet, you’d better stop working now, go to a silent place where you can spend fulltime with yourself for self-contemplation and strategize your future. Do it NOW! If you need to find good music to contemplate, find it through my review in Progressive Mind by clicking this:

     

    As Stephen Covey put nicely in his Seven Habits book: you must have your personal mission statement. Jack Welch said: “Control your destiny! Or … someone else will!”.

     

    This article describes the first character of my VALUE proposition. Remember it? Yeah .. you got it man! Vision and Action Lead Us toxcellence! Bingo! I will come back to you with the next one about Action. (Gatot Widayanto, June 2005)

    Tulisan ini telah dimuat di KORAN TEMPO Minggu, 26 Oktober 2008 di Ruang Baca halaman 18. Kali ini membicarakan manajemen dalam konteks lingkungan hidup global. Selamat menikmati. Salam, G

    ——————

    How Individuals and organizations are working together to create a Sustainable World.

    Alasan utama membeli buku ini bagi saya karena faktor penulisnya. Siapa tak kenal Peter Senge yang kondang dengan buku The Fifth Discipline pada hampir dua dekade yang silam, tepatnya 1990. Buku tersebut telah menjadi buah-bibir di kalangan pemerhati strategi bisnis maupun manajemen terutama yang mendalami pembelajaran organisasi. Premis pokok yang dituangkan Senge saat itu adalah ajakan untuk membudayakan pemikiran sistemik. Contoh yang ia gunakan juga sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan simulasi permintaan-pemasokan sistem distribusi minuman mulai dari pabrik ke distributor, agen, pengecer, sampai ke konsumen. Dengan tujuan akhir mencapai keseimbangan, Senge menyampaikan secara lugas bagaimana pendekatan sistemik bisa menyelesaikan masalah tersebut.

    Pendekatan Sistemik dan Keseimbangan

    Di buku The Necessary Revolution ini Senge menekankan hal yang sama, yaitu pentingnya pendekatan sistemik, dengan tujuan sama: keseimbangan. Bedanya, pada buku terbitan 2008 ini ia dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Masyarakat Pembelajar Organisasi memperluas konteksnya menjadi global, bukan suatu entitas perusahaan. Isu pokok yang ia angkat adalah lingkungan hidup. Di sini ia menekankan pada isu pokok daripada menekankan pada metodenya. Sehingga, jangan kaget bagi Anda yang terbuai dengan uraian menarik tentang pendekatan sistemik di bukunya terdahulu, sekarang kurang mendapat penekanan meski diagram kasualitas masih ia gunakan (dimulai dengan hal. 21). Bisa dikatakan, Senge sengaja ingin menekankan perlunya kita semakin sadar dan bertindak terhadap kerusakan lingkungan yang semakin parah, dengan mengingatkan bahwa perangkat pendekatan sistemik harus digunakan.

    Dari buku ini kita belajar tiga hal: perlunya kesadaran terhadap intensitas kerusakan bumi bumi karena ulah manusia, perlunya cara berpikir baru mengatasi hal ini, dan perlunya bertindak dari yang paling kecil sekalipun. Fakta yang diungkapkan Senge memang patut membuat kita risau (hal. 29). Emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar, mengotori bumi ini dengan volume yang dahyat: 8 milyar ton setiap tahun. Sedangkan, kemampuan bumi dan tanah menyerapnya hanya 3 milyar ton per tahun, sehingga terdapat 5 milyar ton (nett) penambahan CO2 di atmosfir kita. Padahal, saat ini sudah ada 800 milyar ton CO2 di atmosfir. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban polusi bagi anak cucu kita pada nantinya. Memfokuskan pada kadar CO2 membuat kita paham terhadap urgensi permasalahan ini. Ini mengingatkan kita bahwa perubahan iklim seperti yang kita alami pada saat pancaroba ini bukan merupakan masalah tersendiri tapi merupakan rentetan akibat dari kondisi semakin buruknya kualitas bumi ini karena ulah kita. Senge mengibaratkan bahwa kita saat ini hidup dalam suatu gelembung kehidupan, dan kita harus memikirkan cara untuk memasuki kehidupan baru diluar gelembung tadi, Life Beyond The Bubble (hal. 33).

    Pemikiran Baru

    Untuk mengatasi masalah ini perlu adanya pemikiran baru dengan pilihan baru. Senge menguraikan perlunya perubahan sistemik dengan pemikiran baru: melihat secara sistem, menciptakan kolaborasi lintas batasan, dan menciptakan masa depan yang kita inginkan. Dalam dunia yang saling terkait ini sudah sangat dibutuhkan memperluas cakrawala dengan melihat masalah dalam pendekatan sistem yang menyeluruh. Tidak lagi ada suatu fenomena yang muncul dengan sendirinya karena itu pasti merupakan akibat dari adanya fenomena lain. Banyak perusahaan yang telah merintis pendekatan sistem ini, salah satunya Alcoa, yang merasakan kekurangan air bersih yang semakin meningkat. Diperlukan solusi mendasar dalam pengelolaan air bersih tidak sekedar hanya relokasi pabrik hanya karena peraturan daerahnya masih longgar.

    Diperlukan kolaborasi lintas batasan, lintas usaha dan lintas budaya sebagai wujud pendekatan sistemik. Bayangkan suatu dunia dimana kelebihan energi dari suatu usaha diserap oleh usaha lainnya yang membutuhkan. Ini merupakan tantangan besar dunia karena sejauh ini pembicaraan kolaboratif masalah lingkungan hidup masih dalam taraf pembicaraan, belum tindakan. Diharapkan, dengan adanya visi menciptakan masa depan (di luar gelembung) yang lebih baik akan menyelamatkan dunia ini dari kerusakan yang semakin parah. Pemikiran baru ini memang perlu dilaksanakan seefektif mungkin dengan kesadaran penuh dari pelakunya.

    Perlunya Tindakan

    Sebuah bisnis bisa bertahan dan berkembang karena dengan adanya inovasi. Demikian juga bila kita ingin memasuki Life Beyond the Bubble, kita harus menciptakan motivator atau hal-hal yang memberikan inspirasi bagi kita untuk ”mau” bertindak (hal. 285). Ini bukan pekerjaan mudah. Meski usaha ke arah ini belum merupakan sesuatu yang mengglobal, namun beberapa tindakan sudah dilakukan beberapa produsen. Nike, misalnya, telah mengurangi kandungan karbon sol sepatu buatannya sebesar 75%. Di Eropa, bila Anda memproduksi mobil dan menjualnya, Anda bertanggung-jawab untuk memiliki rongsokannya saat mobil tersebut jadi besi tua. Atau dengan kata lain: ”Bila Anda membuatnya, maka Anda memilikinya selamanya”. Senge menekankan perlunya menerapkan model bisnis yang merupakan sistem hidup. Dengan kata lain, bagaimana menciptakan produk yang bisa didaur-ulang pada saat produk tersebut tidak berfungsi lagi. Pada level individual, kita juga perlu mengubah pola hidup konsumerisme kita dengan memulai pada hal-hal kecil, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik, menggunakan sepeda secara rutin ke tempat kerja (cycling to work). Hal-hal kecil ini bila dilakukan jutaan bahkan milyaran orang di dunia, tentu akan memberikan dampak mengurangi laju kerusakan bumi.

    Meski buku ini sarat dengan visi dan kepedulian terhadap terciptanya kehidupan yang lebih baik, namun terasa kurang fokus. Hal ini mungkin disebabkan terlalu luasnya konteks bahasan, tidak pada entitas bisnis atau kompetisi. Salah satunya adalah seperti diuraikan di halaman 263 – 266 dimana diberikan contoh kalimat yang perlu digunakan dalam pembicaraan masalah lingkungan. Menurut saya, ini sudah terlalu rinci untuk bahasan global dengan isu pokok lingkungan yang sangat kental. Sayangnya, rincian pada level kolaborasi antar perusahaan atau dengan pemerintah kurang diperhatikan bagaimana menciptakan model kolaborasi yang tepat. Namun, buku ini sudah cukup menggugah kita untuk lebih peduli lingkungan hidup.

    Gatot Widayanto

    Konsultan Manajemen dan Pesepeda ke tempat kerja

    Older Posts »