Feeds:
Posts
Comments

Di status FB saya tertulis:

Udah seminggu ini pagi hari tanpa koran. Pertama kali dalam sejarah saya berlangganan koran diputuskan secara sepihak sebagai langganan. Kata agennya: “Menurut surat dari redaksi KORAN TEMPO, pak Gatot sudah dihentikan jadi pelanggan sejak 21 Oktober 2009.” Ya Allah …apa salahku? Apa ini petunjukMu supaya langganan Republika saja?

Sungguh, saya tak tahu apa alasannya saya diberhentikan secara sepihak sebagai pelanggan Koran Tempo. Agen hanya bilang: “Kami hanya pelaksana pak, soalnya ada surat resminya dari redaksi”.

Di jaman ketika kompetisi begitu ketat, mendapatkan pelanggan begitu sulit. Sepuluh tahun lalu, ketika saya bekerja di Citibank, masih ingat sekali betapa mahalnya “acquisition cost” untuk mendapatkan new customer. Hitung saja berapa besar advertising & promotion cost yg musti dikeluarkan buat menarik calon pelanggan hingga tertarik menjadi pelanggan. Barry Lesmana sebagai pimpinan consumer bank saat itu begitu giatnya menyadarkan karyawan pentingnya “relationship deepening” dengan pelanggan karena acquisition cost yg makin meningkat. Hal ini wajar, karena dengan semakin mendalam hubungan kita dengan pelanggan, maka ia akan melakukan repurchase thd layanan kita dan ujung2nya meningkatkan profit tanpa mengeluarkan acqusition cost.

Lha, kok malah ini saya sebagai pelanggan malah kena PHK? Saya sudah melapor tapi belum ada jawaban dari redaksi. Padahal, puluhan tulisan saya sudah dimuat di harian ini. Lihat aja di blog ini, begitu banyak postingan yg sebelumnya dimuat di Koran Tempo.

Salam,
G

Charles Handy (Business Masterminds) by Robert HellerBagi yang mengamati perkembangan manajemen, nama Charles Handy sudah tak asaing lagi seperti halnya Michael Porter (ahli strategi bisnis), Henry Mintzberg (organisasi dan strategi), Philip Kotler (pemasaran), Tom Peters (strategi), dan sederetan nama lainnya. Saya masih ingat pertama kali mengenalnya lewat pemikirannya yang ia kemas dalam The Age of Unreason.  Sudah banyak pemikiran dalam bentuk artikel maupun buku yang ia terbitkan dan sayangnya saya tak lengkap memilikinya. Oleh sebab itu ketika saya melihat seri Business Marterminds karya Robert Heller yang dituangkan dalam buku yang sampulnya seperti gambar disamping, akhirnya saya beli juga. Hari Minggu lalu saya sempatkan membacanya dan sangat menarik dan enak dibaca. Pemikiran Charles Handy menurut saya sangat visioner dan filosofis. Karena sarat dengan makna filosofis makanya saya cukup sulit mencerna beberapa ungkapan yang ia katakan. Tapi secara garis besar saya bisa menangkap pemikirannya dengan baik.

Satu hal yang saya pahami adalah cara pandangnya mengenai budaya yang menurut dia terdiri dari empat tipe:

  1. The power culture – budaya berbasis kekuasaan
  2. The role culture – budaya berbasis peran
  3. The task culture – budaya berbasis tugas / pekerjaan
  4. The individual culture – budaya individu

Pada budaya berbasis kekuasaan, sesuai namanya, pola pekerjaan di perusahaan / organisasi didonimasi oleh seseorang atau kelompok tertentu. Hal paling mudah bisa kita lihat pada perusahaan keluarga dimana pemilik biasanya mendominasi secara penuh semua pengambilan keputusan dan sekaligus dalam hal penetapan kebijakan serta peraturan perusahaan.

Sedangkan budaya berbasis peran lebih menekankan kepada pendelegasian tugas dan tanggung-jawab ke beberapa bagian sehingga tidak semua urusan terpusat pada seseorang atau kelompok orang tertentu. Adapun tugas tersebut terurai dengan jelas di uraian jabatan (job description). Contoh paling mudah bisa dilihat dari perusahaan modern yang menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam pendelegasian. Biasanya, skala perusahaan sudah relatif besar dan kompleks sehingga perlu adanya pembagian pekerjaan ke dalam beberapa unit.

Budaya berbasis tugas terfokus kepada ‘getting things done‘ artinya yang penting pekerjaan dikerjakan, tidak peduli oleh siapa. Ini paling cocok bagi organisasi berbasis jaringan atau lazim disebut networked organization.

Yang tak kalah pentingnya dari tiga tipe yang telah disebut di atas adalah kenyataan bahwa pada dasarnya setiap individu yang tergabung dalam organisasi, masing-masing memiliki budaya sendiri tergantung latar belakang dan pendidikan. Individual culture tak bisa disepelekan begitu saja karena penting dalam membangun kinerja organisasi.

Salam,

G

Ini sebenarnya bukan buku baru dan saya baru sempat membacanya beberapa hari ini saat liburan lebaran 1430H, padahal buku ini terbitan 2002.  Buku ini sudah ada lebih dari sethun di rak buku saya setelah saya membelinya dengan harga miring pada sebuah acara Book Fair yang digelar di Istora, Jakarta. Selain memang harganya murah, saya memang menyukai karya-karya John C Maxwell yang menurut saya selalu menggugah karena ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana sehingga mudah dimengerti. Sebenarnya sudah banyak buku-buku pengembangan diri seperti ini termasuk karya-karya Napoleon Hill, Stephen Covey dan sederet nama lainnya. Makanya saya sebenarnya agak malas membaca buku ini. Namun karena iseng akhirnya saya baca juga dan saya terpatri dengan buku ini selama beberapa jam karena ternyata isinya mengalir dengan enak dan terkesan alami.

Bila John mendefinisikan bahwa sukses bukanlah merupakan suatu tujuan namun sebuah perjalanan, maka dia bukanlah orang pertama yang mengatakan hal ini. Sudah banyak penulis buku yang mencanagkan bahwa sukses bukanlah sebuah tujuan (destiny) namun sebuah proses. Bahkan kita juga sering mendengar bahwa sukses tak hanya bersifat kebendaan (materi) atau kedudukan (jabatan) tapi hal lainnya.

Secara sederhana John mendefinisikan sukses adalah:

Mengetahui tujuan hidup Anda, mengembangkan diri hingga mencapai potensi yang maksimal, dan memberi manfaat kepada orang lain.

Setelah mendefinisikan makna sukses maka John mengajak kita mengikuti sebuah perjalanan menggapai sukses itu. Dengan definisi sukses seperti tersebut di atas maka bisa dipastikan bahwa seseorang tidak bakal mandeg setelah sesuatu tercapai karena ada aspek perbaikan terus menerus terutama terkait dengan pemberian manfaat kepada orang lain.

Banyak orang yang menjalani kehidupan tanpa tujuan yang jelas sehingga mereka tak bisa mengukur kesuksesannya. Untuk mengetahui tujuan hidup seseorang perlu memiliki impian. Dengan dasar impian inilah maka arah hidup menjadi lebih jelas, sehingga menyebabkan potensi kita tergali. Impian juga membantu seseorang memprioritaskan hal-hal yang penting dalam hidup sehingga impian bisa membantu memprediksi masa depan seseorang. John juga menguraikan langkah-langkah bagi pembaca untuk memiliki sebuah impian.

Kemampuan seseorang menjalani impiannya mungkin lebih dekat daripada yang ia pernah pikirkan.

Selanjutnya John mengajak pembaca menelusuri seberap jauh seseorang bisa menempuh perjalanannya menjalani impiannya. Amunisi paling penting dalam perjalanan ini adalah sikap (attitude) kita.

Bila sikap kita lebih besar dari kemampuan kita maka hal yang tak mungkin bisa menjadi mungkin.

Sikap akan menentukan posisi kita (altitude) terhadap impian kita. Sebuah impian yang tak dibarengi dengan sikap positif akan menghasilkan impian di siang bolong. Sebaliknya, sikap positif tanpa impian akan menghasilkan seseorang yang santun namun tanpa kemajuan. Sebuah impian yang disertai dengan sikap positif menghasilkan pribadi dengan kemungkinan dan ptensi tak terbatas.

Setelah memiliki impian dan sikap positif langkah selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan potensi diri kita. John menguraikan ke dalam sepuluh langkah:

  1. Pilihlah kehidupan yang memberi kesempatan kita untuk tumbuh dan berkembang
  2. Mulailah tumbuh berkembang hari ini
  3. Miliki kemauan selalu belajar (be teachable)
  4. Fokus pada pengembangan diri (self development) bukan pemenuhan diri (self fulfillment)
  5. Jangan pernah puas dengan pencapaian saat ini
  6. Menjadilah pribadi yang selalu berkeinginan belajar terus-menerus
  7. Konsentrasi kepada hal-hal pokok saja
  8. Membuat rencana pengembangan dan pertumbuhan
  9. Berkorban demi tercapainya menjalani impian
  10. Mencari cara mengaplikasikan apa yang telah dipelajari

John juga menguraikan cara-cara mengatasi hambatan-hambatan yang mungkin dijumpai dalam menuju kesuksesan termasuk bagaimana membuat hidup kita bermanfaat bagi orang lain karena ini juga merupakan bagian dari makna sukses itu sendiri.

Meski buku ini tergolong sudah lama namun prinsip-prinsip yang diuraikan masih berlaku hingga kini karena sangat universal dan bisa diaplikasikan.

Salam,

G

The KNACK

Petuah Taktis Dari  Pebisnis

Book CoverAnda berencana beralih profesi dari orang gajian penjadi pebisnis? Atau, bisnis yang Anda jalani saat ini tidak membuahkan hasil yang menggembirakan? Kemudian Anda hampir putus asa dan berencana mencari pekerjaan saja karena lebih baik jadi orang gajian? Tunggu dulu! Jangan lewatkan baca buku ini dulu. Buku ini  memberikan inspirasi dalam mengembangkan bisnis Anda. Mengapa? Karena berorientasi kepada hal-hal taktis keseharian dalam pengelolaan bisnis dan ditulis oleh pebisnis yang telah menjalaninya sendiri.

Kolumnis dari majalah INC., Norm Brodsky dan Bo Burlingham, berbagi dengan Anda tentang bagaimana pebisnis pemula menghadapi berbagai situasi yang seringkali sulit dan kompleks. Pemula biasanya cenderung mencari langkah-langkah tepat untuk mendapatkan panduan yang spesifik namun dalam kenyataannya tidak ada. Lantas, apa yang musti dipelajari? Di sinilah letak kepiawaian Norm dan Bo dalam berbagi pengalaman dengan kita melalui prinsip-prinsip bijak yang ia simpulkan dari pengalaman nyata yang juga mereka beberkan dalam buku ini. Pembelajaran dari buku ini adalah: pentingnya penjiwaan terhadap angka-angka bisnis, kualitas prima, dan pembangunan budaya kerja yang kokoh.

Penjiwaan, tidak hanya penguasaan, terhadap angka-angka bisnis merupakan hal fundamental dalam bisnis apapun. Jangan sampai kita tergiur dengan besarnya nilai penjualan tanpa memahami komponen besar kedua yaitu harga pokok penjualan. Hal ini penting karena semua denyut nadi bisnis kita dibiayai oleh selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan yang biasa disebut sebagai gross profit margin (marjin keuntungan). Marjin keuntungan inilah yang mendanai bisnis kita mulai dari bayar gaji karyawan, sewa kantor, dan biaya lainnya diluar yang telah tercakup di harga pokok penjualan. Itu masih secara perhitungan di atas kertas karena ada faktor yang lebih penting lagi yaitu yang disebut arus kas. Percuma kita memiliki marjin keuntungan yang besar, katakanlah 40%, bila termin pembayarannya lama. Bila termin pembayarannya dua bulan maka Anda harus memiliki dana segar yang menutupi biaya selama itu juga.

Menurut Norm, tidak diperlukan ilmu canggih dalam mengelola bisnis namun penjiwaan terhadap angka sangat fundamental dikuasai sehingga kita bisa tanggap terhadap dinamika bisnis. Kita bisa mengeluarkan pisau yang tepat untuk situasi khusus yang dihadapi, seperti diilustrasikan dengan gambar pisau serba-guna di sampul buku ini. Yang menarik, Norm justru menyarankan pada tahun-tahun awal bisnis kita melakukan perhitungan angka-angka dengan tangan ’bukan’ dengan komputer. Rupanya Norm sadar bahwa mengelola bisnis perlu adanya ketajaman sensor motorik sehingga kita sensitif menghadapi perubahan bisnis yang terjadi.

Hal kedua adalah kualitas prima kita sebagai individu yang siap tahan banting dan ulet menghadapi setiap jenis masalah. Contoh yang ia ungkapkan adalah terkait dengan temannya, bernama Malki, yang ia bantu dalam membangun usaha penitipan anak. Rencana bisnis yang tak mudah di Amerika dimana persyaratan untuk mendapatkan ijin begitu ketat. Usaha penitipan anak tersebut harus mendapatkan persetujuan pemerintah dimana diperlukan bangunan dan perlengkapan yang memadai, penjaga anak yang mendapat lisensi dan persyaratan ketat lainnya. Ini membutuhkan biaya yang sangat besar karena mendapatkan properti di area strategis jelas memerlukan modal yang tidak sedikit. Norm mengira Malki akan menyerah menghadapi kenyataan ini. Namun tidak, Malki begitu ulet mencari dana untuk memulai usahanya sehingga akhirnya berhasil mendapatkan pinjaman bank untuk membeli properti di area strategis. Malki menunjukkan kualitas prima menghadapi rintangan terkait dengan bisnis yang menjadi impiannya. Kendala modal ini selalu yang sering kita dengar  bila ingin memulai bisnis. Dengan kualitas prima kita sebagai individu, ide inovatif sebenarnya bisa diraih.

Hal ketiga adalah dalam membangun budaya perusahaan yang menurut Norm tidak bisa didelegasikan. Sebagai pebisnis dan pemilik, kita bertanggung-jawab langsung dalam membangun budaya. Norm memberi contoh bisnis penyimpanan dokumen yang ia tekuni. Adalah seekor kucing bernama Elsa yang dipelihara dan di sayang para karyawan di gudang penyimpanan. Elsa beranak enam dan karyawan di gudang semakin menyayangi Elsa dan anak-anaknya. Suatu hari Elsa meraung-raung seperti menangis, karena keenam anaknya menghilang dari gudang. Kontan semua karyawan disibukkan mencarinya di gudang. Tak ditemukan. Norm kemudian menerima telpon dari pelanggan yang mengatakan kotak kardus yang dikirim berisi enam ekor anak kucing! Untuk mengambil anak kucing tersebut diperlukan perjalanan pergi pulang selama dua setengah jam sedangkan supir yang mengantar kardus sudah terlanjur pulang. Norm memutuskan mengirim supir lagi untuk mengambil kotak berisi kucing tersebut. Sesampainya supir yang membawa enam anak kucing tersebut di gudang, Elsa dan ratusan karyawan menyambut perjumpaan Elsa dan keenam anaknya dengan bertepuk tangan. Kejadian ini menunjukkan bagaimana budaya kepedulian dibangun di perusahaan tersebut.

Buku ini sangat cocok bagi Anda suka sesuatu yang sifatnya deskriptif dengan gaya penulisan seperti novel. Di setiap bab diakhiri dengan pokok-pokok pembahasan dan surat-menyurat ‘Ask Norm’ dengan pembaca rubrik di INC yang diasuh Norm Brodsky.

Judul                : The Knack – How Street-Smart Entrepreneurs Learn to Handle

Whatever Comes Up

Oleh                 : Norm Brodsky and Bo Burlingham

Penerbit            : Penguin Group, 2008 (hard cover), 2009 (paper back)

Tebal                : 274 (termasuk indeks)

Resensi di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu 30 Agustus 2009.

Tadi malam, hari Minggu 2 Agustus 2009 sekitar jam 21:50 saya berniat bertransaksi di ATM BCA yang berlokasi di SPBU jl. M Saidi Petukangan, tepatnya SPBU 34-12212. Saat saya datang, sudah ada dua orang yang antri, saya kebagian ke tiga. Pas orang pertama selesai, saya melihat mobil pikup Daihatsu Gran Max warna silver berisi petugas pengisi uang (cartidge) yang akan mengisi uang di ATM BCA. Herannya, pas orang kedua sedang transaksi dan saya menunggu di pintu luar, dua petugas BCA dari mobil Gran Max tersebut nyelonong begitu saja masuk ke dalam bilik ATM tanpa basa-basi ke saya. Saya mengetok pintu mengatakan bahwa saya akan transaksi dulu sebelum penggantian cartridge dilakukan. Tak ada satupun yang mengangguk, apalagi mempersilakan. Tapi saya nekat saja setelah orang kedua selesai transaksi.

Setelah saya selesai transaksi, saya mengucapkan terima kasih ke kedua orang petugas BCA tadi. Tapi tak satupun yang menjawab ucapan saya bahkan mukanya tak bersahabat, mungkin karena mereka kesal gara2 saya transaksi mereka jadi nunggu terlalu lama.

Seperti inikah pelayanan bank nasional swasta terbesar ini?

Artikel ini telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 26 Juli 2009 di bagian Ruang Baca. Kalau pernah baca buku Good To Great mestinya buku ini menarik Anda. Semoga bermanfaat. Wass, Gatot.

260720094218

Kenal Tom Peters? Semestinya. Bersama temannya di perusahaan konsultan McKinsey, Robert Waterman, ia meluncurkan buku bertajuk In Search of Excellence pada tahun 1982. Buku ini meledak menjadi acuan manajemen dan bisnis baik bagi praktisi maupun mahasiswa MBA di seluruh dunia. Buku ini bisa dikategorikan fenomenal karena hingga sekarang masih dicari orang yang belajar mengenai bisnis dan manajemen, sebagai buku wajib. Nama Tom Peters pun melejit sebagai salah satu maha guru manajemen dan bisnis yang terkenal seantero jagad.

Lalu, pada tahun 2001 terbit buku Good to Great (G2G) karangan Jim Collins yang juga heboh meski tidak sefenomenal In Search of Excellence. Di Indonesia sendiri gaung G2G begitu meluasnya hingga sudah menjadi bahasa standar bagi eksekutif yang menjalankan roda bisnis perusahaan. Saya masih ingat  memfasilitasi serentetan loka-karya corporate culture di sebuah bank nasional, dimana Direktur yang membuka kelas selalu meluangkan 10 menit membahas buku ini. Buku ini pada dasarnya menyajikan perusahaan-perusahaan yang berdasarkan riset layak disebut sebagai great companies tidak hanya good.

Lantas, apa hubungan antara In Search of Excellence dengan Good to Great? Saya mencoba melihat dari perspektif perbedaan mendasar antara Tom Peters dan Jim Collins. Lima tahun setelah In Search of Excellence diterbitkan, Tom Peters tanpa malu meluncurkan buku Thriving on Chaos (1987) yang menyangkal hampir semua yang ia uraikan dibukunya terdahulu. Tom di Thriving On Chaos mengatakan bahwa segala sesuatu yang telah kita ketahui ’dengan pasti’ selama lima belas tahun belakangan ini sedang menghadapi tantangan perubahan. Dia sendiri meragukan ha-hal yang ia ulas di buku terdahulunya. Bahkan dalam lima belas tahun berikutnya akan mengalami perubahan terus.

Sementara, setelah mengetahui fakta bahwa beberapa perusahaan yang sudah masuk dalam G2G kemudian runtuh dengan adanya krisis finansial di tahun 2008, Jim menanggapinya secara defensif dengan buku barunya How The Mighty Fall (2009). Ia mengibaratkan dengan kesehatan tubuh. Bila kita telah menguraikan resep hidup sehat dan beberapa orang pilihan dinyatakan orang paling sehat, siapa yang menjamin sesudahnya ia tidak mengikuti resep hidup sehat lagi, kemudian jatuh sakit? Ini sudah merupakan pembelaan terselubung terhadap resep G2G yang pernah ia tawarkan. Pernyataannya ini seolah menyalahkan perusahaan yang terpuruk tersebut karena mereka tak lagi mengikuti resep G2G yang telah ia konsepkan.

Terlepas dari niat pembelaan tersebut, buku ini memberikan tiga pembelajaran: tidak ada jaminan kepastian kesuksesan, memahami tahapan perusahaan, dan mengantispasi langkah-langkah yang perlu diambil. Memang tiada yang bisa menjamin kesuksesan meski secanggih apapun sebuah perusahaan dikelola. Secara rinci dan menarik buku ini mengurai bagaimana Fannie Mae yang sukses pada era 1980 karena kepemimpinan David Maxwell dan bahkan kemudian masuk dalam kategori Good to Great. Namun di era 2000an perusahaan ini terjungkir balik dari great ke good kemudian menghilang di tahun 2008 yang lalu. Biang keladi permasalahan yang dialami Fannie Mae adalah kecerobohannya dalam merealisasikan pinjaman rumah untuk kalangan bawah. Padahal, perusahaan keuangan ini sudah sangat kuat dalam menjalankan manajemen risiko. Namun karena tekanan perlunya pertumbuhan menyebabkan perusahaan ini membidik pasar yang keliru. Pada 31 Oktober 2008, harga sahamnya anjlok 98% menjadi hanya 0.93 dolar, padahal tahun sebelumnya 57 dolar. (hal. 144)

Buku ini juga mengurai lima tahapan perusahaan dari kelahiran disertai keinginan kesuksesan, pertumbuhan pesat, keengganan menghadapi risiko, penurunan usaha, dan kematian. Secara gamblang bisa dipahami bahwa pada awal perusahaan biasanya disertai dengan kegairahan menggebu yang kemudian disertai dengan keinginan untuk selalu lebih. Karena pertumbuhan begitu bagus, maka perusahaan semakin mengesampingkan kemungkinan risiko yang akan dihadapi sehingga muncul risiko yang menyebabkan penurunan skala usaha disertai kematian. Bila mengingat prinsip going concern yakni perusahaan dibangun untuk waktu yang tak terbatas di kemudian hari, maka tahap kematian sebaiknya dihindari. Ini yang diharapkan dan buku ini menyebutnya dengan ’Penyembuhan dan Pembaharuan’. Kasus yang diangkat juga menarik yaitu Xerox dibawah kepemimpinan Anne Mulchany mulai dari 2001, saat perusahaan dalam kondisi di titik nadir dengan kerugian 367 juta dolar (hal. 116). Pada tahun 2006 Xerox membukukan untung satu milyar dolar lebih. Tahun 2008 Mulchany dinobatkan sebagai Executive of The Year oleh sebuah majalah.

Menurut Jim, keruntuhan bisa dideteksi dengan mempelajari tanda-tanda yang terjadi di setiap tahapan. Buku ini mengurai secara rinci tabulasi tanda-tanda setiap tahapan di bab yang membahas tahapan tersebut. Yang paling saya suka adalah tanda dimana staff perusahaan cenderung membesar-besarkan hal positif dan menutupi yang negatif (hal 81) dalam tahap ketiga: keengganan menghadapi risiko. Hal ini sudah membudaya di perusahaan di Indonesia sepanjang pengalaman saya sebagai konsultan. Menghadapi budaya ini, pimpinan perusahaan harus segera menyusun langkah untuk berani menghadapi kenyataan pahit, menerima hal-hal sesuai dengan apa yang terjadi. Sebuah tantangan yang berat, apalagi dengan adanya budaya ABS (asal bapak senang) yang sering dijumpai di perusahaan Indonesia.

Gatot Widayanto

Managing Director – Value Quest (www.valuequest.co.id)

Judul               : How The Mighty Fall – And Why Some Companies Never Give In

Penulis             : Jim Collins

Penerbit           : Harper Collins

Tahun              : 2009

Tebal               : 222 halaman, hard cover

Memanusiakan Bisnis

Apa yang terlintas di benak Anda begitu mendengar kata “bisnis”? Wajar bila Anda langsung mengasosiasikannya dengan sesuatu yang menguntungkan, secara finansial. Tentu, ini bukan hal http://www.mcnallyrobinson.com/img/prod/49d4e1b610cc0.jpgyang salah. Yang kemudian berkembang adalah suatu anggapan bahwa yang namanya bisnis adalah animal yang berorientasi keuntungan dengan jalan mengeksploitasi sumber daya. Tidak jarang orang mengatakan bahwa bisnis itu kejam, egois, tidak mengenal perasaan, tidak peduli dan sebagainya yang sifatnya negatif. Buku ini justru mengajak kita memandang bisnis secara manusiawi. Setelah itu kita diajak berbuat sesuatu dengan tujuan tunggal: membuat dunia lebih baik.

Ihwal bisnis yang tak berorientasi keuntungan semata sebenarnya telah dicontohkan oleh Konosuke Matshusita yang merasa tersentuh melihat seorang fakir miskin sulit mendapatkan air minum yang layak. Sejak itu ia bertekad membangun bisnis dengan tujuan utama menciptakan dunia yang lebih baik. Mungkin kita terheran-heran dengan apa yang dilakukan Konosuke ini. Betapa tidak, dia membeli paten transistor dan kemudian menyilahkan pihak lain menggunakannya tanpa dipungut biaya apapun. Demikian halnya dengan seorang Muhammad Yunus yang trenyuh melihat pengrajin miskin di kampung-kampung, kesulitan membeli bahan baku yang hanya sekitar sepuluh dolar. Ia kemudian membangung Grameen Bank yang fokus pada usaha kecil dengan nasabah ibu-ibu.

Kita juga mengenal istilah pemangku kepentingan atau biasa disebut dengan stakeholders di buku-buku manajemen. Pemangku kepentingan perlu diperhatikan dan dipenuhi kepentingannya agar bisnis berjalan langgeng. Bahkan, belakangan ini menjadi tren bila perusahaan ingin diklaim sebagai peduli lingkungan maka ada kegiatan yang disebut corporate social responsibility. Artinya, bisnis tak semata mengejar keuntungan. Kalau begitu, hal apa lagi yang ditawarkan oleh buku ini? Ada tiga hal pokok: mengajak kita berpikir mendalam tentang tujuan utama bisnis, memberi inspirasi tentang contoh ril, dan menyusun rencana ke depan.

Sejarah telah membuktikan bahwa pengusaha (entrepreneur) melakukan hal yang menurut mayoritas orang tak mungkin dilakukan (hal 53). Contohnya banyak: walkman, personal computer, laptop, google. Namun sering kita tidak menggali maknanya lebih dalam lagi tentang apa tujuan utamanya. Sebelum ditemukan, pendiri Google tidak pernah bisa mentargetkan berapa besar keuntungan yang dia bisa peroleh. Namun yang pasti, mereka yakin bahwa Google akan membantu banyak orang efisien menggunakan internet. Jadi, sebenarnya keuntungan merupakan efek samping belaka (hal 83). Seperti halnya dalam upaya mengejar kebahagiaan hidup. Orang yang mengejar kebahagiaan hidup sering dijumpai justru mengalami keterpurukan. Padahal kebahagiaan bisa diraih dengan meningkatkan kepekaan dalam mengerjakan sesuatu yang bermanfaat, memiliki teman-teman baik, belajar dan tumbuh, serta membantu orang lain.

Contoh nyata yang telah dilakukan oleh perusahaan seperti Whole Foods memberikan pembelajaran pentingnya core values dan budaya perusahaan membantu perusahaan bertahan dan bahkan bertumbuh-kembang menjadi perusahaan Fortune 500. Keseimbangan dalam memuaskan lima pemangku kepentingan (anggota tim, pemasok, pelanggan, penyangga dana, dan lingkungan) benar-benar dijalankan dan dipantau regular. Hasilnya adalah bisnis yang sehat dan pada akhirnya menguntungkan meskipun pada tahun-tahun awal mengalami kerugian. (hal 102). Sepertinya bukan hal baru. Namun, cara penyajiannya menarik dan patut dicontoh perusahaan nasional yang umumnya menganggap core values sebagai pajangan dinding.

Setelah memaknai lebih dalam tujuan bisnis dan melihat contoh-contoh nyata, langkah selanjutnya adalah bagaimana merealisasikannya ke bisnis kita. Bagian akhir buku ini menguraikan panduan rinci dengan menggunakan metaphor sebuah drama. Ini juga merupakan penyajian yang menarik. Yang perlu digarisbawahi adalah penekanan pada visi pendidikan yang solid. Bagian ini wajib dibaca oleh pemimpin bangsa ini agar tidak berorientasi kepada mempertahankan kekuasan melalui program yang hanya memiliki horizon lima tahun sesuai perioda kepemimpinan. Sedangkan, pendidikan perlu direncanakan untuk sekurang-kurangnya tiga puluh tahun ke depan.

Meskipun demikian, buku ini juga memiliki kekurangan yaitu sulitnya menarik benang merah esensi buku ini di bagian awal. Buku yang sempurna memberikan gambaran menyeluruh mengenai substansinya di bagian awal. Hal ini bisa dipahami karena buku ini merupakan kumpulan tulisan dari beberapa ahli dan praktisi. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya Michael Strong merangkum dan menarik benang merah yang jelas di awal buku.

Buku ini layak dibaca siapa saja yang peduli dengan upaya membuat dunia ini lebih baik, termasuk negeri ini menjadi lebih baik. Bila politikus, yang saat ini sedang bertarung untuk kekuasaan, membaca buku ini dan memaknainya dengan baik, mereka bisa menjadi pemimpin bangsa yang efektif. Di jaman krisis global ini setiap individu perlu menjadi solusi dari permasalahan di seputarnya.

Gatot Widayanto

Konsultan Bisnis dan Manajemen

www.valuquest.co.id

Be the Solution

How Entrepreneurs and Conscious Capitalists Can Solve All the Worlds Problems

by Michael Strong, Wiley, 2009

(374 pages)

Resensi di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu 30 Mei 2009.

Outliers

Ihwal Hukum 10.000 Jam

Judul: Outliers: The Story of Success

Penulis: Malcolm Gladwell

Penerbit: Little, Brown and Company

Tahun: edisi pertama, November 2008

Tebal: 320 halaman


Nama Malcolm Gladwell mungkin sudah tak asing lagi. Ia adalah pengarang buku Tipping Point dan Blink, yang sudah diterjemahkan ke edisi Indonesia. Dengan gaya penulisan yang enak diikuti dari awal hingga akhir, ia mengulas fenomena sosio-kultural secara jelas di Tipping Point dan pengambilan keputusan cepat bak mengerdipkan mata di Blink.

Inilah buku ketiganya: Outliers. Buku ini memusatkan perhatian pada ketajaman analisisnya dalam mengamati fenomena sukses dengan gaya penuturan dongeng (story-telling) seperti halnya yang ia lakukan pada dua buku sebelumnya. Di sinilah kekuatan buku-buku Gladwell yang selalu menekankan gaya dongeng memikat berdasarkan fakta-fakta penelitian yang telah dilakukan orang lain. Tak salah bila ia termasuk penulis berprestasi dan disegani di dunia penulisan.

Sepintas, Outliers seperti bertolak-belakang dengan Blink, karena di sini diperlukan ketajaman analisis berdasarkan kedalaman observasi. Namun konteksnya berbeda. Di sini Gladwell menekankan faktor apa yang menyebabkan seseorang sukses dan berbeda dari yang lain (outlier). Bila Anda mengikuti halaman demi halaman, mungkin sulit Anda jumpai salah satu tokoh dalam buku ini yang menerapkan teknik Blink. Namun bukan di situ fokus bahasan Gladwell karena justru ia ingin membawa kita ke keyakinan bahwa sukses bisa diraih siapa pun asal bekerja keras.


Ada tiga hal yang bisa kita pelajari dari buku ini. Pertama, tentang relasi antara kesehatan atau umur panjang dan kehidupan komunitas. Ini yang sungguh memikat saya sejak saya baca buku ini dari awal. Gladwell berhasil membidik potret sebuah kelompok yg tinggal di daerah bernama Roseto di Pensylvania, yang populasinya dua ribu orang. Daerah ini dihuni oleh orang-orang keturunan Italia yang bermukim dan hidup di Amerika.

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa penduduk Roseto memiliki umur hidup di atas rata-rata dan sangat jarang yang terkena serangan jantung. Setelah menelusuri dan menyajikannya secara menarik, Gladwell menemukan bahwa faktor penyebab umur panjang dan kesehatan bukan karena penduduk Roseto rajin berolahraga, atau keterunan moyang mereka sehat-sehat semua. Justru gaya hidup penduduk Roseto yang menyebabkan mereka memiliki ketahanan daya hidup yang panjang.

Mereka hidup saling mengenal satu sama lain dalam ikatan silaturahmi yang dekat. Tidak ada kesan di antara penduduknya yang mengejar kemewahan hidup, bahkan jarang dijumpai mobil mewah di sana. Pada sore hari mereka biasa mengobrol dengan tetangga. Para wanita sehari-hari bekerja di rumah. Tidak jarang dijumpai rumah tangga berpenghuni tiga generasi hidup dalam satu atap pada saat bersamaan. Dengan gaya hidup kekeluargaan ini mereka terbebas dari tekanan hidup dan menjadi panjang umur.

Kedua, secara tegas Gladwell menekankan bahwa sukses hanya bisa diraih melalui kerja keras. Mungkin hal ini sudah sering kita dengar dari buku-buku pengembangan diri. Namun Gladwell meninjaunya dengan kajian mendalam dan berani menyimpulkan Hukum 10.000 Jam. Apa pun profesi Anda, bila Anda berlatih dengan serius selama 10.000 jam, hampir bisa dipastikan Anda sukses.

Gladwell mengambil contoh The Beatles dan Bill Gates. Untuk mencapai ketenaran, The Beatles telah bekerja keras sebelum meluncurkan album sendiri. Mereka bermain nonstop hampir tiap malam di Hamburg sejak 1960 hingga 1962. Pada awalnya mereka bermain selama 106 malam dengan masing-masig durasi anatara 5-6 jam sekali main. Kemudian semakin meningkat lagi frekuensi dan durasinya sehingga secara total mereka telah naik panggung sebanyak seribu dua ratus (1.200) kali sebelum mereka mulai dikenal pada 1964.

Jumlah itu merupakan angka yang fantastis karena tidak pernah ada lagi band yang selama kariernya bermain sebanyak ini. John Lennon mengatakan pada sebuah wawancara bahwa mereka memilih bermain di Hamburg karena frekuensinya, karena di Liverpool mereka hanya diberi kesempatan main satu jam setiap naik panggung.

Kisah kerja keras juga disajikan menarik terkait dengan Bill Gates yang begitu persisten mempelajari komputer sejak di bangku sekolah. Ia bahkan sering menginap di laboratorium komputer milik sekolah.

Pesan yang disampaikan Gladwell jelas: kita tidak bisa memisahkan kisah sukses Bill Gates maupun The Beatles tanpa mendalami apa yang telah mereka lakukan sebelum mereka dikenal. Lebih jauh lagi, ia menyatakan ada kabar baik bagi mereka yang ingin fokus pada bidang tertentu, ada jaminan sukses bila kerja keras menggunakan Hukum 10.000 Jam.

Ketiga, buku ini mengajari kita tentang bagaimana menyambungkan fakta, informasi, maupun data yang sebenarnya begitu tersebar di sekitar kita yang kemudian dikemas menjadi suatu fenomena yang bisa diberlakukan secara umum. Connecting the dots, mungkin ini istilah tepatnya.

Sering pola pikir kita berorientasi pada usaha membuktikan hipotesis berdasarkan data dan fakta yang relevan. Buku ini bekerja sebaliknya. Hipotesisnya belum ada. Justru begitu banyak fakta, data, dan informasi tersebar di seputar kita yang memicu kita menemukan fenomena. Dalam wacana praktis masa kini, ini artinya kita tidak perlu, misalnya, mencari jawaban mengapa orang berbondong-bondong memiliki akun Facebook. Kita perlu fokus pada hal ini: menyikapi menjamurnya Facebook, fenomena apa yang bisa kita ajukan berkaitan dengan kenyataan ini.

Itulah yang harus kita contoh dari pola pikir Gladwell. Bila kita kuasai hal ini, kita jauh lebih bagus dalam mengantisipasi masa depan. Dan, bukan hanya itu saja. Kita bisa melihat setiap fakta yang diamati bila digabung satu dengan yang lainnya bisa menjadi fenomena tertentu yang bisa kita gunakan untuk menciptakan peluang.

Gatot Widayanto, konsultan bisnis dan manajemen

http://www.valuequest.co.id/

Catatan:

Tulisan di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 29 Maret 2009 – Ruang Baca.


Ini adalah oleh-oleh dari kegiatan Launching dan Seminar “Teachers Working Group” (TWG) yang diselenggarakan kemarin, Minggu 22 Maret 2009 di masjid Al Hikmah, Kompleks Peruri, Ciledug. Sungguh saya senang mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu pembicara dalam seminar ini oleh bu Tyas dari TWG.

Topik ini saya angkat karena peran guru sangat kritikal dalam proses transformasi nilai dan perilaku bagi anak didik (siswa) yang pada akhirnya sebagai generasi penerus bangsa ini. Berikut ini adalah kumpulan slide yang saya gunakan dalam sesi tersebut:

front1

sasaran

situasi

tantangan

ikhtiarnya

guru-sbg-agen-perubahan

sulitkah

Hukum Newton untuk Pemasaran

http://z.about.com/d/entrepreneurs/1/G/e/1/GravitationalMarketing.jpgSeberapa banyak Anda belajar dari membaca buku? Sebagian dari Anda mungkin memetik manfaatnya. Namun, cukup banyak orang yang saya jumpai meremehkan manfaatnya. Tidak demikian halnya saya. Saya menjalani kehidupan sebagai karyawan dan kemudian sebagai konsultan independen hingga sekarang, tak pernah bisa lepas dari buku. Tentu, buku bukan merupakan satu-satunya penyokong terbesar dalam berkarya. Mungkin juga kontribusinya hanya 10% dari hal-hal lain yang mempengaruhi kesuksesan kita. Namun, saya tidak bisa membayangkan melakoni profesi tanpa pernah membaca buku. Bisa jadi 90% sisanya juga tidak bisa saya peroleh karena wawasan yang tidak bertambah dalam menyikapi suatu persoalan. Wawasan sempit mebuat otak kita kerdil dan tidak bisa secara maksimal memanfaatkan potensi diri. Orang bijak mengatakan bahwa otak manusia seperti halnya payung, baru bekerja bila terbuka.

Topik pemasaran bisa dikatakan salah satu yang paling tua. Bila Anda membuka Google dengan pencarian “book on marketing” maka akan muncul lebih dari 138 juta item ditemukan. Ini artinya pemasaran merupakan topik yang banyak dibicarakan orang dan sudah beredar jutaan buku atau artikel terkait dengan pemasaran. Lalu, kenapa pula musti baca “Gravitational Marketing”? Satu hal yang pasti, istilah yang digunakan cukup menarik dan sepertinya merupakan terobosan baru dalam pemasaran. Ditambah lagi, sub judul “The Science of Attracting Customers” cukup menjanjikan bagi calon pembaca. Betulkah? Mari kita lihat isinya.

Siapa tidak menginginkan pelanggan? Semuanya butuh pelanggan dan itu merupakan hal penting. Buku ini memperkenalkan cara untuk menarik pelanggan tanpa susah payah karena secara otomatis sudah menarik. Jimmy Vee, Travis Miller, dan Joel Bauer mengulas secara rinci dalam tujuh cara. Salah satunya adalah mengidentifikasi diri kita sebagai seorang ahli (expert). Pendefinisian sebagai ahli pun cukup sederhana, yaitu menggunakan kriteria lamanya menekuni suatu bidang, keahlian menanganinya, dan kemampuan untuk mengerjakan secara memuaskan untuk pelanggan. Artinya, bila Anda mengidentifikasi diri sebagai seorang ahli memasak, maka Anda sudah pasti harus telah lama menggelutinya, menguasai secara baik menu makanan yang sesuai dengan acaranya (pernikahan, seminar, khitanan, misalnya), dan mampu memuaskan pelanggan. Bila kriteria ini dipenuhi, maka Anda bisa disebut sebagai seorang ahli.

Struktur buku ini dibagi menjadi dua bagian besar dengan bagian pertama berbicara pada tingkat konsep sedangkan bagian dua fokus pada teknik pelaksanaan. Gravitational Marketing memiliki tiga lingkaran (three rings) yang merupakan elemen penting: pasar, pesan, dan media. Ini artinya pendefinisian pasar harus sudah jelas agar pesan yang dibuat tepat mengenai sasaran, menggunakan media yang tepat. Dengan menggunakan gravitasi (mengambil analogi dari Prinsip Newton) pelanggan akan tertarik secara otomatis. Selain mengulas pada tingkat konsep, buku ini juga dilengkapi dengan panduan teknis di bagian dua. Bagi Anda yang merasa sudah bosan dengan konsep, disarankan langsung membaca bagian dua tanpa harus membaca bagian pertama sekalipun. Bagian ini terdiri dari tujuh bab yang secara rinci memandu pembaca melalui 36 teknik pemasaran dengan media yang berbeda.

Salah satu taktik menarik yang perlu Anda pertimbangkan adalah dalam pertukaran kartu nama. Disarankan Anda untuk tidak memberikan kartu nama pada suatu jamuan atau pertemuan. Yang disarankan justru meminta kartu nama orang lain dan Anda menyiapkan suatu penawaran gratis berupa laporan, analisis, kertas kerja, perangkat lunak diagnosis, atau layanan lainnya sebagai pintu masuk Anda kepada calon pelanggan. Ini tidak lazim kita lakukan karena bisanya kita bertukar kartu nama saat bertemu dengan orang lain di suatu jamuan atau pertemuan seminar. Jimmy, Travis & Joel menganggap pemberian kartu nama akan berujung sia-sia karena pada akhirnya akan masuk tong sampah. Anda siapkan brosur / pamflet yang menawarkan layanan gratis tersebut. Bila Anda seorang psikolog, Anda cantumkan layanan gratis konsultasi via internet, misalnya.

Meskipun secara penampilan cukup menarik dan istilah yang digunakan menimbulkan rasa penasaran, buku ini menuai dua hal yang mengganggu. Pertama, terlalu berani mendeklarasikan bahwa konsep dan teknik yang ditawarkan merupakan hal baru dan sensasional. Ini benar bila yang membaca buku ini pertama kali belajar pemasaran. Bagi yang faham pemasaran, bukan hal yang baru. Contoh paling mudah adalah networking yang sudah sangat lazim dan menjadi “bahasa gaul”. Kedua, buku ini terlalu naif dalam memberikan nasehat menjanjikan kepada pembaca. Seolah bila pembaca melakukan hal-hal yang disarankan, dijamin keberhasilan dicapai. Dari halaman demi halaman yang saya baca saya sering tertegun dengan kenaifan para penulis yang seolah menggurui kisah suksesnya untuk pembaca.

Premis sederhana yang ditawarkan buku ini memang pas bila dikaitkan dengan mahalnya biaya promosi dan iklan. Belum lagi semakin banyak iklan beredar yang membuat calon pelanggan bingung dalam mengambil keputusan. Bila secara intrinsik Anda sebagai seorang ahli sudah menarik, maka pesanan datang secara otomatis. Sebagai konsultan independen sejak 2002, saya merasakan sendiri manfaat dari networking. Sebagai konsultan independen, praktis saya hanya mengandalkan jejaring kenalan untuk mendapatkan pesanan, baik itu jasa konsultasi maupun pelatihan in-house. Jadi, jangan remehken kenalan Anda dan selalu tingkatkan pengembangan diri Anda di bidang yang ditekuni agar selalu meningkat keahlian Anda. Bagi saya sendiri, beberapa taktik yang diuraikan buku ini tetap menarik dilaksanakan dalam profesi saya, dengan beberapa penyesuaian.

Gatot Widayanto

Konsultan Manajemen

http://www.valuequest.co.id/

Resensi di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 25 Februari 2009.


Older Posts »