Tidak tahu kenapa dulu saya membeli buku ini, namun kemungkinan besar karena obsesi saya untuk menulis buku tentang musik. Memang, saya bukan penggemar musik klasik meskipun suatu saat mestinya saya akan mencoba menyelami juga. Tapi setidaknya, nama MOZART sudah cukup menjual dan membuat saya tertarik. Mungkin saya membeli buku ini saat pameran buku atau saat perjalanan saya ke Yogya menyelenggarakan corporate culture workshop untuk Bank Mandiri – berarti sudah setahun yang lalu.
Tadinya saya malas juga membaca novel karena isinya hanya “rekayasa” belaka dan bukan mencerminkan kisah nyata yang sesungguhnya terjadi. Namun teman saya, mas Pur, yang juga gemar membaca menyarankan agar saya juga mulai membaca nove. AH, ada benarnya juga. “For a break” begitulah kira-kira….
Novel ini bertema cukup tragis, mengisahkan seorang bapak muda (Harmoni) yang musti hidup mengasuh anaknya yang berusia 5 bulan karena istrinya tercinta (Intan) meninggal dunia pada saat melahirkan anak pertam. Mozi (bisa ditebak! pasti dari nama Mozart). Harmoni ini memang pengagum berat komposer Mozart. Setiap hari menidurkan anaknya dengan lantunan musik Mozart. Harmoni mengasuh Mozi dengan bantuan baby sitter bernama Nita. Har (demikian Harmoni dipanggil) dikisahkan kaya dan memiliki rumah besar dan sekolah musik.
Ditengah kesepiannya tanpa pendamping setia, Har bertemu dengan Dona pada saat mobil Har menabrak mobil Dona. Perkenalan sekejap itu dalam beberapa jam telah membawa ke hubungan intim seperti suami istri. Alkisah, Dona dan Har menjadi dekat dan bahkan Dona sering tidur (tinggal bersama) di rumah Har. Srentetan peristiwa tragis terjadi setelah Dona semakin dekat dengan Dona: Nita mati terbunuh saat pulang kampung, ibu mertua Har meninggal dunia, bayi Mozi hilang. Usut punya usut, Dona adalah biang dari segalanya ini. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan baca sendiri …
Pembelajaran
Novel ini terlalu “kesusu” (keburu-buru – red.) dalam menguraikan plot cerita sehingga tidak ada ketegangan dan rasa penasaran yang timbul, semuany mulus bisa ditebak. Penulis terlalu “memaksakan” suatu plot dengan segala hal yang berbau “kebetulan”. Kebetulan yang paling aneh ya pada saat Har ketemu Dona .. kok ya bisa, dari nabrak mobil kok terus bersetubuh? Lha .. opo tumon? Tidak jelas benar, kenapa Dona musti mengumpan mobilnya buat ditabrak Har supaya kenal? Kalau memang Dona mengincar harta Har, kenapa musti parkir di pinggir jalan terus GEDUBRAK ditabrak Har? Plot cerita terkesa dipaksakan dan tidak mengalir indah seperti karya Mozart (kata orang karya Mozart itu indah lho!).
Itu baru dari PLOT cerita. Dalam hal pengungkapan detil, penulis terlalu naif dalam penuturan. Misalnya, saat Har menelepon dokter Sigit dan menuju ke rumah sakit. Pada saat di rumah sakit kenapa musti diuraikan bahwa pria berbaju putih-putih itu “ternyata” adalah seorang dokter. Lha? Ya gak usah diberi tahu, pembaca ya pasti tahu pasti dokter lha wong Har ke rumah sakit itu mau ketemu dr. Sigit kok. Lha piye to mas?
Lha, kalau ceritanya HANYA seperti ini dan pengungkapan detilnya juga kurang bagus, apa dong yang bisa saya pelajari dari novel ini?
Mas Pur, hayo .. ANda tanggung-jawab! Kata ANda membaca novel tuh perlu .. lha ini kok saya merasa buang-buang waktu ya? Rugi dah baca novel ini…. Moral of the story nya gak greget mas! Nyuwun sewu .. critanya terlalu dangkal, gak ada rasa penasaran blaszzzz ….!!!
Salam,
G
huahaha…. wah bad experience ya? tapi mnrtku baca novel tetep perlu. bukan masalah mana yg lebih perlu antara novel dan non-fiction, tapi perlu dgn cara yg berbeda. baca non-fiction emg selalu kisah nyata, seperti melihat deretan foto jurnalistik yg menyampaikan peristiwa riil, dari tidak tahu jadi tahu. sementara baca novel itu seperti melihat deretan lukisan, hasil kreasi sang seniman yg dia ciptakan sendiri di atas kanvas, bukan dunia riil, tapi dunia yg dia buat, yg bisa antik, seru, suram, renyah dan riang, dingin, dan sebagainya, seperti melihat lukisan lah. disitulah indahnya.
hehe, mungkin novel yg mas gatot baca “novel yg salah” kali. ehm… coba baca dostoyevsky, atau chekov, atau hugo, atau ahmad tohari, atau nh dini, ayu utami, dll dll…
Mei,
Ha ha ha ha … ya betul .. bad experience … tapi setidaknya “tantangan” bagi aku buat bikin novel berbasis musik rock progresif kali? Ha ha ha ha …
Tapi analogimu benar tuh … seperti “LUKISAN” .. iya juga!
Tapi aku pernah baca novel manajemen berjudul THE GOAL dari Eliyahu Godratt dan juga IT’S NOT LUCK kok keren abisz ya ..?? Karangan Paulo Coelho kayak The ALCHEMIST atau the Zhahir juga oke …
Mungkin memang kudu coba pengarang yang lain ya …
Salam,
G
IMO, mau novel, mau biografi, mau buku manajemen, semua itu fiksi. Kalau novel jelas fiksi. Kalau biografi dan buku manajemen kenapa saya sebut fiksi juga? Karena kalau dibandingkan, dua buku biografi yang membahas satu tokoh yang sama, bisa saja cerita di dalamnya berbeda. Nah kalau nyata kan seharusnya sama dong? Ini juga berlaku untuk buku manajemen, karena teori yang ada di dalamnya bisa berbeda-beda. he he he he.
Gimana pendapat Oom G tentang pendapat saya ini?
Mas Q…
Wah .. ANda benar juga!!! Memang saya sering temuin tuh teori2 manajemen yang sering berdasarkan pengalaman si penulis .. which is .. fiksi juga yaH??? Ha ha ha ha … kalo gitu ngapain disebut NON FICTION yah?
Salam,
G