Masih ingat cerita saya tentang kebingungan Dian menentukan sekolah SMA nya? Jangan salah, setelah saya fasilitasi dengan tools sederhana melalui analisa keuntungan dan kerugian, Dian bukannya tambah tenang tapi malah tambah bingung. Bukan masalah tool nya yang membingungkan, tapi justru semakin banyak informasi yang ia terima, maka semakin sulit membuat keputusan. Memang pada awalnya dia cenderung memilih SMA A beberapa saat setelah saya fasilitasi. Namun itu tidak bertahan lama dan hampir setiap hari berubah. Saya tambah iba pada dia yang sulit membuat keputusan itu.
Sementara itu, saya tidak mau memaksakan kehendak saya menyuruh Dian masuk SMA tertentu karena bagaimanapun juga, pada akhirnya Dian yang menjalaninya. Ketambah-bingungan Dian disebabkan semakin banyaknya teman sekolahnya yang memilih sekolah yang bukan “terbaik” dikarenakan jaraknya yang relatif dekat dan toh sekolah tersebut juga berprestasi. Semakin mendekati hari pendaftaran tanggal 6 Juli 2007 yang lalu, Dian semakin gundah gulana. Tidak banyak yang bisa saya lakukan selain berdoa agar Dian bisa memutuskan. Saya juga menyarankan beberapa kali agar shalat Istikarah dan menyerahkan semuanya ke Allah SWT. Dian juga lakukan itu, namun tetapsaja gundah.
Tanggal 4 Juli saya bicara dengannya karena ada ide baru. Temen saya, dan sekarang menjadi mitra usaha saya, memberikan ide yang cemerlang. Ide itu saya sampaikan ke Dian. Intinya saya katakan bahwa bila kita sekolah di sekolahan terbaik, maka kemungkinan kita untuk berhasil jauh lebih besar dari pada mereka yang sekolah di sekolahan yang biasa atau buruk. Memang, di sekolah biasa, kita bisa jadi bintang kelas terus, tapi kita kurang terpacu untuk maju dan terbiasa dengan kenyamanan (comfort zone). Tapi kalau bergaul dengan teman2 pandai semua, kita tambah terpacu. Dan tidak hanya itu … networkingnya jauh lebih dahsyat dengan oran2 pandai karena kemungkinan sukses dari mereka lebih besar.
Mungkin karena omongan saya, dan tentunya dorongan dari segelintir temen lainnya, akhirnya pada tanggal 5 Juli 2007 Dian berhasil membuat keputusan “besar” tentang sekolah mana yang perlu ia ambil. Saya beri salam “selamat” dia karena telah memutuskan sesuatu. Ya, Dian memilih SMA A (terbaik). Ini juga mungkin dipengaruhi sebuah berita di koran lokal yang memuat peringkat sekolah SMA di DKI Jakarta dimana SMA A tersebut merupakan peringkat pertama SMA negeri di DKI Jakarta. Tanggal 6 Juli 2007 Dian mendaftar ke SMA tersebut. Dengan nilai Bahasa Inggris 10,Matematika 10, dan Bahasa Indonesia 8.4 .. akhirnya Dian diterima memuaskan di SMA A tersebut .. yaitu SMA 28, Pasar Minggu. Alhamdulillah. SELAMAT DIAN!!! Selamat belajar, dan semoga cita-citamu tercapai! Papa mendukung kamu sepenuhnya. Papa bangga! Insya Allah papa bisa menyekolahkanmu sampai jenjang tertinggi. Amin. Jangan lupa shalat 5 waktu ya nak …

Artikel terkait:
Dear Mas Gatot,
Waduh…aku benar-benar sampai terharu. Terharu bukan karena anaknya, tapi justru karena begitu besarnya perhatian seorang Bapak terhadap anaknya. Dian memang luar biasa sebagai seorang anak. Dan memang patut dibanggakan. Tapi tanpa dukungan Bapak yang penuh perhatian dan pengertian seperti Mas, mungkin sepintar apapun anak, bisa jadi tidak optimal.
Inspiring banget Mas. Membaca bahwa seorang anak putri harus membuat pilihannya sendiri di usianya saat ini (dan tentunya harus bisa dipertanggung jawabkan sendiri juga) itu luar biasa. Dan untuk para orang tua, mengetahui ada seorang Bapak yang menahan dirinya untuk tidak mempengaruhi (walaupun dirinya bisa dan punya hak untuk itu) dan membiarkan anaknya sendiri memilih mana yang menurutnya terbaik, Itu SANGAT LUAR BIASA. Dian patut bangga punya Bapak seperti Mas. Apalagi punya Bapak seorang Konsultan Profesional he…he….he…
Aku juga sangat concern dengan masalah pendidikan khususnya di Indonesia/ Jakarta ini. Aku mendapati ada beberapa sekolah yang menyatakan dirinya bagus dan bahkan menawarkan metode pendidikan internasional, tapi tidak berarti metode tersebut di dasarkan pada nilai-nilai menghargai/ respect to others siapapun dia, respect pada apapun talenta yang dimiliki dan menghargai perbedaan, dll. Artinya memang kita harus hati-hati, karena tidak ada gunanya metode yang canggih-canggih tapi kalau hanya untuk mencetak orang-orang yang tidak punya manner dan nurani yang baik.
Wah jadi semangat nih pagi-pagi. Thanks ya Mas untuk sharingnya dan untuk masih inget aku he….he…
Kapan nih kita bisa ngobrol lagi??? Aku tunggu undangannya ya….By!
Dear Wati,
wah .. terima kasih sudah mampir ke blog “pencarian makna” ini … Terima kasih telah menyempatkan diri buat baca dan sekaligus berkomentar padahal saya tahu Wati sedang super sibuk.
Iya memang .. paling sulit adalah MENAHAN DIRI untuk tidak memaksakan kehendak kita ke anak. Ini sangat sulit sekali dan biasanya kita gak punya waktu untuk itu. Bisa saja saya suruh dia ambil sekolah yang saya mau. Tapi yang akan menjalani kan dia, lha nanti kalo dia tersiksa, kan saya menderita juga to?
Akhirnya yang bisa lakukan adalah memberikan informasi yang baik dan benar, karena dia juga menerima informasi yang menghalangi dia mengambil sekolah terbaik. Berkali-kali saya bilang ke dia :”Dengarkan kata hatimu. Apa yang bener2 kamu mau?” itu lebih penting dari pada sekedar mengambil keputusan tanpa dipikir …
Pada suatu kesempatan, dia pernah bilang: “Kalo saja sekolah tersebut jaraknya dekat dari rumah, pasti aku milih sekolah itu!”… nah berarti sebetulnya dalam hati kecilnya dia ada pilihan, tapi banyak rintangan. Saat inilah saya bilang ke dia: “Dik, begitulah kehidupan … tidak ada yang sempurna. Yang menjadi pilihan kita, ternyata banyak rintangan yang kita hadapi …” (lagian Wati kan sering bilang to … LIFE IS CHOICES …..masih ingat to? Itu udah menjadi trademarknya Wati lho …)
Saya bersyukur .. Dian udah mantep pada satu pilihan. Semoga lancar. Amin.
Wati, aku siap ngobrol kapan aja kalo Wati ada waktu. Kan waktuku jauh lebih fleksibel lho dibanding Wati yang super sibuk pol …
Salam,
G
Pak Gatot Yth,
Wah Dian Putrinya pak Gatot benar benar pantas pakai jilbab ya?!.
Dahulu Emile putri saya pakai jilbab sejak usia balita karena dikatain sama teman temannya sebagai si bule dengan rambut pirang tapi…eh begitu lulus SMP dia malah ga pakai jilbab dengan berbagai alasan.
Hati sih sedih tapi alasannya juga masuk akal jadi ya hingga saat ini dia belum lagi pakai jilbab. masalahnya semua berpulang pada kesadaran jadi kalau dipaksakan juga salah lagi nantinya.
Pak Gatot numpang disampaikan pada Dian putrinya;
Selamat buat Dian yang dah bisa tembus beton SMA 28 yang dikenal sebagai SMA Negeri peringkat pertama di DKI Jakarta. Nanti kapan kapan kenalan sama putri Om Alfie, kak Emile.
Salam
Alfie
Untuk Mas Alfie, Mas Gatot, dan Dian….
SMA Peringkat Pertama Itu SMA Santa Ursula (Sanur).
SMA Sanur mendapat peringkat pertama IPA di seluruh DKI Jakarta (swasta +negeri).
Peringkat Kedua IPS di seluruh DKI Jakarta (swasta + negeri).
Peringkat Pertama Bahasa di seluruh DKI Jakarta (swasta + negeri).
Dengan begitu SMA Santa Ursula dinyatakan sebagai Sekolah Terbaik di DKI Jakarta….
Memang SMA Negeri Peingkat 1 itu SMAN 28. Tapi menurut tahun – tahun sebelumnya SMA Negeri tidak konsisten mempertahankan peringkatnya.
Tidak seperti SMA Sanur yang selalu berada peringkat 5 besar Seluruh DKI Jakarta ( Swasta + Negeri).
Yang terpenting dalam memilah SMA adalah lulusan alumni pada kemana?
Perlu untuk dicari tahu SMA – SMA mana yang memilki lulusan ke perguruan tinggi terbaik di luar negeri dan dalam negeri terbaik saat ini.
Sangat disayangkan, jika anak pintar salah memilah sekolah dan terjebak dalam suatu komunitas yang kurang kondusif.
PS : Jangan dihapus!
Mas Roko,
Terima kasih sudah mengunjungi blog ini dan terutama sekali sudah memberikan komentar mengenai hal ini.
Saya sangat setuju dengan statement mas Roko:
“Sangat disayangkan, jika anak pintar salah memilah sekolah dan terjebak dalam suatu komunitas yang kurang kondusif”
Karena dengan memberikan anak (tidak harus pintar) ke sekolah yang memiliki komunitas kurang kondusif malah akan memeberikan energi negatif bagi perkembangan anak selanjutnya.
Tujuan utama saya menulis di blog ini adalah:
1. Memanfaatkan “tool” sederhana yaitu analisis keuntungan dan kerugian kepada anak kita supaya bisa dipakai untuk alat bantu dalam pengambilan keputusan.
2. Melatih dan mendidik anak untuk membuat keputusan sendiri dan “tugas utama” orang tua adalah “memfasilitasi” proses pengambilan keputusannya.
Terima kasih sekali mas Roko telah memberikan info tentang sekolah terbaik yaitu Snta Ursula. Saya yakin Santa Ursula pasti sekolah terbaik di negeri ini dari prestasinya yang luar biasa. Pilihan Dian ke SMA 28 bukan berarti menganggap bahwa Santa Ursula tidak lebih baik dari Sanur, tapi memang Sanur tidak dalam daftar pilihannya.
Semoga juga Dian bisa tetap berprestasi di SMAN 28 yang memang menurut berita di koran merupakan terbaik dalam tingkat rata2 nilai kelulusan untuk SMA negeri saja.
Sekali lagi, terima kasih banyak.
Wass,
Gatot
Salam kenal, 4 bulan yang lalu saya adalah guru, yang sudah bosan dengan lingkungan guru (dan Yayasan) yang SDM (Susah Diajak Maju)…………..kini berkarya di bidang yang lain.
dan selamat buat Anda yang telah mampu memberikan kesempatan / memfasilitasi kepada anak untuk mengambil keputusan. Tidak banyak orang tua seperti Anda, justru akhir-akhir ini banyak anak yang jadi korban obsesi dan ambisi ego orang tua. Pada akhirnya banyak anak yang pergi sekolah dengan less motivated karena “disuruh” sekolah.
Dan celakanya lagi, banyak sekolah yang mengkumandangkan kedahsyatannya dalam segala fasilitas namun tetap saja menerapkan metode pembelajaran yang teachers-centered, syllabus dan lesson plan dikerjakan dengan cara copy&paste dari tahun ke tahun, guru menganggap bahwa dirinya yang paling benar dan harus ditakuti, dengan alih-alih “pendisiplinan” terjadilah students abuse (bentakan, jewer, cubit, dan phishycal punishment lainnya). Masih sering pula guru menyalahkan anak ketika anak tidak mampu menyerap kompetensi yang seharusnya dikuasai. Tidakkah seharusnya guru menuding dirinya sendir sambil mengatakan “Apa salah saya sehingga kompetensi ini tidak dikuasai anak tersebut?” “Di manakah kekurangan saya?” Di sinilah guru yang harus kreatif mengembangkan metode pembelajaran yang PAKEM (Pembelajaran yg Aktif Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Banyak anak = banyak pola pikir yang membutuhkan metode yang berbeda-beda.
Jadi buat para orang tua murid pandai-pandailah memilih sekolah. Syukur-syukur orang tua bisa melihat (dan mempelajari) syllabus dan Lesson Plan terbaru milik guru (tahun pelajaran yang akan berjalan) sebelum mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut. Di situ akan terlihat apakah pembelajarannya PAKEM atau tidak.
Buat orang tua yang lain, dampingilah anak-anak Anda dengan kasih, bukan didorong, bukan pula ditarik ke depan untuk mengikuti kemauan orang tua. Tidak ada anak bodoh (karena TUhan memang tidak menciptakan anak bodoh) yang ada adalah anak yang perlu proses lebih lama dalam belajar daripada anak yang lain. Bersabarlah…….
Hai Papanya Dian
Gak sengaja tadi search di google SMA 28 eh mampir ke blog ini. Waah Oom perhatian sekali sama anaknya. Semoga sukses di 28
Hampir 3 tahun saya di 28 dan memang perjuangannya berat sekali Oom
Tapi seru!
Halo Haqi …
Wah .. terima kasih. Iya, Dian sekarang belajar terus. saya suka kasihan lihat dia.. Semoga saja bermanfaat …
Wass,
G
hehe…nimbrung ya papanya Dian (sok kenal)…iseng nyari2 kabar 28 eh nyasarnya ke sini..
padahal dulu saya masuk 28 asal aja,soalnya deket dari rumah..kalo orang ditanya 28 pasti pada gak kenal…sekarang udah beda, at least tau lah 28 ada di mana..hag3..3 tahun yang sangat penuh perjuangan tapi kenangannya sangat oke..alhamd saya dapet pmdk abis dari situ,ada lah kontribusi 28 ampe saya gak usah susah2 ikut spmb..
mungkin sedikit bagi2 cerita, saya dulu di 28 sangat Study Oriented (SO) bgt,jarang ampir gak pernah ikut kegiatan di luar belajar lah istilahnya, gak nyampe jadi kurang pergaulan sih, tapi kurang aja oom kenangannya…sekarang pas saya kuliah beda bgt ama pas di 28, nyoba2 ngembangin diri dengan ikut kegiatan kemahasiswaan, dan baru nyadar kalo saya terlalu berkutat di lingkungan yang itu2 aja, ama angkatan lain banyak gak kenalnya..coba pas di 28 saya ikut OSIS atau kegiatan apa gitu..tapi tetep gak ngelupain belajar tentunya..hehe..
mungkin bisa jadi wacana aja sih buat oom,berbagi pengalaman moga2 bisa diambil hikmahnya buat Dian biar gak stres2 amat di 28..hehe..
Arya,
Assalamualaikum wr wb.
Wah .. terima kasih banyak atas komentarnya, terutama sharing mengenai 3 tahun di 28. Saya sendiri dulu cukup berat buat meloloskan (memberi restu) Dian buat masuk 28 karena “ngeri” dengan standar kompetensinya yang minimum dikatakan “tuntas” adalah bila mencapai nilai “7.6″. Menurut saya sih berat sekali. Makanya saya liat sekarang Dian belajarnya gila2an meskipun dia juga ikut kegiatan Ekskul yang cukup intens.
Tapi ya syukur alhamdulillah semesteran kemarin dia bisa dapet prestasi ranking 2 di kelas dan masuk 10 besar dari seluruh sekolah. Sebetulnya bukan prestasi ranking2an yang saya harap dari Dian. Saya hanya berharap kehidupan dia berjalan dengan “seimbang” antara yang serius, main dan ibadah. Itu aja sih. Saya berkali-kali tekankan bahwa yang penting bukan mendapatkan rankingnya, tapi mencapai keseimbangan hidup, meski nilai nya pas dengan minimum standar yang ditentukan (7.6) itu tadi.
Dian sendiri maunya banyak. waktu di SMP dia jago jadi MC, dan kegiatan berbahasa Inggris. nah ini yang saya lihat sekarang dia berkurang, mungkin karena tekanan dari pelajaran di sekolah. Kemarin ada kegiatan Tafakur Alam saja terpaksa mamanya tidak mengijinkan pergi karena baru dua minggu lalu ikut ESQ pada hari sabtu-Minggu terus Senin (hari ini) dia ada ujian Biologi. kan jadi berat sekali. Dia sebetulnya ingin ikut, tapi kami dari orang tua gak tega melepas Dian dalam kondisi fisik yang lelah dan banyak pikiran. Tugas2 sekolahnya buanyaaaaaakkk banget.
Arya,
Saya memang berharap Dian bisa segera menamatkan SMA nya karena yang saya tahu, kehidupan di perkuliahan tidak seperti itu kerasnya …
Sekali lagi terima kasih banyak atas wacana nya mengenai hal ini ya.
Wass wr wb.
Gatot Widayanto
salam hangat, kunjungi blog saya di taufik79.wordpress.com
Mas Taufik .. terima kasih sudah mampir ke sini. Ya .. saya sudah kunjungi blog ANda dan memberi komentar tentang TV.
Salam,
G
wah saya sangat salut dengan Dian…
Saya tertarik dengan nilainya yang luar biasa…
Semoga Dian bisa menggapai semua cita2nya, apalagi Dian anak yang cantik dan dilihat dari busananya Dian termasuk anak yang solehah….
Bahagiakanlah orang tuamu dengan segala prestasimu ya Dian….
Ganbatte kudasai….
Amin .. pak Sindhu, terima kasih atas doanya …
Salam,
G
boleh knalan gak?
salam kenal, saya salah satu alumni sman 28, melihat ini jadi tambah bangga dulu sekolah di sman 28
Salam kenal, mas Arfan… Sekarang kuliah dimana?
Salam,
G
Met knal aja ya dek,,moga sukses n diridhoi Allah..
Amin..
Oia,blh knalan? Ni org Jepara low..
Hehe..
assalamualaikum..
wah saya terdampar lagi diblognya om, padahal niatnya pgn cari2 tntg 28, kebetulan yang aneh ya hehe..
wah bagus deh, akhirnya dian milih sekolah yang tepat, ga nyesel deh masuk 28, hehe. rasanya jadi pengen sma trus kalo di 28, gapapa deh kalo ga lulus (hehe ngaco)
tapi omong2 itu yang sma B nya apa ya? trs kok dian gak pertimbangin masuk 8 juga om? kan bagus juga tuh
ehia maaf ya om, gara2 angkatan saya, prestasi 28 tahun ini merosot, cuma bisa dapet peringkat 4 di jakrta hehe. angkatan. uannya susah om ,hehe (padahal gara2 males belajar smua hehe).
mudah2an dian sama angkatannya atau angkatan diatas yang sekarang kelas3 bisa bawa 28 jadi yang terbaik lagi deh di jakarta, sukur di Indonesia, aminn..
Wa’alaikumsalam wr wb.
Akbar …wah saya malah tdk tahu kalau peringkatnya turun menjadi no. 4.
Dian tidak mau ke SMA 8 karena lumayan jauh dan suka banjir ..he he he..padahal enak ya kalo banjir bisa libur.
Mungkin juga karena peringkatnya merosot, sekarang digenjot tuh belajarnya. Stiap Sabtu jam 7 sd 12 Dian harus masuk sekolah, ada program mentoring. Semakin berat aja sekolahnya.
Tapi mungkin memang seharusnya begitu ya biar mudah masuk kuliah. Dulu waktu saya kuliah, banyak temen2 dari SMA bagus (misalnya SMA N 3 Malang) otaknya encer2 dan mudah menjalani TPB (Tingkat Pertama Bersama) sementara saya musti berjuang mati2an.
Akbar sekarang kuliah dimana nih?
Wass,
Gatot
Assalamualaikum
waah maaf om baru jawab sekarang. saya kuliah di stan om, baru masuk. hehe
wah yang peringkat 4 itu juga saya cuma denger2 aja dari temen2, belom konfirmasi langsung juga sih. mudah2an aja salah, sukur2 tetep peringkat 1, hehehe.
iya tuh om, yang saya denger2 sabtu sekarang ada kaya program tutor, yang pinter ngajarin materi ke temen2nya yang belom ngerti. konon dian juga jadi tutornya yang ngajarin gtu. bner ya om? wah dian pinter. jadi iri saya hehehe
ngomong2 lulus sma nanti dian mau lanjut kemana om?
Terima kasih, Akbar.
Iya, Dian setiap Sabtu jam 7 sd 12 musti ikut Tutor itu … Ekskulnya jadi berantakan, padahal dia seneng.
Dian masih belum memutuskan mau kuliah kemana. Mungkin juga Bandung karena matermatikanya bagus, mungkin cocok di teknik. Tapi belum tahu teknik apa … Masih perlu dipikirkan lagi …
Wass,
G