The Elegant Solution
December 7, 2007 by Gatot Widayanto
Toyota’s Formula for Mastering Innovation
Sebenarnya saya agak enggan membeli buku ini. Bukan karena desain sampulnya kurang menarik atau penulisnya
kurang ternama. Saya agak bosan dengan buku-buku yang sifatnya ”way” seperti ”Apple Way”, ”Toyota Way” atau ”way” lainnya. Namun karena ada tulisan ”The University of Toyota”, saya beli juga. Ternyata, setelah saya beli, saya juga agak enggan membacanya karena curiga jangan-jangan isinya itu itu saja. Saya baru tergerak membaca karena ternyata di dalamnya penuh anotasi yang membantu saya merangkum esensi setiap paragraf. Tanpa terasa, buku ini saya baca sampai habis.
Ada tiga hal pokok pembelajaran dari buku ini: pertama, signifikannya pengaruh budaya perusahaan yang kokoh pada kinerja; kedua, cakrawala luas mengenai inovasi; ketiga, perangkat sederhana yang terbukti efektif dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Fokus pembahasan di dalam buku ini memang pada Toyota Production System (TPS) yang sudah masyhur itu. Sosok Sakichi Toyoda menjadi wacana pembuka dengan pengalaman pribadi masa kecilnya dimana ia melihat ibunya dan ibu rumah tangga lainnya di kampung melakukan pemintalan secara manual. Ia kemudian bertanya pada dirinya sendiri: mengapa tidak membuatnya secara otomatis dengan mesin sehingga pemintalan lebih cepat dan rapi? Dari situlah lahir tiga prinsip utama yang melandasi TPS dan kajian dalam buku ini: kepiawaian dalam ketrampilan (ingenuity in craft), upaya menuju kesempurnaan (pursuit of perfection) dan kesesuaian dengan lingkungan (fit with society). Tiga prinsip ini menjadi pondasi kuat yang menjadi budaya perusahaan kokoh yang ditanamkan sejak jaman Sakichi Toyoda hingga kini. Hal ini diakui karyawan General Motor (GM) – Toyota joint venture yang tadinya adalah karyawan GM. Sang karyawan merasa bahwa masuknya Toyota membawa perubahan fundamental dalam budaya perusahaan dari yang sifatnya ”kerjakan saja” (just do your work) ke ”tidak ada orang yang tahu pekerjaan ini lebih baik dari Anda” (no one knows the job better than you). (halaman 24). Suatu perubahan yang sangat dramatis. Tapi ya begitulah Toyota.
Dengan budaya yang kokoh seperti itu, maka tidak heran bila Toyota memiliki nilai pasar 150 milyar dolar mengalahkan jauh dari jumlah GM, Ford, Daimler-Chrysler, Honda dan Volswagen. Sekaligus, Toyota termasuk sepuluh besar perusahaan di dunia dalam hal laba. Budaya yang kokoh ini juga melandasi perilaku selalu berubah menuju yang lebih baik. Dalam hal ini Toyota yakin bahwa satu-satunya mendapatkan ide cemerlang adalah melalui ide yang banyak. Dalam satu tahun, Toyota menghasilkan satu juta gagasan. Dari gagasan yang banyak itulah muncul inovasi. Inovasi didefinisikan bukan selalu terkait dengan hal-hal teknologi maju, namun ditekankan pada pemecahan masalah lebih baik dari sebelumnya. (halaman 7). Proposisi yang ditawarkan bisa dikatakan sederhana: bila seseorang piawai dalam ketrampilan pekerjaannya (ingenuity in craft) dan memiliki semangat menuju kesempurnaan (pursuit of perfection) akan menghasilkan inovasi yang dibutuhkan masyarakat (fit with society).
Buku ini juga menyajikan perangkat (tools) yang bisa digunakan untuk meyelesaikan masalah secara umum. Salah satu yang sederhana adalah teknik yang disebut dengan 5 Whys untuk mendapatkan penyebab masalah. Perangkat ini melemparkan pertanyaan ”mengapa begitu penting” terhadap sesuatu. Setiap jawaban selalu ditanya dengan pertanyaan yang sama sampai akhirnya sampai pada jawaban ke lima yang merupakan pokok dari permasalahan. Perangkat lain yang sangat sederhana tapi diungkapkan dengan contoh menarik adalah dalam hal memvisualisasikan pikiran kita (Think In Pictures). (halaman 107). Dengan menggambarkan pikiran kita, banyak pertanyaan bisa terjawab. Ini juga pernah diungkapkan oleh Tony Buzan dalam teknik mind mapping nya yang masyhur itu.
Contoh di luar Toyota cukup banyak diulas termasuk bagaimana mengeksploitasi keterbatasan hingga terobosan tercapai. Contoh gamblang diuraikan di halaman 135 saat sebuah kontraktor (C.C. Myers) membuat terobosan dalam pembangunan kembali daerah bekas bencana gempa di Santa Monica. Buku ini juga menguraikan bagaimana teknik Elegant Solution bisa diterapkan jauh di luar industri otomotif. Di bagian akhir diuraikan panjang lebar aplikasinya pada Los Angeles Police Department (LAPD) bekerjasama dengan University of Toyota. (hal 207).
Secara penyajian buku ini menarik karena dilengkapi dengan penekanan pada setiap halaman melalui caption maupun visualisasi grafis sehingga relatif mudah memahami isinya. Secara struktur, buku ini dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu: prinsip-prinsip, praktek, dan bagaimana mengaplikasikannya secara konsisten. Dari cara penyajian seperti ini tidak bisa dipungkiri bahwa Matthew E May terbukti handal dalam menyajikan pokok pikirannya secara sistematis. Tidak heran karena dia telah ikut membangun University of Toyota hingga maju seperti sekarang ini. Seperti pepatah mengatakan ”Jangan menilai buku dari sampulnya” maka tantangan bagi kita adalah seberapa jauh pemikiran dan perangkat yang diulas rinci di buku ini berguna bagi kita dan mudah diaplikasikan secara konsisten.
Author: Matthew May
Publisher: Simon & Schuster
Pages: 236
ISBN: 1847370284
Resensi di atas telah dimuat di Edisi Cetak Koran Tempo 27 November 2007: