Resensi ini sudah dimuat di suplemen Ruang Baca, Koran Tempo Minggu, 30 Maret 2008.

Ah, Starbucks lagi? Rasanya belum lama ini saya telah mengulas dua buku terkait dengan gerai kopi ini dari tiga buku yang saya baca. Dan, ketika saya melihat buku ini , saya tidak tertarik membelinya. Masak Starbucks lagi sih? Namun setelah kunjungan ketiga ke toko buku yang sama, tidak tahu kenapa kok saya akhirnya membelinya juga. Diluar dugaan, ternyata buku ini berhasil mengikat mata, pikiran, dan perasaan saya hingga saya tak kuasa rehat dari keasikan membaca. Buku ini saya habiskan hanya dalam waktu satu hari dengan sedikit loncatan. Hampir setiap halaman saya nikmati kisah nyata dari penulisnya: Michael Gates Gill (Mike).
Bila dua buku yang telah saya bahas di Ruang Baca beberapa waktu lalu, yaitu The Starbucks Experience dan Built For Growth, fokus bahasannya pada Starbucks, buku ini justru mengulas perjalanan hidup Mike sebagai salah satu barista di kedai kopi ini. Kisahnya dramatis dan menguras emosi dari awal hingga akhir. Dimulai dengan kebiasaan Mike nangkring di kedai kopi ini pada saat suasana hatinya suntuk lantaran beberapa bulan sebelumnya ia dipecat dari perusahaan periklanan kondang J. Walter Thompson Advertising setelah bekerja dua puluh lima tahun. Saat nyeruput latte, ia didekati Crystal, seorang supervisor Starbucks yang memberi penawaran pekerjaan, saat usia Mike 63 tahun. Dari sini kisah bergulir mulai dari proses aplikasi hingga Mike bekerja sebagai tukang bersih toilet. Yang menarik adalah penuturan Mike dalam pengalaman hidup penuh makna dari kecil hingga bekerja di gerai Starbucks.
Setidaknya ada dua hal utama yang bisa dipelajari dari buku ini: pengalaman hidup Mike yang penuh makna dan mungkin sulit bisa dipercaya dan pelajaran mengenai praktek nilai-nilai (values) yang dianut Starbucks. Jalan hidup Mike memang sulit bisa diterima akal sehat karena ia berasal dari keluarga kaya dan mampu sekolah di Yale sampai lulus. Karirnya setelah lulus kuliah pun sangat mulus hingga ia menjadi bintang di perusahaan iklan J. Walter Thompson sehingga menduduki posisi Executive Vice President. Sebuah prestasi yang luar biasa dengan imbalan yang sangat menggiurkan. Klien yang ia tangani juga merupakan perusahaan Fortune 500 seperti Ford, Sprint, IBM. Hingga suatu hari dia harus di PHK pada usia uzur oleh teman sejawatnya yang dia rekrut. Tragis. Upaya Mike membuka usaha jasa konsultansi setelah dikeluarkan dari perusahaan tersebut tidak berkembang alias mandeg hingga akhirnya ia mencari pekerjaan untuk melangsungkan hidupnya.
Bekerja di Starbucks tidak pernah singgah di pikiran Mike hingga tawaran dari Crystal, seorang negro. Setelah gabung, Crystal menyukai pekerjaan Mike yang dinilai rajin dan antusias meski sebagai pembersih toilet. Melihat kesungguhan Mike, Crystal memberi rotasi pekerjaan bagi Mike menjadi kasir, sampling produk hingga sebagai pembuat kopi (Coffee Master). Buku yang ditulis dengan gaya penulisan dialog dalam diri Mike ini berhasil mengungkap makna mengenai arti hidup sesungguhnya mengingat latar belakang Mike yang dibesarkan dari keluarga sangat kaya dan tinggal di Manhattan. Ayahnya, Brendan Gill, adalah seorang penulis terkenal dari New York. Sikap hidup Mike yang legowo menghadapi cobaan berat ini menunjukkan semangat militansi yang tinggi dalam menyikapi pekerjaan secara positif.
Salah satu dialog diri yang saya anggap mengesankan adalah saat Mike berkunjung ke dokter pribadinya, Dr. Lalwani (halaman 146). Mike sebelumnya telah divonis mengidap tumor otak ganas sebelum ia bekerja di Starbucks. Mike tidak mau menceritakan hal ini ke Crystal, maupun Partner (sebutan bagi karyawan yang bekerja di Starbucks) karena ia takut mereka akan simpati. Saat itu Mike baru bekerja dua bulan dan ia tidak mau orang bersimpati kepadanya karena penyakit yang diderita. Kenyataan bahwa ia sudah tua saja sudah cukuplah. Hal lain yang ia takutkan juga, bisa jadi ia dipecat gara-gara mengidap penyakit yang mengganggu pendengan telinga kirinya (tinggal 20%). Namun, sikapnya untuk tidak memberi tahu dengan harapan agar Partner tidak kemudian harus simpati merupakan pelajaran praktis namun memiliki makna dalam. Bukankah ini sering kita hadapi di dunia pekerjaan, dimana karyawan yang dalam kesusahan selalu diberi permakluman yang kadang berlebihan? Apalagi di Indonesia yang masyarakatnya melodramatis.
Mengenai pengejewantahan nilai luhur (values) perusahaan dalam keseharian di kedai Starbucks merupakan suatu hal yang juga menarik disimak. Hal sepele penuh makna adalah teguran profesional Crystal kepada Mike tentang larangan melakukan side-talk (ngobrol dengan sesama rekan kerja saat bertugas). Ini contoh baik bagi kita semua. Lihat saja, begitu banyak kita lihat di restoran atau kafe dimana sesama karyawan kafe sambil ngobrol bahkan asyik bergurau di area tamu. Pemandangan cukup mengganggu ini sudah biasa dilakukan waiters pada umumnya. Tidak hanya itu, melalui dialog-diri Mike mengungkapkan bahwa menyentuh (touch) tamu di Starbucks sangat dilarang.

Membaca buku ini terasa nikmat karena bahasa yang digunakan sederhana dan cerita yang disampaikan mengalir lancar. Gabungan pembelajaran antara makna pengalaman hidup Mike dan bagaimana Starbucks ”living the values” dalam keseharian membuat buku ini menarik. Apakah gerai Starbucks di Indonesia seperti yang diuraikan di buku ini? Walahualam. Yang jelas, banyak detil menarik dalam buku ini, bila Anda suka memaknai hidup. Di usia senja dan dalam keadaan terpuruk, seorang Mike masih memiliki satu modal, yaitu harapan. ”Without hope, you can not start the day,” begitulah ujar kelompok progressive rock YES dari Inggris.
Gatot Widayanto – Konsultan Manajemen
“How Starbucks Saved My Life” – A Son of Privilege Learns to Live Like Everyone Else, Michael Gates Gill, Gotham Books, 2007. (265 halaman)
Semenjak saya liat artikel ini di koran tempo,
Saya cari bukunya (how starbucks saved my life) kok susah y?
Kira2 beliny dmana y pak?
Mbak Dian … maaf telat bales karena link ini sempat di block oleh proxy .. (heran .. kagak ada pornonya kok di block ya?).
Buku ini masih banyak tersedia di toko buku Aksara. Terakhir saya ke Plasa indonesia, masih banyak. Juga ada di Citos dan saya yakin Kemang pun mestinya ada. Silakan dijajaki lagi .. bukan promosi aksara lho .. karena saya ndak ada hubungan bisnis apa2 dengan aksara … he he he .. saya hanya membantu saja bila Anda mau cari …
Salam,
G