Sebuah Renungan Kebangkitan Nasional
High vibration go on
to the sun, oh let my heart dreaming
………
Wish the sun to stand still.
Reaching out to touch our own being
Past a mortal as we
Here we can be … Here we can be …
Larik lirik yang membuka lagu Awaken dari kelompok rock progesif dari Inggris, YES, terasa tepat untuk merajut makna kebangkitan nasional yang setiap tahun diperingati pada tanggal 20 Mei. Tahun ini istimewa, karena merupakan peringatan seabad dan perlu kita maknai bersama. Bangsa yang maju tentu sangat menghargai sejarahnya dan belajar dari pengalaman masa lalu untuk meretas jalan menuju masa depan yang jauh lebih baik. Tulisan ini lebih menekankan pada aspek ke depan dari pada tinjauan sejarah bangsa meskipun tanpa mengabaikannya sama sekali.
Perjalanan bangsa ini telah mencapai suatu titik hingga kita berada saat ini dengan segala hambatan dan tantangan yang kita alami sejak jaman penjajahan hingga kita menikmati alam kemerdekaan atas jasa para pahlawan kita. Pergolakan kita dalam mengatasi hambatan dan tantangan di setiap jaman sangat berbeda, namun ada satu hal yang pasti ada: dinamika perjalanan bangsa ini. Tentu ada hasil yang menggembirakan, misalnya dengan semakin tegasnya sepak terjang KPK dalam memberantas korupsi, dan yang mengecewakan, misalnya dengan semakin tidak jelasnya pengusutan kasus-kasus HAM. Kita perlu sikapi dengan dewasa bahwa suatu perjalanan tidak selalu membawa kita ke titik dengan hasil menggembirakan. Hasil merupakan konsekuensi logis dari proses yang dijalani, sehingga perlu kita sikapi dengan kesabaran untuk mencapainya.
Tujuan Yang Jelas
Di tahun 1973, Pak Sanyoto, guru pelajaran Kewarganegaraan saya di SMPN I Madiun, mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri yang makmur dan sejahtera, rakyatnya sangat ramah, memiliki sifat kegotong-royongan yang baik. Kalimat bernuansa positif tersebut telah menorehkan makna mendalam pada diri saya hingga saat ini. Meski dengan berjalannya waktu kalimat tersebut tidak sepenuhnya benar, saya tidak mau terlibat dalam proses validasinya karena saya pikir itu malah akan merusak jiwa dan membuang-buang waktu. Saya lebih senang menganggap kalimat tersebut menjadi tujuan akhir (the end state) perjalanan bangsa ini. Artinya, makna larik “Here we can be” dari lagu Yes itu sudah tertanam sejak saya mendengar bahwa “negeri ini makmur dan sejahtera” sebagai suatu tujuan mulia yang harus kita capai. Sewajarnya kita bangga karena telah memiliki tujuan yang jelas. Ajakan Steven Covey dengan “mulailah sesuatu dengan tujuan yang jelas” sudah kita tanamkan sejak dahulu kala. Kita tak boleh sedikitpun lengah dengan tujuan tersebut. Memang, tujuan tersebut pada akhirnya harus diterjemahkan ke dalam ukuran-ukuran yang jelas oleh pakar-pakar pembangunan ekonomi, politik, sosial, teknologi, dan budaya.
Pembentukan Budaya Bangsa
Agus Martowardoyo mengagendakan pembentukan budaya perusahaan (corporate culture) menjadi salah satu agenda utamanya pada saat ia mengemban amanah sebagai Direktur Utama Bank Mandiri. Saat itu, kondisi perusahaan sedang sakit dengan NPL (non-performing loan) sebesar 25%. Ia memiliki satu keyakinan kuat bahwa bila mental setiap individu di perusahaan bisa digembleng dengan tataran nilai-nilai inti (core values), maka misi dan visi perusahaan bisa dicapai. Hasilnya, luar biasa. Dalam tempo kurang dari dua tahun sejak program budaya perusahaan dijalankan dengan konsisten, tingkat kredit macet turun drastis dan Bank Mandiri merupakan satu-satunya bank pelat merah yang bisa menduduki peringkat 10 besar dalam survei pelayanan pelanggan yang dilakukan oleh majalah perbankan.
Yang dilakukan Agus, tentu dalam skala mikro di dalam suatu perusahaan. Namun, fokus kepada pembentukan karakter individu dengan menggunakan nilai-nilai inti yang luhur membuahkan hasil yang menggembirakan. Ini bisa digunakan sebagai pilot pembentukan budaya bangsa secara nasional. Bedanya hanya dalam jangka waktu pencapaiannya yang lebih panjang. Bila Agus memerlukan waktu dua tahun untuk membangun pondasi yang solid, mungkin bangsa Indonesia memerlukan waktu 20 hingga 30 tahun untuk mencapainya. Tantangannya adalah, setiap pergantian kepemimpinan di negeri ini sepertinya tidak terlihat adanya tongkat estafet yang konsisten dalam melanjutkan peta perjalanan bangsa. Setiap periode kepemimpinan terfokus pada perbaikan selama masa jabatannya, dengan kurang memikirkan kelanjutannya.
Pendidikan Sebagai Pilar Pokok
Memaknai kebangkitan nasional dengan memfokuskan kepada pembentukan mental individu memang bukan pekerjaan mudah, namun hasilnya insya Allah luar biasa. Hal ini harus dimulai dengan penggalian dan penetapan nilai-nilai inti budaya bangsa ini sebagai titik acuan dalam pembentukan mental dan perilaku individu. Mungkin, kita bisa mulai dengan nilai “gotong royong” seperti yang dikatatakan pak Sanyoto puluhan tahun yang lalu.
Pelaksanaan pembentukan mental individu ini hanya bisa efektif dijalankan melalui pendidikan dalam arti luas, tidak hanya di sekolah formal namun juga di instansi pemerintah dan swasta. Sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa nya, semboyan : Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani perlu digalakkan dan dipantau. Jajaran guru dan tata-usaha sekolah harus bisa memberikan contoh yang baik, menciptakan suasana kreatif , dan memberi arahan dari belakang tanpa menggurui kepada siswa-siswinya. Dimulai dengan nilai gotong-royong, seorang guru bisa mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas melalui penugasan praktek yang menekankan nilai gotong-royong. Bila perlu, kegiatan experiential learning yang biasa dilakukan di program pelatihan perusahaan bisa diterapakan di dalam kelas. Tujuannya jelas: agar anak didik meresapi dan menghayati nilai-nilai inti budaya Indonesia.
Pada tataran instansi pemerintah dan swasta, filosofi yang sama bisa diterapkan dengan mengganti peran guru menjadi peran penyelia atau manajer di instansi tersebut. Pada skala instansi, mestinya lebih mudah bila ini benar-benar dimulai dari atas karena ada hubungan antara yang berkuasa (manajer) dengan yang dikuasai (karyawan). Tentu, yang di atas adalah figur yang bisa dipercaya dan menjalankan tugas sesuai dengan nilai inti yang luhur. Yang dilakukan Agus di Bank Mandiri berpatokan pada: “Anda ikut kereta atau Anda keluar dari kereta”, merupakan ketegasan yg ia sampaikan agar budaya perusahaan benar-benar bisa berjalan sesuai desain.
Permasalahannya, bagaimana menggembleng guru di sekolah dan manajer di instansi pemerintah / swasta? Ini merupakan tantangan bagi seluruh jajaran petinggi negeri ini untuk menggembleng mereka menjadi pribadi unggul yang pada akhirnya menciptakan vibrasi kepada jajaran di bawahnya. Cetak biru yang diusulkan oleh Roger Connors dan Tom Smith dalam bukunya Journey to The Emerald City (2002) bisa digunakan dalam implementasinya. Proposisinya sederhana: untuk membangun budaya yang kokoh, perlu dimulai dengan kegiatan “menciptakan pengalaman” yang diharapkan akan menanamkan keyakinan (belief) kepada karyawan / siswa yang pada akhirnya menggerakkan perilaku unggul (excellent behaviors) yang membawa hasil luar biasa. Prosesnya, tentu dimulai dari jajaran pimpinan (manajer, guru) yang kemudian ditularkan dengan semangat melalui vibrasi nilai-nilai positif. Dengan vibrasi inilah diharapkan proses penularan bisa diresapi dengan baik seperti yang dilakukan pak Sanyoto kepada siswa-siswinya. High vibration go on … Begitulah ujar Jon Anderson…. Kita perlu galakkan vibrasi nilai-nilai budaya agar bangsa ini benar-benar bangkit dan bukan “sepertinya” bangkit. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada bangsa Indonesia tercinta. Amin.
Jakarta, 18 Mei 2008
Gatot Widayanto
Konsultan Manajemen dan Pengamat Sosial
Setuju Pak Gatot, mhn terus dengan tulisan-tulisannya yang sangat menggelitik. Kita terus berjuang dengan Ilmu masing2 yang telah di anugrahai Allah SWT, amin. http://eftkoe.blogspot.com
bagimu negeri jiwa raga kami