Tulisan ini telah dimuat di KORAN TEMPO Minggu, 26 Oktober 2008 di Ruang Baca halaman 18. Kali ini membicarakan manajemen dalam konteks lingkungan hidup global. Selamat menikmati. Salam, G
——————
How Individuals and organizations are working together to create a Sustainable World.
Alasan utama membeli buku ini bagi saya karena faktor penulisnya. Siapa tak kenal Peter Senge yang kondang dengan buku The Fifth Discipline pada hampir dua dekade yang silam, tepatnya 1990. Buku tersebut telah menjadi buah-bibir di kalangan pemerhati strategi bisnis maupun manajemen terutama yang mendalami pembelajaran organisasi. Premis pokok yang dituangkan Senge saat itu adalah ajakan untuk membudayakan pemikiran sistemik. Contoh yang ia gunakan juga sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan simulasi permintaan-pemasokan sistem distribusi minuman mulai dari pabrik ke distributor, agen, pengecer, sampai ke konsumen. Dengan tujuan akhir mencapai keseimbangan, Senge menyampaikan secara lugas bagaimana pendekatan sistemik bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Pendekatan Sistemik dan Keseimbangan
Di buku The Necessary Revolution ini Senge menekankan hal yang sama, yaitu pentingnya pendekatan sistemik, dengan tujuan sama: keseimbangan. Bedanya, pada buku terbitan 2008 ini ia dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Masyarakat Pembelajar Organisasi memperluas konteksnya menjadi global, bukan suatu entitas perusahaan. Isu pokok yang ia angkat adalah lingkungan hidup. Di sini ia menekankan pada isu pokok daripada menekankan pada metodenya. Sehingga, jangan kaget bagi Anda yang terbuai dengan uraian menarik tentang pendekatan sistemik di bukunya terdahulu, sekarang kurang mendapat penekanan meski diagram kasualitas masih ia gunakan (dimulai dengan hal. 21). Bisa dikatakan, Senge sengaja ingin menekankan perlunya kita semakin sadar dan bertindak terhadap kerusakan lingkungan yang semakin parah, dengan mengingatkan bahwa perangkat pendekatan sistemik harus digunakan.
Dari buku ini kita belajar tiga hal: perlunya kesadaran terhadap intensitas kerusakan bumi bumi karena ulah manusia, perlunya cara berpikir baru mengatasi hal ini, dan perlunya bertindak dari yang paling kecil sekalipun. Fakta yang diungkapkan Senge memang patut membuat kita risau (hal. 29). Emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar, mengotori bumi ini dengan volume yang dahyat: 8 milyar ton setiap tahun. Sedangkan, kemampuan bumi dan tanah menyerapnya hanya 3 milyar ton per tahun, sehingga terdapat 5 milyar ton (nett) penambahan CO2 di atmosfir kita. Padahal, saat ini sudah ada 800 milyar ton CO2 di atmosfir. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban polusi bagi anak cucu kita pada nantinya. Memfokuskan pada kadar CO2 membuat kita paham terhadap urgensi permasalahan ini. Ini mengingatkan kita bahwa perubahan iklim seperti yang kita alami pada saat pancaroba ini bukan merupakan masalah tersendiri tapi merupakan rentetan akibat dari kondisi semakin buruknya kualitas bumi ini karena ulah kita. Senge mengibaratkan bahwa kita saat ini hidup dalam suatu gelembung kehidupan, dan kita harus memikirkan cara untuk memasuki kehidupan baru diluar gelembung tadi, Life Beyond The Bubble (hal. 33).
Pemikiran Baru
Untuk mengatasi masalah ini perlu adanya pemikiran baru dengan pilihan baru. Senge menguraikan perlunya perubahan sistemik dengan pemikiran baru: melihat secara sistem, menciptakan kolaborasi lintas batasan, dan menciptakan masa depan yang kita inginkan. Dalam dunia yang saling terkait ini sudah sangat dibutuhkan memperluas cakrawala dengan melihat masalah dalam pendekatan sistem yang menyeluruh. Tidak lagi ada suatu fenomena yang muncul dengan sendirinya karena itu pasti merupakan akibat dari adanya fenomena lain. Banyak perusahaan yang telah merintis pendekatan sistem ini, salah satunya Alcoa, yang merasakan kekurangan air bersih yang semakin meningkat. Diperlukan solusi mendasar dalam pengelolaan air bersih tidak sekedar hanya relokasi pabrik hanya karena peraturan daerahnya masih longgar.
Diperlukan kolaborasi lintas batasan, lintas usaha dan lintas budaya sebagai wujud pendekatan sistemik. Bayangkan suatu dunia dimana kelebihan energi dari suatu usaha diserap oleh usaha lainnya yang membutuhkan. Ini merupakan tantangan besar dunia karena sejauh ini pembicaraan kolaboratif masalah lingkungan hidup masih dalam taraf pembicaraan, belum tindakan. Diharapkan, dengan adanya visi menciptakan masa depan (di luar gelembung) yang lebih baik akan menyelamatkan dunia ini dari kerusakan yang semakin parah. Pemikiran baru ini memang perlu dilaksanakan seefektif mungkin dengan kesadaran penuh dari pelakunya.
Perlunya Tindakan
Sebuah bisnis bisa bertahan dan berkembang karena dengan adanya inovasi. Demikian juga bila kita ingin memasuki Life Beyond the Bubble, kita harus menciptakan motivator atau hal-hal yang memberikan inspirasi bagi kita untuk ”mau” bertindak (hal. 285). Ini bukan pekerjaan mudah. Meski usaha ke arah ini belum merupakan sesuatu yang mengglobal, namun beberapa tindakan sudah dilakukan beberapa produsen. Nike, misalnya, telah mengurangi kandungan karbon sol sepatu buatannya sebesar 75%. Di Eropa, bila Anda memproduksi mobil dan menjualnya, Anda bertanggung-jawab untuk memiliki rongsokannya saat mobil tersebut jadi besi tua. Atau dengan kata lain: ”Bila Anda membuatnya, maka Anda memilikinya selamanya”. Senge menekankan perlunya menerapkan model bisnis yang merupakan sistem hidup. Dengan kata lain, bagaimana menciptakan produk yang bisa didaur-ulang pada saat produk tersebut tidak berfungsi lagi. Pada level individual, kita juga perlu mengubah pola hidup konsumerisme kita dengan memulai pada hal-hal kecil, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik, menggunakan sepeda secara rutin ke tempat kerja (cycling to work). Hal-hal kecil ini bila dilakukan jutaan bahkan milyaran orang di dunia, tentu akan memberikan dampak mengurangi laju kerusakan bumi.
Meski buku ini sarat dengan visi dan kepedulian terhadap terciptanya kehidupan yang lebih baik, namun terasa kurang fokus. Hal ini mungkin disebabkan terlalu luasnya konteks bahasan, tidak pada entitas bisnis atau kompetisi. Salah satunya adalah seperti diuraikan di halaman 263 – 266 dimana diberikan contoh kalimat yang perlu digunakan dalam pembicaraan masalah lingkungan. Menurut saya, ini sudah terlalu rinci untuk bahasan global dengan isu pokok lingkungan yang sangat kental. Sayangnya, rincian pada level kolaborasi antar perusahaan atau dengan pemerintah kurang diperhatikan bagaimana menciptakan model kolaborasi yang tepat. Namun, buku ini sudah cukup menggugah kita untuk lebih peduli lingkungan hidup.
Gatot Widayanto
Konsultan Manajemen dan Pesepeda ke tempat kerja
