Hukum Newton untuk Pemasaran
Seberapa banyak Anda belajar dari membaca buku? Sebagian dari Anda mungkin memetik manfaatnya. Namun, cukup banyak orang yang saya jumpai meremehkan manfaatnya. Tidak demikian halnya saya. Saya menjalani kehidupan sebagai karyawan dan kemudian sebagai konsultan independen hingga sekarang, tak pernah bisa lepas dari buku. Tentu, buku bukan merupakan satu-satunya penyokong terbesar dalam berkarya. Mungkin juga kontribusinya hanya 10% dari hal-hal lain yang mempengaruhi kesuksesan kita. Namun, saya tidak bisa membayangkan melakoni profesi tanpa pernah membaca buku. Bisa jadi 90% sisanya juga tidak bisa saya peroleh karena wawasan yang tidak bertambah dalam menyikapi suatu persoalan. Wawasan sempit mebuat otak kita kerdil dan tidak bisa secara maksimal memanfaatkan potensi diri. Orang bijak mengatakan bahwa otak manusia seperti halnya payung, baru bekerja bila terbuka.
Topik pemasaran bisa dikatakan salah satu yang paling tua. Bila Anda membuka Google dengan pencarian “book on marketing” maka akan muncul lebih dari 138 juta item ditemukan. Ini artinya pemasaran merupakan topik yang banyak dibicarakan orang dan sudah beredar jutaan buku atau artikel terkait dengan pemasaran. Lalu, kenapa pula musti baca “Gravitational Marketing”? Satu hal yang pasti, istilah yang digunakan cukup menarik dan sepertinya merupakan terobosan baru dalam pemasaran. Ditambah lagi, sub judul “The Science of Attracting Customers” cukup menjanjikan bagi calon pembaca. Betulkah? Mari kita lihat isinya.
Siapa tidak menginginkan pelanggan? Semuanya butuh pelanggan dan itu merupakan hal penting. Buku ini memperkenalkan cara untuk menarik pelanggan tanpa susah payah karena secara otomatis sudah menarik. Jimmy Vee, Travis Miller, dan Joel Bauer mengulas secara rinci dalam tujuh cara. Salah satunya adalah mengidentifikasi diri kita sebagai seorang ahli (expert). Pendefinisian sebagai ahli pun cukup sederhana, yaitu menggunakan kriteria lamanya menekuni suatu bidang, keahlian menanganinya, dan kemampuan untuk mengerjakan secara memuaskan untuk pelanggan. Artinya, bila Anda mengidentifikasi diri sebagai seorang ahli memasak, maka Anda sudah pasti harus telah lama menggelutinya, menguasai secara baik menu makanan yang sesuai dengan acaranya (pernikahan, seminar, khitanan, misalnya), dan mampu memuaskan pelanggan. Bila kriteria ini dipenuhi, maka Anda bisa disebut sebagai seorang ahli.
Struktur buku ini dibagi menjadi dua bagian besar dengan bagian pertama berbicara pada tingkat konsep sedangkan bagian dua fokus pada teknik pelaksanaan. Gravitational Marketing memiliki tiga lingkaran (three rings) yang merupakan elemen penting: pasar, pesan, dan media. Ini artinya pendefinisian pasar harus sudah jelas agar pesan yang dibuat tepat mengenai sasaran, menggunakan media yang tepat. Dengan menggunakan gravitasi (mengambil analogi dari Prinsip Newton) pelanggan akan tertarik secara otomatis. Selain mengulas pada tingkat konsep, buku ini juga dilengkapi dengan panduan teknis di bagian dua. Bagi Anda yang merasa sudah bosan dengan konsep, disarankan langsung membaca bagian dua tanpa harus membaca bagian pertama sekalipun. Bagian ini terdiri dari tujuh bab yang secara rinci memandu pembaca melalui 36 teknik pemasaran dengan media yang berbeda.
Salah satu taktik menarik yang perlu Anda pertimbangkan adalah dalam pertukaran kartu nama. Disarankan Anda untuk tidak memberikan kartu nama pada suatu jamuan atau pertemuan. Yang disarankan justru meminta kartu nama orang lain dan Anda menyiapkan suatu penawaran gratis berupa laporan, analisis, kertas kerja, perangkat lunak diagnosis, atau layanan lainnya sebagai pintu masuk Anda kepada calon pelanggan. Ini tidak lazim kita lakukan karena bisanya kita bertukar kartu nama saat bertemu dengan orang lain di suatu jamuan atau pertemuan seminar. Jimmy, Travis & Joel menganggap pemberian kartu nama akan berujung sia-sia karena pada akhirnya akan masuk tong sampah. Anda siapkan brosur / pamflet yang menawarkan layanan gratis tersebut. Bila Anda seorang psikolog, Anda cantumkan layanan gratis konsultasi via internet, misalnya.
Meskipun secara penampilan cukup menarik dan istilah yang digunakan menimbulkan rasa penasaran, buku ini menuai dua hal yang mengganggu. Pertama, terlalu berani mendeklarasikan bahwa konsep dan teknik yang ditawarkan merupakan hal baru dan sensasional. Ini benar bila yang membaca buku ini pertama kali belajar pemasaran. Bagi yang faham pemasaran, bukan hal yang baru. Contoh paling mudah adalah networking yang sudah sangat lazim dan menjadi “bahasa gaul”. Kedua, buku ini terlalu naif dalam memberikan nasehat menjanjikan kepada pembaca. Seolah bila pembaca melakukan hal-hal yang disarankan, dijamin keberhasilan dicapai. Dari halaman demi halaman yang saya baca saya sering tertegun dengan kenaifan para penulis yang seolah menggurui kisah suksesnya untuk pembaca.
Premis sederhana yang ditawarkan buku ini memang pas bila dikaitkan dengan mahalnya biaya promosi dan iklan. Belum lagi semakin banyak iklan beredar yang membuat calon pelanggan bingung dalam mengambil keputusan. Bila secara intrinsik Anda sebagai seorang ahli sudah menarik, maka pesanan datang secara otomatis. Sebagai konsultan independen sejak 2002, saya merasakan sendiri manfaat dari networking. Sebagai konsultan independen, praktis saya hanya mengandalkan jejaring kenalan untuk mendapatkan pesanan, baik itu jasa konsultasi maupun pelatihan in-house. Jadi, jangan remehken kenalan Anda dan selalu tingkatkan pengembangan diri Anda di bidang yang ditekuni agar selalu meningkat keahlian Anda. Bagi saya sendiri, beberapa taktik yang diuraikan buku ini tetap menarik dilaksanakan dalam profesi saya, dengan beberapa penyesuaian.
Gatot Widayanto
Konsultan Manajemen
Resensi di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 25 Februari 2009.
wah rugi tuh orang yang meremehkan manfaat baca buku
Betul sekali .. Rugi besarrrr… Kudu cinta buku kalo mau hidup sih …