Artikel ini telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 26 Juli 2009 di bagian Ruang Baca. Kalau pernah baca buku Good To Great mestinya buku ini menarik Anda. Semoga bermanfaat. Wass, Gatot.

Kenal Tom Peters? Semestinya. Bersama temannya di perusahaan konsultan McKinsey, Robert Waterman, ia meluncurkan buku bertajuk In Search of Excellence pada tahun 1982. Buku ini meledak menjadi acuan manajemen dan bisnis baik bagi praktisi maupun mahasiswa MBA di seluruh dunia. Buku ini bisa dikategorikan fenomenal karena hingga sekarang masih dicari orang yang belajar mengenai bisnis dan manajemen, sebagai buku wajib. Nama Tom Peters pun melejit sebagai salah satu maha guru manajemen dan bisnis yang terkenal seantero jagad.
Lalu, pada tahun 2001 terbit buku Good to Great (G2G) karangan Jim Collins yang juga heboh meski tidak sefenomenal In Search of Excellence. Di Indonesia sendiri gaung G2G begitu meluasnya hingga sudah menjadi bahasa standar bagi eksekutif yang menjalankan roda bisnis perusahaan. Saya masih ingat memfasilitasi serentetan loka-karya corporate culture di sebuah bank nasional, dimana Direktur yang membuka kelas selalu meluangkan 10 menit membahas buku ini. Buku ini pada dasarnya menyajikan perusahaan-perusahaan yang berdasarkan riset layak disebut sebagai great companies tidak hanya good.
Lantas, apa hubungan antara In Search of Excellence dengan Good to Great? Saya mencoba melihat dari perspektif perbedaan mendasar antara Tom Peters dan Jim Collins. Lima tahun setelah In Search of Excellence diterbitkan, Tom Peters tanpa malu meluncurkan buku Thriving on Chaos (1987) yang menyangkal hampir semua yang ia uraikan dibukunya terdahulu. Tom di Thriving On Chaos mengatakan bahwa segala sesuatu yang telah kita ketahui ’dengan pasti’ selama lima belas tahun belakangan ini sedang menghadapi tantangan perubahan. Dia sendiri meragukan ha-hal yang ia ulas di buku terdahulunya. Bahkan dalam lima belas tahun berikutnya akan mengalami perubahan terus.
Sementara, setelah mengetahui fakta bahwa beberapa perusahaan yang sudah masuk dalam G2G kemudian runtuh dengan adanya krisis finansial di tahun 2008, Jim menanggapinya secara defensif dengan buku barunya How The Mighty Fall (2009). Ia mengibaratkan dengan kesehatan tubuh. Bila kita telah menguraikan resep hidup sehat dan beberapa orang pilihan dinyatakan orang paling sehat, siapa yang menjamin sesudahnya ia tidak mengikuti resep hidup sehat lagi, kemudian jatuh sakit? Ini sudah merupakan pembelaan terselubung terhadap resep G2G yang pernah ia tawarkan. Pernyataannya ini seolah menyalahkan perusahaan yang terpuruk tersebut karena mereka tak lagi mengikuti resep G2G yang telah ia konsepkan.
Terlepas dari niat pembelaan tersebut, buku ini memberikan tiga pembelajaran: tidak ada jaminan kepastian kesuksesan, memahami tahapan perusahaan, dan mengantispasi langkah-langkah yang perlu diambil. Memang tiada yang bisa menjamin kesuksesan meski secanggih apapun sebuah perusahaan dikelola. Secara rinci dan menarik buku ini mengurai bagaimana Fannie Mae yang sukses pada era 1980 karena kepemimpinan David Maxwell dan bahkan kemudian masuk dalam kategori Good to Great. Namun di era 2000an perusahaan ini terjungkir balik dari great ke good kemudian menghilang di tahun 2008 yang lalu. Biang keladi permasalahan yang dialami Fannie Mae adalah kecerobohannya dalam merealisasikan pinjaman rumah untuk kalangan bawah. Padahal, perusahaan keuangan ini sudah sangat kuat dalam menjalankan manajemen risiko. Namun karena tekanan perlunya pertumbuhan menyebabkan perusahaan ini membidik pasar yang keliru. Pada 31 Oktober 2008, harga sahamnya anjlok 98% menjadi hanya 0.93 dolar, padahal tahun sebelumnya 57 dolar. (hal. 144)
Buku ini juga mengurai lima tahapan perusahaan dari kelahiran disertai keinginan kesuksesan, pertumbuhan pesat, keengganan menghadapi risiko, penurunan usaha, dan kematian. Secara gamblang bisa dipahami bahwa pada awal perusahaan biasanya disertai dengan kegairahan menggebu yang kemudian disertai dengan keinginan untuk selalu lebih. Karena pertumbuhan begitu bagus, maka perusahaan semakin mengesampingkan kemungkinan risiko yang akan dihadapi sehingga muncul risiko yang menyebabkan penurunan skala usaha disertai kematian. Bila mengingat prinsip going concern yakni perusahaan dibangun untuk waktu yang tak terbatas di kemudian hari, maka tahap kematian sebaiknya dihindari. Ini yang diharapkan dan buku ini menyebutnya dengan ’Penyembuhan dan Pembaharuan’. Kasus yang diangkat juga menarik yaitu Xerox dibawah kepemimpinan Anne Mulchany mulai dari 2001, saat perusahaan dalam kondisi di titik nadir dengan kerugian 367 juta dolar (hal. 116). Pada tahun 2006 Xerox membukukan untung satu milyar dolar lebih. Tahun 2008 Mulchany dinobatkan sebagai Executive of The Year oleh sebuah majalah.
Menurut Jim, keruntuhan bisa dideteksi dengan mempelajari tanda-tanda yang terjadi di setiap tahapan. Buku ini mengurai secara rinci tabulasi tanda-tanda setiap tahapan di bab yang membahas tahapan tersebut. Yang paling saya suka adalah tanda dimana staff perusahaan cenderung membesar-besarkan hal positif dan menutupi yang negatif (hal 81) dalam tahap ketiga: keengganan menghadapi risiko. Hal ini sudah membudaya di perusahaan di Indonesia sepanjang pengalaman saya sebagai konsultan. Menghadapi budaya ini, pimpinan perusahaan harus segera menyusun langkah untuk berani menghadapi kenyataan pahit, menerima hal-hal sesuai dengan apa yang terjadi. Sebuah tantangan yang berat, apalagi dengan adanya budaya ABS (asal bapak senang) yang sering dijumpai di perusahaan Indonesia.
Gatot Widayanto
Managing Director – Value Quest (www.valuequest.co.id)
Judul : How The Mighty Fall – And Why Some Companies Never Give In
Penulis : Jim Collins
Penerbit : Harper Collins
Tahun : 2009
Tebal : 222 halaman, hard cover