Petuah Taktis Dari Pebisnis
Anda berencana beralih profesi dari orang gajian penjadi pebisnis? Atau, bisnis yang Anda jalani saat ini tidak membuahkan hasil yang menggembirakan? Kemudian Anda hampir putus asa dan berencana mencari pekerjaan saja karena lebih baik jadi orang gajian? Tunggu dulu! Jangan lewatkan baca buku ini dulu. Buku ini memberikan inspirasi dalam mengembangkan bisnis Anda. Mengapa? Karena berorientasi kepada hal-hal taktis keseharian dalam pengelolaan bisnis dan ditulis oleh pebisnis yang telah menjalaninya sendiri.
Kolumnis dari majalah INC., Norm Brodsky dan Bo Burlingham, berbagi dengan Anda tentang bagaimana pebisnis pemula menghadapi berbagai situasi yang seringkali sulit dan kompleks. Pemula biasanya cenderung mencari langkah-langkah tepat untuk mendapatkan panduan yang spesifik namun dalam kenyataannya tidak ada. Lantas, apa yang musti dipelajari? Di sinilah letak kepiawaian Norm dan Bo dalam berbagi pengalaman dengan kita melalui prinsip-prinsip bijak yang ia simpulkan dari pengalaman nyata yang juga mereka beberkan dalam buku ini. Pembelajaran dari buku ini adalah: pentingnya penjiwaan terhadap angka-angka bisnis, kualitas prima, dan pembangunan budaya kerja yang kokoh.
Penjiwaan, tidak hanya penguasaan, terhadap angka-angka bisnis merupakan hal fundamental dalam bisnis apapun. Jangan sampai kita tergiur dengan besarnya nilai penjualan tanpa memahami komponen besar kedua yaitu harga pokok penjualan. Hal ini penting karena semua denyut nadi bisnis kita dibiayai oleh selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan yang biasa disebut sebagai gross profit margin (marjin keuntungan). Marjin keuntungan inilah yang mendanai bisnis kita mulai dari bayar gaji karyawan, sewa kantor, dan biaya lainnya diluar yang telah tercakup di harga pokok penjualan. Itu masih secara perhitungan di atas kertas karena ada faktor yang lebih penting lagi yaitu yang disebut arus kas. Percuma kita memiliki marjin keuntungan yang besar, katakanlah 40%, bila termin pembayarannya lama. Bila termin pembayarannya dua bulan maka Anda harus memiliki dana segar yang menutupi biaya selama itu juga.
Menurut Norm, tidak diperlukan ilmu canggih dalam mengelola bisnis namun penjiwaan terhadap angka sangat fundamental dikuasai sehingga kita bisa tanggap terhadap dinamika bisnis. Kita bisa mengeluarkan pisau yang tepat untuk situasi khusus yang dihadapi, seperti diilustrasikan dengan gambar pisau serba-guna di sampul buku ini. Yang menarik, Norm justru menyarankan pada tahun-tahun awal bisnis kita melakukan perhitungan angka-angka dengan tangan ’bukan’ dengan komputer. Rupanya Norm sadar bahwa mengelola bisnis perlu adanya ketajaman sensor motorik sehingga kita sensitif menghadapi perubahan bisnis yang terjadi.
Hal kedua adalah kualitas prima kita sebagai individu yang siap tahan banting dan ulet menghadapi setiap jenis masalah. Contoh yang ia ungkapkan adalah terkait dengan temannya, bernama Malki, yang ia bantu dalam membangun usaha penitipan anak. Rencana bisnis yang tak mudah di Amerika dimana persyaratan untuk mendapatkan ijin begitu ketat. Usaha penitipan anak tersebut harus mendapatkan persetujuan pemerintah dimana diperlukan bangunan dan perlengkapan yang memadai, penjaga anak yang mendapat lisensi dan persyaratan ketat lainnya. Ini membutuhkan biaya yang sangat besar karena mendapatkan properti di area strategis jelas memerlukan modal yang tidak sedikit. Norm mengira Malki akan menyerah menghadapi kenyataan ini. Namun tidak, Malki begitu ulet mencari dana untuk memulai usahanya sehingga akhirnya berhasil mendapatkan pinjaman bank untuk membeli properti di area strategis. Malki menunjukkan kualitas prima menghadapi rintangan terkait dengan bisnis yang menjadi impiannya. Kendala modal ini selalu yang sering kita dengar bila ingin memulai bisnis. Dengan kualitas prima kita sebagai individu, ide inovatif sebenarnya bisa diraih.
Hal ketiga adalah dalam membangun budaya perusahaan yang menurut Norm tidak bisa didelegasikan. Sebagai pebisnis dan pemilik, kita bertanggung-jawab langsung dalam membangun budaya. Norm memberi contoh bisnis penyimpanan dokumen yang ia tekuni. Adalah seekor kucing bernama Elsa yang dipelihara dan di sayang para karyawan di gudang penyimpanan. Elsa beranak enam dan karyawan di gudang semakin menyayangi Elsa dan anak-anaknya. Suatu hari Elsa meraung-raung seperti menangis, karena keenam anaknya menghilang dari gudang. Kontan semua karyawan disibukkan mencarinya di gudang. Tak ditemukan. Norm kemudian menerima telpon dari pelanggan yang mengatakan kotak kardus yang dikirim berisi enam ekor anak kucing! Untuk mengambil anak kucing tersebut diperlukan perjalanan pergi pulang selama dua setengah jam sedangkan supir yang mengantar kardus sudah terlanjur pulang. Norm memutuskan mengirim supir lagi untuk mengambil kotak berisi kucing tersebut. Sesampainya supir yang membawa enam anak kucing tersebut di gudang, Elsa dan ratusan karyawan menyambut perjumpaan Elsa dan keenam anaknya dengan bertepuk tangan. Kejadian ini menunjukkan bagaimana budaya kepedulian dibangun di perusahaan tersebut.
Buku ini sangat cocok bagi Anda suka sesuatu yang sifatnya deskriptif dengan gaya penulisan seperti novel. Di setiap bab diakhiri dengan pokok-pokok pembahasan dan surat-menyurat ‘Ask Norm’ dengan pembaca rubrik di INC yang diasuh Norm Brodsky.
Judul : The Knack – How Street-Smart Entrepreneurs Learn to Handle
Whatever Comes Up
Oleh : Norm Brodsky and Bo Burlingham
Penerbit : Penguin Group, 2008 (hard cover), 2009 (paper back)
Tebal : 274 (termasuk indeks)
Resensi di atas telah dimuat di Koran Tempo Minggu 30 Agustus 2009.