Bagi yang mengamati perkembangan manajemen, nama Charles Handy sudah tak asaing lagi seperti halnya Michael Porter (ahli strategi bisnis), Henry Mintzberg (organisasi dan strategi), Philip Kotler (pemasaran), Tom Peters (strategi), dan sederetan nama lainnya. Saya masih ingat pertama kali mengenalnya lewat pemikirannya yang ia kemas dalam The Age of Unreason. Sudah banyak pemikiran dalam bentuk artikel maupun buku yang ia terbitkan dan sayangnya saya tak lengkap memilikinya. Oleh sebab itu ketika saya melihat seri Business Marterminds karya Robert Heller yang dituangkan dalam buku yang sampulnya seperti gambar disamping, akhirnya saya beli juga. Hari Minggu lalu saya sempatkan membacanya dan sangat menarik dan enak dibaca. Pemikiran Charles Handy menurut saya sangat visioner dan filosofis. Karena sarat dengan makna filosofis makanya saya cukup sulit mencerna beberapa ungkapan yang ia katakan. Tapi secara garis besar saya bisa menangkap pemikirannya dengan baik.
Satu hal yang saya pahami adalah cara pandangnya mengenai budaya yang menurut dia terdiri dari empat tipe:
- The power culture – budaya berbasis kekuasaan
- The role culture – budaya berbasis peran
- The task culture – budaya berbasis tugas / pekerjaan
- The individual culture – budaya individu
Pada budaya berbasis kekuasaan, sesuai namanya, pola pekerjaan di perusahaan / organisasi didonimasi oleh seseorang atau kelompok tertentu. Hal paling mudah bisa kita lihat pada perusahaan keluarga dimana pemilik biasanya mendominasi secara penuh semua pengambilan keputusan dan sekaligus dalam hal penetapan kebijakan serta peraturan perusahaan.
Sedangkan budaya berbasis peran lebih menekankan kepada pendelegasian tugas dan tanggung-jawab ke beberapa bagian sehingga tidak semua urusan terpusat pada seseorang atau kelompok orang tertentu. Adapun tugas tersebut terurai dengan jelas di uraian jabatan (job description). Contoh paling mudah bisa dilihat dari perusahaan modern yang menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam pendelegasian. Biasanya, skala perusahaan sudah relatif besar dan kompleks sehingga perlu adanya pembagian pekerjaan ke dalam beberapa unit.
Budaya berbasis tugas terfokus kepada ‘getting things done‘ artinya yang penting pekerjaan dikerjakan, tidak peduli oleh siapa. Ini paling cocok bagi organisasi berbasis jaringan atau lazim disebut networked organization.
Yang tak kalah pentingnya dari tiga tipe yang telah disebut di atas adalah kenyataan bahwa pada dasarnya setiap individu yang tergabung dalam organisasi, masing-masing memiliki budaya sendiri tergantung latar belakang dan pendidikan. Individual culture tak bisa disepelekan begitu saja karena penting dalam membangun kinerja organisasi.
Salam,
G