Majalah Fortune edisi Asia, nomer 7 (1 Agustus 2011) memanpilkan artikel tentang bagaimana Steve Jobs memimpin Apple hingga mencapai kesuksesan seperti sekarang ini, harga saham terus meningkat. Ternyata gaya kepemimpinan Steve Jobs digolongkan otoriter dimana semua keputusan dari hal2 kecil (janitor) hingga besar terpusat kepada dirinya. Struktur organisasinya pun tak biasa:
Memang menarik ulasan majalah Fortune ini karena kinerja Apple bisa dikatakan bagus sekali karena selain inovatif dalam mengembangkan produk dan layanan baru, ia juga menunjukkan kinerja yang bagus i pasar modal dimana harga sahamnya terus meningkat. Apakah Apple selalu sukses?
Tidak juga. Ulasan di majalah ini dimulai dengan gagalnya salah satu produk Apple yang disebut dengan MobileMe yang pada dasarnya adalah layanan email. Produk ini menerima banyak kritik dari pengguna karena mereka menjumpai banyak email mereka yang hilang. Steve Jobs kemudian memanggil semua tim yang tergabung dalam MobileMe. “Can anyone tell me what MobleMe is supposed to do?” – itulah pertanyaan awal dari Steve. Setelah mendapatkan semua jawaban yang memuaskan akhirnya Steve mengatakan: “So why the f*ck doesn’t it do that?” Kemudian ia mengatakan, setengah jam kemudian: “You have tarnished Apple’s reputation”.
Bisa dibayangkan betapa stresnya bila Anda merupakan salah satu anggota tim MobileMe tersebut. Begitulah gaya kepemimpinan Steve Jobs, tegas dan tak kenal alasan (excuses). Ia bahkan mengatakan kepada semua karyawan bahwa hanya Janitor (pembersih) yang boleh memiliki “alasan” bila sesuatu tak bisa dikerjakan. Dari Janitor hingga VP, alasan semakin berkurang untuk bisa ditoleransi. Sebagai seorang VP, tidak ada alasan lagi. No excuses anymore!
Dari gaya kepemimpinan seperti ditunjukkan dalam struktur organisasi di atas, terlihat bahwa Steve ingin mengurus semua hal dari yang kecil hingga yang besar. Agar efektif, ia membentuk Tim 100 yaitu tim yang beranggotakan orang-orang pilihan dari berbagai jabatan, tak hanya VP namun juga pada level karyawan. Tim 100 ini bertemu secara periodik di luar kantor membicarakan hal-hal strategis ke depan bagi perkembangan Apple di masa mendatang. Keanggotaan Tim 100 ini sangat selektif dan hanya orang-orang yang bener2 pilihan saja yang bisa menjadi anggotanya. Dikeluarkan dari Tim 100 merupakan sesuatu yang nista dan memalukan. makanya bagi mereka yang sudah ikut di dalam Tim 100 selalu berusaha agar tetap selalu menjadi anggota Tim 100.
Apakah gaya kepemimpinan seperti ini yang paling efektif karena terbukti bahwa Apple semakin bagus kinerjanya.Di Apple hal ini berjalan dengan baik karena Steve adalah orang yang sangat tajam kepekaan bisnisnya bahkan ia adalah seorang pemasar yang ulung. elain itu dia sangat terbosesi dengan produk – bagaimana menciptakan produk yang benar-benar membuat pelanggan menyukainya dan besar manfaatnya. Ia selalu terobsesi menciptakan sesuatu yang baru dimana orang belum memikirkannya.
Tentu kita jadi mempertanyakan teori kepemimpinan seperti participative ledership maupun facilitative ledership – apakah efektif juga? Dalam kondisi seperti apa gaya ini bisa efektif?

[...] Comments « Kepemimpinan Otoriter Lebih Efektif? [...]