“Dalam waktu beberapa saat ini saya akan menghadapi konflik yang luar biasa sekali,” ujar Dahlan Iskan membuka sesi berbagi pengalaman dalam acara “Leading in Conflict” yang diadakan oleh QB Leadership Series bekerja-sama dengan majalah Warta Ekonomi di FX Plaza, Rabu, 26 Oktober 2011 malam. Dengan gaya bahasa apa adanya yang ceplas-ceplos tanpa ada istilah-istilah yang rumit ia menceritakan pengalamannya selama menjabat Dirut PLN dan hari-hari awalnya sebagai Meneg BUMN. Acara ini memang pada saat promosi dikomunikasikan menampilkan Dahlan dalam kapasitasnya sebagai Dirut PLN, sebelum ia diberi amanah baru sebagai Menteri.
Ada empat komitmen yang ia telah buat dan harus dipenuhi. Pertama, hadir di acara ini padahal jam 4 sore ia masih berada di Bandung namun bisa hadir juga tepat waktu. Kedua, menghadiri Hari Listrik Nasional sekaligus mengukuhkan motto PLN yang baru: “Kerja! Kerja! Kerja!”. Ketiga, pergi ke Nias untuk meresmikan proyek di sana dan keempat, ke Ulumbu, Flores, karena telah menorehkan sumpah meresmikan listrik sebagai hadiah natal buat masyarakat Flores sebelum Natal tahun ini.
Menghadapi Konflik dengan Dialog
Dalam hal konflik, beberapa saat yang lalu saat menuju Nias ia mengajak tiga Dirut BUMN: ASDP (Merak), Kereta Api Indonesia (KAI)n dan Jasa Marga. Penyelesaian konflik dilakukan di dalam pesawat terbang dr Jakarta ke Medan. ASDP mengungkapkan bahwa kerumitan pelabuhan Merak dikarenakan adanya penyempitan jalan akibat adanya rel kereta api yang memakan jalan truk sehingga ruwet. Padahal, menurut pengamatan ASDP, kereta tersebut jadwalnya hanya sekali dalam sehari dan hanya sedikit penumpangnya. Pihak KAI merencanakan akan merubah fungsi kereta dari angkutan penumpang ke barang sehingga akan terjadi penghematan atau pengurangan jumlah truk sebanyak 1000 truk per hari. Ini jelas jumlah yg fantastis sehingga mengurangi kepadatan lalu lintas. Dari dua kepentingan ini dicapai kata sepakat bahwa PT KAI akan memberikan sebagian lahannya untuk ASDP sehingga memperlancar arus truk. Pihak Jasa Marga juga senang karena truk merusak jalan tol.
Dialog mengatasi masalah di seputar pelabuhan Merak tersebut dilakukan oleh pak Dis (demikian ia sering dipanggil) dapat diselesaikan dalam penerbangan Jakarta – Medan sehingga tiga orang Dirut tersebut boleh pulang ke Jakarta, tak perlu bersama pak Dis ke Nias.
Reformasi Birokrasi di PLN Lebih Cepat
Pak Dis juga menyampaikan penyesalannya karena meninggalkan PLN terlalu cepat dari target yang ia tetapkan. Ia telah membuat komitmen dengan istrinya hanya akan bekerja di PLN sampai akhir tahun 2012 dimana sudah genap tiga tahun masa baktinya dan setelah itu ingin menjadi orang bebas. Namun ia sekarang harus menjadi Meneg BUMN padahal ia menginginkan reformasi birokrasi di PLN berjalan lebih cepat dan ingin memimpinnya sendiri. Ia mengatakan bahwa salah satu jajaran menengah di PLN sebenarnya 70 % dari pekerjaannya telah digantikan oleh teknologi sehingga hanya tinggal 30% saja pekerjaannya. Yang diperlukan adalah memperkuat jajaran bawah yang berinteraksi dengan masyarakat dan memangkas jajaran menengah tersebut. Prosesnya sudah bergulir dan sudah dilaksanakan di beberapa kota, termasuk Makassar Mengapa Makassar digunakan sebagai contoh karena di kota tersebut pernah terjadi demo terkait dengan RB yang diterapkan. Ia sempat marah kepada kepala cabang karena tak sesuai dengan kesepakatan sebelumnya hingga terjadi demo. Meskipun didemo, pak Dis tetap tak mau mengubah keputusan pemangkasan jajaran menengah karena pekerjaan sudah pada digantikan teknologi. Satu hal yang penting, dalam RB ini tak ada yang diberhentikan sebagai karyawan PLN, hanya dialihkan fungsinya.
Salah satu yang diinginkan pak Dis adalah agar terjadi pengembangan karir yang cepat dari yang muda-muda karena menurutnya suatu perubahan akan bakal terjadi dengan baik bila kita mempercayakan kepada yang masih muda. Untuk itu yang masih muda harus segera digembleng agar siap menjadi pinpinan di PLN. Selain itu, beliau juga menginginkan agar PLN lebih feminin. Selama ini PLN terlalu laki-laki dan jarang sekali wanita menjadi pimpinan. Salah satu pimpinan wilayah dewasa ini adalah wanita atas upaya pak Dis. “Ini adalah pertama kali PLN memiliki pimpinan wilayah wanita …,” tegasnya. Menurutnya, wanita jauh lebih luwes dibandiingkan laki-laki terutama dalam menangani tunggakan pembayaran listrik dari warga.
Dalam hal menjalankan RB ia menegaskan sebagai pimpinan harus berani berkelahi dan tegas (firmed). Kalau tak berani berkelahi, jangan melakukan reformasi dan jangan jadi pemimpin.
Suksesi
Pak Dis meyakini semua sembilan direktur PLN saat ini mampu sebagai Dirut. Bahkan, ia menganalogikan, bila diundi sekalipun siapapun yang muncul namanya pasti mampu jadi Dirut. “Saya tidak mau Dirut PLN dari luar karena semuanya mampu,” tegasnya. Orang di PLN ini semuanya pintar-pintar dan latar belakang pendidikan mereka adalah teknik. Mana ada orang teknik yang dulu SMA nya bodoh? Mereka pasti orang pintar dan masuk fakultas teknik dari perguruan tinggi yang bagus sehingga di PLN ini semuanya pintar-pintar. “Satu-satunya orang bodoh di PLN ya saya,” ujarnya dan langsung mendapatkan applaus dari hadirin yang memenuhi ruangan.
Penerbitan Buku
Menanggapi pertanyaan mengenai penerbitan buku pengalaman beliau memimpin Jawa Pos dan PLN, dengan rendah hati pak Dis mengatakan belum merencanakan menerbitkan buku. Namun pada tanggal 2 November 2011 akan ada penerbitan buku kumpulan CEO Notes yang ia selalu terbitkan setiap bulan atau dua bulan sekali. Namun itu hanya kumpulan CEO Notes nya saja, bukan sebuah buku otobiografinya. Peluncuran buku tersebut akan diadakan di mall Gandaria City.
Tentang BUMN
Penyebab BUMN tak maju menurutnya karena sebagian besar penyebabnya (80%) karena Direksi nya tidak kompak. Yang menyedihkan lagi sebab tidak kompaknya, sebagian besar (80%) karena adanya intervensi dari luar BUMN. Nah inipun juga bukan intervensi yang terjadi karena pihak luar ingin intervensi namun juga pemicunya dari dalam. Umumnya ada beberapa Direksi yang justru “mengundang” intervensi karena ia berambisi menggantikan posisi Dirut dengan cara mencantolkan diri dengan yang di luar BUMN supaya kuat, sehingga intervensi masuk. Sedangkan dari Dirutnya juga ingin aman dengan cara mengundang intervensi luar juga. Maka situasinya menjadi ruwet karena mereka sendiri yang mengundang intervensi tersebut.
Direksi BUMN memang tak bisa diberhentikan atau dicopot oleh Meneg BUMN. Namun ada cara yang bisa digunakan yaitu dengan menggunakan peran sebagai pemegang saham. Jadi, kop surat pencopotannya jangan menggunakan Meneg BUMN tapi menggunakan kop surat BUMN yang bersangkutan, misalnya PLN. Dengan cara ini, saya bisa memberhentikan direksi BUMN.
Saat ia menjadi Dirut PLN, pernah didemo oleh pegawai karena tak menyetujui penunjukannya sebagai Dirut. Selain itu juga ada sekelompok karyawan yang ingin menjalankan demo untuk mendukungnya. Secara tegas Pak Dis menolak untuk didukung karena suatu saat nanti sekumpulan orang ini juga bisa mendemo tidak mendukungnya.
Menanggapi apa perlu adanya BUMN di negeri ini ia menanggapi bahwa ia tak mau menguras energi memikirkannya. Memang di Amerika tak ada tuh yang namanya BUMN. Namun kita harus bersyukur bahwa ternyata BUMN itu ada manfaatnya. Sebagai contoh, krisis dunia di Amerika dan Eropa saat ini kita sangat dibantu dengan adanya bank-bank BUMN sehingga rupiah kita bisa dikatakan relatif stabil. Jadi, sebenarnya BUMN itu ada manfaatnya.


