Feeds:
Posts
Comments

Buku ini, sesuai judulnya, mengajak kita untuk lebih peka terhadap apoa-apa yang terjadi di alam sekitar kita. Sang penulis, Dadang Kadarusman, yang menjalani masa kecilnya di sebuah daerah di Bandung Selatan. Pengalaman masa kecilnya inilah yang membuatnya piawai dalam megikat makna dari kejadian di seputar alam pertanian untuk kita merenungkan pembelajaran dari alam yang merupakan sumbe inspirasi dalam kehidupan ini. Setiap bab yang dibahas selalu mengambil dari kejadian di seputar lahan pertanian yang kemudian dikupas maknanya secara lebih mendalam. Hal ini yang membuat buku ini menarik dibaca, direnungkan dan diambil saripati maknanya untuk penguatan jiwa kita.

Penulis menggunakan Pak Tani sebagai orang bijak yang siap membagi cerita mengenai makna dari sebuah peristiwa. Misalnya, di awal buku ini sudah mengingatkan kita akan kokok ayam jantan (jago) di saat Subuh yang memberikan nuansa optimisme dalam mengarungi kehidupan pada hari itu. Kokok tersebut sekaligus sebagai suatu alarm bagi Pak Tani untuk bangun dan bersiap kerja. Kemudian mengenai pohon pisang yang bertahan hidup hingga memberikan manfaat bagi manusia. Bila kita tebang batang pisang, beberapa minggu kemudian ia akan tumbuh lagi, sampai meghasilkan buah pisang. Keteguhan hati batang pisang inilah yang memberikan kita tentang falsafah hidup pantang menyerah. Layak baca ….

Cuplikan dialog pak Sastro dan Agam:

Agam:
“Iya pak …memang sering kali saya mendapatkan ide-ide gila .. yah kalo kata temen2 saya yang melek manajemen …itu istilahnya inovatif gitu pak … Tapi gimana ya ..kok rasanya sering gak yakin ya …?”

Pak Sastro:
“Gam, masalahnya bukan seorang yang otaknya brilian seperti kamu bisa membuat perubahan berarti…itu malah tidak penting!!”

Agam:
“Lho pak …bukankah sebagai karyawan yang professional saya harus berpikir sebagai pengusaha? …hmm…dituntut untuk memiliki ide2 brilian dan berpikir out of the box?”

Pak Sastro:
“Betul … itu 100% betul dan tidak ada satu orang bahkan buku manajemen paling mutakhir yang pernah ada yang menyangkal perkataanmu itu ….”

“Namun …” (Pak Sastro melanjutkan nyeruput kopi luwaknya …

”…itu hanya satu persen dari keberhasilan!”

Agam:
”Ah pak .. bapak ini gimana sih …orang udah mikirnya susah2 sampai mencari sumber inspirasi di malam hari …eh cuman dibilang satu persen …kumaha’ atuh???”

Pak Sastro:
”99% lainnya adalah membangun rasa memiliki bersama ….”

”Maksud bapak?”, sergah Agam tidak mengerti penjelasan Pak Sastro ini …

Pak Sastro:
”Sipapaun punya ide brilian, maka tidak akan pernah menjadi perubahan signifikan yang positif bila itu hanya ada di benak si penemu ide. Dia harus menjual ide tersebut ke orang lain dan secara tekun membangun rasa memiliki ide itu secara bersama dan membuatnya menjadi perubahan! Kalau setiap orang melihat bahwa itu melulu ide kamu, mana mungkin mereka mau menjalankan kalau mereka tidak merasa memiliki ide tersebut. Buatlah seolah ide yang tadinya adalah ide kamu, menjadi ide orang lain sehingga mereka merasa memilikinya. Jadi kuncinya, kalau punya ide tidak usah takut kehilangan pujian kalau ide itu tidak dianggap sebagai ide kamu meskipun sebetulnya kamu pencetusnya. Ini penting sekali, Agam …. Tidak ada suatu perubahan signifikan terjadi tanpa ada dukungan penuh dari orang-orang yang ada di organisasi tersebut. Dan .. dukungan terbaik adalah dengan memilikinya …”

Agam:
”Ooooooooooo ……”.

Toyota Culture

Resensi ini telah dimuat di Ruang Baca, KORAN TEMPO Minggu, 30 Desember 2008.

Akhir dari Trilogi Toyota


Sehari sebelum menulis resensi ini kebetulan saya membaca berita tentang rencana pengajuan bangkrut oleh raksasa otomotif terbesar di dunia, yaitu General Motors. Apa hubungannya dengan buku bertajuk Toyota Culture – The Heart and Soul of Toyota Way ini? Sangat erat, karena Toyota hanya terpaut sedikit (3.524 unit) dalam penjualan mobil secara global pada 2007 dari sang rasaksa, yang mencapai 9.369.524 unit di seluruh dunia. Selain itu, Toyota masih belum merencanakan kebangkrutan.

Apakah posisi yang masih kukuh itu disebabkan oleh faktor budaya perusahaan yang melekat pada Toyota sehingga perusahaan ini tahan terhadap gempuran krisis global dunia? Jawaban atas pertanyaan ini akan kita lihat di masa mendatang. Sementara itu, buku ini mengulas bagaimana budaya perusahaan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Buku ini jelas akan meledak penjualannya setelah satu dekade dari sekarang, yaitu pada 2018, bila terbukti Toyota semakin merajai pasar otomotif dunia.

Buku ini menyajikan ulasan mendalam, lengkap dengan diagram pemikiran struktural yang terperinci dan menarik, mengenai hal-hal mendasar yang membentuk The Toyota Way. Memang, setiap perusahaan memiliki ”caranya” sendiri dalam meraih sukses, namun apa yang telah dicapai Toyota perlu dipelajari secara seksama. Tujuan akhirnya adalah bagaimana pelajaran bisa dipetik dari pengalaman Toyota.

Nama Jeffrey K Liker sudah tak asing lagi menulis pemikirannya dalam buku mengenai Toyota. Kali ini dia menggandeng Michael Hoseus, yang telah bekerja lebih dari 12 tahun di pabrik Toyota di Georgetown, Kentucky. Liker dan Hoseus menekankan keterkaitan signifikan antara budaya perusahaan dan kinerja usaha.

Ada tiga hal yang bisa dipetik dari buku ini: membangun budaya perusahaan tak kalah pentingnya dengan membangun pabrik mutakhir, perubahan budaya merupakan tantangan besar, dan pentingnya mengambil sikap dalam menentukan arah perusahaan.

Dalam hal yang pertama, penulis cukup cerdik dengan memanfaatkan hasil riset budaya dari Hofstede dan Hofstede (2004) tentang tingkat budaya beberapa negara, termasuk Amerika dan Jepang, terhadap lima dimensi utama yang diukur (hlm. 20-21). Ini menarik dipelajari mengingat perbedaan sikap dan preferensi terhadap lima dimensi itu berbeda cukup mencolok antara Timur (Jepang) dan Barat (Amerika). Lima dimensi itu adalah kekuasaan, individualitas, maskulinitas, menghindari ketidakpastian, pemikiran jangka panjang.

Berdasarkan survei Hofstede itu, penulis mengupas secara mendalam isi perut Toyota dengan pemetaan yang berfokus pada pemecahan masalah. Budaya Toyota memayungi siklus pemecahan masalah sejak masalah diidentifikasi disertai dengan pembangunan kepercayaan pada lini manusia di setiap lini produk yang ada untuk mencapai penyelesaian optimal. Hal itu dicapai melalui teknik yang dikenal dengan JIT (just-in-time), stabilisasi, visualisasi, dan standarisasi (hlm. 40).

Bila melihat peta yang dijabarkan, kelihatannya mudah. Namun, Toyota harus bekerja keras merealisasikannya. Salah satunya, pada Bab 5 diulas secara mendalam program pengembangan sumber daya manusia agar kompeten menjalankan peta tersebut.

Budaya didefinisikan dalam perspektif mengenai artifak atau perilaku, norma dan nilai, serta asumsi dasar yang digunakan. Melalui kerangka inilah pemahaman budaya perusahaan ditelusuri lebih mendalam. Membangun budaya perusahaan dilakukan melalui proses perubahan yang penuh tantangan. Syarat yang harus ada dalam mengarungi tantangan ini adalah mutlaknya pimpinan puncak menggulirkan perubahan. Pimpinan harus mengubah dirinya lebih dulu sebelum menjadi pemimpin transformasional. Kemajuan perubahan harus kemudian didukung dengan kejujuran dan keterbukaan terhadap kondisi sebenarnya dari perusahaan, tanpa tedeng aling-aling karena takut pada atasan.

Ada kisah menarik yang ditorehkan dari pengalaman pribadi Hoseus, yakni pengalaman pertamanya sebagai pemimpin kelompok yang baru. Setelah membuat kesalahan, dia malah mendapatkan tepuk tangan meriah karena berani mengungkapkan apa adanya. Siapkah perusahaan Indonesia memberi penghargaan kepada yang mengaku salah? Ini merupakan tantangan kita bersama.

Mengambil sikap terhadap pengendalian arah perusahaan perlu dilakukan meski mungkin sikap itu masih diperdebatkan. Pada suatu pertemuan kekeluargaan dengan beberapa teman eksekutif yang menduduki jabatan puncak di perusahaan asing, salah seorang teman saya menceritakan tentang program budaya perusahaan di tempatnya bekerja sambil mencibirkan mulut. Dia mengatakan bahwa membicarakan budaya perusahaan akan membuang-buang waktu, lebih baik mengerjakan tugas saja, langsung ada hasilnya.

Dalam hal itulah pimpinan puncak perlu mengambil sikap (make a stand) bahwa untuk menjamin kinerja yang bagus dan konsisten, sebuah perusahaan perlu memiliki budaya perusahaan yang kuat. Tanpa ada kesatuan pola pikir yang menentukan sikap kuat, sangat sulit menakhodai perusahaan menghadapi terpaan badai yang semakin hari semakin ganas. Agus Martowardoyo dari Bank Mandiri bisa diambil sebagai contoh. Sejak memimpin bank itu, dengan tegas dia menanamkan budaya yang terkenal dengan TIPCE (Trust, Integrity, Professionalism, Customer focus, dan Excellence). Kinerja bank itu meningkat signifikan sejak kepemimpinannya.

Memang, buku ini semestinya tidak dibaca terpisah karena merupakan rangkaian kesatuan yang merupakan trilogi dengan yang lainnya: The Toyota Way (2004) dan Toyota Talent (2007). Ketiga buku ini menjadi sejenis cetak biru dalam menggapai keberhasilan secara damai, dengan cara: membentuk cara kerja efektif (Toyota Way) melalui pengembangan sumber daya manusia yang terprogram rapi (Toyota Talent) dengan pola yang terstruktur dalam menghadapi perubahan (Toyota Culture).

Gatot Widayanto

Konsultan Manajemen

Pengelola blog:

http://thevaluequest.wordpress.com , http://gwmusic.wordpress.com, dan http://gatotwid.wordpress.com.Bisa juga dilihat di Ruang Baca ini.

  • Best Coffee

    Sinopsis

    best-coffee-cover1Pengambilan keputusan telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, suka maupun tidak suka, diharapkan maupun tidak, dalam kondisi apapun. Setiap pergerakan kita selalu diawali dengan pengambilan keputusan. Bahkan bila Anda sedang duduk kemudian berdiri dan berjalan menuju ke tempat lain itu tentunya setelah Anda mengambil keputusan bahwa Anda mau bergerak dan meninggalkan tempat duduk Anda. Namun, hal ini mungkin tdk pernah Anda pikirkan karena hanya melibatkan keputusan “kecil” yang terlalu remeh untuk dipikirkan.

    Dalam kondisi lain, Anda mungkin dihadapi dengan keputusan yang agak besar dan bahkan mungkin sangat besar, misalnya: memilih jurusan mana setelah lulus SMA, mau bekerja di bidang apa, pasangan hidup seperti apa yang Anda inginkan, dan sebagainya. Dalam konteks pekerjaan sering juga kita dihadapi dg situasi mengenai apa yang musti kita lakukan agar perusahaan tempat Anda bekerja tetap bertahan. Produk apa yang musti ditawarkan? Bagaimana promosi yang diperlukan? Bagaimana distribusinya? Pada harga berapa yang Anda anggap pas agar bisa diserap pasar dan memberi keuntungan berarti bagi perusahaan Anda.

    Melalui tokoh Agam, buku ini mencoba mengulas proses pengambilan keputusan secara rasional menggunakan metode baku berdasarkan common sense. Agam telah enam tahun bekerja di sebuah perusahaan yang berbisnis dalam kedai kopi atau yang dewasa ini biasa disebut dengan istilah kafe gaul. Agam menikmati pekerjaannya karena memang secara naluri dia sangat senang melayani dan menyukai kopi sejak usia relatif remaja. Selain itu dia juga senang karena bisa bertemu banyak orang.

    Kedai kopi Best Coffee telah beroperasi cukup lama dan pertumbuhannya cukup menggembirakan sehingga setiap tahun dibuka gerai baru. Namun, belakangan ini Agam dan juga Manajemen Best Coffee merasakan stagnasi yang pada masa mendatang bisa malah membawa ke kemunduran bagi Best Coffee. Agam tiap hari memikirkan hal ini dan mencari solusinya baik dari segi pelayanan maupun penataan kedai. Segala pernik detil menyangkut kedai ia perhatikan sehingga sering kali ia meluangkan waktu yg lama tiap jam kedai tutup untuk mencari solusinya.

    Perbincangan dengan pak Sastro, salah satu pengunjung setia Best Coffee, yg terjadi beberapa minggu lalu, cukup mengganggu pikirannya. Ada dua hal yg membuatnya terusik. Pertama, terkait dengan pentingnya menyelesaikan masalah secara kelompok dan kedua, tentang pentingnya pemahaman mengenai permasalahan. Dari pikiran yg terusik tersebut akhirnya berlanjut dg beberapa perbincangan lanjutan pada setiap kunjungan pak Sastro di kedai Best Coffee. Perbincangan demi perbincangan akhirnya mengerucut bahwa Agam perlu mulai sounding ke Manajemen Best Coffee untuk perbaikan bisnis. Tidak hanya itu, pak Satro akhirnya memberikan inspirasi mendalam kepada Agam tentang pentingnya proses rasional dalam pengambilan keputusan.

    Melalui perbincangan informal akhirnya hubungan Agam dan Pak Sastro berkelanjutan menjadi hubungan formal dalam bisnis karena akhirnya pak Sastro direkrut oleh Best Coffee sebagai konsultan bisnis. Yang menarik di sini adalah keterlibatan pak Sastro dalam proses transformasi Best Coffee menjadi konsep kedai baru yang berbeda dari sebelumnya. Tidak hanya itu, nama Best Coffee yang dianggap sebagai provider-centric diubah dengan sengaja menjadi customer-centric dengan nama baru MyChoice. Yang menarik, proses ini berlangsung cukup lama karena melalui proses rasional dengan metoda baku yang biasa disebut sebagai Problem Solving & Decision Making. Namun, hasilnya sungguh luar biasa bahkan memberikan dampak bisnis yang signifikan dan sangat positif. Bagaimana prosesnya dan apa dampaknya bagi Best Coffee dalam bisnisnya? Inilah yang akan dibahas dalam buku ini.

    Nantikan segera penerbitan buku yang dikonsep dengan format nobiz (novel bisnis) dengan inspirasi dari The Goal (Eliyahu Goldratt) dan It’s Not Luck (Eliyahu Goldratt) atau The Power of Six Sigma (Subir Chowdury). Disajikan dengan penuturan santai namun serius dan filosofis …karena manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam berpikir!

    Buku ini adalah karya pertama dari Gatot Widayanto, seorang konsultan bisnis yang telah dua puluh tiga tahun malang-melintang di dunia profesional mulai dari bidang penjualan (sales), project engineering, pemasaran, strategi bisnis, Six Sigma Quality, Human Capital Management dan project management. Gatot adalah juga seorang Corporate Facilitator dengan jam terbang lebih dari 300 hari pelatihan dan dengan jumlah peserta lebih dari 1.200 orang, diluar seminar. Di buku ini Gatot mengulas pendekatan rasional sistematis namun dengan dampak yang dramatis.

    Judul:

    Best CoffeeTransformasi Bisnis Revolusioner, Sebuah Novel Bisnis, 2009

    Jakarta, 15 Des 2008

    Everything is created twice. First is in the mind of the creator or inventor before the thing is materialized. Second is when the thing is materialized in its final form: be it a tangible thing (like a cellular phone, car, etc) or an intangible thing (like cleaning service, insurance, banking, etc). When we talk about the first creation, it definitely deals with what we call a vision – someone’s foresight about the future. This is something about the ability to see the unseen (for most other people) future. It’s like a dream basically – it depicts someone crazy desire(s) for the future. Who had ever predicted that the boy that did daily trading of goods and merchandize in the commuting train between two cities had finally changed the world due to his dream and vision? The boy was Thomas A. Edison who invented light-bulbs and other hundred patented inventions. It started with a vision!

     

    One day in 1932, Konosuke Matsushita saw a tramp in the street of Tokyo tapping a water to drink. Since that experience he contemplated himself and came out with a strong conviction and belief about the concept of “abundance”, ie. Mankind should search for new inventions to create better life for others in the lowest possible cost. He built Matsushita with this concept and planted a 250 Years Corporate Strategy! (Please note, this is beyond the life of typical human-being!). In one of business deals he purchased a patent item in electronic radio and made it free to the world to copy because he has a conviction to lower the cost for all so that everyone on planet earth would enjoy the inventions. What a fabulous dream man ….!!! [I still remember this story vividly in my mind since I read and analyzed the Matsushita case during my MBA class, from the book by Henry Mintzberg “The Strategy Process” – what a great and memorable book man …!! You must have it!]

     

    The best vision should focus on three things, as I understand from knowledge searching through practices and reading hundred of books on how great companies sustain their competitiveness. Those three things are: 1. it should focus on operations, 2. it must be measurable 3. it must challenge the competition. You know what is the best example on this? It’s FedEx man! Yeah … my prog mate Hardiansyah Rizal – who was FedEx Country Manger and now is stationed in Singapore for greater responsibility (but less prog music – pity you, Rizal!) would be happy hearing this. Oh yes … because this example came to me early nineties when the Re-Engineering buzzwords overdosed business leaders at the time. Remember that time? FedEx vision at its infancy was simple and very straight forward: We deliver your package next day by 10:30. It’s clear that this vision focus on operations (deliver your package); measurable (next day by 10:30) and it challenge the industry competition (at the time it was tough to deliver one day).

     

    The other example that shows the importance of vision is about instant noodle. Thirty years ago Indofood mentioned that they wanted to be the largest instant noodle producer in the world. People were laughing at it at the time. Why? By the time China had already the largest producer while Indonesia was none compared to them. What happen today? Indofood is the largest producer of instant noodle in the world! That’s the power of strong and clear vision man! This story on Indofood was energetically shared by my MBA guru, my motivational guru, and my best friend Pak Max Makahinda – motivational leader in one of luncheons that we regularly meet. Thanks pak Max!

     

    So man … it’s clear, I think, that first important part is “the” vision. Don’t play around with it if you wanna succeed and win in life! If you don’t have it yet, you’d better stop working now, go to a silent place where you can spend fulltime with yourself for self-contemplation and strategize your future. Do it NOW! If you need to find good music to contemplate, find it through my review in Progressive Mind by clicking this:

     

    As Stephen Covey put nicely in his Seven Habits book: you must have your personal mission statement. Jack Welch said: “Control your destiny! Or … someone else will!”.

     

    This article describes the first character of my VALUE proposition. Remember it? Yeah .. you got it man! Vision and Action Lead Us toxcellence! Bingo! I will come back to you with the next one about Action. (Gatot Widayanto, June 2005)

    Tulisan ini telah dimuat di KORAN TEMPO Minggu, 26 Oktober 2008 di Ruang Baca halaman 18. Kali ini membicarakan manajemen dalam konteks lingkungan hidup global. Selamat menikmati. Salam, G

    ——————

    How Individuals and organizations are working together to create a Sustainable World.

    Alasan utama membeli buku ini bagi saya karena faktor penulisnya. Siapa tak kenal Peter Senge yang kondang dengan buku The Fifth Discipline pada hampir dua dekade yang silam, tepatnya 1990. Buku tersebut telah menjadi buah-bibir di kalangan pemerhati strategi bisnis maupun manajemen terutama yang mendalami pembelajaran organisasi. Premis pokok yang dituangkan Senge saat itu adalah ajakan untuk membudayakan pemikiran sistemik. Contoh yang ia gunakan juga sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan simulasi permintaan-pemasokan sistem distribusi minuman mulai dari pabrik ke distributor, agen, pengecer, sampai ke konsumen. Dengan tujuan akhir mencapai keseimbangan, Senge menyampaikan secara lugas bagaimana pendekatan sistemik bisa menyelesaikan masalah tersebut.

    Pendekatan Sistemik dan Keseimbangan

    Di buku The Necessary Revolution ini Senge menekankan hal yang sama, yaitu pentingnya pendekatan sistemik, dengan tujuan sama: keseimbangan. Bedanya, pada buku terbitan 2008 ini ia dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Masyarakat Pembelajar Organisasi memperluas konteksnya menjadi global, bukan suatu entitas perusahaan. Isu pokok yang ia angkat adalah lingkungan hidup. Di sini ia menekankan pada isu pokok daripada menekankan pada metodenya. Sehingga, jangan kaget bagi Anda yang terbuai dengan uraian menarik tentang pendekatan sistemik di bukunya terdahulu, sekarang kurang mendapat penekanan meski diagram kasualitas masih ia gunakan (dimulai dengan hal. 21). Bisa dikatakan, Senge sengaja ingin menekankan perlunya kita semakin sadar dan bertindak terhadap kerusakan lingkungan yang semakin parah, dengan mengingatkan bahwa perangkat pendekatan sistemik harus digunakan.

    Dari buku ini kita belajar tiga hal: perlunya kesadaran terhadap intensitas kerusakan bumi bumi karena ulah manusia, perlunya cara berpikir baru mengatasi hal ini, dan perlunya bertindak dari yang paling kecil sekalipun. Fakta yang diungkapkan Senge memang patut membuat kita risau (hal. 29). Emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar, mengotori bumi ini dengan volume yang dahyat: 8 milyar ton setiap tahun. Sedangkan, kemampuan bumi dan tanah menyerapnya hanya 3 milyar ton per tahun, sehingga terdapat 5 milyar ton (nett) penambahan CO2 di atmosfir kita. Padahal, saat ini sudah ada 800 milyar ton CO2 di atmosfir. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban polusi bagi anak cucu kita pada nantinya. Memfokuskan pada kadar CO2 membuat kita paham terhadap urgensi permasalahan ini. Ini mengingatkan kita bahwa perubahan iklim seperti yang kita alami pada saat pancaroba ini bukan merupakan masalah tersendiri tapi merupakan rentetan akibat dari kondisi semakin buruknya kualitas bumi ini karena ulah kita. Senge mengibaratkan bahwa kita saat ini hidup dalam suatu gelembung kehidupan, dan kita harus memikirkan cara untuk memasuki kehidupan baru diluar gelembung tadi, Life Beyond The Bubble (hal. 33).

    Pemikiran Baru

    Untuk mengatasi masalah ini perlu adanya pemikiran baru dengan pilihan baru. Senge menguraikan perlunya perubahan sistemik dengan pemikiran baru: melihat secara sistem, menciptakan kolaborasi lintas batasan, dan menciptakan masa depan yang kita inginkan. Dalam dunia yang saling terkait ini sudah sangat dibutuhkan memperluas cakrawala dengan melihat masalah dalam pendekatan sistem yang menyeluruh. Tidak lagi ada suatu fenomena yang muncul dengan sendirinya karena itu pasti merupakan akibat dari adanya fenomena lain. Banyak perusahaan yang telah merintis pendekatan sistem ini, salah satunya Alcoa, yang merasakan kekurangan air bersih yang semakin meningkat. Diperlukan solusi mendasar dalam pengelolaan air bersih tidak sekedar hanya relokasi pabrik hanya karena peraturan daerahnya masih longgar.

    Diperlukan kolaborasi lintas batasan, lintas usaha dan lintas budaya sebagai wujud pendekatan sistemik. Bayangkan suatu dunia dimana kelebihan energi dari suatu usaha diserap oleh usaha lainnya yang membutuhkan. Ini merupakan tantangan besar dunia karena sejauh ini pembicaraan kolaboratif masalah lingkungan hidup masih dalam taraf pembicaraan, belum tindakan. Diharapkan, dengan adanya visi menciptakan masa depan (di luar gelembung) yang lebih baik akan menyelamatkan dunia ini dari kerusakan yang semakin parah. Pemikiran baru ini memang perlu dilaksanakan seefektif mungkin dengan kesadaran penuh dari pelakunya.

    Perlunya Tindakan

    Sebuah bisnis bisa bertahan dan berkembang karena dengan adanya inovasi. Demikian juga bila kita ingin memasuki Life Beyond the Bubble, kita harus menciptakan motivator atau hal-hal yang memberikan inspirasi bagi kita untuk ”mau” bertindak (hal. 285). Ini bukan pekerjaan mudah. Meski usaha ke arah ini belum merupakan sesuatu yang mengglobal, namun beberapa tindakan sudah dilakukan beberapa produsen. Nike, misalnya, telah mengurangi kandungan karbon sol sepatu buatannya sebesar 75%. Di Eropa, bila Anda memproduksi mobil dan menjualnya, Anda bertanggung-jawab untuk memiliki rongsokannya saat mobil tersebut jadi besi tua. Atau dengan kata lain: ”Bila Anda membuatnya, maka Anda memilikinya selamanya”. Senge menekankan perlunya menerapkan model bisnis yang merupakan sistem hidup. Dengan kata lain, bagaimana menciptakan produk yang bisa didaur-ulang pada saat produk tersebut tidak berfungsi lagi. Pada level individual, kita juga perlu mengubah pola hidup konsumerisme kita dengan memulai pada hal-hal kecil, misalnya dengan mengurangi penggunaan plastik, menggunakan sepeda secara rutin ke tempat kerja (cycling to work). Hal-hal kecil ini bila dilakukan jutaan bahkan milyaran orang di dunia, tentu akan memberikan dampak mengurangi laju kerusakan bumi.

    Meski buku ini sarat dengan visi dan kepedulian terhadap terciptanya kehidupan yang lebih baik, namun terasa kurang fokus. Hal ini mungkin disebabkan terlalu luasnya konteks bahasan, tidak pada entitas bisnis atau kompetisi. Salah satunya adalah seperti diuraikan di halaman 263 – 266 dimana diberikan contoh kalimat yang perlu digunakan dalam pembicaraan masalah lingkungan. Menurut saya, ini sudah terlalu rinci untuk bahasan global dengan isu pokok lingkungan yang sangat kental. Sayangnya, rincian pada level kolaborasi antar perusahaan atau dengan pemerintah kurang diperhatikan bagaimana menciptakan model kolaborasi yang tepat. Namun, buku ini sudah cukup menggugah kita untuk lebih peduli lingkungan hidup.

    Gatot Widayanto

    Konsultan Manajemen dan Pesepeda ke tempat kerja

    Telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 31 Agustus 2008.

    Genesis “Chapter & Verse”

    Ruang Baca edisi bulan lalu mengulas tentang musisi menulis buku. Genesis “Chapter & Verse” ditulis oleh anggota inti kelompok progressive rock asal Inggris, di edit oleh Phillip Dodd. Bila Anda berpikir bahwa membaca buku ini untuk mengetahui sejarah Genesis, tentu sia-sia karena untuk tujuan tersebut Anda bisa mendapatkannya melalui internet. Buku ini justru lebih kental menekankan pada nuansa humaniora dan kepemimpinan dalam kehidupan salah satu band berpengaruh di dunia, melalui penuturan langsung dari anggota-anggotanya. Nuansa tersebut diperkaya lagi dengan kesan-kesan dari orang-orang yang pernah terlibat dalam perjalanan musik Genesis.

    Baca selengkapnya …

    PLN oh PLN …

    Belakangan ini saya sedang mengurus masalah teknis daya listrik di rumah dan menghubungi PLN. Salah satu syaratnya, saya musti menyerahkan Bukti Pembayaran rekening terakhir. Selama ini memang saya ikut program AUTODEBET pembayaran listrik PLN via rekening BCA sehingga saya tidak perlu repot2 datang ke loket PLN atau ke cabang bank. Semuanya beres. Tapi anehnya setiap bulan saya tidak pernah dikirim TAGIHAN maupun PELUNASAN dari tagihan yang telah dibayar sehingga sekarang saya kesulitan meminta bukti tersebut. Untuk keperluan itu, saya harus datang ke cabang BCA dimana saya dulu membuka rekening dan tidak boleh dari cabang BCA lainnya. Ini menyulitkan, karena BCA saya buka di cabang yang lokasinya tidak lagi friendly.

    Penasaran, saya mengunjungi situs PLN di www.pln.co.id …sebuah situs yang penampilannya sangat sederhana dan tidak terurus. Karena ingin mendapatkan bukti pelunasan, saya pergi ke menu INFORMASI REKENING. Sayangnya, di halaman ini informasi PELUNASAN tidak ditampilkan, yang ada hanya besarnya tagihan pada bulan tertentu. Informasi yang sama sekali tidak saya butuhkan. Lucunya lagi ada pesan ini:

    Tagihan anda bulan Agustus 2008 : Rp. 301.180 ,-

    Tagihan listrik anda menurun Rp. 38.750,- dari tagihan bulan sebelumnya.

    Anda belum berhemat Listrik,kurangi pemakaian yang tidak perlu. Terima Kasih

    Lucu .. lha wong tagihan menurun, yang mestinya pemakaian juga menurun kok malah diminta BERHEMAT…lha iki opo tumon?????

    Saya penasaran dan lihat bulan sebelumnya, nemu bulan Mei yang aneh:

    Tagihan anda bulan Mei 2008 : Rp. 401.625 ,-

    Tagihan listrik anda meningkat Rp. 27.535,- dari tagihan bulan sebelumnya.

    Lha.. justru kalo sedang meningkat kok malah tidak ada ANJURAN BERHEMAT? Logikanya gimana sih?

    Oh PLN ..Oh PLN ….

    Yang jelas, sampai sekarang saya belum bisa mendapatkan BUKTI BAYAR … Ini menurut saya adalah kesalahan fatal PLN. Sebagai penyedia jasa seharusnya memberikan informasi yang akurat mengenai hal paling sensitif: PEMBAYARAN TAGIHAN.

    Seharusnya:

    • Tagihan bulanan selalu dikirimkan ke setiap pelanggan
    • Informasi pembayaran bulan sebelumnya mustinya ditampilkan juga di setiap pengiriman tagihan, sekaligus berfungsi sebagai BUKTI BAYAR
    • Pelanggan yang mendaftar AUTO DEBET harusnya mendapatkan prioritas karena membayarnya selalu TEPAT WAKTU (kecuali kalau saldo rekening tidak mencukupi, yang alhamdulillah sampai sekarang belum terjadi di saya). Masak pelanggan yang ikut AUTO DEBET tidak mendapatkan bukti apa2 padahal rekeningnya sudah didebet.

    Karena hal2 pokok tersebut tidak dipenuhi, maka saya kecewa berat dengan PLN dan saya mulai hari ini telah MENCABUT keanggotaan saya di AUTO DEBET.
    PLN oh PLN ….

    Microtrends

    Dimuat di Ruang Baca, Koran Tempo Minggu, 27 Juli 2008

    Di masa kecil, saya memiliki teman main yang tidak lain adalah tetangga dengan jumlah tidak lebih dari enam orang sebaya. Bila saya ada “masalah” dengan salah satu dari teman ini maka saya bisa terasing dalam pergaulan dan kesepian. Pada saat itu pergaulan begitu terbatas pada cakupan geografis dan umur karena pertemanan lebih dengan yang sebaya. Coba bayangkan bila di jaman ”ketapel” tersebut sudah ada internet, mungkin saya tidak perlu sedih bila tidak nyaman dengan teman geografis saya karena saya memiliki ratusan pilihan membangun pertemanan melalui dunia maya, atau bermain PS (play station). Saya bisa membuat pertemanan tidak saja berdasarkan geografis karena sudah tidak relevan lagi. Saya bisa menciptakan pertemanan dari hobi, selera, gaya hidup maupun profesi saya sebagai seorang pelajar.

    Inilah pokok bahasan Microtrends yang mengajukan proposisi bahwa perubahan besar di Amerika dan di dunia lebih disebabkan karena perubahan-perubahan kecil dengan arah yang tak terduga. Mark J. Penn, mantan penasehat presiden era Bill Clinton, menyampaikan sekitar 75 perubahan-perubahan kecil dalam bidang pekerjaan, sosial, politik dan bisnis. Jumlah tersebut bertambah tiap harinya dan mungkin luput dari pengamatan kita. Dalam pemaparannya di acara yang diselenggarakan Google, Penn dengan lantang mengatakan bahwa sekarang bukan jamannya megatrends (yang digagas oleh John Naisbitt). Proposisi Penn berdasarkan analisa bahwa orang semakin bervariasi, tersedia pilihan pribadi yang semakin luas dan bebas. Kebebasan individu dalam menentukan pilihan semakin hari semakin tajam dan menciptakan niche (ceruk pasar) baru.

    Salah satu tren yang diajukan Penn adalah dalam pengobatan. Meski dalam kurun 20 tahun jumlah dokter di Amerika meningkat dua kali lipat, namun ternyata orang tidak berkonsultasi langsung dengan dokter. Mengapa? Karena semakin banyak orang yang sudah bisa melakukan riset sendiri di internet mengenai gejala sakit yang dialami dan menentukan sendiri obatnya (hal. 91). Mereka hanya memperlakukan dokter sepeti mesin ATM, yaitu mencetak resep untuk obat yang mereka sudah tahu untuk sakit yang didiagnosanya sendiri. Orang semakin ahli menjadi dokter untuk dirinya sendiri atau biasa disebut DIY (do it yourself) doctor. Ini juga didukung dengan fakta yang menunjukkan bahwa penjualan obat OTC (over the counter) meningkat sepuluh kali lipat.

    Dalam hal pekerjaan, semakin hari semakin banyak pekerja menempuh jarak jauh pergi ke dan pulang dari tempat kerja, dan semakin hari semakin jauh. Adalah David Givens di Mariposa, California yang setiap hari menempuh total jarak 600 KM total dalam perjalanan pulang-pergi ke tempat kerja. Ia berangkat dari rumahnya setiap hari jam 4:30 dinihari dan pada jan 7:45 sudah tiba di tempat kerja, kemudian pulang dari kantor jam 5 sore dan sampai di rumahnya jam 8:30 malam. (hal. 34). Hal ini karena harga rumah telah naik tiga kali lipat sejak pertengahan 80an hingga 2006 sehingga pekerja semakin tidak mampu membeli rumah yang dekat dengan lokasi pekerjaan.

    Penn juga mengungkapkan fakta bahwa pada tahun 2006 jumlah perselingkuhan di tempat kerja sudah cukup mengkhawatirkan dimana sejumlah 60% pekerja di Amerika terlibat perselingkuhan di tempat kerja, meningkat dari 47% di tahun 2003. Penn menganggap bahwa peraturan mengenai pelecehan seksual menjadi tidak relevan lagi karena sebagian besar pekerja melakukan atas dasar ”suka sama suka”. Bila di Indonesia dilakukan riset, mungkin kita juga bisa merasakan tren yang sejenis karena beberapa saat yang lalu Koran Tempo melansir artikel terkait hal ini pada saat kasus pelecehan seksual yang dilaporkan dilakukan anggota DPR dibahas.

    Sebagai peminum kopi, yang menarik bagi saya adalah meningkatnya konsumsi minuman berkafein dimana 6 dari 10 orang Amerika meminum kopi setiap hari. Suatu hal yang bertentangan dengan fakta bahwa mereka setiap hari mengkonsumsi air mineral, vitamin dan suplemen untuk memelihara kesehatannya.

    Tentang Islam, Penn menekankan betapa separuh dari orang Amerika memiliki pandangan negatif tentang Islam. Namun dalam polling yang dilakukan, justru sebagian besar (81%) muslim Amerika mendukung adanya pengendalian persenjataan (hal. 70), sedangkan orang Amerika non muslim hanya 50% mendukung. Penn mengatakan bagi mereka yang secara pribadi mengenal muslim, tidak akan sependapat dengan pandangan negatif terhadap Islam.

    Pada bagian akhir Penn merangkum: semuanya memberikan indikasi bahwa perkembangan perubahan-perubahan kecil telah bergerak dalam arah yang bertentangan dan menimbulkan paradoks. Pilihan individu semakin banyak namun orang semakin kembali ke nilai-nilai luhur. Semakin banyaknya orang bersosialisasi melalui internet, mereka semakin merindukan norma atau nilai yang berlaku. Orang semakin mendambakan kesehatan namun semakin banyak mengkonsumsi kafein. Yang menggembirakan, semakin majunya ilmu pengetahuan, ternyata diikuti dengan semakin tingginya minat terhadap agama.

    Buku ini terasa nyaman dibaca karena banyak tren perilaku yang sebenarnya kita juga rasakan. Menurut saya, ada dua tantangan yang harus kita siapkan menghadapi perubahan mikro. Pertama, dalam hal moral, semakin perlunya peran pemuka agama dalam menanamkan nilai-nilai agama agar tren ini tidak berakibat pada pembodohan umat dan menjauhkan manusia dari sang khaliq. Kedua, dari aspek bisnis perlu kepekaan dalam menangkap peluang dimana metode pemasaran gebyah uyah (satu untuk semuanya) harus digantikan dengan yang spesifik, menggunakan atribut-atribut yang lebih tajam. Artinya, bila Anda berbisnis di restoran, tidak lagi sekedar menjual nasi pecel, tapi nasi pecel Madiun. Kalau Anda menggeluti bisnis operator seluler, tidak lagi menawarkan tarif sama untuk semua pelanggan di seluruh nusantara, namun Anda tawarkan berdasarkan segmen demografis dan geografis. Ini lah yang disebut dengan micro targeting. Penn mengatakan bahwa sekarang ini sudah era Starbucks dimana ongkos produksi semakin murah sehingga penyedia barang dan jasa menyajikan berbagai pilihan kepada pelanggan. Ini bukan jaman Ford yang saat itu mempromosikan ”Anda bisa pilih warna mobil apa saja asalkan hitam”.

    Gatot Widayanto

    Konsultan Manajemen

    by Mark Penn (Author), E. Kinney Zalesne (Author)

    # Hardcover: 448 pages

    # Publisher: Twelve (September 5, 2007)

    # Language: English

    # ISBN-10: 0446580961

    What’s NEXT???

    Kalo Koran Tempo berkenan dan saya selesai membacanya, insya Allah akan saya review buku terbaru yang baru saya beli minggu lalu:

    Sejak mengenal kopi “The Ultimate” dari Coffee Bean, saya tidak pernah lagi membeli kopi lain selain the Ultimate. Faktor inpi pula yang menyebabkan saya sering menggunakan tempat ini sebagai tempat ketemuan dengan temen maupun calon klien. Padahal, sebelumnya saya penggemar Affogato Caramel, produk Brew & Co. Tapi kok menurut selera saya lebih enak the Ultimate nya Coffee Bean.

    Jumat (20 Jun 08 ) yang lalu saya ke gerai Coffee Bean di Citos dan tanpa pikir panjang saya langsung memesan The Ultimate ukuran besar – ukuran yang selalu saya suka setiap memesan di gerai ini. Namun, saya kecewa dengan jawaban petugasnya yang mengatakan bahwa yang besar sedang “kosong” (saya paling tidak suka mendengan istilah ini diucapkan oleh petugas restoran maupun kafe). Saya heran ,kok bisa kosong yang besar tapi yang kecil ada, mengapa? Sang petugas menjelaskan bahwa powder yang mereka miliki stoknya sedang tipis sehingga tidak memungkinkan mereka jual yang besar. Saya tanya apakah ini berlaku di semua gerai Coffee Bean? Petugas mengatakan iya, semua gerai Coffee Bean tidak diperbolehkan menjual yang besar pada saat ini. Mendengar jawaban ini, saya hampir membatalkan memesan The Ultimate. Tapi karena pilihan lainnya saya kurang sreg, maka akhirnya saya menyerah aja dengan yang kecil dengan setengah hati … ada adukan rasa kesel dan dongkol.

    Strategi Dagang

    Sambil menunggu kopi saya dibuat, saya sambil duduk berpikir mengenai apa yang barusan saya alami. Pertama, saya sangat menyayangkan sebuah kafe, apalagi Coffee Bean gitu loh, memasang menu tapi mengatakan “kosong” padahal jam masih sore sekali, sekitar jam 19:30, tanpa pemberitahuan di menunya. Ini seharusnya sudah menjadi standar profesi restoran atau kafe bila memasang menu tapi gak bisa dipenuhi harus ada tanda bahwa menu tersebut “kosong”, bukan setelah ada yang memesan baru bilang kosong. Bukan apa2, customer kan sudah capek2 liat menu, mikir dan memutuskan, kok dibilang “kosong”. Padahal, pekerjaan memilih ini bukan gampang. Coba saja, kalau ramai2 mengunjungi resto, biasanya kita cenderung mengikuti apa yang telah dipesan teman kita, dari pada capek mikir.

    Kedua, menjual kopi dengan membatasi cukup dengan kemasan kecil padahal yang besar tertera di menu juga membuat pengunjung kesal. Kenapa? Bagi saya kemasan kecil kurang nendang karena sedikit. Dengan alasan powdernya terbatas kemudian Coffee Bean memutuskan hanya menjual yang kecil, jelas membuat saya berpikir ada apa dibalik semua ini? Karena ini artinya kita boleh membeli berapa gelas aja asal kemasan gelas kecil. Suatu hal yang aneh. Ternyata, setelah saya lihat di menu, harga antara gelas (cup) kecil dengan besar “hanya” terpaut Rp. 5.000,- (kemasan kecil Rp. 35.000,-, kemasan besar Rp. 40.000,-). Ini berarti si gerai ingin memaksimalkan profit dengan menjual gelas kecil sebanyak mungkin karena kalau menjual gelas besar dengan increment value yang hanya Rp. 5.000,- maka tidak menghasilkan profit yang maksimal. Mungkin juga diharapkan dengan menjual khusus yang kecil, pengunjung akan beli gelas kecil yang ke dua sehingga revenue dan profit potentials nya jadi besar sekali.

    The Coffe Bean lupa .. bahwa dengan melakukan strategi dagang seperti ini, terkesan bahwa gerai ini tidak memiliki komitmen terhadap pelanggan setianya (setiap ke Citos, saya selalu ke gerai ini, karena faktor The Ultimate tadi). Sebenarnya gerai ini tidak perlu terlalu greedy dengan menjual semua ukuran sesuai yang tertera di menu karena sekali sudah tertera di menu, sepenuhnya menjadi hak pelanggan untuk memilih, tidak boleh dibatasi lagi. Andaikan ternyata semua pelanggan yang memilih The Ultimate memesan gelas besar sekalipun, The Coffee Bean harusnya tidak bisa berbuat apa2 demi mengatur masalah internal mereka (kelangkaan powder). Kecuali, bila gelas tersebut adalah bener2 the last cup di gerai tersebut pada saat pelanggan memilih, nah .. itu persoalan lain dan pelanggan akan maklum. Namun bila pelanggan boleh memasan sebanyak mungkin gelas kecil dan dilarang memesan yang besar, itu baru tidak fair .. dan greedy …

    Value Creation

    Gerai ini lupa fudamen bisnis yang utama: penciptaan nilai gagi pelanggan, agar bisnis nya bertahan dan berkembang. Masalah internal di gerai ini lebih mendapatkan prioritas ketimbang memberikan pelayanan terbaik bagi pengunjungnya, terbukti dengan yang saya alami di atas.

    Salam,

    G

    « Newer Posts - Older Posts »