Feeds:
Posts
Comments

Baru saja (10:22) HP saya berdering dan ketika saya angkat sang penelepon langsung memperkenalkan diri bernama Galih dari bank DBS. Dia tahu nama saya dan langsung “memberi informasi” ada program KTA untuk Bapak “Gatot” (tahu nama saya dengan tepat). Saya langsung menanyakan apakah saya pernah bertemu dengan dia (Galih) sebelumnya. Dia bingung terus saya jelaskan bahwa saya bertanya karena dia tahu nomer telpon saya, tentu telah bertemu dengan saya sebelumnya. Dia terus menjelaskan:

“Tentunya Bapak Gatot menggunakan kartu kredit ya pak?”
“Iya beberapa kartu. Ini kartu yang mana?”, tanya saya
“Oh, kami bekerjasama dengan Visa dan Master pak, kami mendapatkan info dari sana.”
“Seharusnya Visa dan Master tak boleh memberikan informasi nasabah ke pihak lain pak,” jawab saya tegas.
“Jadi bagaimana pak ?” tanyanya (Aduh ini orang, pake nanya lagi … ya udah jelas TIDAK ETIS kok masih namya bagaimana.)
“Ya saya tak tertarik!”, tegas saya.
“Baik pak” – ditutup telponnya.

Selamat berkarya!

Moment of Truth:

Four Points Makassar (27/01/2017)

Dalam serangkaian kegiatan focus group discussion (FGD) untuk membangun corporate culture sebuah grup perusahaan besar, dalam satu minggu saya melakukan perjalanan ke tiga kota: Medan – Balikpapan – Makassar. Akhir dari serangkaian safari FGD tersebut memang di kota Makassar dengan penerbangan langsung menggunakan pesawat Bombardier milik Garuda Indonesia segera setelah sesi FGD di Balikpapan berakhir. Cukup melelahkan hari itu (Kamis) karena jarak antara berakhirnya sesi di Balikpapan dengan jadwal penerbangan ke Makassar cukup ketat sehingga time management penyelenggaraan FGD memang harus dikendalikan dengan baik. Saat itu kami berlima dengan dua orang dari tim konsultan dan tiga orang lagi dari perwakilan kantor pusat Klien. Cukup heboh persiapan kami menuju bandara Sepinggan Balikpapan karena takut tertinggal pesawat. Namun ternyata pesawat mengalami penundaan satu jam sehingga kami menunggu di bandara cukup lama yang otomatis mendarat di kota Makassar cukup larut malam. Singkat cerita, setelah sempat makan malam di Roemah Podjok Makassar, kami menuju hotel tempat kami menginap dan diselenggarakannya FGD terakhir esok harinya: Four Points Hotel Makassar.

Tepatnya kami selesai check in pada pukul 00:00 dini hari. Karena FGD dimulai esok hari pukul 8:00 waktu setempat dan kami belum sempat melihat pengaturan ruang FGD, pada malam itu juga kami mengecek kondisi ruangan ditemani seorang petugas hotel. Saya selalu melakukan pengecekan terakhir persiapan ruangan meski itu larut malam sekalipun. Bagi saya, persiapan itu amat sangat penting bahkan merupakan keniscayaan. Persiapan yang matang merupakan indikator suksesnya penyelenggaraan FGD atau workshop. Untuk FGD maupun workshop saya memang mensyaratkan pengaturan ruangan yang ketat yaitu posisi duduk dengan meja bundar masing-masing maksimum untuk 7 orang, idealnya 6 orang; setiap meja bundar harus ada sebuah flipchart lengkap dengan spidol nya dan setiap meja bundar harus ada satu buah mikrofon. Tidak semua hotel bisa menyediakan fasilitas ini, terutama flipchart. Hanya hotel bintang empat atau lima biasanya yang sanggup. Umumnya hotel hanya punya 2 atau 3 saja. Untuk setting di Makassar saya minta harus ada 6 flipchart. Bagi saya, pengaturan seperti ini minimum dan harus dipenuhi kalau ingin mendapatkan hasil maksimal dari sebuah workshop atau FGD. Pengaturan dengan meja bundar ditujukan untuk diskusi kelompok dan setiap kelompok harus memaksimalkan penggunaan flipchart sebagai perangkat (tool) dalam melakukan diskusi. Saya melarang peserta membuka laptop karena diskusi dengan laptop tidak efektif, yang bekerja hanya dua orang: satu orang mengetik ke laptop dan satu orang memerintahkan apa yang musti diketik. Ini jelas tidak efektif karena anggota kelompok lainnya hanya menjadi penggembira. Diskusi dengan flipchart membuat setiap pasang mata memandang kepada satu titik dimana salah seorang dari anggota sebagai scribe (penulis) nya sambil berdiri memegang spidol. 

Pihak hotel sudah mengatur meja kursi dan layar lebar dengan baik dan rapi. Sayangnya, pengaturan tersebut tidak memenuhi harapan kami karena penataannya dibuat melebar dimana layar diletakkan pada sisi panjang dari ruangan yang empat persegi panjang. Kami menginginkan sesuai yang seperti kami lakukan di kota-kota lainnya yakni layar diletakkan di sisi lebar dari ruangan. Memang bukan sepenuhnya kesalahan hotel karena perwakilan Makassar dari Klien saya bisa jadi sudah menyetujui penataan (lay-out) seperti ini. Karena tidak ada waktu lagi kami meminta pihak hotel untuk merubah lay-out tersebut dengan memindahkan layar lebar ke sisi lebar dari ruangan. Petugas hotel yang mengantarkan kami yang tugasnya sebagai Bell Boy memohon maaf bahwa dia tak bisa membantu karena dia tidak paham pengaturan ruangan namun berjanji akan menghubungi bagian lain yang in charge dalam hal ini Banquet. Tak lama kemudian muncul seorang petugas hotel berseragam hitam-hitam menemui kami menanyakan apa yang musti dirubah. Kami jelaskan secara rinci kebutuhan kami. Dengan sigap petugas Banquet ini mengambil HT (handy talky) yang ada di pinggangnya memobilisasi timnya termasuk tim teknisi hotel.

Tak lama kemudian muncullah tiga orang berseragam hitam-hitam dan dengan sigap mengerjakan permintaan kami. Ternyata, memindahkan layar lebar bukan hal yang mudah karena tim teknisi mengakui bahwa layar lebar tersebut bukan milik hotel namun sewa dari pihak eksternal untuk memenuhi kebutuhan kami layar yang ekstra besar. Teknisi yang tadinya mengalami kesulitan disebabkan tinggi layar lebar yang menyentuh plafon ruangan akhirnya mengakali dengan cepat agar layar lebar berdiri. Prosesnya memang cukup lama dan pada pukul 00:45 kami berlima meninggalkan ruangan dengan harapan semuanya diselesaikan dengan baik oleh Banquet Crew dan teknisi tersebut.

Esok harinya sekitar jam 7:00 saya sengaja mengecek dulu ruangan sebelum sarapan di resto. Jreng! Saya kagum, ternyata semuanya telah ditata dengan rapi dan sempurna tepat sekali dengan permintaan kami. Salut saya dengan kerja tim yang luar biasa dari Banquet Crew hotel Four Points ini. Hebat! Saya lakukan setting MacBook saya dengan LCD projector yang sudah tersedia, semuanya sudah ditata sempurna tanpa saya harus menggeser letak projector. Rapi! Setelah itu saya baru lega bisa menuju resto untuk sarapan pagi. Di meja makan resto saya menceritakan kepada dua orangdari tim kami bahwa saya impressed dengan pekerjaan Banquet Crew yang bekerja tadi malam karena semuanya perfecto.

Alhamdulillah, FGD pada hari itu berjalan lancar tanpa gangguan dibuka oleh Human Capital Director yang datang khusus dari Jakarta hanya untuk terlibat dalam proses FGD ini. Ini jelas menunjukkan komitmen luar biasa hingga seorang Direktur mau turun gunung, jauh datang dari Jakarta ke Makassar. Pada sesi coffee break secara tak sengaja saya menjumpai petugas hotel yang tadi malam menggunakan HT dan saya asumsikan dia adalah Team Leader nya karena yang lain tak dibekali HT. Saya langsung sapa dia dan saya katakan langsung bahwa kami berterima kasih atas kerja tim yang tadi malam melakukan perubahan pengaturan ruang dengan sigap dan hasilnya sempurna. Dia tersenyum santun sambil mengatakan bahwa semuanya sudah tugasnya. Sungguh sebuah jawaban yang humble dan langsung saya lihat name tag nya: Amirullah, sekaligsu saya tanyakan siapa Boss nya. 

Mengapa saya merasa takjub dengan Amirullah dan kawan-kawannya? Pertama, pada saat kami minta ada perubahan pengaturan ruangan, mereka sigap menanggapi dengan banyak mendengarkan sambil memastikan bahwa mereka paham apa yang kami mau. Kami sempat menggambarkan layout pada sebuah flipchart agar dipahami. Mereka menunjukkan raut muka cerah tanpa ada rasa kesal karena sudah dini hari ada permintaan perubahan – kenapa perwakilan kantor Makassar tidak mengecek pada saat sore, misalnya. Namun tak satupun mereka mengatakan bahwa mereka telah bekerja sesuai permintaan. Tanpa ada sikap defensif sedikit pun mereka berupaya memenuhi permintaan kami. Sikap mereka ini saya sebut sebagai “layanan prima” karena tetap melayani dengan santun tanpa ada keberatan sedikitpun dan tidak mencoba menegosiasi untuk memudahkan kerja mereka. Sebenarnya sempat terpikir oleh kami untuk meringankan beban mereka dengan kompromi bahwa layar lebarnya bisa disenderkan saja. Tidak, mereka justru membuat layar tersebut tegak sempurna dan aman. Hebat!

Kedua, mereka kerjanya cepat dan tanpa mengutarakan bahwa perlu ada penambahan biaya, misalnya. Artinya mereka berupaya memenuhi permintaan kami terlebih dahulu dari pada menyodorkan additional cost karena memang kami minta meja ditambah satu dan dengan demikian mikrofon juga bertambah. Bisa jadi ini adalah additional cost. Tapi mereka tak bicarakan ini karena bagi mereka yang penting permintaan kami dipenuhi terlebih dulu. Saya juga tidak tahu apakah setelah acara selesai pihak hotel menambah tagihan ke klien kami karena perubahan ini. Tapi itu tak penting karena saya yakin penambahan biaya, bila ada, sangat kecil artinya dibandingkan dengan dampak perubahan pengaturan ruangan. Artinya, tambahan biaya masih layak dilakukan bila dibandingkan dengan dampaknya terhadap kesuksesan acara.

Dari pengalaman ini Anda bisa saksikan bahwa bagi mereka, Banquet Crew, pekerjaan seperti ini sudah biasa mereka alami; adanya permintaan perubahan mendadak padahal sebelumnya telah disepakati, atau penambahan kebutuhan dan sebagainya. Namun coba lihat dari sisi kami sebagai tamu mereka. Tentu kami sangat puas dengan pelayanan prima seperti ini karena tujuan kami menggelar FGD yang dinamis dan hidup, menghasilkan keluaran yang bagus, tercapai dengan baik. Kami puas tanpa syarat. Ini semua tak lepas dari kontribusi Banquet Crew.

Setelah acara selesai, pada malam harinya saya mencari tahu nomer HP bossnya Amirullah. Saya berikan apresiasi saya kepada Amirullah dan Tim yang bekerja dengan baik melalui WA ke Boss nya Amirullah. Dia segera merespons WA saya dan berjanji akan eskalasi ke Manajemen. Esoknya saya dapat kabar bahwa Amirullah mendapatkan rewards dari General Manager.

Buku klasik yang masih menarik untuk dibaca, karya CK Prahalad. Konsepnya sederhana: bagaimana membidik pasar dari segmen paling bawah yang belanjanya kètèngan di warung2. Coba pikirkan kalau sebuah produsen shampo selalu membuat produk dalam kemasan botol. Pasti segmen paling bawah tak sanggup beli. Namun kalau dalam kemasan sachet seharga Rp. 1000 mereka mampu beli. Tinggal dikalikan aja berapa jumlah mereka dan konsumsi sebulannya. Menarik bukan?

Makanya baca! Ha ha ha… Ini juga buku koleksi kantor, makanya selagi liat ya saya baca lagi sebelum buka laptop. Mengapa? Membaca buku itu menyegarkan otak dan menciptakan stimuli buat bergerak cepat. JrèNg!

Buku The HUSTLE ECONOMY ini memang gila dan wajib dibaca orang waras. Uwediyaaan…! Bener2 progresif pola pikirnya, bicara hal yang paling mendasar dan penting: Think Simple! Seringkali kita berpikir yang besar dan hanya dalam tataran mimpi belaka karena pada saat menjalankannya kita perlu lagi memikirkan banyak hal hingga akhirnya tak dikerjakan. Buku ini tak sekedar mengajak kita bertindak (take action) namun harus HUSTLE: lincah, tangkas dan cepat bergerak. Kalau ingin menjadi penulis buku, tulislah satu bab, tak usah banyak berpikir banyak hal yang intinya akan menunda terus menerus. Get things moving! Intinya justru HUSTLE itu.

Buku yg sudah saya miliki beberapa bulan lalu ini akhirnya baru sempat saya baca ketika saya melakukan safari perjalanan bisnis ke tiga kota: Medan – Balikpapan – Makassar. Lumayan, selama perjalanan tersebut saya membaca sampai dengan halaman 87, padahal membacanya hanya pada saat terbang saja. Pada saat sudah di darat, saya disibukkan dengan semua hal terkait FGD (focus group discussion) dan kuliner … he he he … Mengapa saya bisa baca cepat? Karena memang buku ini dikemas menarik. Sekurangnya ada tiga alasan mengapa saya (dan tentunya saya rekomendasikan ANDA juga membacanya):

1.) Topik bahasannnya terkait KREATIVITAS atau INOVASI – suatu hal yang sangat saya suka. Lagian di era yang serba disruptif ini siapa sih yang tidak tertarik dengan kreativitas atau inovasi? Aneh kalau gak tertarik karena secara sikap sudah menunjukkan seperti dinosaurus yang lamban bergerak bahkan mandek alias pasrah dengan INERSIA.

2.) Yang menulis setiap bab dalam buku ini adalah mereka yang memang berkecimpung langsung dalam dunia kreatif ini baik itu sutradara, editor, penulis maupun profesi lainnya yang bisa dikerjakan secara free lance. Ya, saya menjalani sendiri pahit manisnya sebagai free lancer dimana kebebasan adalah suatu hal yang amat penting dan membuat kreativitas gila bisa tercapai …namun kalau tak bisa menundukkan waktu bisa jadi KEBABLASAN bukan lagi KEBEBASAN yang diperoleh. Kenapa? Kalau kita ditundukkan oleh waktu maka kita cenderung tidak hustle dan kemudian malas dan kemudian tak ada klien alias tak ada proyek. Kalau gak ada proyek, buat apa bebas tapi tak ada uang? He he he … Emang enak jadi Independent Consultant. Enak sih …tapi jangan kebablasan. Intinya: Tundukkan (bukan “kelola” atau “kendalikan”) WAKTU! Demi Masa.

3.) Cara penyajian buku ini mantab: visualisasi dan rangkuman. Visualisasinya bagus sekali dan sangat menarik. Lihat tuh foto2 yang saya upload di sini, semuanya terkait dengan topik yang dibahas, misalnya hubungan antara stress dan productivity yang mana bias berbentuk kurva hiperbola dimana pada level tertentu stress menurunkan produktivitas namun pada titik tertentu malah memacu produktivitas. Di akhir setiap bab selalu ada rangkuman ACT ON THIS yang sangat menginspirasi.

Pokoknya kalau watas, baca deh buku gila ini biar Anda tidak manyun pasrah menjalani kehidupan ini. Musti jadi HUSTLER!!!!!

Pada saat saya beberapa kali membantu instansi pemerintah (kementerian) salah satu hal yang saat itu dicanangkan adalah pada saat melakukan kunjungan daerah. Biasanya bila ada Staff (apalagi Pejabat) dari Pusat mengunjungi daerah (provinsi / kabupaten) dilakukan penyambutan seperti penjemputan dan penjamuan makan malam atau makan siang plus lainnya bila daerah yang dikunjungi juga ada obyek wisata menarik. Hal ini dalam beberapa kali workshop dengan kementerian yang bersangkutan, para Agen Perubahan telah menyepakati beberapa hal penting ini untuk menjaga martabat pejabat atau Staff dari Kantor Pusat:

  1. Tidak minta dijemput dan menolaknya bila dijemput karena dari kantor pusat sudah disiapkan uang sebagai biaya transport (taksi) dari bandar ke hotel.
  2. Dalam acara penjamuan makan siang atau malam, tidak mau menerima traktiran alias masing-masing membayar dari uang saku yang memang sudah disiapkan bersamaan dengan SPD (surat perjalanan dinas).
  3. Tidak mau menerima oleh-oleh (buah tangan) yang diberikan oleh daerah di hari terakhir kunjungan.

Tiga hal tersebut pada dasarnya merupakan kelaziman (kebiasaan) yang sudah biasa dijumpai dalam setiap kunjungan daerah: penjemputan, jamuan dan oleh-oleh. Hal ini merupakan salah satu bentuk pemborosan karena adanya pos pengeluaran dobel yang mana ujungnya akan masuk kantong pribadi. Tak hanya itu, pernah kejadian yang dialami oleh seorang pejabat eselon 2 ketika melakukan kunjungan daerah. Pada saat pulang beliau dibelikan satu kotak olah-oleh dari produksi daerah yang dikunjungi. Ternyata, saat membeli oleh-oleh tersebut, pihak kantor daerah membelikan lebih (2 kotak) yang mana satu kotak untuk oknum yang membeli oleh-oleh dan satu kotak untuk tamu dari Pusat. Tak hanya itu, ada juga kasus mark-up dari oleh-oleh yang dibeli. Praktek koruptif ini meski kecil, musti dihindari karena bila dijumlah dengan volume kunjungan dalam satu bulan, jumlahnya menjadi sangat besar. Boros.

Pengalaman saya beberapa tahun lalu di lembaga pemerintah ternyata berlaku juga di swasta dimana saya baru saja mengalami sendiri pada hari Rabu (18/01) lalu. Namun atas kuasa Allah Taala, kotak tersebut akhirnya tak terbawa karena secara tak sengaja tertinggal di pelataran parkir mobil di Terminal 1C pada saat saya menaiki kendaraan Uber pesanan saya. Ini merupakan tanda bagi saya bahwa sebaiknya menolak pemberian seperti ini.

 

founders-at-work

Sebenarnya ini bukan buku baru namun setelah berjalan beberapa tahun buku ini menjadi berkesan karena isinya memang wawancara dengan beberapa pendiri perusahaan baru (startups) yang beberapa diantaranya menjadi bagian dari life style kita. Artinya tentu tidak semua startup menuai keberhasilan dan beberapa saat kemudian bangkrut atau tidak dilanjutkan. Beberapa diantaranya sudah kita kenal baik misalnya Gmail, PayPal, Yahoo, Research In Motion (RIM), Apple, Flickr, TripAdvisor, FireFox dan lainnya. Total sejumlah 32 orang pendiri startups diwawancara oleh penulis buku ini, Jessica Livingston.

Karena memang sifatnya sekedar wawancara, buku ini tidak memiliki struktur khusus misalnya dikelompokkan berdasarkan tema atau industri tertentu. Tadinya saya berharap buku ini dikelompokkan berdasarkan suatu tema tertentu, misalnya penting visi untuk memeulai startup, atau pentingnya passion dalam menekuni bidang tertentu sebagai bisnis baru yang kita tekuni. Ini juga yang awalnya saya merasa enggan membacanya karena tidak ada pesan-pesan khusus pada setiap bab yang disajikan. Bahkan di setiap wawancara tidak ada penggunaan font khusus untuk menekankan sesuatu yang penting selain di awal setiap bab Livingston meberikan sedikit latar belakang dengan font italic. Semuanya mengalir begitu saja, dengan bahasa wawancara sehar-hari sehingga nikmat untuk dibaca sambil nyruput kopi.

Ternyata penyajian seperti ini justru membuat saya sebagai pembaca merasa bebas menentukan di area mana saya perlu menandai dengan pena untuk menekankan pentingnya dan untuk kemudian mudah saya ingat sebagai rujukan. Artinya, pembaca diberi kebebasan untuk menentukan sendiri bagian mana yang penting. Akhirnya saya menikmati buku ini karena tiga hal: apa adanya atau merupakan transkrip dari pembicaraan Livingston dengan yang diwawancara, banyak hal menarik yang perlu saya garisbawahi, tidak semua startups sukses dan kita perlu mempelajari lebih jauh.

MAX LEVCHIN – Co Founder, PAYPAL

PayPal pada awalnya tidak ditujukan untuk pembayaran karena Levchin pada dasarnya seorang programmer handal bidang cyber security dengan menggunakan linux dirintis mulai 1998. Itupun mereka tak pernah memikirkan bahwa pada akhirnya PayPal berbasis web padahal pada awalnya ditujukan untuk peragkat handheld. Artinya semua aplikasi ditujukan pada penjualan melalui download dengan proyek awal berupa Palm Pilots pada saat gencarnya era PDA saat itu. Hal yang menarik dari kisah PayPal adalah keras kepalanya Levchin untuk mengembangkan aplikasinya menggunakan Linux padahal pernah suatu ketika CEO nya menghendaki menggunakan Windows. Memang Levchin sejak awal lebih seneng ngoprek software daripada mengelola bisnisnya sehingga dia sejak awal menyerahkan manajemen ke orang lain, sebagai CEO. Menarik disimak di sini adalah drama keras kepalanya Levchin hanya disebabkan karena dia tak tahu apa-apa tentang Windows dan tak kan bisa memberi manfaat bagi PayPal. Dia terus saja konsisten dengan Linux nya hingga CEO nya mundur diganti CEO lain yang pada awal PayPal pernah bergabung sebagai CEO.

Hal menarik dari perjalanan awal PayPal adalah pemahaman mengenai resiko karena mereka, para programmer di PayPal berasumsi semua orang berhati-mulia. Padahal rekan2 mereka dari sektor keuangan sudah memberi nasehat agar hati-hati dengan fraud. Benar saja ternyata fraud nya besar sekali hingga PayPal perlu meninjau ulang sistemnya dan berangsur mengurangi tingkat dan besarnya fraud. Tingkat fraud PayPal di awal bisnisnya sangat tinggi bahkan bisa mencapai US$ 10 juta perbulan. Hal ini membuat mereka kalang kabut dan berupaya mencari cara terbaik menyelesakan masalah fraud ini. Justru kejadian besarnya fraud ini memicu mereka berpikir dan bekerja keras bagaimana mencegahnya mulai dari cara yang sangat manual sekalipun. Yang menurut saya menarik digaris-bawahi adalah kegigihan memerangi fraud ini tanpa batas dengan semangat: “Fraud harus dibasmi, jangan putus asa terus meninggalkan bisnis PayPal”. Artinya mereka ada keyakinan kuat bahwa bisnis PayPal bagus, sedangkan fraud adalah efek samping dan dicarikan solusinya. Dengan semangat dan kegigihan ini mereka akhirnya bisa mengurang fraud secara signifikan.

STEPHEN KAUFER – Cofounder, TripAdvisor

TripAdvisor dimulai dari Kaufer dan istrinya yang pada awalnya merencanakan liburan untuk mereka. Dari pengalaman inilah Kaufer bermaksud mengembangkan lebih lanjut. Semuanya dimulai di tahun 2000 saat Kaufer merasa frustasi mendapatkan informasi yang obyektif, tidak bias, tentang area-area wisata. Ide dasarnya memang menarik karena saya sendiri mengalami frustrasi kalau suatu saat mengunjungi suatu hotel tapi pelayanan kurang menyenangkan atau bahkan mengecewakan, bagaimana saya akan melayangkan complaint? Menulis pengaduan yang selalu ada di setiap kamar hotel dalam bentuk angket ditujukan ke GM? Saya ragu kalau mengisinya kemudian bisa sampai ke GM yang bersangkutan meskipun diberi kotak tersendiri untuk mengumpulkannya. Namun dengan menulisnya di media seperti TripAdvisor atau Traveloka atau bahkan Google Maps, akan terbangun rating dari berbagai orang yang pernah mengunjungi atau menginap di hotel tersebut.

Perjalanan TripAdvisor, seperti diutarakan Kaufer, adalah mempromosikan agar banyak orang tertarik dengan ide ini, kemudian berupaya mendapatkan profit. Pada dua fase awal ini cukup berat dan diperlukan dana luar biasa besar utamanya membangun kesadaran agar semakin banyak orang tertarik. Membuktikan bahwa semuanya membawa profit juga bukan merupakan hal mudah. Setelah itu baru pertumbuhan. Hal ini tak boleh berhenti di sini, harus disertai dengan menjadi situs paling populer dalam hal travel di dunia. Memang kemudian TripAdvisor dibeli oleh IAC namun hebatnya IAC punya prinsip bahwa meski telah membeli perusahaan, IAC tetap membiarkan perusahaan yang dibelinya berjalan sendiri (stand alone). Ini yang menyebabkan saat itu Kaufer masih giat berkarya.

Masih banyak lagi kisah-kisah startups lainnya disajikan di buku ini.

Makna Inersia

newtonAn object at rest tends to stay at rest and an object in motion tends to stay in motion with the same speed and in the same direction unless acted upon by an unbalanced force. – Isaac Newton.

(Sebuah benda yang sedang diam cenderung tetap diam dan sebuah benda yang sedang bergerak cenderung untuk tetap bergerak dengan kecepatan dan arah yang sama kecuali ada sebuah gaya bekerja kepadanya sehingga ia berhenti bergerak).

Coba Anda bayangkan sebuah kubus kayu berukuran 40 x 40 x 40 cm sedang berada di atas lantai datar. Kubus tersebut akan tetap diam di tempatnya selama tak ada tekanan atau gaya yang bekerja padanya. Selama tidak ada yang menyentuh kubus ini maka ia akan tetap diam di tempatnya sampai kapanpun. Bila ada sebuah gaya dorong yang bekerja pada kubus tersebut maka ia akan bergerak pada suatu kecepatan dan arah tertentu. Tentu Anda sulit membayangkan kubus ini bisa bergerak terus menerus sesuai dengan kecepatan dan arahnya terus menerus karena pada kenyataannya begitu tidak didorong kubus tersebut akan berhenti. Di sinilah kegeniusan Newton berlaku karena ia mengatakan kubus tersebut cenderun untuk tetap bergerak dengan kecepatan dan arah yang sama KECUALI ada gaya yang bekerja kepadanya sehingga ia berhenti bergerak. Pengucualian inilah yang pada umumnya kita sulit mengerti karena secara empiris kita semua tahu bahwa kubus itu sudah pasti akan berhenti. Kita lupa menganalisis bahwa kubus tersebut berhenti karena adanya gaya gesek antara permukaan kubus dan lantai, serta adanya udara / angin yang menyebabkannya berhenti. Selanjutnya Newton mengatakan, hukum gerak kubus tersebut baru bisa dijelaskan dengan baik bila berada di ruang angkasa. Mengapa? karena di ruang angkasa tak ada udara dan tak ada pergesekan dengan lantai sehingga kubus tersebut akan tetap bergerak dengan kecepatan dan arah yang sama ketika ia menerima gaya yang mendorongnya.

Mari kita bayangkan bahwa lantai dimana kubus itu diletakkan diberi minyak pelumas sehingga sangat licin dan mengecilkan angka koefisien gesek antara permukaan kubus dan lantai. Ketia menerima dorongan (gaya) maka kubus akan melesat diatas lantai dengan kecepatan yang hampir sama dengan saat daya dorong dilakukan ke kubus. tentu kubus dengan lantai licin ini akan memungkinkan ia berhenti dengan jarak yang lebih jauh bila dibandingkan tanpa minyak pelumas. Kubus berhenti pun karena adanya gesekan dengan udara dan pergesekan antara permukaan kubus dan lantai, meskipun licin sekalipun. Karena licinnya lantai bisa jadi kita kesulitan menghentikan laju kubus tersebut meluncur meski pada akhirnya juga pasti akan berhenti juga, membentur tembok atau adanya friksi kecil di permukaan yang bersentuhan dan gesekan dengan udara.

Sekarang, mari kita bayangkan kubus tersebut dengan sebuah kotak kardus berrongga dengan ukuran yang sama, kita taruh di lantai, tanpa pelumas. Tanpa kita dorongpun bisa jadi kardus berbentuk kubus tersebut akan bergerak karena ditiup angin. Dalam hal ini massa dari kubus kardus berrongga ini lebih ringan dari massa kubus kayu pejal dalam contoh di atas. atas. Sedangkan, gaya gesek berbanding lurus dengan massa atau berat benda.

Kalau Anda sedang bersepeda kemudian secara tak sengaja ada serangga mengenai lengan Anda, tentu Anda kemungkinan besar tak merasakannya karena serangga tersebut begitu ringannya. Namun bila kerikil batu yang mengenai tangan Anda, tentu kemungkinan besar Anda akan merasakan sakit. Coba juga bayangkan bahwa Anda mengendarai sepeda motor terkena serangga pada lengan Anda, tentu terasa sekali, bahkan mungkin sakit. Ini karena kecepatan sepeda motor yang relatif lebih tinggi dibandingkan sepeda.

Sebuah lokomotif yang menarik jumlah gerbong sedikit tentu pada awalnya lebih mudah menggerakkan gerbong dibandingkan bila jumlah gerbongnya banyak, karena semakin banyak semakin berat. Namun bila sudah bergerak pada kecepatan tertentu, lokomotif dengan jumlah gerbong banyak memerlukan daya rem yang lebih kuat dibandingkan yang gerbongnya sedikit. Di sini kita bisa membayangkan bahwa sekali sudah bergerak akan diperlukan upaya yang berat untuk menghentikannya. Sama dengan kubus kayu pejal dibandingkan dengan kubus kardus berrongga. Maka akan sulit menghentikan kubus yang terbuat dari kayu pejal.

Inersia Organisasi

Dengan pengamatan sederhana menggunakan contoh kubus kayu, kubus kardus berrongga, serangga, kerikil dan juga lokomotif yang menarik gerbong, sedikit banyak kita bisa membayangkan hal-hal tersebut bila kita kaitkan dengan suatu organisasi. Secara makna organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang bekerja bersama untuk mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Organisasi, baik itu yang berorientasi sosial (non-profit) maupun bisnis (profit) juga mengalami inersia juga. Kita melihat adanya organisasi yang diam, tak terurus, bahkan tinggal sebuah nama saja tanpa ada kegiatan dan tujuan. Organisasi seperti ini bisa terjadi karena hanya semangat pada saat mendirikannya namun setelah itu tak bergerak sama sekali sehingga tujuan pun tak tercapai. Ini ibaratnya seperti kubus kayu pejal yang diletakkan di atas lantai seperti dalam contoh di atas. Bila ada sebuah gaya yang mendorongnya, misalnya bila ada suatu peristiwa yang membuat organisasi tersebut bekerja kembali, maka ia tak lagi tinggal diam. Tergantung seberapa gaya yang mendorongnya sehingga organisasi tersebut akan terus bergerak dan bangkit dari tidurnya yang lama.

Beberapa tahun silam kita sering mendengar BEM alias Badan Eksekutif Mahasiswa yang pada dasarnya sebuah organisasi yang menampung aspirasi mahasiswa yang ingin berkecimpung dalam ranah politik dan sekaligus latihan berorganisasi. Sempat cukup menjadi tren kala itu bahkan bisa jadi merupakan komunitas elit di kampus. Dalam perjalanannya sekitar tahun 2010 – 2011 BEM di beberapa perguruan tinggi sudah mulai berkurang minat mahasiswa untuk berpartisipasi dalam BEM disebabkan beberapa faktor. Faktor pertama yang umum terjadi adalah kesibukan akademis mahasiswa yang semakin tak memungkinkan mereka berorganisasi lagi, karena tugas-tugas kuliah yang padat dan tak bisa ditinggalkan. Perkembangan jaman bisa merupakan terkanan tersendiri bagi mahasiswa, misalnya target ingin cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan, sehingga minat untuk terlibat dalam organisasi mahasiswa bisa pupus karena ingin cepat selesai kuliahnya. Hal lain juga terkait antara lain dengan AD / ART BEM dimana bagi pengurus aktif tidak boleh mengikuti KKN (kuliah kerja nyata). Hal ini juga merepotkan mahasiswa karena harus memilih salah satu, aktif di BEM atau menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Karena beberapa hal inilah maka organisasi kemahasiswaan seperti BEM ini pernah mengalami periode diam, artinya tujuan berorganisasi tidak direalisasikan dalam bentuk program atau kegiatan demi pencapaian tujuan. Selama tak ada yang mendorong dengan suatu kemauan dan tekad kuat maka ia akan terus diam di tempat tanpa upaya berarti untuk mencapai tujuannya. Hal ini tentu bisa saja terjadi untuk sebuah organisasi non-profit dimana inersia diam tetap saja tak menyebabkan organisasi hilang atau bubar, namun hanya tak bergerak aktif.

Bagaimana di sektor bisnis? Bisakah kondisi diam tak membuat organisasi bisnis tersebut tetap eksis? Misalnya, sebuah pabrik mainan anak-anak yang kalah bersaing kemudian memberhentikan produksinya, apakah ia bisa tetap diam saja tanpa ambruk? Rasanya mustahil. Kenapa? Karea dalam organisasi bisnis prinsip dasarnya adalah terjadinya pertukaan nilai (value exchange) antara pembeli (customer) dengan penjual (produsen). Dalam bahasa bisnis, produsen haru tahu secara tepat apa yang dibutuhkan oleh customer nya sehingga ia berupaya memenuhi kebutuhan tersebut. Customer rela mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan manfaat dari produk yang dijual oleh produsen. Dalam hal mainan anak-anak tersebut, produsen memproduksi barang-barang yang tepat sesuai kebutuhan anak-anak dan customer “rela” membayar sejumlah uang tertentu untuk mendapatkan barang berupa mainan anak-anak tersebut. Ini adalah konsep bisnis yang sangat sederhana.

Pertanyaannya, apa bisa produsen tinggal diam dan tidak produksi lagi atau tak melakukan terobosan baru, misalnya melakukan pelayanan purna jual dari barang-barang yang telah dijual? Jawabannya tentu tinggal tunggu waktu produsen tersebut akhirnya akan terjungkal allias tutup karena kehilangan pendapatan dan harus membayar biaya pabrik dan gaji pegawai. Dari sini bisa disimpulkan bahwa sebuah entitas bisnis, sekali terbentuk, harus selalu tetap berupaya menjual produk atau jasanya ke pasar yang ia bidik untuk bisa menghidupi usahanya sekaligus meraup untung. Ini jelas merupakan kondisi ekstrim. Yang sering terjadi adalah justru produsen atau perusahaan yang biasanya sudah mapan melanjutkan usahanya dengan pola yang selama ini telah berjalan. Artinya, dari segi sumber daya perusahaan tersebut tidak lagi mau melakukan investasi, dan sari segi operasional perusahaan tersebut hanya menjalankan pola yang sudah rutin tanpa menyikapi kepekaan terhadap perubahan yang terjadi di pasar maupun dunia usaha pada umumnya.

Belum lama ini kita semua mengalami suatu perubahan drastis dalam tata cara kita menjalani kehidupan kita sebagai individu dengan hadirnya era digital yang biasa disebut dengan digitization. Perubahan cepat dalam pola dan gaya hidup ini berdampak langsung kepada banyak hal yang sifatnya memenuhi kebutuhan kita sehari-hari:

Taksi dengan sistem daring

Dulu kita selalu menelpon nomer tertentu untuk memesan sebuah taksi untuk mengantarkan kita ke tujuan tertentu dan biasanya masih dijanjikan antara 15 menit sampai dengan 30 menit. Saat menunggu, pada menit ke 20 kita menerima telpon kembali dari perusahaan taksi yang mengatakan bahwa taksi sedang dicari dan ditanyakan lagi ke kita apakah mau menunggu 15 menit sampai 30 menit lagi. Siklus ini berulang dan sayangnya, seperti yang pernah saya alami, pada menit ke 45 belum juga ada kepastian tentang ada tidaknya taksi dan akhirnya kita mencarinya dengan cara manual yaitu dengan “melambaikan tangan” di pinggir jalan. AKhirnya tak dapat taksi juga karena pada jam tertentu begitu sulit melihat ada taksi kosong yang melintas. Hal ini pernah saya alami dengan perusahaan taksi yang sudah terkenal di Jakarta. Memang harus saya akui, daerah di tempat tinggal saya, bukan merupakan sasaran empuk bagi taksi bahkan saya sering ditolak mentah dikarenakan supir taksi tak mau menjemput saya dikarenakan daerah macet.

Sekarang saya tak pernah mengalami kesulitan lagi dalam mencari taksi karena di gadget saya sudah terpasang dua aplikasi dari dua perusahaan teknologi dengan sistem daring (online) sehingga saya bisa memilih aplikasi mana yang jumlah taksi di sekitar saya paling banyak sehingga waktu penjemputan bisa di bawah 15 menit. Bahkan, tak jarang saya mendapatkan waktu jemput di bawah 3 menit karena ada taksi yang kebetulan melintas di komplek perumahan saya seperti yang baru saya alami kemarin (04/01/2017). Tidak hanya itu, saya bisa membandingkan aplikasi mana yang menawarkan ongkos lebih murah untuk rute perjalanan saya. Dengan adanya kemudahan ini maka saya menjadi lebih sering lagi menggunakan taksi daripada musti repot menyetir kendaraan sendiri. Apalagi, saya sering mendapatkan diskon diarenakan saya sering menggunakan aplikasi tertentu. Bila membawa kendaraan sendiri selain kena macet, saya juga paling malas mencari tempat parkir di gedung atau mall yang saya tuju. Untuk itulah saya semakin sering menggunakan taksi daring ini. Jadi, secara frekuensi, saya lebih sering lagi menggunakan taksi karena kemudahan dengan sistem daring ini. Artinya, ini merupakan additional volume dalam industri pelayanan transportasi yang artinya kehadiran teknologi memiliki dampak kepada membesarnya pasar dari yang sebelumnya sudah ada dengan sistem konvensional.

Perusahaan taksi yang masih mempertahankan dengan layanan konvensional harus berpikir keras melakukan terobosan baru untuk menggaet pelanggannya yang beralih dari konvensional ke sistem daring. Artinya ia harus melakukan investasi misalnya bekerja sama dengan penyedia aplikasi daring dan melakukan upaya restrukturisasi biaya operasionalnya agar mampu bersaing dengan perusahaan berbasis sistem daring. Hal ini juga memerlukan pola penanganan operasional yang berbeda dari cara-cara konvensional.

Belanja dengan sistem daring

Saya sudah menjadi pelanggan tetap Amazon.com sekitar sepuluh tahun yang lalu terutama untuk membeli barang-barang yang jarang ditemukan di Indonesia atau perlu waktu lama untuk tersedia di Indonesia, misalnya buku-buku keluaran terbaru, CD maupun DVD. Saya merasa nyaman belanja di Amazon karena memang benar-benar ada garansi uang kembali dan pasti barang ada. Sepanjang sejarah saya bertransaksi dengan Amazon, belum pernah kejadian barang saya tidak sampai bahkan pernah beberapa kali kejadian barang saya sampai dua kali. Mengapa terjadi? Karena bila batas waktu yang dijanjikan (4-6 minggu) barang belum terima, saya bisa kontak Amazon memberi tahu bahwa barang belum saya terima. Kemudian dengan sigap tanpa menanyakan papaun lagi, barang pengganti yang sama dikirimkan lagi ke saya dengan pengiriman super kilat. Yang terjadi kemudian, barang pengganti memang cepat sampai ke rumah saya dan kemudian beberapa hari kemudian saya juga menerima barang yang tadinya saya order sebelumnya. Akhirnya saya menerima dobel. Saya laporkan ke Amazon dan pihak Amazon merekomendasikan agar barang tersebut agar tidak dikirim ulang ke Amazon karena ongkir nya pasti mahal, namun saya diminta mendonasikan barang tersebut ke organisasi sosial dan saya diminta untuk tidak menjualnya. Luar biasa.

Saking asiknya saya dengan Amazon, saya tidak menyadari bahwa di negeri sendiri sudah ada sistem daring dalam hal belanja barang. Awalnya saya dengar dari kakak saya yang juga penggemar sepeda yang bercerita bahwa dia beli beberapa komponen sepeda melalui Buka Lapak. Saya awalnya tidak tahu apa itu Buka Lapak karena namanya agak aneh dan saya tak menyadari bahwa sebenarnya Buka Lapak ini seperti Amazon tapi versi lokal. Dengan berkembangnya waktu saya akhirnya mengenal BL ini dan mencoba mempelajarinya. Wah, ternyata luar biasa sekali karena BL ini menjajakan barang-barang dari UMKM secara daring. saya mulai mencoba memesannya dan ternyata pengirimannya dengan JNE selalu terjamin , tak lebih dari 3 hari bahkan seringkali hanya 1 hari. Saya tak perlu ulas bagaimana tentang BL ini namun satu hal yang pasti sekarang ini saya lebih suka belanja dengan sistem daring BL untuk berbagai macam kebutuhan barang yang saya tahu persis spesifikasi yang saya butuhkan. Bahkan saya senang sekali di BL saya bisa order kopi Bandung “Aroma” dengan harga yang bagus daripada saya mengantri di Jl. Banceuy Badung dimana antriannya tanpa ada yang mengontrol, sehingga pada main serobot. Dengan adanya BL saya tak perlu lagi antri, tingggal KLIK, barang sampe ke saya dalam 3 hari.

Kemudahan belanja seperti di era ini tak saya temukan sebelumnya, katakanlah dua puluh tahun yang lalu, dimana belanja harus pergi ke toko atau pusat perbelanjaan. Artinya apa? Bagi pedagang yang biasa dengan jalur konvensional, perlu memikirkan cara baru menyikapi perkembangan belanja dengan sistem daring ini. Saya melihat sekarang banyak pusat perbelanjaan yang sepi pembeli meski rame pengunjung. Mengapa? Sebagian pengunjung melakukan survei terlebih dahulu barang-barang yang ingin dibelinya kemudian dengan membuka gadget (HP atau tablet) memilih aplikasi yang tepat membeli barang tersebut secara daring dengan harga yang umumnya lebih murah daripada harga toko. Saya sendiri pernah mengalami tertarik pada sebuah spekaer blue tooth yang dipajangkan di sebuah toko gadget, kemudian saya iseng coba suaranya, ternyata bagus sekali. Harganya kemudian saya cari di gadget saya ternyata hanya Rp. 550.000 ,-dibandingkan harga di toko yang Rp. 740.000,- Tentu saya pilih order yang di gadget saya dimana jauh lebih murah namun saya harus menunggu 3 hari pengiriman. Tidak masalah.

Bisakah kita mengelak dari kemajuan teknologi? Tidak. Kita sendiri melihat dari kasus taksi dan berbelanja dengan sistem daring di atas bahwa perkembangan teknologi membuat semuanya menjadi lebih mudah baik bagi pelanggan maupun penyedia barang maupun jasa untuk melakukan pertukaran manfaat. Untuk selalu bisa bersaing sebuah perusahaan harus setiap saat jeli melihat pergeseran pola maupun gaya hidup yang terjadi di pelanggannya dan mencari terobosan-terobosan baru agar produk maupun jasanya tetap diminati. Sebuah perusahaan harus bisa mendobrak inersia organisasi yaitu kecenderungan untuk berorientasi kepada pola operasional yang berlaku hingga perusahaan ini bisa hidup sampai saat ini, enggan melihat peluang kedepan dan tidak melakukan investasi guna “meremajakan” (rejuvenate) model bisnisnya sehingga mengikuti perkembangan yang terjadi. Jangan sampai perusahaan terjebak dalam inersia organisasi, yaitu suatu keadaan dimana perusahaan menikmati cara kerja dengan model bisnis yang ada dan selama ini memberikan pendapatan yang menggiurkan (tak perlu perubahan karena sudah bagus) sehingga enggan berinvestasi. Inersia organisasi sebenarnya ada dua hal yaitu:  inersia sumber daya yang artinya tak mengembangkan sumber daya yang ada – baik itu SDM maupun infrastruktur – yang sebenarnya perlu investasi, maupun inersia rutinitas yakni sudah merasa puas dengan cara kerja yang sudah ada sehingga tak perlu mengembangkan cara kerja baru, padahal dunia telah berubah.

In the face of rapid or discontinuous external change, it is the organizational inertia that must be overcome if a firm is to survive. In a competitive situation where new players are entering the industry, it is the incumbents that are particularly susceptible to the downside of this inertia. In this case it is often referred to as incumbent inertia. (www.createadvantage.com)

(Menghadapi perubahan eksternal yang cepat atau  mDalam situasi dimana perubahan eksternal  yang begitu cepat atau terputus-putus, inersia organisasi harus diatasi agar perusahaan tetap bertahan. Dalam situasi kompetitif dimana pemain baru bermunculan, pemain lama biasanya berada pada posisi menurun dalam inersia ini. Inilah yang disbut dengan inesia pemain lama atau incumbent inertia.)