Diskusi membahas buku The Profiteers (2024) karya Christopher Markis yang mengkritik praktik bisnis yang mengambil keuntungan privat sambil mengalihkan biaya sosial dan lingkungan kepada pihak luar (externalities). Tiga narasumber — Dr. Ningky Sasanti Munir (akademisi/konsultan strategi), Pak Widhyawan (konsultan energi, dosen SBM ITB), dan Pak Buntoro (pengusaha manufaktur – MAK) — memberikan perspektif berbeda namun sepakat bahwa isu ini kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan ESG.
Inti Argumen Buku
- Konsep utama: Perusahaan meraup private profit tetapi mengalihkan biaya sosial dan lingkungan (public cost) ke masyarakat, konsumen, dan generasi mendatang.
- Contoh konkret: harga kopi murah menyembunyikan biaya deforestasi; baju konveksi murah menutupi upah buruh di bawah standar; ongkir gratis dibebankan kepada mitra pengemudi.
- Dua istilah kunci: Gaslighting (mengalihkan tanggung jawab sistemik ke konsumen, misal “daur ulang plastik dengan bijak”) dan greenwashing (label net zero/eco-friendly tanpa perubahan model bisnis nyata).
- Pertanyaan inti Markis: Bukan “is the company ethical?” melainkan “what costs does business externalize?” dan “how does the business model create profit?”
- Kelemahan buku: Bagian solusi (new logic) tidak memberikan resep yang jelas — hanya inspirasi berupa siklus create, restore, share, regenerate.
Perspektif Narasumber
Dr. Ningky (Akademisi/Konsultan):
- Buku ini memenangkan Axiom Award kategori etika bisnis; relevan untuk mata kuliah yang diajarkannya. 12
- ESG approach bersifat measure-report-reduce-communicate, sedangkan Profiteers mempertanyakan mengapa model bisnis itu sendiri masih menghasilkan eksternalitas — contoh: perusahaan air mineral tetap memproduksi 1 miliar botol plastik meski ESG compliant. 1314
- Distributional justice: Cost-benefit analysis agregat bisa positif, tetapi belum menjawab siapa yang menanggung biaya dan siapa yang menikmati manfaat. 1516
Pak Widhyawan (Konsultan Energi, Dosen SBM ITB):
- Elephant in the room di Indonesia adalah ekonomi biaya tinggi akibat rent-seeking dan korupsi, yang memaksa perusahaan mengambil jalan pintas (cut corners) termasuk mengabaikan lingkungan.
- ESG tidak cukup tanpa perbaikan ekosistem; insentif harus diselaraskan dengan perilaku yang diinginkan — harga karbon Indonesia hanya $2, jauh di bawah Singapura ($45).
- Kebijakan harga energi yang populis (batu bara di-cap $70, gas disubsidi) menciptakan anomali yang membebani PLN, Pertamina, dan akhirnya vendor.
Pak Buntoro (Pengusaha Manufaktur — MAK):
- Sejak awal mendirikan usaha, ia mengintegrasikan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari strategi, bukan sekadar CSR — dan ini terbukti menjadi competitive advantage.
- MAK membagikan beras kepada ~300 keluarga lansia di sekitar pabrik di Sleman sebagai bentuk tanggung jawab yang melekat, bukan kompensasi atas pencemaran.
- Pajak saja tidak cukup menutup biaya sosial yang ditimbulkan dunia usaha; pemerintah sebagai regulator yang korup adalah akar permasalahan.
Perdebatan Kunci
- Apakah negara bisa menjadi profiteer? Alan mengajukan pertanyaan: jika negara yang mendapat keuntungan dari biaya yang dihindari perusahaan, apakah negara juga bisa dikategorikan profiteer? — belum terjawab tuntas, dilanjutkan di after party.
- Siapa yang bayar di Indonesia? Sulit meng-pin point satu pihak karena rantai manfaat dan biaya saling tumpang tindih — contoh nikel di Sulawesi melibatkan masyarakat adat, kelas menengah, dan negara sekaligus.
- ESG vs. perubahan model bisnis: ESG bisa menjadi alat greenwashing jika tidak menyentuh akar model bisnis yang menghasilkan eksternalitas.
Pertanyaan Terbuka
- Bagaimana menghitung valuasi atas hilangnya biodiversitas atau martabat manusia dalam laporan keuangan?
- Apakah Asean Power Grid dan transisi energi terbarukan di Indonesia bisa terwujud tanpa reformasi ekosistem regulasi dan harga karbon?
- Siapa yang bertanggung jawab atas limbah medis sekali pakai di rumah sakit antara infection control vs. sustainability?
Kesimpulan Penutup
- Dr. Ningky: Dua pertanyaan wajib bagi setiap bisnis — “Who benefits?” dan “Who pays?” — eksternalitas harus diserap perusahaan, bukan dialihkan.
- Pak Widhyawan: Berbisnis secara etis adalah teori yang semua orang inginkan, tetapi sulit dijalankan selama ekonomi biaya tinggi dan ekosistem tidak kondusif belum dibenahi.
- Pak Buntoro: Sumber masalah adalah pemerintah yang korup sebagai regulator; tanggung jawab sosial yang konsisten justru menjadi keunggulan kompetitif jangka panjang.
RINCIAN PERCAKAPAN DARI TRANSKRIP
Berikut adalah uraian terperinci mengenai diskusi BREED #309 yang membedah buku The Profiteers: How Business Privatizes Profits and Socializes Costs karya Christopher Marquis (terbitan PublicAffairs, 2024; peraih Axiom Business Book Award). Sesi ini dipandu oleh Fuad A. Herya sebagai moderator, dengan ulasan utama dari Dr. Ningky S. Munir, serta tanggapan dari dua pembicara tamu (guest), yaitu Widhyawan Prawiraatmadja dan Buntoro.
1. Pendahuluan & Latar Belakang Acara (Moderator: Fuad A. Herya)
- Konteks & Pengantar: Fuad membuka sesi dengan menjelaskan bahwa buku The Profiteers mengangkat isu krusial mengenai “biaya tersembunyi” (socialized costs) yang selama ini diabaikan oleh korporasi ketika mengejar keuntungan (private profits). Isu ini mencakup kerusakan lingkungan, krisis iklim, upah murah, hingga barang murah yang menyembunyikan ongkos sosial sesungguhnya.
- Profil Para Pembicara:
- Dr. Ningky Sasantimunir (Reviewer Utama): Rektor Universitas MH Thamrin, pakar strategi korporasi & inovasi transformasi (PPM School of Management), lulusan Biologi ITB, MBA dari University of Texas at Arlington, serta Doktor Manajemen UI.
- Widhyawan Prawiraatmadja (Guest – Perspektif Kebijakan & Energi): Ekonom politik energi (PhD University of Hawaii, Teknik Industri ITB ’87), mantan Deputi SKK Migas, mantan Staf Khusus Menteri ESDM, mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC, Komisaris Independen PT Inno-Cycle Technology Group, serta dosen luar biasa SBM ITB.
- Buntoro (Guest – Perspektif Praktisi Manufaktur): Pendiri PT Mega Andalan Kalasan (MAK) di Sleman, Yogyakarta (produsen alat-alat kesehatan/hospital bed), serta technopreneur lulusan Teknik Elektro Trisakti.
2. Pemaparan Reviewer Utama: Dr. Ningky S. Munir
Dr. Ningky menjelaskan bahwa Christopher Marquis—penulis buku ini—bukanlah akademisi bisnis murni, melainkan seorang sosiolog (mantan profesor di Harvard, Cornell, dan Cambridge).
- Inti Masalah: Ilusi “Makan Siang Gratis” (Private Profit vs. Public Cost):
- Perusahaan mengklaim dan mengamankan laba bersih (private profit), namun mengalihkan risiko, limbah, dan biaya sosial (public cost) kepada masyarakat, konsumen, serta generasi mendatang (externalities).
- Beda Profit vs. Profiteering: Profit diciptakan dari nilai tambah nyata (value added) yang sah, sedangkan Profiteering adalah meraup untung maksimal dengan mengalihkan risiko/biaya secara masif kepada pihak luar.
- Contoh Riil: Secangkir kopi seharga Rp30.000 yang mengabaikan biaya pembabatan hutan; bisnis ayam goreng murah bertagline agama yang menunggak/mencicil gaji karyawannya; serta bencana Karhutla di Kalimantan dan banjir di Sumatera yang disebabkan oleh ekspansi eksploitatif korporasi.
- Dua Trik Korporasi: Gaslighting & Greenwashing:
- Gaslighting: Mengalihkan tanggung jawab sistemik ke individu (contoh: kampanye “kelola/daur ulang limbah plastik secara bijak”, padahal produsenlah yang memproduksi miliaran botol plastik).
- Greenwashing: Kampanye PR dengan label net-zero, sustainable, atau eco-friendly, sementara model bisnis intinya di belakang layar tetap ekstraktif dan eksploitatif.
- Jebakan Pengukuran (The Measurement Trap):
- Perusahaan hanya sibuk mengukur metrik finansial seperti Revenue, EBITDA, atau capaian akademis internal, tetapi menutup mata terhadap hal-hal yang financially invisible seperti kesehatan pekerja, ketimpangan sosial, dan kerusakan keanekaragaman hayati.
- Pola Pikir Baru (Old Logic vs. New Logic):
- Old Logic: Ekstraksi \(\rightarrow\) Produksi \(\rightarrow\) Jual \(\rightarrow\) Profit \(\rightarrow\) Buang limbah ke publik.
- New Logic: Siklus ganda (double cycle) berbasis create, restore, share, dan regenerate.
- Pertanyaan utamanya bukan lagi “Apakah bisnis boleh cari rugi?”, melainkan “How should business make profit?” (Bagaimana cara bisnis menghasilkan keuntungan secara beretika).
3. Pandangan & Tanggapan Widhyawan Prawiraatmadja
Widhyawan menanggapi buku ini dari sudut pandang ekonomi politik dan kebijakan ekosistem Indonesia:
- Teori Shareholder vs. Stakeholder:
- Berbeda dengan Milton Friedman (Shareholder Theory) yang menyatakan tugas tunggal korporasi hanya mencetak profit dan membayar pajak, Edward Freeman (Stakeholder Theory) menegaskan tanggung jawab korporasi harus mencakup komunitas lokal dan ekosistem di sekitarnya.
- The Elephant in the Room: Ekonomi Biaya Tinggi (High-Cost Economy):
- Di Indonesia, banyak perusahaan tidak berniat buruk sejak awal. Namun, mereka tertekan oleh ekosistem yang tidak kondusif, maraknya rent-seeking (pemburu rente), dan korupsi yang memicu ekonomi biaya tinggi.
- Akibatnya, untuk bertahan hidup (survive), perusahaan terpaksa mengambil jalan pintas (cut corners) dengan mengabaikan pengelolaan lingkungan atau menekan gaji buruh.
- Anomali Kebijakan Energi & Insentif:
- Kebijakan energi populis (seperti mematok harga batu bara $70 atau menahan harga listrik murah demi politik) justru merusak insentif konservasi energi.
- Di PT Inno-Cycle Technology Group (pabrik daur ulang botol plastik menjadi serat poliester tempat Widhyawan menjadi komisaris), pemerintah belum memberikan insentif ekonomi yang cukup bagi industri daur ulang.
- Harga karbon di Indonesia masih sangat rendah ($2/ton di undang-undang) dibanding Singapura ($45/ton), sehingga insentif transaksi kredit karbon belum berjalan efektif.
4. Pandangan & Tanggapan Buntoro (Pendiri PT MAK)
Buntoro membagikan pengalaman konkretnya sebagai pengusaha manufaktur alat kesehatan di Sleman:
- Pajak Tidak Cukup Menutup Biaya Sosial:
- Pembayaran pajak korporasi (yang mencakup ~85% APBN) tidak akan pernah cukup untuk menutupi kehancuran lingkungan dan dampak sosial yang ditimbulkan oleh bisnis.
- Tanggung Jawab Sosial Sejak Hari Pertama (Competitive Advantage):
- Buntoro menolak pola pikir bahwa tanggung jawab sosial baru dilakukan setelah perusahaan profit. Di PT MAK, kepedulian sosial dijadikan identitas dan keunggulan bersaing (competitive advantage) sejak awal mendirikan pabrik.
- Contoh Inisiatif Riil: PT MAK memotong sebagian jatah beras harian dari manajemen/karyawan untuk mendistribusikan \(\approx\)1.800 kg beras setiap bulan kepada 300 keluarga lansia di sekitar Sleman, serta memperjuangkan izin UMKM Center Sleman selama 4 tahun.
- Akar Masalah: Masalah utama di Indonesia terletak pada regulator/pemerintah yang korup serta kegagalan dalam melakukan pendalaman teknologi (technology deepening) industri nasional.
5. Sesi Tanya-Jawab & Diskusi Interaktif
- Pertanyaan Hendri Ma’ruf (Kapitalisme AS vs. Skandinavia/Jepang):
- Pertanyaan: Apakah profiteering ini terjadi karena rumah besarnya adalah kapitalisme liberal AS, berbeda dengan Skandinavia/Jepang yang ketat?
- Jawaban Ningky: Buku ini tidak boleh direduksi sekadar menjadi buku CSR. Di AS, CSR sering dijadikan kedok “memberi kembali” (give back) atas kerusakan yang dibuat. The Profiteers justru bertanya mendasar: biaya apa yang dialihkan oleh model bisnis tersebut ke luar (what cost does business externalize?).
- Pertanyaan Fuad A. Herya mengenai ESG:
- Widhyawan: ESG sering kali hanya dipakai sebagai syarat formalitas agar mendapat bunga pinjaman bank lebih murah. Tanpa membenahi ekosistem dasar (High-Cost Economy), ESG berisiko menjadi ajang pencitraan.
- Ningky: Pendekatan ESG adalah “Measure, Report, Reduce, Communicate”, sedangkan The Profiteers mempertanyakan “Mengapa model bisnismu sejak awal harus memproduksi 1 miliar botol plastik sekali pakai?”.
- Pertanyaan Gatot Widayanto (Kasus Pabrik Sepeda Polygon/Sudjanto):
- Pertanyaan: Jika perintis usaha pemula terlalu terbebani oleh pemikiran biaya eksternalitas ini, bukankah bisnis jadi sangat rumit dan tidak akan pernah jalan?
- Jawaban Ningky: Profit bukan musuh. Bikin pabrik sepeda dan cari profit itu sangat bagus. Yang dikritik Marquis adalah jika pengusaha menyebut tindakan membuang limbah kimia ke sungai atau memotong gaji buruh di bawah standar layak sebagai bentuk “efisiensi biaya”.
- Pertanyaan Alan Perdana (Siapa Profiteer di Negara Berkembang / Kasus Nikel & Sawit):
- Pertanyaan: Di Indonesia (kasus nikel Sulawesi/subsidi energi), apakah negara atau masyarakat kelas menengah juga bisa dikategorikan sebagai profiteer karena menikmati pertumbuhan ekonomi dari biaya sosial yang dialihkan?
- Jawaban Ningky (Distributional Justice): Melalui Cost-Benefit Analysis, agregat manfaat ekonomi nikel/sawit mungkin terlihat positif. Namun, analisis ini tidak menjawab siapa yang menikmati manfaat (pemegang saham, pemerintah melalui pajak) vs. siapa yang menanggung biayanya (masyarakat lokal yang kehilangan hutan/kesehatan).
- Kasus Sawit: Indonesia adalah produsen sawit terbesar dunia. Manfaatnya besar (ekspor, devisa, kerja), tetapi biaya sosialnya (deforestasi, kabut asap, konflik lahan) dialihkan ke masyarakat lokal. Pemerintah bertanggung jawab besar karena bertindak sebagai desainer dan penegak aturan main (designer & enforcer of the rules of the game).
6. Kesimpulan Utama Sesi
- Dua Pertanyaan Kunci: Setiap pemimpin dan pengusaha wajib menanyakan dua hal sebelum mengeksekusi strategi bisnisnya: Who benefits? (Siapa yang mendapat manfaat?) dan Who pays? (Siapa yang menanggung biaya tersembunyinya?).
- Benahi Ekosistem: Berbisnis secara beretika membutuhkan ekosistem hukum dan regulator yang bersih. Pemerintah harus menghapus ekonomi biaya tinggi agar pengusaha tidak terdesak mengambil jalan pintas yang merusak lingkungan dan masyarakat.
- Eksternalitas Harus Diserap: Perusahaan tidak boleh mengklaim efisiensi atau profit semu dari biaya-biaya sosial yang sebenarnya dipindahkan ke pundak publik dan generasi mendatang.


