Feeds:
Posts
Comments

Apa Masalahnya?

Ini sebenernya lanjutan dari diskusi sebelumnya dimana kita harus tahu tujuan (goal) kita. Setelah tahu, kemudian perlu dibahas permasalahan yang terkait dengan pencapaian dari apa yang ingin diraih (pertanyaan sebelumnya, yang pertama).

Apa masalahnya?

Seringkali profesional muda bila ditanyakan hal ini maka akan keluar dengan banyak hal yang menurut saya lebih bersifat pada keluahan ketimbang masalah, misalnya:

Ya, namanya aja perusahaan keluarga, ya begini ini.
Sikap kerja di sini negatif.
Tak ada penghargaan bagi karyawan.
Kita hanya disuruh kerja seperti kuli.
Kita ini buruh intelektualnya pengusaha.
Pengusaha hanya memikirkan laba.
Kesejahteraan karyawan tak dipikirkan.
Kita disuruh kerja pakai kacamata kuda.
Hari Sabtu dan AHad pun disuruh kerja.
Boss nya terlalu otoriter.
Tidak ada leadership di sini.
Dst.
Dst.

Kalau dilanjutkan mungkin masih ada segudang lagi kata-kata sejenis itu. Ya …kata-kata tersebut lebih bersifat keluhan daripada masalah.

Lalu, apa bedanya keluhan dengan masalah?

Keluhan bersifat melindungi diri dari keadaan di luar dirinya yang tak sesuai dengan harapan. Sedangkan masalah adah hal-hal terkait hambatan atau tantangan yang dihadapi untuk bisa mencapai tujuan. Misalnya tujuannya adalah ingin berkarir sebagai profesional hingga menjadi Manager – Vice President – CEO, maka keluhan tersebut di atas (bila semuanya benar) bisa menjadi begini:

Bagaimana bisa berkinerja dengan baik dalam lingkungan perusahaan keluarga yang tidak transparan dan pengambilan keputusan berbasis kekeluargaan?, atau

Bagaimana bisa bekerjasama dengan Boss yang ego-centric?, atau

Bagaimana bisa menjadi Top Performer dalam situasi dimana kesejahteraan karyawan tak diperhatikan oleh manajemen perusahaan?

Dari sini terlihat pentingnya perumusan masalah (problem definition) seperti dikatakan pepatah ini:
“A problem clearly stated is a problem half solved.” – Dorothea Brande (1893 – 1948), American Writer and Editor

Enak bukan, dengan mendefinisikan masalah dengan benar maka setengah solusinya terjawab.

Apa masalah Anda?


Link terkait sebelumnya:
https://thevaluequest.wordpress.com/2018/07/16/apa-yang-ingin-anda-raih/

Advertisements

Pagi ini saya menerima telpon dari nomor yang tak terdaftar di kontak saya yaitu 021291835xx. Sebenernya nomor ini beberapa kali sudah hubungi saya sekurangnya 2 pekan terakhir ini namun selalu “missed” karena saya sedang meeting atau alasan lainnya. Pagi ini saya angkat dan suara wanita terdengar di sebelah sana. Intinya dia menawarkan keanggotaan Accor Hotel. Saya sudah sering sekali menerima telpon telemarketing dari tim Accor ini dan selalu saya jawab bahwa saya lebih suka mempelajari terlebih dahulu via email, bukan via telpon. Rata-rata mereka kecewa dengan jawaban tersebut dan terbukti memang email tidak segera saya terima. Baru beberapa pekan kemudian saya terima emailnya namun tak merujuk percakapan saya sebelumnya. Bisa jadi memang email tersebut automatically generated email yang tersebar ke siapapun yang pernah menginap di jaringan Accor Hotel (pada saat check ini bukankah kita diminta email address?).

Pagi ini saya jawab sopan ke mbak nya:

“Oh dari Accor ya mbak. Maaf sekali saya belum sempat mempelajari email yang dikirim ke saya. Maaf sekali. Nanti saya baca dan saya balas email tersebut ya mbak”

“Ohm … Jadi … Bapak sudah pernah menerima penawaran Accor Hotel pak?”

“Sudah mbak, beberapa kali …saya lupa siapa yang nelpon terakhir, kalau tidak salah Pak Roni namanya…?”

“Oooooooo …..” (suara di seberang sana seperti lemas mengetahui bahwa saya sudah pernah dikontak oleh orang lain dari Accor Hotel juga, dan nada suaranya sudah tak semangat lagi seperti ketika tadi mengucapkan salam pas telpon saya angkat).

“Terima kasih diingatkan mbak, nanti saya baca emailnya,” lanjut saya untuk mengakhiri pembicaraan.

“Baik pak ….” (lemes banget suaranya ….)


Dari pembicaraan singkat ini terlihat sekali si mbak ini tak semangat lagi begitu mendengar bahwa saya sudah dihubungi telemarketer lainnya dari Accor. Kelihatan sekali tak ada sikap “customer centric” misalnya dengan menanggapi email yang sudah saya terima, misalnya:

“Wah sayang sekali pak Gatot … di email tersebut kami meenjelaskan manfaat luar biasa dengan menjadi keanggotaan Accor pak ….Mungkin ada baiknya Bapak luangan waktu 2 menit saja membacanya pak …”

Sayang percakapan tersebut tidak keluar sehingga saya pun juga tak tertarik membaca emailnya setelah selesai pembicaraan telpon.

Mbak tadi jelas berprinsip bahwa Customer Focus (centric) hanya berlaku bila ada untungnya bagi saya pribadi. Buat apa saya membantu customer kalau dia sudah dikontak sebelumnya oleh orang lain (Roni)? Untungnya buat saya apa dong, karena nanti yang tercatat adalah yang dulu mengirim email bukan saya.

Karena bisa jadi di perusahaan tersebut account management nya ditentukan pada awalnya siapa yang berhasil membuka percakapan via telpon dengan calon customer, sehingga bagi mbak tadi pagi tak ada untungnya dia membantu saya sampai akhirnya “close the deal” menjadi anggota Accor.

Bagaimana menurut Anda?

Masih ingat kisah dilema profesional muda yang sebelumnya kita bahas? Pada saat karir moncer di perusahaannya sekarang (perusahaan A), seorang profesional muda mendapat penawaran menarik sesuai passion nya dari perusahaan B.

Semuanya tergantung dari apa yang ingin ia raih dalam karir atau lebih luas lagi apa tujuan hidupnya. Bila ia bisa menjawab ini dengan jelas maka akan mudah menetapkan pilihannya.

Apa yang ingin Anda raih?

Sayangnya, menetapkan tujuan merupakan hal yang sulit bagi sebagian bahkan banyak orang. Dalam setiap sesi seminarnya Tony Robbins (seorang motivator taraf internasional) selalu memaksa orang untuk mulai menetapkan tujuannya saat ini karena kalau tak punya tujuan, apa artinya hidup ini. Benar sekali Tony, kalau hidup tanpa tujuan maka yang terjadi ya kita luntang-luntung ikut arah angin, mana yang enak ya di situ nemplok. Begitu pentingnya penetapan tujuan ini sehingga di beberapa seminarnya Tony Robbins menekankan misalnya dengan kalimat seperti ini:

Apa yang Anda inginkan?
Apa tujuan Anda dalam hidup ini?
Apa saja?
Apa yang membuat Anda begitu semangat melakukannya?
Apa yang ingin Anda lakukan dan membuat Anda begitu senang melakukannya?
Apa yang ingin Anda kontribusikan kepada orang lain?
Kalau sudah mentok sulit mengungkapkan, coba ingat ketika Anda masih kecil, apa yang Anda inginkan ketika masih kecil belum tahu dunia?
Dalam hal saya (Tony) saat masih kecil saya ingin sekali menjadi Arkeolog.
Apa yang Anda inginkan?

Masih banyak kalimat atau ungkapan yang ia gunakan untuk merangsang para peserta seminar segera memutuskan apa yang mereka tuju dalam hidup ini.

Sebuah survei terhadap 2.000 responden pekerja yang dilakukan Rasmussen College menyimpulkan bahwa tujuan (career goals) bergeser / berubah dengan bertambahnya usia. Pada usia muda, kebanyakan berkisar pada “Melakukan yang saya suka” dan kemudian bergeser pada “job security” dan pada selanjutnya kembali lagi ke “melakukan yang saya suka”.

Bagaimana dengan Anda?

Link terkait sebelumnya:

https://thevaluequest.wordpress.com/2018/07/12/dilema-profesional-muda/

 

Hasil riset ini menarik, meskipun ini di AMerika:

https://hbr.org/2018/07/research-the-average-age-of-a-successful-startup-founder-is-45

Screenshot 2018-07-13 11.20.27

Kasus #001 Dilema Profesional Muda

Seorang profesional muda yang sedang moncer karirnya di perusahaan A, tiba-tiba harus berpikir keras ketika menghadapi pilihan. Hal ini karena ia sedang mendapat penawaran bekerja di perusahaan B. Dari segi gaji, memang ada peningkatan meski tidak signifikan. Yang membuat dia kepincut adalah: perusahaan B ini lini usahanya sangat klop dengan apa yang ia cita-citakan – bergerak di bidang teknologi. Sedangkan di perusahaan A ini meski karir lancar, secara lini-usaha sebenernya bukan yang ia cita-citakan sebelumnya | namun karena dulu yang menerima adalah perusahaan ini, dia lakoni saja. Dan ternyata ia bisa melakoni dan karirnya bagus; dalam waktu 3 tahun sudah menjadi Manager.

Apa yang harus ia lakukan?

Kalau ini terjadi pada Anda, apa yang Anda lakukan?

Screenshot 2018-07-19 13.35.50

From Pinterest :

Success vs Unsuccess

Menarik sekali artikel ini. Saya ringkas di bawah ini:

5 Mindsets - landscape