Feeds:
Posts
Comments

image

Tentu saja tak mungkin bisa mengatasi tantangan tanpa perubahan. Contohnya sudah banyak. Soichiro Honda rela berkorban hidup di Amerika dengan kondisi pas-pasan bahkan menginap di lantai penginapan ber ramai-ramai dengan timnya yang ingin mempelajari pasar Amerika untuk produknya. Bahkan mereka tak canggung musti merubah strateginya dari memasarkan mobil sebagai rencana awal, menjadi memasarkan sepeda motor. Hal ini mereka sadari karena tak mungkin pada saat itu bisa menembus pasar mobil yang sudah dikuasai oleh produsen dari Detroit. Akhirnya mereka memasarkan Honda Cub sebuah sepeda motor ringan 50 cc dengan target pasar ibu rumah tangga sebagai alat tranportasi bila belanja ke pasar. Melalui motor inilah nama Honda dikenal di Amerika.

Kolonel Sanders musti berkali-kali melakukan perubahan ketika menawarkan resep ayam goreng KFC ke restoran-restoran yang ada sampai ia mengalami penolakan lebih dari seribu (1000) kali. Kebanyakan dari kita sudah menyerah pada penolakan ke 3 atau bahkan pertama. Sanders yang kala itu sudah berusia di atas 60 tahun masih ulet menawarkan resepnya.

Masih banyak contoh lainnya. Sudah siapkah Anda berubah?

Resensi Buku

who cares winsBeberapa hari belakangan ini di media sosial sedang ramai dibahas sebuah berita dengan tajuk “Shalat Jumat di Basemen Gedung, Sekuriti Bank Danamon Medan Dipecat”. Siapapun yang membaca judul ini tentu tersentak kaget mengenai topik yang sensitif dan menyangkut nama besar sebuah institusi, yakni Bank Danamon. Bagian dari berita dari tautan (link) yang disebarkan tersebut bunyinya:

Hendri Waluyo, sekuriti Bank Danamon Medan, Jalan Diponegoro, harus mengalami nasib pahit karena melaksanakan shalat Jum’at dan dipecat manajemen bank. Pada Jumat 8 Mei 2015 lalu, ia melaksanakan shalat Jum’at di basemen gedung tempatnya bekerja tersebut. Sedangkan tugas pengamanan dilakukan oleh 4 sekuriti yang lainnya.

Seperti dikutip Dinamika Rakyat, Hendri Waluyo yang merupakan komandan regu pengamanan Bank Danamon melaksanakan shalat di gedung yang sama dengan bank tempatnya bekerja.

“Usai saya melaksanakan shalat Jumat (8/5/2015) kemarin, saya dipanggil Pak Syaiful selaku CSM. Dengan nada keras dan terkesan arogan Syaiful memaksa saya berhenti sebagai security hari itu juga,” terangnya.

Hendri sempat sempat bertanya kepada pimpinan Corporate Safety Management Bank Danamon itu apa kesalahan dan perbuatannya sehingga diberhentikan, padahal dia cuma melaksanakan shalat Jumat, itu pun di basemen gedung.

“Selaku Danru dilarang meninggalkan tugas, kamu tidak punya tanggung jawab. Hari ini juga kamu saya kembalikan ke PT Bravo, disana saja kamu banyak-banyak shalat, dan mengadulah kepada Tuhanmu,” ujar Hendri menirukan ucapan Syaiful. PT Bravo adalah perusahaan penyalur tenaga kerja pengamanan.

Bila kita ingin membahas berita ini, tentu tak akan ada habisnya karena pada kenyataannya beberapa orang yang share tautan ini di media sosial telah dikomentari oleh banyak orang yang merupakan teman dari orang yang melakuan share. Ini hanya sebagai contoh nyata dari apa yang dikatakan oleh David Jones, penusli buku “Who Cares Wins” yang ia terbitkan pada Desember 2011 yang lalu. Memang bagi saya sudah telat memilikinya karena baru saya beli hari Sabtu lalu (16 Mei 2015) karena penasaran melihat judul dan ulasannya. Ternyata kandungannya bagus sekali dansaya bisa langsung memahami isinya ketika membaca pengantar oleh penulisnya.

Menurut Jones, saat ini dunia bisnis dalam The Era of Damage sehingga sebuah perusahaan yang ingin tetap bertahan harus memikirkan dengan baik langkah-langkah strategisnya. Yang ia maksudkan di sini adalah, sebuah perusahaan tak bisa lagi hanya berorientasi kepada profit finansial karena dunia bisnis sudah mengalami perubahan mendasar. Sepertinya kita sering mendengar hal ini dan cenderung menjadi suatu hal yang klise apalagi kalau ujung-ujungnya adalah perlunya fokus kepada pelanggan. BUKAN! Bukan ini yang dimaksud oleh Jones. Justru ia secara tajam mengulas bahwa siapapun di dalam lingkungan perusahaan baik internal maupun eksernal bisa mempengaruhi eksistensi sebuah perusahaan. Pengaruh itu bisa positif, artinya membuat nama perusahaan semakin harum yakni semakin dikenal sebagai perusaaan yang baik dan peduli; atau bisa juga negatif yang bahkan bisa menghancurkan reputasi perusahaan dalam hitungan menit.

Secara elaboratif Jones mengulas peran media sosial – baik itu Facebook, Twitter, blog atau lainnya – yang semakin besar pengaruhnya dalam reputasi perusahaan. Dinding pembatas antara perusahaan dengan lingkungannya telah runtuh dengan semakin maraknya media sosial dengan jumlah pengguna yang semakin meroket tajam. Sebuah opini dari seorang karyawan, misalnya, di media sosial bisa membentuk suatu persepsi publik terhadap perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan yang tak berperilaku baik akan sangat rentan terhadap terbentuknya opini publik.

Kembali kepada berita terkait Bank Danamon tersebut, kita sudah bisa megambil kesimpulan yang berragam terhadap Danamon sebagai brand. Terlepas benar tidaknya apa yang dikatakan satpam (Hendri) adanya tautan tersebut di media sosial sudah merupakan pembentukan citra negatif dari Danamon. Meskipun nantinya akan muncul pembelaan, namun sebelum membaca pembelaan tersebut publik sudah punya pola pikir “sudah pasti akan membela agar nama Danamon tak tercemar”. Sehingga ini sudah kasep (telat – red.) karena nama Danamon telah lebih dulu tercemar. Inilah yang disebut oleh Jones dengan The Era of Damage. Begitu mudahnya sebuah perusahaan runtuh di era ini.

Dalam buku ini, Jones menguraikan contoh riiil yang benar-benar telak dan hampir semua orang paham, misalnya kasus pencemaran minyak yang tumpah dari tanker BP di lautan pada tahun 2010 yang lalu. Begitu ramainya kecaman dari berbagai pihak terkait kejadian yang merupakan isu lingkungan hidup yang dewasa ini makin rawan. Dari kasus ini di media sosial Twitter muncul akun @BPGlobalPR yang diawaki oleh orang yang menamakan dirinya Leroy Stick. Yang menarik dari ulasan Jones ini adalah kecaman dari Leroy Stick ini memiliki jumlah pengikut (follower) 190.000 sedangkan PR resmi dari BP hanya 18.000 orang. Dari segi kuantitas saja sudah jelas bahwa pihak luar lebih punya daya daripada pihak BP. Yang menarik adalah twit dari Leroy Stick dimana menyoroti lemahnya tindakan nyata dari BP tentang bagaimana mengatasi pencemaran tersebut sehingga semua penjelasan resmi dari BP dianggap sebagai bualan belaka tanpa tindakan nyata. “Kalau Anda ingin memiliki brand yang baik, milikilah brand yang terhormat”, demikian twit dari Leroy Stick.

Kasus lainnya yang diuraikan oleh Jones di buku ini terkait negeri kita tercinta, Indonesia. Kasusnya adalah mengenai Nestle dimana salah satu produknya, Kit Kat, ternyata suplai bahan bakunya menggunakan pemasok yang memiliki ladang kelapa sawit luas. Untuk prosesnya, pemasok ini harus menebang hutan sehingga mendapat kecaman keras dari pemerhati dan aktivis lingkungan hidup. Akhirnya kontrak dengan pemasok tersebut dibatalkan oleh Nestle. Bila tak dibatalkan, bakal terjadi kerusakan parah terhadap brand Nestle di tingkat global maupun nasional.

Buku ini sangat menarik dicermati oleh pebisnis maupun mereka yang berkecimpung di bidang komunikasi maupun pemasaran. Perusahaan harus bisa menunjukkan perilaku nyata yang bagus, bukan yang “kelihatan bagus” karena hebatnya komunikasi. Untuk itu Jones menyarankan tiga prinsip yang harus ada dalam setiap perusahaan: transparency, authenticity dan speed.

Buku yang sangat layak dibaca!

Leadership

20042008743

image


Gambar di atas benar sekali karena seringkali kita menjumpai permasalahan dengan cara pandang yang berbeda. Namun, inilah justru indahnya perbedaan karena dari dialog yang konstruktif terkait perbedaan ini justru menghasilkan ide yang cemerlang. Contohnya banyak sekali.

Purpose

image


Bagus untuk direnungkan.

image


Sungguh merupakan kehormatan tersendiri bagi saya untuk bisa ikut mendengarkan dan belajar langsung dari pak Teddy P Rahmat yang dulu saya kenal sebagai sosok yang sukses sebagai CEO Astra International. Siang ini tadi di Hotel Gran Melia Jakarta beliau sebagai pembicara utama dalam acara “Best Practice Sharing and Learning”. Saya banyak sekali belajar dari beliau tetang bisnis dan karir dan berikut ini catatan saya sambil mendengarkan tutur kata beliau yang humble :

  1. Pak TPR memulai pembicaraan dengan mengatakan bila kita main tenis maka yang kita bicara total game atau berapa bagus kita bermain back hand atau fore hand tentu saja kita bicara total game, bukan? Yang akan saya sampaikan pada siang hari ini (acara memang digelar siang hari mulai pukul 13:45 – red.) bukan apa-apa selain total insight berdasarkan pengalaman-pengalaman saya dan nanti silakan tanya mengenai apa saja, termasuk strategy maupun culture.
  2. Satu hal yang perlu dicatat terhadap apapun yang saya ceritakan, semuanya tak bisa dipungkiri bahwa saya punya satu hoki yang tak bisa dipungkiri yakni saya ini keponakannya pak William. Ini memang saya akui sebagai hoki karena ceritanya bisa lain lagi kalau saya bukan keponakan pak William. Saat itu saya lulus ITB tahun 1968 pada bulan Juli dan beliau bilang ke saya: “Kamu bantu saya dagang heavy equipment” kaena peralihan dari Soekarno ke Soeharto akan banyak peluang di HE. Untuk itu saya disuruh pergi ke Belanda ke Caterpillar. Kantor kita saat itu di Juanda III no 11 dimana kalau malam berubah fungsi menjadi kamar tidur.
  3. Kalau Anda mau bisnis, carilah yang “anginnya lagi gede” misalnya seperti ketajaman Om Willem melihat peluang HE saat kondisi transisi pemerintahan. Saat itu Caterpillar sudah diambil orang dan kemudian kita coba Allis-Chalmers yang sayangnya brand nya tak sekuat Caterpillar. Kemudian ada lagi Komatsu yang secara deal bisnis lebih banyak menawarkan peluang baru.
  4. Pelajara lainnya adalah “ciptakan keunikan”. Coba lihat itu ALfamart yang filosofi bisnisnya adalah mendekatkan diri kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sekarang jumlahnya sudah 13 ribu. Bahkan sudah akan masuk pasar Philippines segala. Ciptakan competitive edge.
  5. Pelajaran ketiga adalah “sca;ing up the perfect business”. Susahnya seringkali apa yang kita mau tak menjadi kenyataan di lapangan. Itulah pentingnya EXECUTION; harus pandai menjalankannya. Management is basically about process management dan standarisasi. Proses repetisi harus terjadi dan hal ini tak mungkin terjadi tanpa IT (information technology).
  6. Untuk itu pilihlah orang (People) yang tepat dan dalam cara memilihnya urutannya harus seperti ini: characters – passion – competence (CPC) dan jangan dibalik urutannya karena percuma punya orang pinter namun tak memiliki integritas. Karakter merupakan hal pertama yang harus ada dulu.
  7. Saya ada kisah menarik tentang culture saat kita membeli BTPN Syariah di Semarang. Awalnya adalah BPR dengan nasabah ibu2 sebanyak 1.6 juta ibu2. Bayangkan dalam 3 tahun sudah punya 1.6 juta nasabah dan saya senang bahwa manajemennya memiliki belief yang kuat bahwa “We can change Indonesia”. Bayangkan kalau setiap ibu ini memiliki keluarga katakanlah 3-4 orang, maka sudah 5 juta orang jkena dampak dari bank ini. Keyakinan We will change Indoesia ini luar biasa sekali dan merupakan culture di BTPN Syariah. Jangan hanya bisa nyuruh orang kerja. CEO / leader harus bisa memberi contoh: walk the talk, walk the walk. saya sendiri tak pernah datang telat ke kantor selama karir saya kecuali sakit atau ke luar negeri. Ini penting sekali.
  8. Jangan suka membatasi diri sendiri. Yang terpenting adalah Cara Berpikir kita.

Promo Bersayap

Di sebuah gerai McD seorang pembeli ngotot minta pesanannya sesuai dengan apa yang ditampilkan di foto dan terpampang jelas bahwa kopinya disajikan dalam cangkir beling (bukan plastik). Baristanya mencoba menjelaskan dengan bahasa berbunga-bunga bahwa yang penting isinya sama, bukan tempatnya. Si pembeli tak mau terima dan terjadi adu argumentasi panjang hingga pembeli yang mengantri lainnya protes.
Starbucks kemarin (15 Desember) mengirim email kepada pemegang kartunya bahwa pada hari tersebut pukul 15:00 sd 19:00 bisa membeli minuman apa saja dengan harga 50%. Tentu menarik sekali. Ternyata begitu email dibuka, ada syaratnya: harus beli makanan yang tersedia di Starbucks terlebih dulu.
Mengapa ya PROMO kok mesti bersayap begitu? Apa ini yang disebut dengan Marketing GIMMICK? Mbok yao kalau ngasih diskon itu yang ikhlas …mbok yao kalau ngasih pesanan itu yang sesuai foto (kasus McD) ….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.