The Joy of Writing | Psychology Today https://share.google/cwLl7Wv0mMBZFoTUj
The Joy of Writing | Psychology Today
September 25, 2026 by Gatot Widayanto
Posted in Life, Thoughts | Leave a Comment »
Buku: A Mind for Numbers
September 25, 2026 by Gatot Widayanto
Table of Contents (English)
A Mind for Numbers: How to Excel at Math and Science (Even If You Flunked Algebra) karya Barbara Oakley, Ph.D.:
- Foreword by Terrence J. Sejnowski
- Preface by Jeffrey D. Karpicke
- Note to the Reader
- Chapter 1: Open the Door
- Chapter 2: Easy Does It: Why Trying Too Hard Can Sometimes Be Part of the Problem
- Chapter 3: Learning Is Creating: Lessons from Thomas Edison’s Frying Pan
- Chapter 4: Chunking and Avoiding Illusions of Competence: The Keys to Becoming an “Equation Whisperer”
- Chapter 5: Preventing Procrastination: Enlisting Your Habits (“Zombies”) as Helpers
- Chapter 6: Zombies Everywhere: Digging Deeper to Understand the Habit of Procrastination
- Chapter 7: Chunking versus Choking: How to Increase Your Expertise and Reduce Anxiety
- Chapter 8: Tools, Tips, and Tricks
- Chapter 9: Procrastination Zombie Wrap-Up
- Chapter 10: Enhancing Your Memory
- Chapter 11: More Memory Tips
- Chapter 12: Learning to Appreciate Your Talent
- Chapter 13: Sculpting Your Brain
- Chapter 14: Developing the Mind’s Eye through Equation Poems
- Chapter 15: Renaissance Learning
- Chapter 16: Avoiding Overconfidence: The Power of Teamwork
- Chapter 17: Test Taking
- Chapter 18: Unlock Your Potential
- Afterword by David B. Daniel, Ph.D.
Rincian Bagian Pendahuluan dan Bab 1: Open the Door
Bagian pendahuluan buku ini terdiri dari prakata pakar, catatan untuk pembaca, serta Bab 1 (Open the Door) yang meletakkan fondasi transformasi berpikir:
1. Foreword & Preface (Prakata dari Para Pakar)
- Buku Petunjuk untuk Otak (User’s Manual): Terrence J. Sejnowski menekankan bahwa otak manusia memiliki kemampuan luar biasa tetapi tidak dilengkapi dengan buku petunjuk. Buku ini hadir sebagai panduan praktis untuk belajar secara efektif dan menjadikan proses belajar sebagai petualangan, bukan beban berat.
- Bahaya “Labor in Vain” & Ilusi Kompetensi: Jeffrey D. Karpicke membeberkan bahwa banyak pelajar menggunakan strategi pasif seperti membaca ulang catatan (passive rereading). Hal ini menciptakan ilusi kognitif seolah materi sudah dikuasai karena terasa familiar, padahal ingatan tersebut tidak bertahan lama. Buku ini memperkenalkan solusi nyata seperti praktik pemanggilan aktif (retrieval practice).
2. Note to the Reader (Catatan untuk Pembaca)
- Menyajikan Rahasia Para Pakar: Banyak praktisi matematika dan sains membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan teknik belajar yang efektif secara tidak sengaja. Penulis menyusun teknik-teknik tersebut agar dapat langsung digunakan oleh siapa saja.
- Target Audiens Universal: Buku ini dirancang untuk siswa sekolah yang membenci matematika, mahasiswa teknik/bisnis yang ingin mempertajam alat belajarnya, pekerja yang mengejar sertifikasi, purnakarya, hingga para pengajar.
3. Bab 1: Open the Door (Membuka Pintu)
- Masa Kecil yang Benci Matematika: Barbara Oakley menceritakan bahwa di masa kecilnya ia sangat membenci dan gagal dalam mata pelajaran matematika dan sains. Ia bahkan kesulitan membaca jam jarum dan menyimpulkan bahwa dirinya tidak berbakat di bidang teknis.
- Keputusan Melatih Ulang Otak (Retraining the Brain): Pada usia 26 tahun, setelah bertugas di militer dan melihat bagaimana penguasaan teknologi membuka banyak peluang karir, Oakley mengambil keputusan nekat: menggunakan dukungan GI Bill untuk melatih ulang otaknya dari seorang yang fobia matematika (mathphobe) menjadi pencinta teknologi.
- Perjalanan dari Frustrasi menuju Gelar Doktor: Melalui proses trial-and-error, ia menemukan trik mental untuk belajar, mengerti kapan harus berhenti sejenak, hingga akhirnya meraih gelar Sarjana, Magister, dan Doktor (Ph.D.) dalam bidang Teknik Sistem.
- Akar Masalah: Mengabaikan Dua Mode Berpikir: Oakley menyadari bahwa kegagalannya dulu disebabkan oleh ketidakpahamannya tentang dua mode berpikir utama otak. Matematika di sekolah disajikan secara urut dan logis; jika seseorang kehilangan satu langkah saja akibat sakit atau pengajaran yang kurang tepat, matematika bisa berubah menjadi subjek yang sangat tidak ramah.
- Wawancara dengan Pengajar Terbaik Dunia: Dalam menyusun buku ini, Oakley mewawancarai ratusan profesor terkemuka di bidang matematika, fisika, kimia, biologi, dan psikologi. Ia menemukan bahwa para ahli kelas dunia secara konsisten menggunakan pendekatan intuitif dan kontra-intuitif yang persis seperti dipaparkan dalam buku ini.
—
Buku A Mind for Numbers: How to Excel at Math and Science (Even If You Flunked Algebra) karya Barbara Oakley, Ph.D., merupakan panduan praktis berbasis sains saraf (neuroscience) dan psikologi kognitif yang dirancang untuk mengubah cara kita belajar.
Pembelajaran Utama Buku
1. Dua Mode Berpikir Otak (Focused Mode vs. Diffuse Mode)
- Focused Mode (Mode Terfokus): Berpikir secara analitis, terpusat, dan berurutan menggunakan korteks prefrontal. Mode ini digunakan saat kita berkonsentrasi penuh pada masalah yang sudah kita kenali pola dasarnya.
- Diffuse Mode (Mode Menyebar): Berpikir secara santai yang melihat gambaran besar (big-picture) dan membuat koneksi antar-pola yang saling berjauhan. Mode ini aktif saat kita beristirahat, berjalan-jalan, atau tidur, dan merupakan kunci lahirnya ide kreatif serta solusi “Aha!”.
- Kunci Keseimbangan: Pembelajaran sejati terjadi bukan karena memaksakan diri di mode terfokus terus-menerus, melainkan melalui proses bolak-balik (toggling) yang dinamis antara mode terfokus dan mode menyebar.
2. Pembuatan Blok Memori (Chunking) & Menghindari Ilusi Kompetensi
- Membentuk Chunks: Chunk adalah potongan informasi yang diikat oleh makna. Karena memori kerja (working memory) manusia hanya mampu menampung sekitar 4 potongan informasi sekaligus, mengemas informasi menjadi chunk yang solid akan membebaskan kapasitas berpikir otak kita.
- Bahaya Ilusi Kompetensi (Illusions of Competence): Membaca ulang buku (passive rereading) atau menstabilkan teks membuat kita merasa seolah-olah sudah menguasai materi karena terasa familiar di mata, padahal informasi tersebut belum tertanam di otak.
- Teknik Retrieval Practice (Panggilan Aktif) & Interleaving:
- Recall: Cara belajar terbaik adalah menutup buku lalu mencoba mengingat kembali poin-poin utama (testing yourself).
- Interleaving: Mengacak berbagai jenis soal dan teknik pemecahan masalah dalam satu sesi latihan jauh lebih efektif daripada mengulang-ulang satu jenis soal yang sama (overlearning).
3. Menjinakkan Prokrastinasi (Procrastination)
- Mengapa Kita Menunda: Saat memikirkan tugas yang sulit atau tidak disukai, pusat rasa sakit di otak akan menyala. Otak secara otomatis mengalihkan perhatian ke hal lain yang lebih menyenangkan untuk menghilangkan rasa sakit sementara tersebut.
- Fokus pada Process, Bukan Product: Untuk mencegah penundaan, alihkan perhatian dari hasil akhir (product, misal: “harus menyelesaikan 5 soal sulit”) ke aliran waktu (process, misal: “saya akan bekerja tenang selama 20–25 menit”).
- Teknik Pomodoro: Gunakan pengukur waktu selama 25 menit untuk fokus penuh tanpa gangguan (seperti ponsel atau media sosial), lalu beri diri Anda hadiah singkat.
4. Efek Einstellung & Peran Penting Tidur
- Einstellung Effect: Fenomena di mana ide awal atau kebiasaan berpikir yang salah justru menghalangi kita untuk menemukan solusi yang benar. Berpindah dari mode terfokus ke mode menyebar adalah cara untuk keluar dari jebakan ini.
- Tidur adalah Bagian dari Latihan: Tidur membantu membersihkan racun kognitif di otak, memangkas ingatan sepele, serta mengonsolidasi dan memperkuat pola saraf baru yang dipelajari sepanjang hari.
Mengapa Anda Wajib Membaca Buku Ini?
- Buku Petunjuk Otak (User’s Manual for the Brain): Otak manusia memiliki kapasitas luar biasa tetapi tidak dilengkapi dengan buku panduan bawaan. Buku ini memberikan panduan taktis agar Anda bisa “berlatih lebih cerdas, bukan lebih keras” (work smarter, not harder).
- Ditulis dari Pengalaman Nyata Bekas Mathphobe: Barbara Oakley dulunya sangat membenci dan selalu gagal dalam matematika/sains hingga usia 26 tahun. Ia kemudian melatih ulang otaknya dari seorang fobia matematika hingga berhasil meraih gelar Doktor dan menjadi Profesor Teknik. Metode dalam buku ini adalah bukti nyata dari proses transformasi tersebut.
- Berlaku untuk Semua Bidang Pembelajaran (Universal Learning): Meskipun judulnya berfokus pada angka dan sains, teknik-teknik seperti chunking, Pomodoro, recall, dan penguasaan memori bersifat universal dan dapat diterapkan untuk mempelajari bahasa asing, seni, musik, bisnis, hingga persiapan sertifikasi kerja.
- Membebaskan dari Mitos Bakat: Buku ini membongkar mitos bahwa kemampuan teknis adalah bakat bawaan sejak lahir. Buku ini membuktikan bahwa siapa saja dapat mengubah struktur saraf otaknya (retrain/sculpt the brain) dengan disiplin dan strategi yang tepat.
10 Aturan Belajar yang Baik (Ten Rules of Good Studying)
- Gunakan Recall (Pemanggilan Aktif) Setelah membaca satu halaman materi, berpalinglah dan coba ingat kembali ide-ide utamanya. Minimalisir penandaan teks (highlighting), dan jangan pernah menandai kalimat yang belum tertanam di pikiran Anda melalui recall. Cobalah melakukan recall saat berjalan ke kelas atau berada di ruangan yang berbeda dari tempat Anda pertama kali memelajarinya.
- Uji Diri Sendiri (Test Yourself) Uji pemahaman Anda pada segala hal, setiap saat. Gunakan flashcards sebagai alat bantu utama untuk menguji ingatan dan pemahaman Anda secara mandiri.
- Bentuk Chunks pada Masalah (Chunk Your Problems) Chunking adalah memahami dan melatih solusi masalah hingga seluruh langkahnya dapat hadir di pikiran dalam sekejap. Setelah menyelesaikan suatu masalah, latih kembali dan pastikan Anda dapat menyelesaikannya secara mandiri dari awal hingga akhir tanpa melihat kunci jawaban, seperti memainkan lagu hingga menjadi satu chunk yang halus.
- Beri Jarak pada Repetisi (Space Your Repetition) Tebarkan waktu belajar sedikit demi sedikit setiap hari, mirip seperti latihan seorang atlet. Otak bekerja seperti otot yang hanya mampu menangani beban latihan dalam jumlah terbatas pada satu waktu.
- Selingi Berbagai Teknik Pemecahan Masalah (Interleaving) Jangan berlatih terlalu lama dalam satu sesi hanya menggunakan satu teknik pemecahan masalah agar tidak sekadar meniru langkah dari soal sebelumnya. Campur dan kerjakan berbagai jenis masalah untuk melatih bagaimana dan kapan suatu teknik harus digunakan. Tuliskan soal di satu sisi kartu dan solusinya di sisi balik dengan tangan.
- Ambil Istirahat (Take Breaks) Sangat wajar jika Anda tidak langsung bisa memecahkan masalah matematika atau sains saat pertama kali menghadapinya. Ketika merasa frustrasi, beristirahatlah agar mode berpikir menyebar (diffuse mode) dapat mengambil alih dan bekerja memproses masalah di latar belakang.
- Gunakan Pertanyaan Penjelas dan Analogi Sederhana (Explanatory Questioning & Simple Analogies) Saat kesulitan memahami konsep, bayangkan bagaimana cara menjelaskannya agar anak usia 10 tahun dapat mengerti. Ucapkan penjelasan tersebut dengan lantang atau tuliskan untuk mengodekan materi lebih dalam ke dalam struktur memori otak.
- Fokus (Focus) Matikan semua suara notifikasi di ponsel dan komputer, lalu pasang timer selama 25 menit. Fokuslah secara penuh selama 25 menit tersebut dan berikan hadiah kecil yang menyenangkan setelah sesi berakhir.
- Makan Katak Anda Terlebih Dahulu (Eat Your Frogs First) Kerjakan tugas yang paling sulit dan paling tidak disukai di awal hari saat pikiran Anda masih segar.
- Lakukan Kontras Mental (Mental Contrasting) Bayangkan kondisi awal Anda dan kontraskan dengan impian tempat tujuan yang ingin dicapai melalui studi Anda. Pasang gambar atau kata-kata pengingat mimpi tersebut di ruang kerja Anda untuk memicu motivasi saat semangat belajar menurun.
10 Aturan Belajar yang Buruk (Ten Rules of Bad Studying) menurut Barbara Oakley dalam buku A Mind for Numbers adalah kebiasaan-kebiasaan yang harus dihindari karena dapat membuang waktu dan menipu pikiran dengan ilusi seolah-olah Anda sudah menguasai materi:
- Membaca Ulang secara Pasif (Passive Rereading): Sekadar duduk pasif dan menggerakkan mata di atas halaman buku. Kecuali Anda membuktikan bahwa materi sudah tersimpan di otak melalui recall (mengingat kembali tanpa melihat halaman), membaca ulang adalah hal yang sia-sia.
- Terlalu Banyak Menandai Teks (Letting Highlights Overwhelm You): Menandai atau menstabilo teks secara berlebihan dapat menipu pikiran seolah materi sudah masuk ke otak, padahal Anda hanya menggerakkan tangan. Pastikan informasi penting yang ditandai benar-benar dipahami dan tersimpan dalam ingatan.
- Sekadar Melihat Kunci Jawaban (Merely Glancing at a Problem’s Solution): Hanya melihat sekilas solusi soal lalu menganggap diri sendiri sudah paham adalah salah satu kesalahan terbesar siswa. Anda harus mampu menyelesaikan soal secara mandiri langkah demi langkah tanpa mengintip kunci jawaban.
- Belajar Mendadak di Saat Terakhir (Waiting Until the Last Minute): Menggenjot materi di menit-menit terakhir sebelum ujian (cramming) tidak efektif karena otak bekerja seperti otot yang hanya mampu menangani beban latihan dalam jumlah terbatas pada satu waktu.
- Berulang Kali Mengerjakan Soal yang Sudah Dikuasai (Repeatedly Solving the Same Type of Problems): Terus-menerus mengerjakan jenis soal yang sama tidak akan menyiapkan Anda menghadapi ujian—ini ibarat berlatih basket hanya dengan memantul-mantulkan bola.
- Sesi Belajar Kelompok Berubah Menjadi Sesi Ngobrol (Letting Study Sessions Turn into Chat Sessions): Menguji pemahaman bersama teman sangat bermanfaat, tetapi jika belajar kelompok berubah menjadi sekadar mengobrol sebelum tugas selesai, waktu Anda akan terbuang.
- Mengabaikan Buku Teks Sebelum Mengerjakan Soal (Neglecting to Read the Textbook First): Langsung mengerjakan latihan tanpa membaca buku teks ibarat melompat ke kolam renang sebelum belajar berenang. Bacalah sekilas bab terkait untuk mendapatkan gambaran dan panduan sebelum mulai mengerjakan latihan.
- Tidak Bertanya untuk Memperjelas Kebingungan (Not Checking to Clear Up Confusion): Mengabaikan bagian yang tidak dipahami alih-alih bertanya pada pengajar atau teman akan membuat Anda makin tersesat. Pengajar selalu siap membantu siswa yang kebingungan.
- Belajar di Tengah Distraksi yang Terus-Menerus (Learning While Constantly Distracted): Setiap gangguan kecil—seperti memeriksa pesan instan atau notifikasi ponsel—akan menguras daya pikir otak dan merusak jejak koneksi saraf yang baru mulai tumbuh.
- Kurang Tidur (Not Getting Enough Sleep): Saat tidur, otak merangkai teknik pemecahan masalah serta memperkuat ingatan. Kelelahan berkepanjangan menumpuk racun di otak yang mengganggu koneksi saraf. Jika Anda kurang tidur sebelum ujian, persiapan belajar lainnya tidak akan banyak berguna.
Posted in Blogroll, Books, Books Related | Tagged artikel, indonesia, inspiration, Life, renungan | Leave a Comment »
One Skill
September 24, 2026 by Gatot Widayanto
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Catatan dari BREED #310: The Inside Story of China’s High-Tech Industry
September 24, 2026 by Gatot Widayanto
BREED #310: The Inside Story of China’s High-Tech Industry | Helmi Himawan, Antonius KK & Gilang Tresna AP 2026-09-23 18:50(GMT+7:00)
Sesi BREED ke-310 ini membahas buku Inside Story of China’s High-Tech Industry: Making Silicon Valley in Beijing (terbit 2008) karya Yu Zhou, profesor geografi. Buku ini mengkaji bagaimana kawasan Zhongguancun (ZGC) di Beijing berkembang menjadi pusat teknologi domestik China, bukan semata karena perusahaan multinasional, melainkan karena sinergi empat aktor utama. Diskusi juga menarik relevansinya terhadap konteks Indonesia. 12
Temuan Utama dari Buku
- ZGC berlokasi di Distrik Haidian, Beijing — luasnya mirip Bandung (~1.400–1.600 km²) — dikelilingi universitas top seperti Peking University, Tsinghua, dan lembaga riset Chinese Academy of Science (CAS). 34
- Asal-usul ZGC dimulai dari “Electronic Street” (1988): ilmuwan dan akademisi mendirikan toko komputer rakitan sambil tetap bekerja di CAS — embrio kapitalisme lokal China. 56
- Empat aktor kunci keberhasilan ZGC: 78
- Pemerintah — insentif pajak, program Torch (1988) untuk komersialisasi riset
- Universitas/Lembaga Riset — memasok talenta dan lisensi teknologi
- MNC (Multinasional) — tempat magang dan transfer pengetahuan
- Perusahaan Minying — perusahaan lokal yang mendapat preferensi pemerintah (bukan BUMN, bukan swasta murni); contoh: Lenovo, Baidu, Xiaomi
- Strategi “Dancing with the Wolf”: daripada berhadapan langsung dengan MNC yang lebih kuat, perusahaan lokal memilih berkolaborasi — misalnya menyediakan solusi lokalisasi huruf Mandarin untuk komputer impor. 9
- Returnee (pelajar yang disekolahkan ke luar negeri sejak 1978) menjadi tulang punggung inovasi; gelombang pertama: 35 orang dikirim ke Amerika, fokus di bidang elektronik. 1011
Poin Diskusi Kunci
Riset sebagai tulang punggung:
- Konsep Triple Helix (pemerintah–universitas–industri) relevan; MNC di ZGC berfungsi sebagai komponen keempat yang bersifat sementara — perannya berkurang seiring kemandirian China. 1213
- China mendirikan Post-Doctoral Station di perusahaan teknologi (termasuk Huawei) agar riset tingkat tinggi langsung terhubung ke produksi. 14
- Kebijakan insentif bagi periset untuk mengkomersialisasi hasil riset memperkuat motivasi inovasi. 15
Konsistensi kebijakan:
- Tiga presiden China berturut-turut berlatar belakang teknik (Jiang Zemin–teknik elektro, Hu Jintao–sipil, Xi Jinping–kimia), berkontribusi pada konsistensi arah kebijakan teknologi. 16
- Sistem satu partai memungkinkan road map teknologi berjalan lintas kepemimpinan tanpa diskontinuitas besar. 17
China vs. Amerika — model berbeda:
- Amerika: teknologi sipil lahir sebagai spin-off riset militer
- China: teknologi sipil (consumer-first) yang kemudian diadopsi militer — hasilnya, kapasitas produksi pertahanan China kini melampaui Amerika (contoh: siklus pengembangan jet tempur J-20 ke J-35 hanya ~5 tahun vs. F-22 ke F-35 hampir 20 tahun). 181920
Relevansi untuk Indonesia
- Silicon Valley tidak bisa di-copy langsung; ZGC pun tidak bisa diterapkan begitu saja di Indonesia karena perbedaan budaya, sistem politik, dan tatanan sosial. 2122
- Tantangan utama Indonesia: multipartai tanpa ideologi jelas, lemahnya konsistensi kebijakan antar kepemimpinan, dan minimnya budaya kolaborasi riset antar institusi. 2324
- Bandung dinilai punya potensi paling mirip ZGC (ada ITB, lembaga riset, ekosistem teknologi) namun terhambat konsistensi prioritas dan alokasi anggaran. 25
- Budaya berbagi (sharing culture) ala Silicon Valley — yang lahir dari kultur hippie dan keterbukaan — dinilai lebih mudah tumbuh di Bandung dibanding kota lain di Indonesia. 2627
Pertanyaan Terbuka
- Apakah model ZGC relevan untuk Bandung/Indonesia, dan di mana lokasi paling tepat untuk ekosistem sejenis?
- Mengapa buku perspektif Asia seperti ini kurang populer dibanding narasi Silicon Valley versi Barat?
- Bagaimana mendorong budaya penulisan “under the hood” (kejujuran tentang kegagalan dan proses) di Indonesia dan Asia? 2829
Rekomendasi Bacaan Lanjutan
Tribe of Nerds — dokumenter tentang budaya berbagi di Silicon Valley sebagai fondasi inovasinya. 32
House of Huawei — Eva Dou (jurnalis investigasi Washington Post); mengisahkan perjalanan Huawei secara mendalam. 3031
Posted in Blogroll, Books, Books Related, Life, Technology | Tagged artikel, indonesia, inspiration, Life, renungan | Leave a Comment »
Catatan dari BREED #309: The Profiteers
September 23, 2026 by Gatot Widayanto
Diskusi membahas buku The Profiteers (2024) karya Christopher Markis yang mengkritik praktik bisnis yang mengambil keuntungan privat sambil mengalihkan biaya sosial dan lingkungan kepada pihak luar (externalities). Tiga narasumber — Dr. Ningky Sasanti Munir (akademisi/konsultan strategi), Pak Widhyawan (konsultan energi, dosen SBM ITB), dan Pak Buntoro (pengusaha manufaktur – MAK) — memberikan perspektif berbeda namun sepakat bahwa isu ini kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan ESG.
Inti Argumen Buku
- Konsep utama: Perusahaan meraup private profit tetapi mengalihkan biaya sosial dan lingkungan (public cost) ke masyarakat, konsumen, dan generasi mendatang.
- Contoh konkret: harga kopi murah menyembunyikan biaya deforestasi; baju konveksi murah menutupi upah buruh di bawah standar; ongkir gratis dibebankan kepada mitra pengemudi.
- Dua istilah kunci: Gaslighting (mengalihkan tanggung jawab sistemik ke konsumen, misal “daur ulang plastik dengan bijak”) dan greenwashing (label net zero/eco-friendly tanpa perubahan model bisnis nyata).
- Pertanyaan inti Markis: Bukan “is the company ethical?” melainkan “what costs does business externalize?” dan “how does the business model create profit?”
- Kelemahan buku: Bagian solusi (new logic) tidak memberikan resep yang jelas — hanya inspirasi berupa siklus create, restore, share, regenerate.
Perspektif Narasumber
Dr. Ningky (Akademisi/Konsultan):
- Buku ini memenangkan Axiom Award kategori etika bisnis; relevan untuk mata kuliah yang diajarkannya. 12
- ESG approach bersifat measure-report-reduce-communicate, sedangkan Profiteers mempertanyakan mengapa model bisnis itu sendiri masih menghasilkan eksternalitas — contoh: perusahaan air mineral tetap memproduksi 1 miliar botol plastik meski ESG compliant. 1314
- Distributional justice: Cost-benefit analysis agregat bisa positif, tetapi belum menjawab siapa yang menanggung biaya dan siapa yang menikmati manfaat. 1516
Pak Widhyawan (Konsultan Energi, Dosen SBM ITB):
- Elephant in the room di Indonesia adalah ekonomi biaya tinggi akibat rent-seeking dan korupsi, yang memaksa perusahaan mengambil jalan pintas (cut corners) termasuk mengabaikan lingkungan.
- ESG tidak cukup tanpa perbaikan ekosistem; insentif harus diselaraskan dengan perilaku yang diinginkan — harga karbon Indonesia hanya $2, jauh di bawah Singapura ($45).
- Kebijakan harga energi yang populis (batu bara di-cap $70, gas disubsidi) menciptakan anomali yang membebani PLN, Pertamina, dan akhirnya vendor.
Pak Buntoro (Pengusaha Manufaktur — MAK):
- Sejak awal mendirikan usaha, ia mengintegrasikan tanggung jawab sosial sebagai bagian dari strategi, bukan sekadar CSR — dan ini terbukti menjadi competitive advantage.
- MAK membagikan beras kepada ~300 keluarga lansia di sekitar pabrik di Sleman sebagai bentuk tanggung jawab yang melekat, bukan kompensasi atas pencemaran.
- Pajak saja tidak cukup menutup biaya sosial yang ditimbulkan dunia usaha; pemerintah sebagai regulator yang korup adalah akar permasalahan.
Perdebatan Kunci
- Apakah negara bisa menjadi profiteer? Alan mengajukan pertanyaan: jika negara yang mendapat keuntungan dari biaya yang dihindari perusahaan, apakah negara juga bisa dikategorikan profiteer? — belum terjawab tuntas, dilanjutkan di after party.
- Siapa yang bayar di Indonesia? Sulit meng-pin point satu pihak karena rantai manfaat dan biaya saling tumpang tindih — contoh nikel di Sulawesi melibatkan masyarakat adat, kelas menengah, dan negara sekaligus.
- ESG vs. perubahan model bisnis: ESG bisa menjadi alat greenwashing jika tidak menyentuh akar model bisnis yang menghasilkan eksternalitas.
Pertanyaan Terbuka
- Bagaimana menghitung valuasi atas hilangnya biodiversitas atau martabat manusia dalam laporan keuangan?
- Apakah Asean Power Grid dan transisi energi terbarukan di Indonesia bisa terwujud tanpa reformasi ekosistem regulasi dan harga karbon?
- Siapa yang bertanggung jawab atas limbah medis sekali pakai di rumah sakit antara infection control vs. sustainability?
Kesimpulan Penutup
- Dr. Ningky: Dua pertanyaan wajib bagi setiap bisnis — “Who benefits?” dan “Who pays?” — eksternalitas harus diserap perusahaan, bukan dialihkan.
- Pak Widhyawan: Berbisnis secara etis adalah teori yang semua orang inginkan, tetapi sulit dijalankan selama ekonomi biaya tinggi dan ekosistem tidak kondusif belum dibenahi.
- Pak Buntoro: Sumber masalah adalah pemerintah yang korup sebagai regulator; tanggung jawab sosial yang konsisten justru menjadi keunggulan kompetitif jangka panjang.
RINCIAN PERCAKAPAN DARI TRANSKRIP
Berikut adalah uraian terperinci mengenai diskusi BREED #309 yang membedah buku The Profiteers: How Business Privatizes Profits and Socializes Costs karya Christopher Marquis (terbitan PublicAffairs, 2024; peraih Axiom Business Book Award). Sesi ini dipandu oleh Fuad A. Herya sebagai moderator, dengan ulasan utama dari Dr. Ningky S. Munir, serta tanggapan dari dua pembicara tamu (guest), yaitu Widhyawan Prawiraatmadja dan Buntoro.
1. Pendahuluan & Latar Belakang Acara (Moderator: Fuad A. Herya)
- Konteks & Pengantar: Fuad membuka sesi dengan menjelaskan bahwa buku The Profiteers mengangkat isu krusial mengenai “biaya tersembunyi” (socialized costs) yang selama ini diabaikan oleh korporasi ketika mengejar keuntungan (private profits). Isu ini mencakup kerusakan lingkungan, krisis iklim, upah murah, hingga barang murah yang menyembunyikan ongkos sosial sesungguhnya.
- Profil Para Pembicara:
- Dr. Ningky Sasantimunir (Reviewer Utama): Rektor Universitas MH Thamrin, pakar strategi korporasi & inovasi transformasi (PPM School of Management), lulusan Biologi ITB, MBA dari University of Texas at Arlington, serta Doktor Manajemen UI.
- Widhyawan Prawiraatmadja (Guest – Perspektif Kebijakan & Energi): Ekonom politik energi (PhD University of Hawaii, Teknik Industri ITB ’87), mantan Deputi SKK Migas, mantan Staf Khusus Menteri ESDM, mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC, Komisaris Independen PT Inno-Cycle Technology Group, serta dosen luar biasa SBM ITB.
- Buntoro (Guest – Perspektif Praktisi Manufaktur): Pendiri PT Mega Andalan Kalasan (MAK) di Sleman, Yogyakarta (produsen alat-alat kesehatan/hospital bed), serta technopreneur lulusan Teknik Elektro Trisakti.
2. Pemaparan Reviewer Utama: Dr. Ningky S. Munir
Dr. Ningky menjelaskan bahwa Christopher Marquis—penulis buku ini—bukanlah akademisi bisnis murni, melainkan seorang sosiolog (mantan profesor di Harvard, Cornell, dan Cambridge).
- Inti Masalah: Ilusi “Makan Siang Gratis” (Private Profit vs. Public Cost):
- Perusahaan mengklaim dan mengamankan laba bersih (private profit), namun mengalihkan risiko, limbah, dan biaya sosial (public cost) kepada masyarakat, konsumen, serta generasi mendatang (externalities).
- Beda Profit vs. Profiteering: Profit diciptakan dari nilai tambah nyata (value added) yang sah, sedangkan Profiteering adalah meraup untung maksimal dengan mengalihkan risiko/biaya secara masif kepada pihak luar.
- Contoh Riil: Secangkir kopi seharga Rp30.000 yang mengabaikan biaya pembabatan hutan; bisnis ayam goreng murah bertagline agama yang menunggak/mencicil gaji karyawannya; serta bencana Karhutla di Kalimantan dan banjir di Sumatera yang disebabkan oleh ekspansi eksploitatif korporasi.
- Dua Trik Korporasi: Gaslighting & Greenwashing:
- Gaslighting: Mengalihkan tanggung jawab sistemik ke individu (contoh: kampanye “kelola/daur ulang limbah plastik secara bijak”, padahal produsenlah yang memproduksi miliaran botol plastik).
- Greenwashing: Kampanye PR dengan label net-zero, sustainable, atau eco-friendly, sementara model bisnis intinya di belakang layar tetap ekstraktif dan eksploitatif.
- Jebakan Pengukuran (The Measurement Trap):
- Perusahaan hanya sibuk mengukur metrik finansial seperti Revenue, EBITDA, atau capaian akademis internal, tetapi menutup mata terhadap hal-hal yang financially invisible seperti kesehatan pekerja, ketimpangan sosial, dan kerusakan keanekaragaman hayati.
- Pola Pikir Baru (Old Logic vs. New Logic):
- Old Logic: Ekstraksi \(\rightarrow\) Produksi \(\rightarrow\) Jual \(\rightarrow\) Profit \(\rightarrow\) Buang limbah ke publik.
- New Logic: Siklus ganda (double cycle) berbasis create, restore, share, dan regenerate.
- Pertanyaan utamanya bukan lagi “Apakah bisnis boleh cari rugi?”, melainkan “How should business make profit?” (Bagaimana cara bisnis menghasilkan keuntungan secara beretika).
3. Pandangan & Tanggapan Widhyawan Prawiraatmadja
Widhyawan menanggapi buku ini dari sudut pandang ekonomi politik dan kebijakan ekosistem Indonesia:
- Teori Shareholder vs. Stakeholder:
- Berbeda dengan Milton Friedman (Shareholder Theory) yang menyatakan tugas tunggal korporasi hanya mencetak profit dan membayar pajak, Edward Freeman (Stakeholder Theory) menegaskan tanggung jawab korporasi harus mencakup komunitas lokal dan ekosistem di sekitarnya.
- The Elephant in the Room: Ekonomi Biaya Tinggi (High-Cost Economy):
- Di Indonesia, banyak perusahaan tidak berniat buruk sejak awal. Namun, mereka tertekan oleh ekosistem yang tidak kondusif, maraknya rent-seeking (pemburu rente), dan korupsi yang memicu ekonomi biaya tinggi.
- Akibatnya, untuk bertahan hidup (survive), perusahaan terpaksa mengambil jalan pintas (cut corners) dengan mengabaikan pengelolaan lingkungan atau menekan gaji buruh.
- Anomali Kebijakan Energi & Insentif:
- Kebijakan energi populis (seperti mematok harga batu bara $70 atau menahan harga listrik murah demi politik) justru merusak insentif konservasi energi.
- Di PT Inno-Cycle Technology Group (pabrik daur ulang botol plastik menjadi serat poliester tempat Widhyawan menjadi komisaris), pemerintah belum memberikan insentif ekonomi yang cukup bagi industri daur ulang.
- Harga karbon di Indonesia masih sangat rendah ($2/ton di undang-undang) dibanding Singapura ($45/ton), sehingga insentif transaksi kredit karbon belum berjalan efektif.
4. Pandangan & Tanggapan Buntoro (Pendiri PT MAK)
Buntoro membagikan pengalaman konkretnya sebagai pengusaha manufaktur alat kesehatan di Sleman:
- Pajak Tidak Cukup Menutup Biaya Sosial:
- Pembayaran pajak korporasi (yang mencakup ~85% APBN) tidak akan pernah cukup untuk menutupi kehancuran lingkungan dan dampak sosial yang ditimbulkan oleh bisnis.
- Tanggung Jawab Sosial Sejak Hari Pertama (Competitive Advantage):
- Buntoro menolak pola pikir bahwa tanggung jawab sosial baru dilakukan setelah perusahaan profit. Di PT MAK, kepedulian sosial dijadikan identitas dan keunggulan bersaing (competitive advantage) sejak awal mendirikan pabrik.
- Contoh Inisiatif Riil: PT MAK memotong sebagian jatah beras harian dari manajemen/karyawan untuk mendistribusikan \(\approx\)1.800 kg beras setiap bulan kepada 300 keluarga lansia di sekitar Sleman, serta memperjuangkan izin UMKM Center Sleman selama 4 tahun.
- Akar Masalah: Masalah utama di Indonesia terletak pada regulator/pemerintah yang korup serta kegagalan dalam melakukan pendalaman teknologi (technology deepening) industri nasional.
5. Sesi Tanya-Jawab & Diskusi Interaktif
- Pertanyaan Hendri Ma’ruf (Kapitalisme AS vs. Skandinavia/Jepang):
- Pertanyaan: Apakah profiteering ini terjadi karena rumah besarnya adalah kapitalisme liberal AS, berbeda dengan Skandinavia/Jepang yang ketat?
- Jawaban Ningky: Buku ini tidak boleh direduksi sekadar menjadi buku CSR. Di AS, CSR sering dijadikan kedok “memberi kembali” (give back) atas kerusakan yang dibuat. The Profiteers justru bertanya mendasar: biaya apa yang dialihkan oleh model bisnis tersebut ke luar (what cost does business externalize?).
- Pertanyaan Fuad A. Herya mengenai ESG:
- Widhyawan: ESG sering kali hanya dipakai sebagai syarat formalitas agar mendapat bunga pinjaman bank lebih murah. Tanpa membenahi ekosistem dasar (High-Cost Economy), ESG berisiko menjadi ajang pencitraan.
- Ningky: Pendekatan ESG adalah “Measure, Report, Reduce, Communicate”, sedangkan The Profiteers mempertanyakan “Mengapa model bisnismu sejak awal harus memproduksi 1 miliar botol plastik sekali pakai?”.
- Pertanyaan Gatot Widayanto (Kasus Pabrik Sepeda Polygon/Sudjanto):
- Pertanyaan: Jika perintis usaha pemula terlalu terbebani oleh pemikiran biaya eksternalitas ini, bukankah bisnis jadi sangat rumit dan tidak akan pernah jalan?
- Jawaban Ningky: Profit bukan musuh. Bikin pabrik sepeda dan cari profit itu sangat bagus. Yang dikritik Marquis adalah jika pengusaha menyebut tindakan membuang limbah kimia ke sungai atau memotong gaji buruh di bawah standar layak sebagai bentuk “efisiensi biaya”.
- Pertanyaan Alan Perdana (Siapa Profiteer di Negara Berkembang / Kasus Nikel & Sawit):
- Pertanyaan: Di Indonesia (kasus nikel Sulawesi/subsidi energi), apakah negara atau masyarakat kelas menengah juga bisa dikategorikan sebagai profiteer karena menikmati pertumbuhan ekonomi dari biaya sosial yang dialihkan?
- Jawaban Ningky (Distributional Justice): Melalui Cost-Benefit Analysis, agregat manfaat ekonomi nikel/sawit mungkin terlihat positif. Namun, analisis ini tidak menjawab siapa yang menikmati manfaat (pemegang saham, pemerintah melalui pajak) vs. siapa yang menanggung biayanya (masyarakat lokal yang kehilangan hutan/kesehatan).
- Kasus Sawit: Indonesia adalah produsen sawit terbesar dunia. Manfaatnya besar (ekspor, devisa, kerja), tetapi biaya sosialnya (deforestasi, kabut asap, konflik lahan) dialihkan ke masyarakat lokal. Pemerintah bertanggung jawab besar karena bertindak sebagai desainer dan penegak aturan main (designer & enforcer of the rules of the game).
6. Kesimpulan Utama Sesi
- Dua Pertanyaan Kunci: Setiap pemimpin dan pengusaha wajib menanyakan dua hal sebelum mengeksekusi strategi bisnisnya: Who benefits? (Siapa yang mendapat manfaat?) dan Who pays? (Siapa yang menanggung biaya tersembunyinya?).
- Benahi Ekosistem: Berbisnis secara beretika membutuhkan ekosistem hukum dan regulator yang bersih. Pemerintah harus menghapus ekonomi biaya tinggi agar pengusaha tidak terdesak mengambil jalan pintas yang merusak lingkungan dan masyarakat.
- Eksternalitas Harus Diserap: Perusahaan tidak boleh mengklaim efisiensi atau profit semu dari biaya-biaya sosial yang sebenarnya dipindahkan ke pundak publik dan generasi mendatang.
Posted in Blogroll, Books, Books Related, Leadership, Life | Tagged artikel, indonesia, inspiration, Life, renungan | Leave a Comment »
Toto Sugiri
September 22, 2026 by Gatot Widayanto
Posted in Life, Technology | Leave a Comment »
The Science of Feeling Worthy | Psychology Today United Kingdom
September 22, 2026 by Gatot Widayanto
The Science of Feeling Worthy | Psychology Today United Kingdom https://www.psychologytoday.com/gb/blog/platonic-love/202609/the-science-of-feeling-worthy
Posted in Leadership, Life | Leave a Comment »
Buku: Traction
September 21, 2026 by Gatot Widayanto
Traction: Get a Grip on Your Business karya Gino Wickman:
Table of Contents (English)
- Introduction
- Chapter 1: Letting Go of the Vine
- Chapter 2: The EOS Model™
- Chapter 3: The Vision Component™ (Do They See What You Are Saying?)
- Chapter 4: The People Component™ (Surround Yourself with Good People)
- Chapter 5: The Data Component™ (Safety in Numbers)
- Chapter 6: The Issues Component™ (Decide!)
- Chapter 7: The Process Component™ (Finding Your Way)
- Chapter 8: The Traction Component™ (From Luftmensch to Action!)
- Chapter 9: Pulling It All Together
- Chapter 10: Getting Started
Uraian Bab Pendahuluan (Introduction)
Bab Pendahuluan menguraikan landasan utama mengapa buku ini ditulis, masalah umum yang dihadapi oleh para wirausahawan, serta solusi sistemis yang ditawarkan melalui Entrepreneurial Operating System® (EOS®).
1. Tujuan Utama dan Filosofi Dasar
- Menghilangkan Frustrasi Bisnis: Buku ini dirancang untuk membantu para pemimpin dan wirausahawan keluar dari rutinitas yang menjebak, sehingga bisnis dapat berjalan secara mandiri (self-sustaining organism), terstruktur, dan memiliki arah pertumbuhan yang jelas.
- Praktis dan Berbasis Pengalaman Nyata: Gino Wickman menegaskan bahwa EOS bukan sekadar teori akademis atau strategi instan (silver bullet), melainkan akumulasi pengalaman nyata selama lebih dari 20 tahun membimbing ratusan tim kepemimpinan bisnis.
2. Lima Frustrasi Utama Wirausahawan (The 5 Common Frustrations)
Wickman mengidentifikasi bahwa mayoritas wirausahawan mengalami satu atau lebih dari lima frustrasi berikut:
- Kurangnya Kendali (Lack of Control): Merasa bisnis yang mengendalikan hidup pemiliknya, bukan pemilik yang mengendalikan bisnis.
- Masalah SDM/Tim (People): Frustrasi karena karyawan, mitra, atau vendor tidak sejajar (on the same page), tidak mendengarkan, atau tidak mengeksekusi tugas sesuai harapan.
- Profitabilitas (Profit): Jumlah keuntungan tidak sebanding dengan kerja keras dan risiko yang ditanggung.
- Menabrak Atap (The Ceiling): Pertumbuhan bisnis terhenti atau stagnan; pemilik merasa kewalahan dan bingung bagaimana cara naik ke level berikutnya.
- Tidak Ada yang Bekerja (Nothing’s Working): Sudah mencoba berbagai strategi atau perbaikan cepat (quick fixes), namun hasilnya tidak bertahan lama dan membuat staf menjadi jenuh.
3. Enam Komponen Utama EOS® (The Six Key Components)
Untuk mengatasi kelima frustrasi tersebut, EOS memperkuat enam area krusial di dalam organisasi:
- Vision (Visi): Memastikan seluruh anggota organisasi memiliki pandangan yang sama mengenai arah dan strategi perusahaan.
- People (Orang/SDM): Mendapatkan orang yang tepat di kursi yang tepat (right people in the right seats).
- Data (Data): Mengelola bisnis berbasis angka-angka aktivitas mingguan melalui Scorecard, bukan sekadar asumsi atau emosi.
- Issues (Masalah): Membangun budaya yang transparan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan akar masalah secara permanen.
- Process (Proses): Mendokumentasikan dan menyederhanakan cara bisnis berjalan agar konsisten dan dapat direplikasi (scalability).
- Traction (Eksekusi/Tindakan): Membawa visi turun ke darat dengan disiplin 90 harian (Rocks) dan ritme rapat yang efektif (Meeting Pulse).

4. Target Profil Perusahaan
Sistem EOS ini dirancang khusus untuk perusahaan skala kecil hingga menengah (entrepreneurial small to mid-size) dengan kriteria:
- Pendapatan berkisar antara $2 juta hingga $50 juta per tahun.
- Memiliki 10 hingga 250 karyawan.
- Berorientasi pada pertumbuhan, siap berubah, dan berani bersikap jujur serta terbuka terhadap kelemahan internal organisasi.
—
Contoh dari buku
1. Asphalt Specialists, Inc. (ASI) — Menata Peran Visionary dan Integrator
- Konteks & Masalah: ASI adalah perusahaan pengaspalan jalan bernilai $40 juta dengan 120 karyawan yang dikelola oleh dua bersaudara, Bruce dan Dan Israel. Perusahaan ini mengalami tahun pertama yang tidak menguntungkan dalam sejarah mereka karena kepemimpinan yang disfungsi: kedua pemilik saling bertumpak tindih mengelola bisnis, Dan mengalami burnout karena menangani operasional sekaligus penjualan, sedangkan Bruce merasa frustrasi.
- Penerapan EOS: Melalui pembuatan Accountability Chart, mereka menyadari perbedaan mendasar antara peran Visionary (pemikir ide besar/inovasi) dan Integrator (pengelola operasional harian). Bruce mengambil peran sebagai Visionary yang berfokus pada penjualan dan hubungan strategis, sedangkan Dan menjadi Integrator yang menjalankan manajemen operasional harian.
- Hasil: Di tengah kondisi industri konstruksi lokal yang sedang terpuruk ke titik terendah dalam 20 tahun, pembagian peran yang jelas ini berhasil membawa ASI meraih tahun paling menguntungkan dalam sejarah perusahaan.
2. Niche Retail — Delegate & Elevate dan Menghadapi 36 Hours of Pain
- Konteks & Masalah: Didirikan oleh Tyler Smith dan Brad Sorock, Niche Retail tumbuh dari usaha kecil di ruang bawah tanah menjadi perusahaan ritel web bernilai $19 juta. Pada awalnya, Tyler melakukan semua hal sendiri—mulai dari memproses pesanan, mengepak barang, hingga membayarkan tagihan. Setiap kali skala bisnis meningkat, ia menabrak “atap” kapasitas (hitting the ceiling).
- Penerapan EOS:
- Delegate & Elevate: Tyler secara bertahap melepaskan tugas-tugas operasionalnya kepada orang lain yang lebih berkompeten seiring pertumbuhan gudang perusahaan (dari ruang bawah tanah ke gudang 2.000 kaki persegi, lalu 10.000 kaki persegi, hingga 80.000 kaki persegi).
- 36 Hours of Pain: Tyler sempat menunda pemecatan seorang karyawan lama yang performa dan sikapnya sudah tidak lagi sesuai dengan budaya perusahaan karena rasa tidak tega. Ketika ia akhirnya berani mengambil keputusan tegas, ia menyadari bahwa penderitaan emosional saat proses pemecatan hanya berlangsung sekitar 36 jam, sedangkan menundanya justru memberikan stres berkepanjangan selama setahun bagi seluruh tim.
- Hasil: Niche Retail berhasil menembus berbagai batas pertumbuhan tanpa membuat pendirinya mengalami burnout, serta membangun tim kepemimpinan yang solid dan terstruktur.
3. Broder & Sachse Real Estate Services — Menjaga Core Focus dan Membuang “CCT”
- Konteks & Masalah: Co-owner Rich Broder dan Todd Sachse menjalankan bisnis utama di bidang kepemilikan dan pengelolaan properti. Suatu hari, mereka tergiur oleh tawaran bisnis baru yang tampak sangat menguntungkan di luar bidang utama mereka, yaitu bisnis engine powder-coating (Capital Coating Technologies, Inc. / CCT).
- Penerapan EOS: Setelah menginvestasikan $1 juta uang pribadi dan menghabiskan waktu selama 1,5 tahun, bisnis CCT tersebut mengalami kerugian sebesar $300.000 hanya dalam waktu 3 bulan operasional. Meskipun mereka beruntung dapat menjual kembali aset tersebut, mereka menyadari bahwa mereka telah kehilangan fokus dan waktu berharga pada bisnis inti mereka.
- Hasil: Pengalaman pahit ini mengajarkan mereka pentingnya menjaga Core Focus. Di kantor mereka, istilah “CCT” kemudian menjadi pemicu pengingat internal: setiap kali ada ide baru yang tampak menggiurkan tetapi tidak sesuai dengan Core Focus perusahaan, mereka dengan cepat menolaknya untuk tetap fokus pada kekuatan utama mereka.
Posted in Blogroll, Books, Books Related | Tagged artikel, indonesia, inspiration, Life, renungan | Leave a Comment »
Hilton received 12,000 applications from Gen Zers for just 72 internship spots | Fortune
September 21, 2026 by Gatot Widayanto
Hilton received 12,000 applications from Gen Zers for just 72 internship spots | Fortune https://share.google/MuwYWef6mAKoAV1ND
Posted in Life | Leave a Comment »
Being The First Does Not Mean Winning
September 21, 2026 by Gatot Widayanto
Posted in Life | Leave a Comment »
-
Recent Posts
Recent Comments
Gatot Widayanto on Indonesia kick-starts long-del… Gatot Widayanto on 6 Tahun BREED avenuewinged40b6827f… on 6 Tahun BREED KODOKHOKI889 on Indonesia kick-starts long-del… BNI CALL on AI’s Impact On Organizat… Categories
Top Posts
- Yel-Yel Terbaik
- Diberi Hadiah Kindle oleh Dian
- 3. Embracing Authenticity
- Catatan dari BREED #310: The Inside Story of China's High-Tech Industry
- Buku: Maynard's Industrial Engineering Handbook, Fifth Edition
- Buku: A Mind for Numbers
- 10 Kalimat Inspiratif dari The Alchemist
- Catatan dari BREED #233: Poor Charlie's Almanack | Sofyandi Sedar & Titus Herdiawan
- Psychology tells us that the loneliest part of growing old isn’t being alone, but realizing that some friendships disappear as soon as you stop nurturing them, and understanding that they were never based on mutual care, but on your willingness to do all the emotional work
- Toto Sugiri
Blog Stats
- 279,381 hits


