Feeds:
Posts
Comments

Artikel di link di bawah ini menarik. Hanya perlu tiga hal agar kita bisa menginspirasi audience kita:
1.) BERADA DI SISI AUDIENCE, artinya memahami sepenuhnya apa yang menjadi permasalahan atau tantangan atau interest dari audience kita. Kalau tidak tahu, ya ahrus cari tahu. Jangan main asumsi!
2.) JANGAN MENCIPTAKAN JARAK dengan audience misalnya dengan menyinggung hal-hal sensitif bagi audience sehingga sesi interaksi Anda dengan audience menjadi terganggu. Misalnya, Anda menunjukkan atau menyindir orang-orang yang gemuk sehingga audience yang gemuk menjadi tersinggung dan merusak sesi interaktif Anda.
3.) SELALU AMATI TANDA-TANDA DARI AUDIENCE misalnya ada yang mengantuk atau merasa bosan atau tak sabar menunggu Anda bicara. Tanda-tanda tersebut harus segera Anda tindak-lanjuti dengan bijak dan secara tidak langsung. Misalnya membuat permainan sebagai energizr atau humor, tergantung situasi. Ini penting sekali.

Bagaimana menurut Anda?

3 Secrets to Mastering the Art of Public Speaking

 

Menurut Malcolm Gladwell, tentang berbicara di hadapan publik:

1. Memerlukan kerja keras
2. Mau berbicara memang bila manfaatnya banyak
3. Memerlukan materi banyak, jangan banyak mengulang
4. Berpikir keras terkait audience
5. Berpikir keras tentang performance, bukan sekedar speech
6. Bukan sekedar berdiri dan bicara, namun ada prinsip2nya
7. Berbicara secara otentik, natural, tidak menjadi orang lain
8. Puas bila bisa menjembatani celah (gap) dengan audience

Kurang puas? Silakan baca link di bawah ini ….

8 insights from Malcolm Gladwell that made him a better speaker

Dalam setiap workshop yang saya fasilitasi, perhatian utama saya selalu pada audience: apa sih yang sebenarnya mereka butuhkan, atau permasalahan / tantangan apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi??? Inilah yang saya sebut dengan “memahami konteks”. Hal ini penting. Saya tak mau berdiri dihadapan peserta hanya nyerocos tentang ilmu manajemen atau teori Corporate Culture atau Strategic Management. Buat apa? Wong mereka belum tentu datang ke workshop sudah siap dengan itu semua. Untuk itu, biasanya saya hadir paling pagi bahkan bisa 45 menit sebelum acara dimulai karena saya pengen mengamati jenis-jenis orang seperti apa yang bakalan menjadi audience saya. Sun Tzu dalam “The Art of War” mengatakan bahwa kita harus datang lebih awal dari musuh supaya menguasai medan perang kita.

Biasanya saya membuat kopi dulu dan setiap ada peserta yang hadir, saya harus mendahului menyapa untuk memperkenalkan diri. Satu persatu peserta saya kenal terlebih dahulu supaya saya lebih bisa memahami konteks dan nantinya nyaman dalam memfasilitasi workshop. Pada saat key note speker hadir, biasanya CEO atau Direktur SDM, saya jelaskan terlebih dahulu mengenai tujuan workshop. Hal ini memudahkan saya agar tak lagi nggedobhos menjelaskan ke peserta mengapa perlu workshop ini.
Setelah acara pembukaan oleh CEA, saya masuk dengan sedikit perkenalan (tak lebih dari 2 menit) dan yang paling penting saya tekankan bahwa workshop ini untuk ANDA semuanya.

Bapak Ibu sekalian …. fungsi saya dalam workshop ini sebagai fasilitator. Sedangkan AKTOR nya adalah ANDA SEMUA …!! Panggung di depan ini untuk Anda dan saya akan lebih banyak mendengar, Anda yang harus aktif banyak bicara, bukan saya

JRENG!

dont-give-a-speech-create-an-experience

SPIN Leadership

Kouzes dan Posner mengidentifikasi lima konsep dalam survei yang mereka lakukan terkait kepemimpinan: “Model the Way”, “Inspire a Shared Vision”, “Challenge the Process”, “Enable Others to Act” dan “Encourage the Heart” yang diuraikan dengan jelas dalam bukunya yang fenomenal bertajuk The Leadership Challenge. Menarik disimak di sini karena berdasarkan pengalaman saya memfasilitasi dan membantu Pimpinan perusahaan dalam mengawal proses perubahan budaya ternyata memang lima hal tersebut terasa pas sekali dengan apa yang selama ini saya jumpai dalam program implementasi budaya perusahaan khususnya dalam mencetak Agen Perubahan (Change Agent). Bagi saya, seperti selalu saya tekankan dalam setiap workshop dengan calong Agen Perubahan, bahwa mereka adalah change leaders sekurangnya untuk dirinya sendiri dan lingkungan di sekitar unit kerjanya.

Secara spesifik program mencetak Agen Perubahan yang saya fasilitasi dalam beberapa sesi fokus pada lima hal tersebut:

Model The Way

Di bagian awal, pada saat memulai workshop, saya tekankan bahwa mereka terpilih sebagai calon Change Agent setelah melalui pertimbangan dan proses seleksi yang panjang sehingga mereka secara istimewa diundang mengikuti workshop culture change ini. Biasanya saya menitip pesan ini secara khusus kepada CEO atau  Human Capital Director yang memberikan key notes speech menekankan peran mereka sebagai figur panutan (role model) yang memahami peta jalan (roadmap) transformasi budaya yang sedang dilakukan oleh perusahaan.

Inspire Shared Vision

Di setiap workshop mencetak Agen Perubahan saya selalu mulai dengan sesi penting yang mutlak harus ada, tak boleh terlewatkan, yaitu Visioning. Tujuan sesi ini adalah agar setiap Agen Perubahan memaknai secara komprehensif paripurna bagaimana visi perusahaan ini memberi makna dalam perjalanan perusahaan di masa mendatang dalam bentuk yang konkrit. Biasanya saya menekankan hal-hal pragmatis secara khusus, misalnya bila memang customer focus, apa benar bila seorang Manager mengatakan kepada anak buahnya untuk mengangkat telpon dari customer mengatakan bahwa dia sedang meeting padahal sebenarnya dia (Manager) enggan menerima telpon customer tersebut. Atau contoh konkrit lainnya. Biasanya saya bahas secara rinci sesi visioning ini, bahkan setiap pertanyaan atau usulan dari peserta saa kupas tuntas karena memang dasar dari semua proses transformasi adalah pemahaman komprehensif pragmatis terhadap visi perusahaan. Karena peran penting Agen Perubahan dalam menginspirasi rekan kerja maupun anak buahnya tentang visi perusahaan dalam bentuk yang konkret. Katanya mau jadi the best, tapi kok mengerjakan proyek dengan kualita seadanya? Katanya harus profesional, tapi kok masih sering datang ke kantor telat? Semuanya dikaitkan dengan elemen visi dari perusahaan.

Challenge The Process

Pada saat menekankan bagian ini saya selalu berapi-api dalam memimpin workshop? Mengapa? Saya telah mengalami sendiri bagaimana sebuah perbaikan signifikan yang memberikan hasil luar biasa bisa dihasilkan dengan mempertanyakan (challenge) proses kerja yang selama ini berlaku. Sekitar tahun 2000, saya saya memfasilitasi process improvement team di sebuah perusahaan jasa, saya menjumpai fakta mengejutkan bahwa sebagian besar (lebih dari 70%) proses kerja didesain dan dijalankan karena faktor kenyamanan dari orang yang mengerjakan bukan dari sisi customer. Ini sungguh mengejutkan saya dan terbukti ketika proses sederhana ini didobrak dengan mengutamakan kenyamanan customer, ternyata hasilnya signifikan karena bisa mempercepat proses kerja. Seorang Agen Perubahan harus selalu mempertanyakan proses kerja yang sedang berlangsung:

  • Apakah customer puas dengan pelayanan saat ini?
  • Berapa banyak proses yang tidak bermanfaat (non-adding value) dari sisi customer?
  • Apakah non-value adding activities tersebut diperlukan memenuhi compliance?
  • Adakah cara lebih sederhana agar customer lebih puas?

Enable Others To Act

Seorang Agen Perubahan dituntut bisa melibatkan orang lain untuk terlibat dalam proses karena memang inilah kunci pokok dalam manajemen perubahan dalam konteks culture change: keterlibatan. Semakin banyak orang terlibat maka akan baik perbahan yang dilakukan dan cepat tercapai tujuan perubahan. Seorang Agen Perubahan tak hanya sekedar bisa mensosialisasikan pokok-pokok perubahan budaya yang diinginkan dalam upaya meraih visi, namun juga bisa menginspirasi orang lain untuk ikut bergerak, mendobrak inersia.

Encourage The Heart

Seorang Agen Perubahan harus memiliki kecerdasan emosi (EQ) yang mumpuni agar ia bisa benar2 menyentuh hati nurani orang lain agar mereka meresapi pentingnya perubahan dan terus menerus ikut berpartisipasi dalam proses perubahan. Ini bukan bermakna sempit memberi pujian kepada orang lain namun ia berempati dengan orang lain terhadap tantangan atau masalah yang dihadapi orang lain sehingga ia secara tulus memberi dukungan mental kepada orang lain. Kata kuncinya memang berempati kepada orang lain.

Bila saya meminjam proses berpikir Michael Porter, seorang pakar strategi dari Harvard, yakni dalam istilahnya dia yang cukup fenomenal dan digunakan secara luas yakni value chain , maka lima hal terkait kepemimpinan tersebut adalah sebagai berikut:

leadership-value-chain

SPIN Leadership

Sampai sejauh ini saya masih menekankan kepada lima hal yang sebenarnya bisa dibilang sebagai tahapan yang berorientasi kepada “proses” dan masih belum menyinggung mengenai kualitas atau karakteristik pemimpin seperti apa yang diharapkan bisa melakukan lima tahapan besar tersebut. Setelah saya resapi dan melakukan studi terhadap  45 buku bertajuk kepemimpinan plus beberapa referensi, saya menyimpulkan ada 4 karakter seorang pemimpin yang baik: menyadari siapa jati dirinya (self awareness),  berusaha melibatkan diri dengan orang di sekitarnya (presence), menginspirasi orang lain untuk menjadi pribadi yang baik (inspiring) dan selalu cekatan / cepat dalam bertindak (nimble).

Menyadari siapa jati dirinya (memiliki self-awareness yang baik)

Seorang good leader menyadari sekali siapa jati-dirinya karena dia setiap hari sebelum memulai pekerjaannya dia selalu melakukan self-assessment terhadap apa yang dia lakukan selama ini khususnya dalam hal hubungan dengan orang lain. Melakukan penilaian-diri (self-assessment) terhadap rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Penekanan dalam hal ini lebih kepada hal-hal praktis, misalnya dalam menjalin hubungan dengan karyawan maupun kerabat kerja di kantor, dalam menghadiri atu memimpin rapat, dalam melakukan pengawasan pekerjaan sehari-hari dan sikap kerja bila menghadapi permasalahan.Ia menyadari sepenuhnya bahwa penguasaan terhadap kegiatan rutin sangat perlu dilakukan agar sebagai pemimpin ia memiliki kepekaan terhadap apa yang dilakukannya maupun apa yang dikerjakan oleh tim kerjanya. Ia juga sangat menyadari tentang apa yang ingin ia capai dalam hidup dan karirnya. Terkait hal ini saya pernah menulis High Performing Leader di blog ini.

Berusaha melibatkan-diri (being present)

Ini sebenarnya bukan berarti ia selalu ingin tampil menonjol dari lainnya, justru sebaliknya, ia berbaur dengan rang lain yang dipimpinnya dan selalu “hadir dan ada”. Artinya, ia tak sekedar berada secara fisik di tengah-tengah orang lain namun juga pikiran dan hatinya terfokus kepada konteks yang sedang dihadapi oleh orang di sekitarnya. Banyak kita jumpai para pejabat tinggi yang sibuk dan kemudian ia hadir dalam sebuah acara untuk membuka acara tersebut, kemudian ia memberikan pidato yang tidak tepat sasaran karena pikirannya terpusat kepada kegiatan lain yang ia harus hadiri setlah acara tersebut. Seorang good leader fokus pikirannya pada saat ia berada di sekitar orang lain. Dia tak sekedar “hadir” namun ia juga “ada” di situ dalam arti pikiran dan hatinya, tak bercabang kemana-mana.

Menginspirasi orang lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik (inspiring)

Seorang good leader memancarkan aura yang bisa menginspirasi orang lain menjadi pribadi yang lebih baik. Keberadaannya di sekitar orang lain membuat orang mencoba meniru hal-hal baik yang ia lakukan misalnya: menjadi pendengar yang baik, pengamat yang baik dan juga penanya yang baik karena pertanyaannya memicu orang lain berpikir positif. Tak berhenti di situ, seorang good leader sangat hati-hati dalam berbicara sehingga ia cenderung lebih banyak mendengarkan dengan seksama dan bila saatnya tepat ia akan berbicara. Pada saat berbicara, ia bisa membidik dengan tepat apa-apa yang menjadi pusat perhatian dari orang disekitarnya. Hal ini disebabkan karena ia adalah pendengar yang baik, pengamat yang cermat dan penanya ulung. Bukankah salah satu tugas utama seorang leader agar ia efektif dalam memimpin adalah bertanya dengan pertanyaan yang benar? Ini harus dipelajari oleh setiap orang yang ingin menjadi good leader.

Cekatan (nimble)

Ada bahasa Jawa yang lebih pas dalam hal ini yakni prigel. Orang yang prigel mencakup dua hal: proaktif yakni antisipatif terhadap apa yang perlu dilakukan serta menjalankannya dan sekaligus responsif. Saya tidak mengatakan bahwa bahasa Indonesia cekatan tidak mencakup dua hal tersebut namun selama ini sering dimaknai dengan hal terkait responsif tidaknya seseorang dalam bereaksi terhadap suatu rangsangan. Makna cekatan yang ingin saya tekankan di sini mencakup seperti apa yang ada dalam bahasa Jawa dengan istilah prigel tersebut. Dalam bahasa Inggris makna prigel sama dengan nimble seperti saya dapat dari googling:

  1. quick and light in movement; moving with ease; agile; active; rapid:
    nimble feet.
  2. quick to understand, think, devise, etc.:
    a nimble mind.
  3. cleverly contrived:
    a story with a nimble plot.

Makna nimble sangat beda dengan decisive karena orang yang nimble sudah pasti decisive namun orang yang decisive belum tentu nimble.

Dari dua bahasan terkait tahapan dan karakteristik di atas, maka model kepemimpinan gabungan menjadi seperti ini:

leadership-concept

Dalam hal ini orang yang menganut prinsip SPIN (Self-awareness – Presence – Inspiring – Nimble) Leadership dengan mudah menjalankan 5 tahapan dalam The Leadership Challenge.

 

 

 

 

 

Speak to Inspire

“Bila tak bisa berbicara baik lebih baik diam” memberikan makna yang mendalam karena pada dasarnya berbicara tanpa dasar bisa menyebabkan kerugian bagi kita, dan lebih baik diam. Artinya, apapun yag kita ungkapkan haruslah bermakna positif bagi orang lain maupun diri kita sendiri.

3 HAL dalam Speak to Inspire:

1.) Pahami terelebih dahulu konteksnya. Kadang kita menjumpai seorang pembicara atau bahkan orator yang pidatonya begitu bagus dan bersemangat namun ternyata di luar konteks. Seorang teman saya sedang mengendarai mobil dan melihat ada orang sedang naik motor terjatuh. Karena jalanan sepi dan dia merasa iba, maka ia meminggirkan mobilnya dengan maksud memberi pertolongan kepada pengendara motor yang jatuh. Ternyata cukup parah karena pengendara motor tersebut sepertinya pingsan, tak sadarkan diri. Pada saat teman saya sedang menolong pengemudi motor tersebut, orang lain mulai berdatangan ikut menolong juga. Setelah itu temen saya menerima hujatan dari orang seolah pengendara motor itu ditabrak temen saya. Cukup lama terjadi pembicaraan ini dan sampai akhirnya pengemudi motor sadar dan mengatakan bahwa ia terjatuh bukan karena ditabrak mobil.

2.) Berpikir sebelum berbicara. Ini sesuai dengan melakukan analisis denganTHINK framework: is it true? (T), is it helpful? (H), is it inspiring ?(I), is it necessary? (N) dan is it kind?(K). Kalau kita secara hati-hati mempertimbangkan ini dan telah memahami konteksnya, kita bisa merencanakan dengan baik apa yang akan kita ucapkan dalam suatu pertemuan baik itu rapat maupun workshop atau seminar. Jangan sampai di depan banyak orang peserta workshop kita berbicara tanpa memahami konteks dan menggunakan THINK framework ini.

3.) Berbicara (Act). Saat berbicara harus memperhatikan dua langkah sebelumnya yaitu memahami sepenuhnya konteks yang sedang dibahas dan juga perencanaan pembicaraan yang matang. Fokusnya adalah kepuasan kepada audience kita, bukan pada kehebatan diri sebagai pembicara ulung!
Pada akhir pembicaraan jangan lupa meminta feedback apakah yang baru saja dikatakan sesuai dengan harapan audience. Diperlukan keberanian untuk meminta feedback karena sebagai inspiring speaker kita harus tahu bahwa menjadi pembicara ulung bukanlah tujuan karena yang terpenting kepuasan audience tercapai.

Sederhana bukan?

Share bila bermanfaat ….


Dalam bukunya bertajuk Leadership Presence Halpern dan Lubar menyajikan sebuah kerangka-kerja yang layak untuk kita simak:

P yang merupakan singkatan dari being Present

R yang merupakan singkatan dari Reaching Out

E yang merupakan singkatan dari Expressiveness

S yang meruakan singkatan dari Self-knowing

Being Present (Hadir dan “ada”)

Dalam era digital ini kehadiran menjadi suatu hal yang langka dan bila terjadi merupakan suatu hal yang perlu dihargai karena pada era ini orang pada dasarnya berpikiran praktis sehingga komunikasi dan silaturahim cukup melalu WA, SMS atau email, tidak perlu bertatap-muka. Tentu ini bukan merupakan hal yang salah mengingat hal ini juga bisa lebih efisien. Namun, pada suatu titik tentu diperlukan adanya tatap muka. Dalam konteks profesi, tentunya ini merupakan serangkaian rapat yang sekaligus merupakan forum tatap-muka. Seorang leader diperlukan untuk hadir dalam pertemuan dan sekurangnya bisa menunjukkan bahwa dirinya hadir secara fisik dalam pertemuan. Sayangnya hadir saja tak cukup karena dewasa ini tentu kita banyak mengamati perilaku orang yang secara fisik ada di suatu pertemuan namun pikirannya tidak pada pertemuan itu karena lebih fokus kepada hal-hal yang dilihatnya di layar gadget nya.

Dalam hal ini dieprlukan seorang leader yang tak sekedar hadir tapi dia juga “ada” di dalam pertemuan itu. Artinya dia fokus bertatap muka dengan orang lain yang hadir di dalam pertemuan itu, pikirannya tertuju kepada pertemuan bukan kepada apa yang terjadi di gadget nya. Hadir dan “ada” ini diperlukan karena menunjukkan kualitas seorang leader:

  • Menghargai secara tulus bahwa pertemuan yang dihadirinya merupakan hal penting karena buat apa dia menjadwalkan hadir kalau tidak penting? Hal ini harus dia tunjukkan dengan sikap bahwa pertemuan ini penting.
  • Keber”ada”annya menunjukkan komitmen bahwa ia merupakan pribadi yang committed sehingga merasa perlu hadir dan berperan sesuai yang dibutuhkan oleh pertemuan tersebut.
  • Kehadiran dan keberadaannya akan memberikan inspirasi kepada orang lain tentang bagaimana ia bersikap dalam pertemuan tersebut.
  • Memudahkan menggalang komitmen untuk hal-hal yang tak sekedar dibahas dalam pertemuan namun juga pada hal lain yang akan dikerjakan di kemudian hari.

Reaching Out

Seorang good leader menciptakan dan membina hubungan baik dengan orang lain untuk selalui memahami konteks dan selalu mutakhir (updated) terhadap permasalahan dan tantangan yang dihadapi.

 

Dalam teori manajemen, kita selalu diajarkan bagaimana menjalankan tugas managerial dengan sebaik mungkin bahkan menjadi mendekati kesempurnaan. Padahal kita semua tahu bahwa kesempurnaan itu suatu hal yang mustahil bisa dipenuhi karena milik Sang Pencipta Alam Semesta ini. Yang namanya buatan manusia, selalu saja ada kekurangannya meskipun telah melalui proses perancangan yang cermat. Seorang High-Performing Leader memahami hal ini dengan baik dan menjalankannya dalam pekerjaannya sehari-hari. Meskipun ia telah menetapkan standar kerja yang tinggi karena memang sudah menjadi ciri khas sorang HPL, namun ia bisa memahami bila staff nya menjalankan tugas tidak sesuai standar tinggi yang ia terapkan pada dirinya sendiri.

Seorang HPL dalam kesehariannya memang menerapkan standar yang tinggi bagi dirinya dan berupaya mengajarkan kepada staff nya standar yang sama. namun bila dalam kenyataannya staff tidak berhasil menerapkannya, ia tak banyak menuntut tapi memberi tahu secara tegas bagaimana yang seharusnya dilakukan. Hal ini penting karena ia tak menginginkan kehadirannya tak memberi nilai-tambah kepada staff-nya.

Apa saja yang dilakukan oleh seorang HPL bila menjumpai ketidaksempurnaan pekerjaan staff maupun orang lain?

  1. Memberikan apresiasi terhadap hasil yang telah dicapai, terlepas bahwa itu belum setinggi standar yang ditetapkan oleh HPL. Hal ini perlu dilakukan karena bagaimanapun, hasil yang dicapai ini tentu telah melalui kerja keras dan proses yang panjang sehingga perlu diapresiasi.
  2. Ketika menjumpai kekurangsempurnaan, menanyakan terlebih dahulu apa yang sebenarnya ingin dicapai. Hal ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi kepada yang mengerjakan pekerjaan tentang hasil yang sebenarnya ingin dicapai. Misalnya penyusunan slides untuk presentasi, perlu ditanyakan apa tujuan presentasinya.
  3. Menanyakan apa permasalahan yang dihadapi dalam mencapai tujuan tersebut.
  4. Menanyakan apa yang telah diupayakan untuk mengatasi masalah tersebut.
  5. Menayakan apa saja pilihan-pilihan yang dipertimbangkan dalam mengatasi permasalahan dan meraih tujuan yang diinginkan.
  6. Menanyakan atau mengkonfirmasi bahwa hasil yang didapat ini merupakan rekomendasi setelah melalui proses di atas.