Feeds:
Posts
Comments

3 Things: DPV

Desirable

Possible

Viable

Advertisements

Imagine! 

Tak cukup hanya menguasai pengetahuan,  bayangkan bagaimana pengetahuan tersebut bisa menciptakan hal baru yang belum pernah terpikirkan.  Imagine! 

Pada umumnya orang mengkaitkan loyalitas karyawan dengan suasana kerja atau budaya perusahaan. Namun seorang ekonom – Michael Housman – justru mengkaitkan antara internet browser yang digunakan karyawan yang berprofesi sebagai customer service agents (CSA) dengan loyalitas karyawan. Studi yang ia lakukan dengan menggunakan data dari 30 ribu orang karyawan perbankan, maskapai penerbangan, operator telepon menyimpulkan bahwa:

Karyawan (CSA) yang menggunakan Firefox atau Chrome sebagai internet browser, 15% lebih loyal dibandingkan mereka yang menggunakan Internet Explorer atau Safari.

Pertanyaannya, apa hubungan antara pemakaian internet browser dengan loyalitas? Jawabannya singkat: inisiatif. Para CSA yang menggunakan Firefox atau Chrome (kita sebut saja Kelompok A) mengambil inisiatif dengan menggunakan browser lain (melalui download) ketimbang 2/3 rekannya sesama CSA  (Kelompok B) yang lebih nyaman menggunakan preinstalled browser seperti Internet Explorer atau Safari. Mereka yang jumlahnya sepertiga ini merasa perlu mengeksplorasi lebih lanjut dunia di luar yang secara default sudah tersedia di hadapan mereka.

Dan ternyata, tak hanya loyalitas:

Kelompok A ternyata 19% lebih disiplin (tepat waktu) dibandingkan Kelompok B.

Pelanggan yang dilayani Kelompok A merasakan tingkat kepuasan setelah mereka ini 3 bulan bekerja sebagai CSA sedangkan untuk Kelompok B kepuasan pelanggan tercapai setelah 4 bulan mereka bekerja.

Kesimpulannya: Kelompok A (yang menggunakan Chrome atau Firefox), yang merupakan sepertiga dari 30 ribu jumlah CSA yang diteliti ternyata lebih committed dan berprestasi dibandingkan Kelompok B (yang menggunakan Internet Explorer atau Safari). Padahal, Kelompok A ini lebih gaptek dibandingkan Kelompok B.

Mengapa bisa begitu? Housman menjelaskan bahwa Kelompok B menerima begitu saja apa yang menjadi default di komputer mereka (Internet Explorer atau Safari) tanpa mempertanyakan lebih lanjut. Kelompok A justru CHALLENGE THE STATUS QUO. Itu lah yang menyebabkan Kelompok A lebih berprestasi dibandingkan kelompok B.

Inilah yang mengawali buku fenomenal karya Adam Grant bertajuk ORIGINALS.

Kisah selanjutnya dalam buku ini lebih dahzyat lagi!

ORIGINALS

 

Most immediate supervisors were promoted based on technical expertise. But the correlation between technical expertise and leadership is ZERO.

Success is all about self expression

  1. Read more books. If you study miscellaneous (a lot of interaction with facebook) things you will have miscellaneous life. One book a month.
  2. Friends. In order to change the reality you have to change mentality.
  3. Set high goals.

BIG = Books – Individuals – Goals

Menurut Daniel Ally, kalau kita mau jadi milyarder dalam waktu 3 tahun maka diperlukan tiga hal yang sangat penting dan dijalankan konsisten:

  1. Membaca banyak buku dan jangan terlalu lama membacanya. Bukan 1 buku per tahun tapi satu buku per bulan. (Books)
  2. Bergaul dengan orang-orang yang sukses dan inspiratif agar kita bersemangat untuk selalu meningkatkan diri. (Individuals).
  3. Menetapkan sasaran yang jelas tentang apa yang ingin dicapai (Goals).

Menarik menyimak video ini … Yuk!

Dalam bukunya bertajuk Leadership “Inspire – Liberate – Achieve”, Tom Peters mengungkapkan 50 hal terkait ledership. Saya tertarik di hal nomer 3 yakni Leaders Are Tom Peters - LeadershipRarely the Best Performers. Hal ini terkait dengan topik kita tentang profesionalisme dimana ada tiga pilar pokok yang menyangga seseorang bisa dikatakan sebagai profesional atau tidak yaitu: alignment, capabilities dan engagement. Berbicara mengenai profesionalisme secara umum orang akan langsung tertanam di benaknya dengan suatu hal terkait dengan kemampuan, ketrampilan atau apapun yang terkait dengan penyelesaian suatu masalah dalam bidang tertentu. Dan tak sedikit perusahaan yang melakukan evaluasi kinerja karyawannya dengan basis seberapa mampu seseorang mengerjakan pekerjaan yang diharapkan tuntas oleh perusahaan. Artinya, seorang yang berkinerja terbaik (best performers) pada hakikatnya ia mampu bekerja pada bidangnya dan ahli dalam bidangnya (misalnya legal, hubungan industrial, keuangan, akuntansi, pemasaran, penjualan, customer service, dan sebagainya). Dengan kata lain, perusahaan menilai kinerja seseorang dalam hal kemampuan (capabilities) nya meneyelesaikan tugas.

Sedangkan, dari pernyataan Tom Peters di atas, justru jarang sekali orang yang kemampuannya tinggi (best performers) menduduki posisi sebagai leader. Justru dalam uraiannya di hal nomer 3 ini Tom Peters mengungkapkan bahwa yang diperlukan justru dalam hal engagement seperti diaungkapkan: “Engage Others and Turn Them On“. Ini semakin menguatkan konsep professional excellence dimana profesionalisme tak sekedar diukur dari kemampuan (capabilities) saja namun juga mempertimbangkan alignment dan engagegment.

Dengan kata lain bisa diartikan bahwa untuk menduduki jabatan sebagai seorang leader, kita tak perlu sebagai content master dengan kemampuan tinggi sekali namun cukup sedang namun memiliki engagement level yang tinggi agar bisa memberi semangat dan menginspirasi orang lain dan timnya untuk bekerja efektif. Tentu saja kalau dia juga memiliki kemampuan tinggi (expert) merupakan plus point.

Secara organisasi pun yang diperlukan adalah orang-orang yang bisa melibatkan dirinya dan orang lain untuk mencapai kinerja luar biasa perusahaan melalui empati, inspirasi, pemberdayaan dan advokasi agar setiap individu berkontribusi terbaik. Ini juga bukan berarti bahwa sia-sia menjadi orang berkemampuan tinggi karena akhirnya dipimpin orang lain yang kemampuannya pas-pasan alias sedang. Bila ia berkemampuan tinggi dan sekaligus bisa menginspirasi orang lain, tentu jauh lebih baik. Masalahnya, sering kita jumpai orang yang kemampuan teknisnya tinggi justru sulit berempati dengan orang lain karena merasa dirinya sudah paling ahli, paling pinter dan mengukur standar orang lain terhadap dirinya sendiri. Coba Anda amati di sekitar Anda … Tentunya banyak orang ahli yang semakin tinggi keahliannya malah sulit bersosialisasi dengan orang lain, lebih suka bekerja sendiri.

Hari ini menyimak youtube menarik ini:

Knowing

Doing

Helping

Learning