Feeds:
Posts
Comments

Tanggal 11 Maret 2017 (Sabtu) ada kejadian luar biasa di komplek perumahan saya. Saat itu saya dan istri pulang agak malam, sekitar pukul 22:30. Pada saat masuk komplek perumahan gelap sekali ternyata listrik PLN sedang mati. Memang tak lama kemudian setelah kami masuk rumah, listrik menyala. Namun ternyata beberapa peralatan elektronik tak bisa dinyalakan termasuk dua unit AC di rumah kami yang tak bisa dinyalakan padahal baterai remote control nya masih bagus. Beberapa saat kemudian kami baru paham melalui WA grup dengan tetangga sekitar bahwa listrik mulai mati sekitar pukul 16:00 dan penyebabnya adalah adanya kabel listrik di gardu yang dicuri orang dan mengakibatkan tegangan listrik naik di atas 400 V (konon kabarnya) secara mendadak sehingga banyak peralatan elektronik rusak.

Bukan masalah matinya listrik yang ingin saya bahas kali ini namun upaya saya untuk mencari teknisi yang bisa memperbaiki AC yang rusak. Ternyata dua unit AC yang rusak merupakan produk satu merek sehingga saya coba hubungi mereka. Karena akhir pekan, respon nya tentu lambat dan baru hari Senin teknisi datang ke rumah kami dengan menggunakan mobil layanan resmi dari produsen AC. Senang sekali melihat ada 3 teknisi dari produsen AC tersebut datang ke rumah dengan seragam resmi dan menggunakan mobil layanan bertuliskan nama produsen AC dari Jepang. Salah satu dari teknisi mulai membuka AC dan kemudian memeriksanya dengan alat yang ia bawa. Kesimpulannya kedua unit AC rusak PC board nya. Untuk itu harus diganti seharga Rp. 700 ribu dan harus diorder dari gudang mereka di Cikarang dan biasanya baru 1 minggu siap pasang.

Tentu saja saya menjerit karena harus menunggu selama 1 minggu ditambah harga yang luar biasa atau totalnya menjadi Rp. 1.400.000,- untuk dua unit AC. Namun, ternyata teknisi ini sudah berpengalaman lama dan salah satu dari 3 teknisi tersebut berkata:

“Tenang Pak …. Kalau bapak tak keberatan ada cara lain lebih cepat dan harganya cukup setengahnya. “

“Oh bagaimana caranya?” tanya saya penasaran

“Sepertinya ini PC board nya bisa diperbaiki dan nanti sore juga kami bisa antarkan ke sini dan langsung pasang; tentu bila bapak tak keberatan bukan diganti yang baru, cukup diganti parts yang terbakar di PC Board ini ….,” ujarnya.

“Mengapa yang baru mahal dan lama pak?”

“Karena memang produsen tak mau beresiko dengan memperbaiki bagian kecil dari PC board sehingga penggantian dilakukan satu set.”

“Kenapa sampai satu minggu pak?”

“Karena memang standar dari pabrik satu minggu pak.”

Nah, saya tentu saja bingung. Di satu sisi saya pengen barang bagus sehingga nanti awet tak perlu rusak lagi dalam waktu dekat, namun sayangnya waktunya lama dan saya tak sanggup tiap hari kepanasan tanpa AC.

Terus terang sebelum saya memutuskan mana yang saya pilih saya sempat memikirkan cukup mendalam terkait kejadian ini.

Pertama, saya kaget bahwa tiga teknisi ini dengan mudahnya menawarkan jasa dirinya, di luar prosedur perusahaan yang mengirimnya, mengantongi uang upahnya untuk diri sendiri. Sementara itu apa yang diperoleh perusahaan produsen AC? Uang sebesar Rp. 35.000,- yang merupakan biaya kunjungan ke pelanggan. Setelah itu saya bayar maka saya bebas menentukan nasib dari board yang rusak itu. Produsen AC tak mendapatkan sepeserpun uang terkait penggantian spare parts karena seolah-olah saya mereparasi sendiri barang yang rusak tersebut. Artinya, saya menugaskan teknisi tersebut mereparasi tanpa sepengetahuan produsen AC alias transaksi di bawah tangan. Terus terang saya tidak nyaman karena saya jadi ikut terjerat dalam tindakan korupsi tiga teknisi tersebut. Memang sangat tidak nyaman meski saya sering mendengar bahwa praktek seperti ini sudah biasa. Namun, saya juga keberatan menanggung biaya untuk suatu kerusakan tidak wajar yang disebabkan oleh kelalaian PLN menjaga gardunya sehingga kabelnya dicuri orang. Siapa yang salah? jelas pencuri. Siapa yang bertanggung-jawab terhadap dampak kerusakan? Sulit. Saya sendiri tidak rela tentunya. Apalagi dengan jumlah besar dan waktu yang lama menunggunya.

Kedua, secara bisnis si produsen AC sebenarnya sudah jelas rugi besar mengadakan kunjungan ke rumah saya. Mereka berada di rumah saya sekitar 1 jam sehingga ada 3 manhours yang sia-sia karena saya yakin mereka menerima gaji tetap. Katakan masing-masing gajinya Rp. 4 juta berarti per jamnya Rp. 25.000 atau total telah terjadi pemborosan 3 manhours yang setara dengan Rp. 75.000,- Ini belum termasuk bonus atau THR mereka yang tentunya membuat angka lebih besar lagi. Sementara itu berapa pendapatan yang diterima dari kunjungan ke rumah saya? Hanya Rp. 35.000,- saja. Belum apa-apa sudah tekor Rp. 40.000,- belum termasuk biaya bensin plus perawatan mobil bila dibebankan sebagai ongkos. Intinya, secara bisnis kunjungan ke rumah pelanggan sudah jelas rugi. Yang lebih parah lagi dari sisi 3 teknisi tersebut: kok tega ya menggerogoti perusahaannya dengan mengantongi Rp. 1.4 juta dengan biaya yang relatif kecil, katakanlah Rp. 200 ribu maka bersihnya mereka mengantong Rp. 1.2 juta atau setiap kepala membawa pulang Rp. 400 ribu pada hari itu dengan menggunakan mobil perusahaannya. Keterlaluan memang.

Kalau kita telaah kasus ini, tentu kita sepakat bahwa 3 teknisi ini secara teknis memang capable (mampu) melakukan perbaikan terbukti dengan cepat mampu identifikasi masalah dan kemudian mereka buktikan bahwa semuanya beres dalam hari yang sama. Luar biasa. Seberapa sering kita menjumpai kasus sejenis dimana seorang perawat, seorang dokter, seorang barista, seorang ahli kulkas, seorang mekanik motor bisa mengerjakan pekerjaannya dengan cekatan dan semuanya beres kembali normal dalam waktu relatif singkat.

Namun, apakah Anda sebut profesional 3 teknisi AC yang datang ke rumah saya?

Menurut saya tidak. Seorang yang profesional tak sekedar mampu mengerjakan hal yang menjadi keahliannya namun juga harus memiliki integritas tinggi terhadap nilai-nilai etis yang secara umum bisa kita lihat. Menggunakan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi jelas bukan merupakan contoh orang yang berintegritas. Meskipun mereka sangat ahli dan bisa memotivasi orang lain untuk bekerja trampil namun bila syarat pertama terkait keselarasan (alignment) terhadap nilai-nilai etika tak ia penuhi maka ia cukup dikatakan mampu atau trampil saja namun jauh disebut sebagai orang yang profesional.

Professional Excellence

True brilliance is not about developing complex theories or pontificating about piles or research reporting out on what has already happened.  True brilliance is about SIMPLIFYING COMPLEX ISSUES and HARNESSING people’s energy to change the world.  In that light…this book is simply brilliant! 

JrèNg!

Buku klasik namun tetap bermanfaat. 

It’s a classic. Highly recommended reading!