Feeds:
Posts
Comments

Buku klasik yang tetap menawan untuk dibaca dan diresapi. Tulisan Theodore Levitt selalu menantang dan inspiratif termasuk yg paling klasik The Marketing Myopia (1969). Mantab!

Artikel di majalah Inc. tertanggal 27 Maret 2017 cukup mengejutkan saya karena berdasarkan penelitian terakhir. Kecerdasan emosi yang selama ini digadang-gadang merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan seseorang: EQ not IQ. Namun ternyata tingginya EQ (EI) sejalan dengan naiknya cortisol (penyebab stress). Dan saya amati teman-teman sekitar yang EQnya tinggi memang cenderung mudah stress. Tinggal pilih mana, mau EQ tinggi namun stress atau EQ biasa2 saja namun tak sepenuhnya stress? KLIK>

Screenshot 2017-03-28 13.37.14

Saya amati beberapa teman saya yang menurut hemat saya memiliki EQ yang tinggi meski saya belum pernah tahu seberapa tinggi EQ (EI) kedua teman saya ini, yang sebut saja namanya A dan B.
A adalah seorang eksekutif yang berhasil dan telah berpengalaman lebih dari 30 tahun mengabdikan diri pada sebuah perusahaan energi multinasional. Sekitar lima thun lalu ia keluar dari perusahaan tersebut dan kemudian menjadi CEO sebuah perusahaan tambang global. A adalah seorang sosok yang sangat humanis dan bisa secara cepat dekat dengan siapapun yang ia kenal mulai dari level cleaning service, satpam, hingga pimpinan perusahaan (C level) bahkan level Komisaris. Communication skills nya luar biasa dan secara networking dia punya kenalan yang sangat banyak dari berbagai kalangan terutama di area energi. Rasanya jarang orang yang berkecimpung di dunia energi di Indonesia tak kenal dengan figur yang humble satu ini. Saya kenal cukup dekat dengan dia karena kami punya passion yang sama dalam hal people development terutama dalam bidang coaching. Bahkan kami beberapa kali berada pada panggung yang sama dalam coaching session di beberapa tempat termasuk di universitas swasta kala itu. Kami juga sama-sama mengikuti sertifikasi EQ di Singapura pada tahun 2014 yang dilakukan oleh 6 Seconds. Pada saat itu, sebelum mengikuti program sudah ada pretest untuk mengukur EQ peserta dan temen saya si A ini tinggi sekali EQ nya. Hasil test memang tak bohong karena saya amati dia ini bagus sekali dalam bersosialisasi dengan orang.
Namun sayangnya, si A ini tergolong orang yang mudah stress meskipun saya tahu pekerjaan dia sebagai CEO tentu banyak sekali permasalahan internal maupun eksternal yang harus dia tangani termasuk menjaga hubungan baik dengan Pemerintah Indonesia hingga level Menteri bahkan saya pernah tahu dia meeting dengan Wakil Presiden kala itu. ARtinya, secara nature memang pekerjaannya sangat stressful. Hasil penelitian dua orang ilmuwan Jerman dalam artikel di majalah Inc. ini semakin membuktikan ke saya bahwa hasil penelitia tersebut tidak salah.

Sementara itu teman saya yang lain, si B, adalah seorang yang ahli (expert) di area telekomunikasi. Profesinya adalah konsultan telco dari perusahaan konsultan besar tingkat global. Ia memeiliki pergaulan yang luas dan sangat luwes ketika berhubungan dengan siapapun baik dari level bawah (satpam, driver, cleaning service) hingga Pimpinan (C level) perusahaan yang menjadi kliennya maupun perusahaan yang ia dirikan. Kebayang bukan sudah ahli di bidang telekomunikasi namun dibarengi dengan ahli dalam membangun maupun membina hubungan dengan orang lain. Ia kenal kliennya bukan berhenti sampai pada profesi atau hal terkait pekerjaannya saja namun ia bisa kenal lebih jauh kliennya hingga tahu dan bahkan kenal dengan suami/istri kliennya dan bahkan keluarganya. Dari hubungan sosial ini jelas si B ini luar biasa bagusnya dan setiap orang yang kenal si B pasti setuju bahwa si B ini orang yang luwes dan dekat dengan banyak orang.
Namun sayang, si B ini juga punya stress level yang relatif tinggi bahkan tak sekedar stress, kadang-kadang bahkan bisa membawanya ke sakit karena terlalu banyak memikirkan pengabdiannya kepada area yang ia kuasai.
Dari dua contoh ini bagi saya jelas bahwa hasil penelitian ini “sepertinya” ada benarnya. Saya juga mencoba mengamati teman-teman lainnya selain A dan B, ternyata memang betul: semakin tinggi EQ nya ternyata stress level nya juga tinggi.
Hati-hati ….

Salam,
G

 

Keseluruhan buku ini membahas tentang konsep SERVANT LEADERSHIP yg awalnya adalah ide Robert Greenleaf. Salah satu rujukan bagus dalam kepemimpinan yang wajib dimiliki dan dibaca bagi mereka yang ingin mempelajari kepemimpinan yang benar.

Salah satu referensi untuk mengarungi perubahan dengan cara mengelolanya bukan menghindarinya. The river of constant change …

The OPTIMIST’s / The PESSIMIST’s Handbook

Ini sebenarnya hanya satu buku namun memiliki dua muka dimana kalau dibalik merupakan lawannya. Kreatif sekali. Lebih dari itu hal ini mewakili dunia nyata karena baik optimis maupun pesimis itu pada dasarnya sering kita jumpai dalam keseharian kita dimana begitu cepat perasaan ini bisa saling tertukar. Membaca buku ini tentu memberikan inspirasi kuat untuk selalu mencoba sekuat tenaga bagaimana membalikkan yang pesimis menjadi optimis. Mantab sekalee ….!

Yuk dibaca biar tambah semangat!