Feeds:
Posts
Comments

Ethical Systems dot org mendefinisikan profesionalisme sebagai gabungan antara pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills) maupun perilaku (behaviors). Secara logika hal ini berarti ketrampilan saja tak bisa dianggap sebagai profesional ProfessionalCircleskarena musti dibarengi dengan perilaku yang baik atau mengacu pada standar etika atau norma yang berlaku umum. Artinya, seorang waiter sebuah restoran tentu memahami bahwa pada saat order taking ia harus secara seksama memperhatikan dan memahami sebaik mungkin apa yang sedang dipesan oleh tamu dengan wajah yang ditebari senyuman ramah. Keramahan sudah merupakan norma baku yang utlak harus dimiliki oleh setiap penyedia layanan. Ia juga harus siap menjawab setiap pertanyaan dari tamu terkait menu yang disediakan oleh restorannya termasuk mampu memberikan rekomendasi bila sang tamu menginginkan jenis makanan tertentu, misalnya yang pedas, manis atau asam dan sebagainya. Kemudan ia harus trampil dalm memastikan pesanan yang diinginkan oleh tamu bisa dilayani dengan baik atau tidak. Bila restoran tak bisa memenuhi permintaan tamu, misalnya permintaan gula dipisah yang sebenarnya tak bisa disediakan karena jenis minuman tertentu sudah disiapkan oleh restoran dalam kemasan sachet yang tak mungkin memisahkan gula dari kemasan tersebut. Setiap pesanan tamu kemudian ia tuliskan dan kemudian dibacakan semuanya dengan suara yang jelas untuk mendapatkan konfirmasi dari tamu. Membaca ulang pesanan ini sudah menjadi standar bagi restoran berkualitas. sayangnya tak semua waiter melakukan pekerjaan penting ini.

Bila Anda seorang konsultan, hal yang sama juga harus Anda lakukan. Pertama kali Anda harus memahami apa yang menjadi kebutuhan mendasar dari klien Anda. Pada tahap ini yang diperlukan hanya keterbukaan Anda untuk bisa mencerna dengan baik permasalahan apa yang secara nyata dihadapi oleh klien Anda. Jangan belum apa-apa sudah sok tahu memberi solusi karena beranggapan bahwa seoarng konsultan harus memberi solusi. Memang benar, namun timingnya harus Anda atur sampai Anda benar-benar memahami sepenuhnya permasalahan pokok yang dihadapi klien ANda. Klien tentunya tidak ingin Anda secara terburu-buru memberi solusi tanpa proses validasi terhadap temuan dan kemudian analisis mendalam. Sayangnya, banyak konsultan yang terburu-buru memberi solusi dan bahkan sekaligus menyalahkan klien mengapa tidak melakukan ini dan itu. Ini jelas perilaku yang tidak baik dari seorang konsultan sehingga ia layak disebut tidak profesional. Meskipun, ANda seorang yang cerdas dan berwawasan luas. Klien menugaskan Anda bukan untuk dimarah-marahi atau disalah-salahkan karena sebenarnya klien tahu bahwa mereka salah — makanya perlu konsultan. Konteks ini harus dipahami sepenuhnya oleh seorang konsultan yang profesional.

 

Tulus

Honesty_Quotes6

Bila Anda bekerja pada suatu perusahaan atau organisasi yang bidang kegiatannya sesuai dengan apa yang selama ini Anda cintai, sangat besar kemungkinan Anda akan bekerja dengan sepenuh hati, seakan semuanya sudah merupakan suatu impian yang sedang Anda jalani. Ini suatu kondisi yang sangat ideal karena inilah saat paling tepat bagi Anda untuk fully motivated dan gas pol mengerjakan semua hal secara tuntas, mengatasi semua masalah dengan keteguhan hati bahwa bila hal tersebut tak bisa diatasi, Anda bisa mengambil pembelajaran dan bila masalah disa diselesaikan Anda bisa bertepuk dada dan berteriak lantang: “YES! I did.”

Segala hal bila dilakukan dengan ketulusan akan menghasilkan suatu tindakan yang tulus tanpa pamrih. Adakah sesuatu yang dilakukan tanpa pamrih? Mungkin kurang tepat kalau dibilang tanpa pamrih — tepatnya Anda tentu punya pamrih sekurangnya kepuasan bisa menyelesaikannya meski banyak permasalahan. Ini adalah ciri seorang warrior sejati – tak pernah kenal menyerah: FIGHT! Ujungnya pasti ada suatu hal yang Anda inginkan — dan apakah ini bukan disebut pamrih? Jadi, wajar setiap orang punya pamrih dalam melakukan tugasnya, meski pamrih itu tak sepenuhnya terkait uang atau kebanggaan tertentu. Sekurangnya Anda berpamrih atas kesuksesan yang Anda raih kelak. Itu sudah cukup.

Mari kita telaah sepenggal kalimat di atas:

“Segala hal bila dilakukan dengan ketulusan …”.

Bagaimana kalau kata bila kita coret?

“Segala hal bila dilakukan dengan ketulusan …”.

Mungkin Anda akan berpikir, bagaimana kalau kita tidak menyukai tugas tersebut? Memangnya kenapa kalau tidak suka, apakah membuat Anda mati? Sepanjang pekerjaan itu mulia, bukan pekerjaan maksiat misalnya mencuri, mengelabuhi atau korupsi – kenapa tak Anda lakukan?

Coba ubah mindset Anda sekarang juga menjadi seorang yang punya keyakinan “Yes, I can do it!” maka setiap rintangan akan mudah Anda hadapi. Berapa banyak fresh graduate yang menolak pekerjaan sebagai seorang Sales? Banyak sekali. Mereka berharap setelah lulus kuliah sudah bisa bekerja di belakang meja dan setiap bulan mendapat gaji besar. Mungkin bisa saja terjadi ini. Namun kalau mereka mau memulai dari bidang Sales, mereka akan belajar dengan cepat. Bukankah kunci adanya bisnis justru karena adanya transaksi penjualan? melalui transaksi penjualan inilah terjadi pertukaran value (nilai) dimana penjual memberikan manfaat (value) kepada pembeli dan pembeli memberikan kompensasi berupa uang sesuai dengan manfaat yang ia terima. Ketulusan seorang karyawan baru menjalankan pekerjaan penjualan akan menghasilkan sikap yang tulus, tercermin dari begitu dalamnya pengalaman lapangan yang kemudian terpendar menjadi hikmah yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang utuh.

Mengapa tak Anda coba?

Sekali Saja

Suatu hari saya sedang memesan kendaraan roda empat dengan sistem daring. Sang pengemudi langsung memberi tahu bahwa posisinya agak jauh dari rumah saya sehingga ia bilang agak lama menjemputnya. Saya kemudian jawab bahwa di aplikasi daring pada HP saya menunjukkan estimasi skeitar 20 menit dan saya tidak masalah menunggu selama itu. Kemudian ia sepakat akan menjemput saya. Selebihnya saya tinggal HP saya dan sekitar 8 menit kemudian saya coba lihat di peta aplikasi untuk memastikan posisi pengemudi tersebut. Saya agak heran kok posisi mobilnya tak bergerak. Namun kemudian saya coba tunggu barangkali petanya sedang bermasalah. Kemudian saya kirim pesan ke pengemudi tersebut menanyakan posisi dimana. Dia jawab bahwa sedang macet di Jl. Kesehatan. Namun saya heran kok posisi mobilnya tak bergerak dari 8 menit lalu, masih tetap di tempat yang sama. kemudian saya coba zoom ternyata posisi mobil berada di Jl. Kesehatan Bawah, alias bukan jalan raya Kesehatan . Menurut pengalaman saya jalan tersebut tak pernah macet karena memang komplek perumahan yang relatif sepi.  Penasaran, saya tanya lagi kenapa mobil dari tadi tak bergerak. Jawabannya membuat saya kaget karena dia bilang sedang ganti ban mobil yang bocor. Singkat cerita, pengemudi ini ternyata berbohong ke saya dengan awalnya beralasan macet dan kemudian baru bilang bocor ban. Meski agak aneh juga kalau tambal ban kok di dalam komplek perumahan. Dia tidak bisa berkelit lagi dan dengan terpaksa saya cancel dan sekaligus saya catat namanya lengkap dengan nomor polisi kendaraannya.

Tell A LIE onceQuote ini rasanya pas menggambarkan bagaimana sebuah kepercayaan langsung runtuh bila seseorang berbohong. Seorang yang profesional tentu tak akan pernah melakukan hal bodoh ini. Hal ini jelas merugikan orang lain dan yang lebih penting lagi, merugikan dirinya sendiri. Di jaman yang serba digital ini sulit kita berbohong karena dengan mudahnya akan ketahuan. Pengemudi tersebut jelas tidak bisa mengelabuhi dimana posisinya karena terdeteksi dengan baik oleh peta digital. Terlepas dari jamannya, meskipun masih belum ada teknologi, kebohongan akhirnya akan terungkap juga. Sebagai seorang profesional kita dituntut jujur. Ketidakjujuran akan terpancar dalam sikap dan perilaku seseorang. Sekali saja berbohong, selebihnya orang tak akan percaya meski yang disampaikan adalah kebenaran. Kejujuran memang mahal dan harus diperjuangkan.

REVQuote2_WEB

Tom Peters on Management

QUOTE_WEB

Adam Grant - A Friend Is