Feeds:
Posts
Comments

Connecting Happiness

Saat ini saya berada di dalam mobil Honda Brio yg merupakan taksi daring menuju RS Siloam Semanggi untuk bezuk kerabat yang dirawat di sana.  Seperti biasa pak supir nyetel radio dan saat ada iklan saya kaget saat bunyinya : JNE – connecting happiness.  Whoa…  Saya terhenyak dengan tiga kata ini karena ini adalah tagline yang keren sekali.  Kenapa?

Selama ini saya tidak pernah punya masalah serius dengan JNE bahkan cenderung puas alias happy.  Bahkan saya pernah menggunakan jasa pesaing JNE tapi kecewa berat.

Selain itu,  happy adalah indikator outcome bukan output.  Artinya,  tujuan JNE bukan sekedar mengantarkan paket tapi memuaskan pelanggan.  Jelas ini tujuan yang berani karena mereka tak bicara lagi masalah pengiriman cepat namun juga si pengirim maupun penerima bahagia.

Mantab!

smile

Advertisements

Complex Problem Solving Skills menjadi urutan pertama yang dibutuhkan pada 2020 dari mereka yang bekerja berdasarkan prediksi dari World Economic Forum. Ketrampilan ini pada dasarnya mencakup  kemampuan identifikasi permasalahan kompleks, melakukan review terhadap informasi yang relevan, mengembangkan alternatif serta mengevaluasinya untuk kemudian mengimplementasikannya. Ini berarti mencakup tahap berikut:

  1. Mendefinisikan masalah
  2. Menyusun alternatif solusi
  3. Evaluasi terhadap setiap alternatif solusi
  4. Implementasi solusi

Albert Einstein pernah ditanya mengenai pemecahan masalah dimana ia hanya diberi waktu 1 jam untuk menyelesaiaknnya, ia bilang bahwa 55 menit akan dia gunakan untuk mendefinisikan permasalahan dan hany 5 menit untuk solusi. Hal ini memberikan pembelajaran bagi kita bahwa mendefinisikan permasalahan merupakan proses yang panjang dan perlu dipikirkan masak-masak hingga masalah sebenarnya dipahami dengan benar. Dalam dunia bisnis kita sering mendengar bahwa produktivitas karyawan rendah karena banyak yang malas dan kurangnya kecakapan melakukan pekerjaannya. Seolah permasalahan terletak pada karyawan yang malas dan kurang cakap. Padahal bisa jadi bukan itu permasalahan pokoknya, karena bisa saja karyawan malas karena atasan kurang memberi beban kerja yang menantang sehingga pekerjaan segera diselesaikan atau atasan kurang jelas dalam memberi penugasan. Saya pernah menghadapi situasi seperti ini dimana karyawan tak ada supervisi sehingga mereka mengerjakan pekerjaannya tanpa arahan yang jelas dan pada akhirnya banyak pekerjaan terbengkalai karena karyawan tidak paham sepenuhnya apa yang diharapkan dari mereka sehingga mereka terkesan malas.

6 Topi Berpikir

Saya sudah mempraktekkan metodologi 6 Topi Berpikir yang dikembangkan oleh Edward de Bono pada sekitar tahun 1985. Metodologi ini ampuh untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks. Sebelum menguraikan tentang metode ini, akan lebih baik kita pahami dulu apa itu permasalahan kompleks. Ada 10 hal yang mengindikasikan sebuah permasalahan termasuk kompleks:

  1. Solusinya sangat tergantung pada bagaimana permasalahan dipahami
  2. Permasalahan tidak sepenuhnya dipahami setelah dipecahkan
  3. Permasalahan tak bisa sepenuhnya dipecahkan
  4. Orang yang terlibat dalam mencari solusi bisa memiliki pandangan yang berbeda dan boleh jadi radikal
  5. Solusinya bukan benar atau salah namun bagus atau buruk atau lebih baik atau lebih buruk
  6. Kita tak tahu sebelumnya apa dampak dari intervensi yang kita lakukan
  7. Setiap permasalahan kompleks pada dasarnya unik
  8. Sebab-akibat tidak diketahui bahkan bersifat tak bisa diketahui
  9. Setiap solusi bersifat “satu jurus operasional” dan setiap hal akan menyebabkan konsekuensi yang tak diperkirakan sebelumnya
  10. Setiap permasalahan kompleks bisa dianggap sebagai gejala dari permasalahan lainnya.

Dalam permasalahan kompleks seperti ini maka sulit menggunakan tool seperti fishbone diagram (diagram tulang ikan) karena begitu banyak kemungkinan penyebab dan juga seringkali sulit menemukan akar masalahnya apa. 6 Topi Berpikir yang ditemukan oleh Dr Edward de Bono merupakan tool yang efektif dalam menyelesaikan masalah yang kompleks. Karakteristik dari metode ini:

  • Metoda berpikir yang dikembangkan oleh Edward de Bono di tahun 1985
  • Metode ini tepat untuk kelompok dalam rangka berpikir non-konvensional
  • Menggunakan pendekatan kolaboratif dan bukan adversarial
  • Merupakan metafora untuk justifikasi pemikiran kita
  • Setiap topi mewakili suatu pola berpikir tertentu
  • Konsepnya adalah: kita memakai satu topi tertentu pada saat tertentu pada saat diskusi, bukan dicampur aduk.

Mengapa tool ini efektif dan paling cocok bagi sebuah tim-kerja untuk menyelesaikan masalah-masalah kompleks?

Screenshot 2017-11-26 13.33.25

Keunggulan metode ini memang untuk bekerja dalam tim, bukan bekerja sendiri-sendiri. Setiap warna topi mewakili suatu topik yang harus dibahas secara bersamaan oleh semua anggota tim dan tidak boleh keluar dari topik. Misalnya, pada saat membicarakan topi putih yaitu terkait data dan fakta, tak diperkenankan mengungkapkan masalah atau kekesalan atau apapun karena data adalah data. Kalau misalnya sebuah perusahaan mencapai omzet penjualan 30 Milyar misalnya, itu adalah murni data. Tak boleh ada komentar bahwa itu menyenangkan atau mengecewakan karena itu bagian dari topi merah yang berbicara mengenai perasaan dan emosi. Untuk jelasnya, setiap warna topi mencerminkan topik yang dibahas:

Screenshot 2017-11-26 13.36.18

Sesuai dengan warna topi maka iterasi proses diskusi berdasarkan warna topi adalah:

  • Mulai dengan topi biru yang merupakan awal dari sebuah diskusi: mengenai gambaran umum yang ingin dibahas dan bagaimana cara-cara pembahasannya lengkap dengan agenda pembahasan.
  • Topi putih menguraikan tentang data-data atau informasi terkait dengan hal yang akan dibahas, misalnya pembahasan terkait rencana strategis perusahaan maka dalam topi putih ini bisa dibahas: capaian penjualan, persaingan, biaya produksi, produktivitas dsb. Semua hal yang sifatnya informasi dan data, tanpa ada judgment mengenai data atau informasi tersebut.
  • Topi merah menguraikan perasaan dan emosi apa yang “dirasakan” oleh setiap anggota tim terkait dengan situasi yang sedang berlangsung (penjualan, biaya, persaingan dsb.). Perasaan atau emosi, tak harus ada alasan yang kuat mengapa itu terjadi karena namanya juga perasaan. Seorang yang baru masuk ke sebuah perusahaan merasa happy dan semangat tanpa mengetahui mengapa perasaan tersebutu ia rasakan.
  • Topi hitam berbicara mengenai hal-hal negatif terkait apa yang dialami (hasil dari topi putih) ternasuk permasalahan apa yang sebenarnya dihadapi. Pada dasarnya topi hitam adalah topi terkait masalah.
  • Topi kuning membahas terkait hal-hal positif maupun hikmah dari semua hal yang sedang dialami termasuk pembelajaran apa yang bisa dipetik dari yang sedang dihadapi saat ini maupun masa lalu serta bagaimana itu bisa menjadi faktor penggerak untuk lebih baik di masa mendatang.
  • Topi hijau adalah terkait kreativitas – artinya: apa yang bisa dilakukan secara beda (hal-hal baru) agar semua hal yang telah dibahas dari topi biru – putih – merah – hitam – kuning bisa diatasi dengan baik dan memberikan dampak luar biasa kepada perusahaan.
  • Diakhiri lagi dengan topi biru yang merangkum semua hal pokok dari pembahasan bertahap setiap topi sebelumnya. Yang terpenting dengan topi biru ini adalah menyusun langkah tindak lanjut terhadap hasil diskusi.

Mengapa metode ini selalu memberikan kesuksesan sekurangnya dari serangkaian workshop yang pernah saya kelola? Menurut saya adalah karena adanya topi merah yang secara khusus membahas terkait emosi dan perasaan. Metode lainnya, misalnya problem solving menggunakan paretto, fishbone diagram atau lainnya tidak secara khusus memberi ruang pada faktor emosi dan perasaan ini.

Selamat mencoba!

 

 

Dari tweet ini, apakah Anda siap dengan skills ini?

Top 10 Skills

Baca lengkap di SINI.

Yuk, kita bangun bersama skills ini ….

Time Management

Pagi ini iseng baca buku “Time Management” karya John Hoover dibuka dengan quote dari Management Guru yang masyhur, Peter Drucker:

Screenshot 2017-11-25 10.02.29

Wah! Bener juga yang dia bilang karena memang masalah pokok yang sering kita hadapi sebagai Manager ya memang bagaimana mengelola waktu karena pada ujungnya kita sering mengeluh: gak punya waktu. Padahal, sudah jelas bahwa setiap orang di dunia ini, siapapun dia, hanya punya waktu 24 jam saja dalam satu hari. Bagaimana Anda mengelola yang 24 jam ini sehingga waktu Anda terbagi baik untuk :

  • Kewajiban Anda kepada Sang Khaliq, Allah subhanahu wa taala, karena hidup di dunia ini hanya sementara sedangkan hidup di akhirat adalah selamanya.
  • Mencapai tujuan atau target duniawi Anda: berkarya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dan diri Anda, membahagiakan keluarga Anda (orangtua, istri dan anak-anak) serta bersosialisasi dengan orang lain.

Kepiawaian kita dalam mengatur dua hal besar itulah yang tiap hari kita hadapi. Inilah pentingnya setiap saat melakukan perenungan sebelum bertindak. tentu saja merenungnya jangan lama-lama karena bisa jadi tidak melakukan dua hal besar tersebut. Selamat merenung dan berkarya!

 

Ketika diminta mendesain sebuah program tentang “Teknik Negosiasi dan Persuasi”, saya justru mengusulkan yang berbeda: DO NOT NEGOTIATE. MAKE DEAL! Eh, justru usulan saya ini yang menang dan dipilih. Alasan saya jelas: untuk berbisnis kita tak harus melalui proses negosiasi yang kadang (bahkan sering kali) melelahkan. Padahal, kalau orientasi kita adalah pemberiaan manfaat (baca: “value creation”) buat apa harus melalui proses melelahkan. You can get what you want without going through a tiring negotiation. Caranya bagaimana? Ada 10 langkah agar kita bisa create value sehingga pelanggan kita langsung mak JLEB kagum sama kita dan gak ada alasan baginya untuk menyeret kita ke arena negosiasi karena memang tak ada alasan baginya.
Apa saja 10 langkah tersebut? Nantikan ya…. Nanti saya share. Soalnya ini lagi siap2 gowes mau meeting dulu. Ya g pasti semua langkah tersebut dijamin mantab jaya. Kalau tidak, silakan komplain aja sama Bang Jaya!
Stay tuned guys….!
JrèNg!

“Whatever You Think, Think The Opposite”

Do Not Negotiate

Mungkin baru kali ini saia membaca buku bisnis yang ujungnya justru ketakutan dan kesedihan. Memang masih belum tuntas membacanya karena baru saia mulai saat perjalanan ke Surabaya Ahad malam dan saat pulang tadi siang. Tepatnya memang baru sampai halaman 62 (chapter 2). Namun itupun sudah membuat saya tercengang dan sekaligus sedih. Pertama, soal prediksi robot terkait dengan perawatan orangtua dimana Toyota dan Honda saat ini sedang menggelontorkan dana luar biasa besar untuk mengembangkan eldercare robotics. Perkembangannya luar biasa karena ternyata semua pekerjaan perawatan orangtua telah bisa dilakukan oleh robot kecuali dua hal: memandikan dan menggosok gigi. mengapa saya sedih? Karena di masa depan nanti diprediksi semakin tidak ada anak yang merawat orangtuanya sendiri. Kalau di Jepang memang karena semakin banyak populasi orang sepuh dan banyak yang tak punya anak.

Kedua, lebih mengerikan lagi yakni dengan maraknya riset dan pengembangan DNA sequencing machine yang awalnya sebenarnya untuk penyembuhan penyakit kanker, dengan menata-ulang DNA. Namun …ke depannya akan dikembangkan DNA sequenching machine yang bisa mendesain DNA sehingga bayi-bayi yang terlahir nanti diharapkan akan memiliki kecerdasan yang diinginkan oleh kedua orangtua mereka. Wah …ini bahaya sekali karena semuanya menjadi bisa didesain oleh manusia. Di Amerika sendiri hal ini masih merupakan perdebatan. Namun …siapa yang nanti bisa mencegah perkembangan teknologi ini.
Hmmm ….menurut saya, dua hal tersebut mengerikan … Meskipun tentu ada dampak positifnya juga (karena memang awalnya untuk kemanfaatan positif).

— Nanti nyambung lagi ….dalam bentuk resensi —

Menarik untuk disimak artikel bertajuk Six Principles for Developing Humility as a Leader karya John Dame dan Jeffrey Gedmin di Harvard Business Review tanggal 9 September 2013.  Enam prinsip ini sekaligus membenarkan bahwa yang dikatakan oleh Daniel Goleman tentang ciri-ciri seorang pemimpin yang efektif adalah memiliki kecerdasan emosi yang tinggi karena dalam artikel ini 6 prinsip tersebut merupakan perilaku orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi. Apa saja 6 prinsip tersebut? Mari kita simak satu persatu.

  1. Tahu yang tidak tahu. Seorang pemimpin yang rendah hati mengakui bahwa dirinya tak mengetahui segala hal bahkan ia secara terbuka mengatakan bahwa ia tak tahu. Hal ini tak usah kemudian membuat diri malu karena sebagai pemimpin masak tidak tahu. Misalnya Anda seorang Supervisor penjualan dimana Anda memilik 10 tenaga penjual (Sales) yang bertanggung-jawab kepada Anda. Maka sudah tak perlu merasa malu bahwa Anda tak memahami sepenuhnya karakteristik pelanggan Anda karena memang yang berinteraksi langsung dengan pelanggan adalah para Sales Anda. Justru akan menjadi tidak efektif bila Anda sok tahu memahami semua karakteristik pelanggan karena bisa jadi ada ratusan bahkan pelanggan yang mana Anda sendiri tak sempat berinteraksi dengan semuanya. Namun, Anda tak perlu merasa “tidak tahu apa-apa” karena Anda bisa memberi nasehat kepada para Sales Anda terkait interaksi yang memikat sehingga pelanggan setia kepada perusahaan Anda.
  2. Tidak takut gagal karena publisitas. Sebagai manusia kita tentu pernah berbuat salah dan bisa jadi akan selalu ada kesalahan. Misalnya pada saat mengumumkan harga produk ternyata ada kesalahan fatal karena kekurang-telitian kita. Kalau Anda menghadapi hal seperti ini, langsung lakukan perubahan dan langsung akui kesalahan. Tak perlu Anda takut karena nantinya akan beredar di publik bahwa Anda berbuat salah. Orang akan tetap maklum karena memang sifat manusia terkadang membuat salah. Keberanian mengakui kesalahan tak membuat reputasi Anda akan hancur — bahkan bila Anda lakukan dengan tulus dan pengorbanan, publik akan menilai bahwa Anda adalah pribadi yang bisa dipercaya. Yang dimaksud dengan pengorbanan di sini adalah misalnya bila ada pelanggan sudah terlanjur membeli produk Anda berdasarkan harga yang salah, perusahaan Anda berani menanggungnya, itu justru merupakan strategi pemasaran yang ampuh mendongkrak nama baik perusahaan Anda. Namun Anda tegaskan sejak tanggal diakuinya kesalahan maka transaksi selanjutnya menggunakan harga revisi. Yang justru tabu dilakukan adalah melempar kesalahan ke orang lain. Ingat, Anda adalah pemimpin — kalau terjadi kesalahan maka tetap Anda bertanggung-jawab meskipun yang mengetik daftar harga adalah sekretaris Anda. Sebagai pemimpin Anda harus mengecek lagi. Bila terlewatkan, tanggung-jawabnya ada di Anda bukan sekretaris Anda.
  3. Tak meremehkan persaingan. Seorang pemimpin yang rendah hati mengakui bagusnya produk atau jasa dari pesaing. Adanya mereka jadi pesaing Anda berarti ada pelanggan yang memilih mereka daripada perusahaan Anda. Berarti mereka berhasil memenangkan hati pelanggan sehingga pesaing yang menang. Tugas Anda justru bukan menjelek-jelekkan mereka atau menyalahkan ke pelanggan mengapa mereka memilih pesaing Anda dan bukan perusahaan Anda. Justru sebagai pemimpin Anda harus belajar mengenai hal-hal baik apa yang pesaing tawarkan dan bandingkan dengan perusahaan Anda. Siapa tahu ternyata Anda bisa memberikan hal yang jauh lebih baik — bahkan ini adalah tantangan ANda untuk menciptakan manfaat yang lebih dirasakan oleh pelanggan sehingga Anda memenangkan persaingan. Jangan juga ANda menganggap pesaing lelalu lebih buruk dari kita meskipun kita menguasai pangsa pasar.
  4. Merangkul dan mendorong semangat melayani. Christopher Lovelock, seorang pakar dalam industri jasa, pernah menyampaikan gagasan bahwa untuk selalu berada di atas persaingan kita harus berorientasi pada Product PLUS. Penekanan justru pada PLUS nya itu, yakni bagaimana kita bisa memberikan pelayanan terbaik terhadap produk / jasa yang kita tawarkan. Misalnya, Anda adalah Manager dari perusahaan alih-daya yang menyediakan tenaga Satpam untuk perusahaan lain. tentu sudah banyak perusahaan sejenis yang melakukan alih-daya ini. Namun, Anda melayani dengan cara yang berbeda, misalnya setiap ada satpam yang sedang bertugas sakit, Anda segera mengirimkan penggantinya dalam waktu 1 jam. Mungkin pesaing Anda tak bisa melakukan itu karena mereka tak memiliki jumlah Satpam yang standby. Namun Anda melayani pelanggan Anda secara berani dan memberi jaminan dalam waktu 1 jam Satpam pengganti sudah tiba.
  5. Mendengarkan ide meskipun ide liar sekalipun. Ini yang mungkin sulit dilakukan oleh kebanyakan pemimpin. Hal ini bisa dimaklumi karena bila Anda menjadi pemimpin bisa jadi pengalaman Anda sudah banyak dan besar kemungkinan Anda menganggap anggota tim Anda masih kurang pengalaman. Namun, di era yang disruptif ini segala sesuatu bisa saja terjadi dan Anda harus siap. Yang perlu Anda lakukan adalah perlu memiliki pola pikir terbuka sehingga bisa menerima masukan dari berbagai pihak. Paul Arden dalam bukunya bertajuk Whatever You Think, Think The Opposite memberikan suatu tantangan kepada Anda bahwa berpikir terbalik mungkin perlu dilakukan dalam beberapa hal. Dan hal ini, Anda serahkan saja kepada anggota tim Anda, biarkan mereka mengungkapkan ide-ide gila dan Anda tanggapi dengan serius.
  6. Bersemangat untuk selalu ingin tahu. Curiosity menjadi penting sekali karena di era digital ini kita ditantang untuk selalu berorientasi kepada masa depan dan inipun sudah merupakan keniscayaan. Apa yang dilakukan oleh pesaing? Mengapa pesaing lebih disukai pelanggan? Apa yang menyebabkan pelanggan memilih suatu produk tertentu? Apa yang menarik dari hal itu? Tak hanya itu, Anda juga harus bertanya kepada diri Anda: mengapa Anda melakukan hal yang Anda lakukan? Hal ini penting – kata Simon Sinek – karena pada dasarnya pelanggan membeli produk bukan karena apa yang kita tawarkan tapi mereka lebih tertarik membeli produk karena mereka tahu apa yang sedang Anda lakukan. People buy why you do what you do – kata Simon.

Untuk melakukan 6 prinsip tersebut pada saat yang bersamaan tentu merupakan tantangan. Namun itu bukan mustahil untuk dilakukan bila Anda memang benar-benar ingin menjadi pemimpin yang rendah hati.

 

Pemimpin Yang Rendah Hati