Feeds:
Posts
Comments

Hari Rabu (21/02) lalu saya diundang oleh klien saya yang sedang mengadakan rapat koordinasi pemasaran untuke seluruh marketer-nya di Indonesia sebagai event challenger yang independen, diselenggarakan di Hotel Grand Mercure, Bandung. Ini sebenarnya kelanjutan dari rapat strategis yang sebelumnya di laksanakan juga namun dengan scope yang lebih luas yakni dalam hal perencanaan dan pengembangan bisnis. Event kali ini fokus hanya pada pemasaran sedangkan perencanaan dan pengembangan bisnis tak dilibatkan dalam rapat ini. Ada sekitar 40 orang yang hadir dalam sesi ini dengan agenda presentasi masing-masing sektor bisnis (ada 4 sektor) dimana saya diminta memberikan tantangan (challenge) untuk setiap pemateri yang empat itu.

Tema yang saya bawa dalam setiap challenge adalah poster pinterest ini: “Business has only two basic functions: Marketing and Innovation”. Dengan tema ini maka jelas bahwa saya ingin menanamkan kepada setiap peserta yang hadir bawa peran marketing amat sangat penting dan tak bisa sedikitpun dilewatkan.

d60c9a19840f95339a35ead201668409

Dalam sesi-sesi challenge yang waktunya khsusus diberikan ke saya setelah presentasi dan tanya-jawab dari peserta, saya menekankan dan memfasilitasi (baca: membakar!) semangat peserta dengan 7 hal pokok ini, yang harus ada di setiap sesi atau rapat pemasaran:

  1. Tingkat Kepuasan Klien. Mestinya setiap sektor bisnis memahami seberapa puas klien terhadap pekerjaan yang telah dilakukan baik di level nasional maupun cabang. Semua pemateri kemarin lebih menekankan pada aspek finansial: target revenue dan profit. Tingkat Kepuasan klien merupakan metric (ukuran) yang sangat penting sehinga musti dibahas di bagian awal dari rapat pemasaran, baru kemudian membahas finansial.
  2. Tiga hal penting apa yang akan dilakukan dalam bulan ini dan bulan depan. Marketing butuh speed dan kita sudah akan masuk bulan Maret, harus bisa cepat menindaklanjuti apapun rencana yang telah dibuat sebelumnya dan cukup fokus pada tiga hal namun yang amat penting.
  3. Apa yang telah berjalan baik selama ini (worked well) dan apa yang tak berjalan baik (did not work well). Dengan demikin kesalahan yang sama tak terulang lagi dan tak perlu dicontoh oleh cabang lain. Yang sudah baik, ditularkan.
  4. Apa yang telah dilakukan berbeda pada bulan ini? (What have you done differently this month?) Basis nya inovasi adalah melakukan suatu hal yang berbeda. Sudahkah dilakukan?
  5. Apa yang perlu dilakukan berbeda untuk ke depannya?
  6. Tumbuhkan selalu ANTHUSIASME karena Marketing is all about enthusiasm transferred to clients. If you do not demonstrate enthusiasm how can you expect your client does? (Sesi pagi kemarin banyak yang tidak anthusias terhadap apa yang terjadi di panggung).
  7. Dukungan apa yang dibutuhkan dari CEO? (specific)

7 hal ini harus ada dalam setiap sesi membahas pemasaran dan dimulai dengan seberapa puas klien selama ini karena tingkat kepuasan klien adalah leading indicator yang menentukan sustainability perusahaan di masa depan.

Kurang anthusias nya peserta sangat terasa di sesi pagi hari sehingga saya harus ambil peran membakar semangat mereka karena marketing is all about enthusiasm.

30fb4954636cb7d589e347b1baee4794

Bahkan, enthusiasm merupakan yang terpenting dan dalam konteks professional excellence termasuk dalam komponent ke tiga: Engagement – artinya seorang pemasar harus bisa engage orang lain bahkan kliennya!

 

Advertisements

Do It Yourself

From Pinterest:

Kemarin saya diundang klien untuk berperan sebagai event challenger dalam rapat koordinasi direktorat perencanaan dan pengembangan bisnis yang diselenggarakan tanggal 8-9 Februari 2018 di Novotel Bandung. Peran saya adalah memberikan tantangan kepada pemateri yang terdiri dari 4 orang Kepala Divisi menyangkut: perencanaan bisnis, pengembangan bisnis, sumber daya manusia dan teknologi informasi. Rapat strategis yang bercakupan nasional dan bertema : Closing the Gap Between Strategy to Implementation. Saya diminta menanggapi dan memberi tantangan kepada masing-masing pemateri setelah selama 45 menit mereka membahas rencana kerja mereka untuk tahun 2018 ini.

Start with WHY

Saya menggunakan kerangka sederhana dari Simon Sinek: Start with WHY pada saat saya memulai sesi tanggapan dan tantangan dari saya.

Golden Circle

  • Mengapa Anda berada di sini? Pertanyaan ini penting untuk Anda sekalian jawab sebelum melangkah ke sesi selanjutnya karena tanpa memahami sepenuhnya alasan mengapa Anda berada di sini – maka perjalanan Anda ke Bandung (termasuk macet hingga dicapai dalam 6 jam) akan menjadi sia-sia baik bagi diri Anda maupun perusahaan. Gak usah dijawab sekarang, namun setiap saat Anda harus menanyakan hal ini kepada diri Anda sendiri.
  • Dengan terus menerus Anda menanyakan “Mengapa Saya di Sini?” maka sebenarnya Anda sedang menggali tujuan Anda apa dan itu pasti terkait dengan tujuan hidup Anda dalam skala besar. Apple adalah perusahaan komputer seperti DELL, HP, IBM atau lainnya. Tahukah Anda mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan? Jawaban mereka: “We always believe in challenging the status quo” – artinya … Apple tak pernah merasa puas dengan capaian apapun yang telah mereka raih, terus berinovasi.
  • Setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaan Mengapa maka selanjutnya Anda akan lebih mudah menguraikan bagaimana, khususnya di sini, bagaimana Anda akan melakukan implementasi dari strategi kelak. Kalau tujuan Anda adalah value creation maka tentunya Anda tahu bagaimana caranya menciptakan nilai untuk klien Anda.
  • Dan tentunya pada akhirnya Anda bisa identifikasi dengan mudah terkait apa yang Anda targetkan harus terjadi dan apa tindak-lanjutnya.

Sederhana bukan? Mulai dengan MENGAPA dan kemudian sesi koordinasi nasional ini berjalan lancar ….

Start_with_Why

 

 

 

 

 

Education comes from within

Banyak dari kita beranggapan bahwa kesuksesan tergantung dari jenjang pendidikan sehingga sekolah di universitas terbaik bahkan hingga jenjang tertinggipun diupayakan agar seseorang meraih sukses. Memang hal ini tak bisa disalahkan karena memang ada banyak contoh orang yang sukses karena melalui pendidikan yang dilalui dari universitas terbaik. Namun, bagi yang tak berkesempatan atau bahkan tak mampu melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi tak perlu berkecil-hati karena juga ada banyak contoh orang-orang yang disebut sukses tanpa melalui pendidikan tinggi misalnya Soichiro Honda, Bill Gates, Steve Jobs, hingga Susi Pudjiastuti dan masih banyak lagi.

Napoleon Hill mengatakan bahwa pendidikan sesungguhnya justru datang dari dalam diri-kita sendiri baik itu melalui jenjang pendidikan formal maupun non-formal melalui perjuangan, usaha dan pikiran. Artinya, pendidikan tak mengenal media atau metode apa yang digunakan: kalau seseorang menggunakan pikirannya untuk merajut setiap perjuangan dan usahanya dan kemudian menyusun dan menjalankan langkah ke depan dengan belaja dari pengalamannya untuk berjuang dan berusaha lagi — maka itulah yang disebut dengan pendidikan atau pembelajaran yang sesungguhnya. Bahkan dengan cara ini ANda sebenarnya boleh mengklaim diri Anda sebagai orang yang sukses. Hal ini dikatakan oleh Soiciro Honda bahwa sukses merupakan 99% kegagalan. Kesuksesan seseorang bukan dilihat dari 1% hasil yang kemudian membuatnya terkenal, misalnya dengan produk mobil Honda yang diciptakan, namun jutru hal tersebut tercapai setelah melalui 99% kegagalan yang dilalui sebelumnya. Artinya, proses pendidikan sebenarnya justru diperoleh dari gabungan antara perjuangan, usaha dan pikiran.

Bagaimana dengan Anda?

  • Akankah Anda hanya termenung putus-asa karena perjuangan yang selama ini Anda lakukan belum juga membuahkan hasil menggembirakan?
  • Akankah Anda menyalahkan usaha Anda selama ini dan menganggapnya sebagai hal yang sia-sia karena pada akhirnya yang diperoleh merupakan kegagalan semata?
  • Akankah Anda menyelahakan pikiran Anda yang salah karena menganggap bahwa perjuangan dan usaha yang selama ini Anda praktekkan ternyata tak membuahkan hasil memuaskan sehingga Anda menganggap pikiran Anda kerdil?

Kembali ke tujuan Anda: Apa yang sebenarnya ingin Anda capai dalam hidup ini? Bagaimana melakukan langkah menuju tujuan Anda dengan menggabungkan tiga hal yang penting ini: perjuangan, usaha dan pikiran?

 

Knowledge Sharing (18/01/2018), Digital Planet, KPPTI

Sebuah Catatan


image004

Berawal dari gurauan di sebuah grup liqo akhirnya terlaksana juga diskusi terkait profesionalisme ini pada sore hari tadi (18/01/2018) pada pukul 17:00 – 18:15. Karena sifatnya diskusi awalnya hanya diperkirakan sekitar 4-5 orang yang hadir. Di luar dugaan ternyata ada 13 orang yang ikut dalam diskusi ini.

Seperti biasa, saya selalu memulai suatu sesi dengan melemparkan pertanyaan sederhana yang mungkin selama ini jarang ditanyakan mungkin karena tak dianggap penting:

“Bisakah Anda menyebutkan satu atau beberapa orang di kantor Anda yang Anda nilai sebagai orang yang profesional?”

Peserta 1:

Ada dan ada beberapa orang (menyebutkan namanya – red.) dimana mereka ini:

  • bekerja dengan acuan “di atas standar”
  • sering melakukan hal-hal baru penuh inisiatif
  • meluangkan waktu khusus untuk coaching tim-nya
  • menggunakan fasilitas perusahaan “secukupnya” dan tidak memanfaatkannya secara penuh (misalnya ke Singapura tidak menginap padahal fasilitas jabatan memberikan kesempatan menginap)
  • bersedia turun ke bawah ikut menyelesaikan masalah
  • selain bekerja juga menjalankan misi dakwah

Peserta 2:

Ada dua hal yang perlu ditekankan:

  • pertama, memang banyak sekali orang yang ahli di bidangnya (kompeten) di perusahaan dan telah menunjukkan keahliannya selama dertahun-tahun dengan perusahaan
  • kedua, mengkategorikannya sebagai orang profesional perlu dilihat juga aspek bagaimana yang bersangkutan mengemban “amanah” terhadap pekerjaan tersebut — artinya apapun yang dia hasilkan dari keahliannya tidak berhenti di situ saja, ia harus terus mempertanggungjawabkan hingga keseluruhannya diselesakan secara baik dan tuntas, tidak berhenti di areanya dia saja.

Dari dua jawaban tersebut kemudian diskusi mengalir terkait dengan keluasan definisi profesionalisme yang tak berkutat pada “keahlian” dalam bidang tertentu semata namun juga diperlukan sikap amanah baik dalam prosesnya maupun mempertanggung-jawabkan hasil dari proses tersebut hingga tuntas.

Profesionalisme, menurut David Maister dalam bukunya “True Professionalism“, tak bisa dilihat dari penilaian diri semata namun lebih kepada apa yang Anda inginkan orang lain menilai diri Anda. Artinya, yang berhak menentukan profesionalisme seseorang adalah penerima hasil-kerja Anda atau orang yang berproses bersama Anda menjalankan suatu pekerjaan tertentu. Seseorang tak bisa mengatakan dirinya profesional karena memang itu bukan ranahnya, ia tak berhak mengatakan itu dan menjadi aneh bila ia mengatakan: “Saya bekerjanya profesional”.

Profesionalisme memerlukan tiga pilar:

  1. Keselarasan (Alignment) antara tujuan (pribadi dan perusahaan), nilai-nilai yang dijalankan, dan pemenuhan harapan klien / pelanggan;
  2. Kemampuan (Capabilities) yakni mampu secara teknis mengelola informasi dan sumber-daya;
  3. Keterlibatan (Engagement) yakni memiliki kepuasan terhadap pekerjaan maupun perusahaan, memiliki komitmen tanpa harus ada yang menyuruh dan selalu mengabarkan hal positif tentang perusahaan / pelerjaannya ke orang / pihak lain.

Screen shot 2018-01-29 at 8.23.53 AM

Hal ini memicu diskusi yang lebih dinamis lagi diantara peserta :

Ada tiga jenis manusia; pertama, manusia “pengganjil” yang kehadirannya dalam suatu kelompok membuat ganjil alias membuat masalah sehingga kehadirannya menimbulkan kegaduhan atau keributan dan kelompok tak berfungsi dengan baik; kedua, manusia yang kehadirannya tak memberi sumbangan apa-apa sehingga dia hadir atau tidak tak memberikan dampak sama sekali kepada kelompoknya; ketiga, manusia “penggenap” yang kehadirannya membuat kelompok berfungsi / berkinerja lebih baik. Jadilah manusia ketiga yaitu yang selalu memberikan “manfaat” kepada kelompok.

Karena diskusi diikuti peserta liqo yang bertemu sepekan sekali, maka pembicaraan juga menekankan kepada rasa syukur sebagai muslim dimana tiga pilar tersebut memang sudah diajarkan dalam Islam:

  • bekerja secara amanah sesuai tujuan kenapa kita diciptakan Allah Taala, menjalankan nilai-nilai Islam dalam memenuhi permintaan pelanggan / klien baik vertikal (Allah) maupun horizontal (dengan manusia).
  • selalu belajar untuk bisa melakukan amal-soleh melalui pengelolaan informasi (sumber ilmu) dan sumber-daya
  • mengajak orang lain untuk mengikuti jalan yang lurus, jalan yang dikehendaki Allah Taala melalui contoh-contoh dari Rasulullah.

Peserta juga berbagi mengenai bagaimana pengalaman mengajak teman-teman bekerja satu unit yang awalnya hanya dia sendiri menjalankan shalat BMW (berjamaah di masjid pada awal waktu) dan sekarang mayoritas telah mengikutinya. Maasya Allah.

Diskusi mengalir lancar dan berakhir pada saat adzan Maghrib berkumandang.

Diskusi akan dilanjutkan di kemudian hari — terkait:

  • Bagaimana membangun profesionalisme dengan tiga pilar tersebut?
  • Apa hambatan yang akan dijumpai? Bagaimana mengatasinya?

 

EQ can make you wealthy and successful, according to science—here’s how to build yours

https://search.app.goo.gl/6k5L

Shared from my Google feed

Connecting Happiness

Saat ini saya berada di dalam mobil Honda Brio yg merupakan taksi daring menuju RS Siloam Semanggi untuk bezuk kerabat yang dirawat di sana.  Seperti biasa pak supir nyetel radio dan saat ada iklan saya kaget saat bunyinya : JNE – connecting happiness.  Whoa…  Saya terhenyak dengan tiga kata ini karena ini adalah tagline yang keren sekali.  Kenapa?

Selama ini saya tidak pernah punya masalah serius dengan JNE bahkan cenderung puas alias happy.  Bahkan saya pernah menggunakan jasa pesaing JNE tapi kecewa berat.

Selain itu,  happy adalah indikator outcome bukan output.  Artinya,  tujuan JNE bukan sekedar mengantarkan paket tapi memuaskan pelanggan.  Jelas ini tujuan yang berani karena mereka tak bicara lagi masalah pengiriman cepat namun juga si pengirim maupun penerima bahagia.

Mantab!

smile