Feeds:
Posts
Comments

Copas.

Siapa sangka teknologi jaringan 4G yang saat ini menjadi sedang menjadi perbincangan hangat karena kecepatan datanya yang sangat cepat tersebut, ternyata penemunya adalah orang Indonesia. Dia adalah Khoirul Anwar, seorang profesor muda asal Kediri Jawa Timur.

Prof. Dr. Khoirul Anwar, demikian nama lengkap dan gelar yang menempel pada dirinya saat ini. Ia merupakan seorang ilmuwan top di Jepang yang berasal dari Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Khoirul Anwar adalah lulusan cumlaude Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2000. Setelah itu kemudian dia melanjutkan pendidikan di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) dan memperoleh gelar master di tahun 2005 serta doktor di tahun 2008.

Profesor muda kelahiran 1978 itu menemukan metode komunikasi yang lebih cepat dengan energi yang lebih sedikit dalam keterbatasan kanal komunikasi. Ia mengurangi daya transmisi, hasilnya kecepatan data yang dikirim meningkat tajam.

Sistem ini mampu menurunkan energi sampai 5dB atau 100 ribu kali lebih kecil dari yang diperlukan sebelumnya,” demikian diungkapkan sang Profesor Khoirul Anwar. Ternyata penemuan hebat putra dari almarhum Sudjianto dan Siti Patmi ini terinspirasi dari film animasi Dragon Ball, sebuah film animasi dari Jepang yang kerap ia tontonnya sejak remaja.

Ketika Goku (tokoh utama Dragon Ball) akan melayangkan Spirit Ball yang merupakan jurus terdahsyatnya, Goku akan menyerap semua energi makhluk hidup di alam sehingga menghasilkan energi yang luar biasa,” katanya. Konsep itu, kemudian dia formulasikan dalam rumus matematika untuk diterapkan pada penelitian oleh Khoirul Anwar.

Jurus Spirit Ball dianalogikan sebagai turbo equalizer yang mampu mengumpulkan seluruh energi dari blok transmisi yang ter-delay, maupun blok transmisi terdahulu, untuk melenyapkan distorsi data akibat interferensi gelombang.

Kini sebuah sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu lagi diperisai oleh guard interval untuk menjaganya kebal terhadap delay, pantulan, dan interferensi. Padahal awalnya hal itu dianggap tak mungkin di dunia telekomunikasi,” katanya.

Lebih lanjut Khoirul mengatakan bahwa guard interval merupakan sesuatu yang tidak berguna di perangkat penerima. Selain hanya untuk pembatas, mengirimkan power untuk sesuatu yang tidak berguna adalah sia-sia, demikian ucap suami dari Sri Yayu Indriyani.

Metode ala jurus Dragon Ball ini bisa dibilang mampu memecahkan masalah transmisi nirkabel. Apalagi temuan ini bisa diterapkan pada hampir semua sistem telekomunikasi, termasuk di jaringan GSM, CDMA, dan cocok untuk diterapkan pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi dengan tingkat kompleksitas rendah.

Menurut Khoirul, dalam penerapannya metode ini mampu menjawab masalah telekomunikasi di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit maupun di daerah pegunungan. Sebab di daerah itu biasanya gelombang yang ditransmisikan mengalami pantulan dan delay lebih panjang,” katanya.

Tak heran bila temuan ini menghasilkan penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010 lalu di Taiwan.

Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan teknologi ini juga tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi China, Huawei Technology.

Dengan digunakannya teknologi ini oleh industri, Khoirul berhak mendapatkan royalti. Dan sebagai bentuk penghargaan terhadap orang tuanya, royalti pertamanya dia berikan kepada sang ibu di Kediri.

Awal pendidikan

Ini bukan sukses pertama bagi Khoirul. Pada 2006 lalu, ia juga telah menemukan cara mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier seperti Orthogonal Frequency-division Multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier Code Division Multiple Access (MC-CDMA).

Caranya yaitu dengan memperkenalkan spreading code menggunakan Fast Fourier Transform sehingga kompleksitasnya menjadi sangat rendah. Dengan metode ini ia bisa mengurangi fluktuasi daya. Maka peralatan telekomunikasi yang digunakan tidak perlu menyediakan cadangan untuk daya yang tinggi.

Belakangan, temuan ini ia patenkan. Teknik ini telah dipakai oleh perusahaan satelit Jepang. Dan yang juga membuatnya kaget adalah, sistem telekomunikasi 4G ternyata sangat mirip dengan temuan yang ia patenkan itu.

Namun, Khoirul tak pernah lupa dengan asalnya. Hasil royalti paten pertamanya itu ia berikan untuk ibunya yang kini hidup bertani di Kediri. Ini adalah sebagai bentuk penghargaan saya kepada orang tua, terutama Ibu, demikian diucapkan oleh Khoirul Anwar.

Ayah Khoirul meninggal karena sakit, saat ia baru lulus SD pada tahun 1990. Sang ibu kemudian berusaha keras menyekolahkannya, walaupun kedua orang tuanya tidak ada yang lulus Sekolah Dasar.

Sejak kecil, Khoirul hidup dalam kemiskinan. Tapi selalu ada jalan baginya untuk terus menuntut ilmu. Misalnya, ketika dia melanjutkan SMA di Kediri, tiba-tiba ada orang yang menawarkan kos gratis untuknya.

Begitu pula saat ia meneruskan kuliah ITB di Bandung, selama 4 tahun ia selalu mendapatkan beasiswa. “Orang tua saya tidak perlu mengirimkan uang lagi,” kata Khoirul mengenang masa lalunya.

Otaknya yang moncer terus membawa Khoirul ke pendidikan yang lebih tinggi. Ia mendapatkan beasiswa S2 dari Panasonic, dan selanjutnya meneruskan kuliah S3 dari salah satu perusahaan Jepang.

“Alhamdulillah, meski saya bukan dari keluarga kaya, tetap bisa sekolah sampai S3. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pemberi beasiswa,” katanya.

Tak pernah lupa Indonesia

Sukses di negeri orang tak membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. “Suatu saat saya juga akan tetap pulang ke Indonesia. Setelah meraih ilmu yang banyak di luar negeri,” kata Khoirul.

Di luar kehidupannya sebagai seorang periset atau peneliti, Khoirul juga mengajar dan membimbing mahasiswa master dan doktor. Kedalaman pengetahuan agama pria yang sempat menjadi takmir masjid di SMA-nya itu, juga membawanya sering didaulat memberi ceramah keagamaan di Jepang, bahkan kerap dipercaya menjadi khatib saat pelaksanaan Shalat Ied.

Tak hanya itu, Khoirul juga kerap diundang memberikan kuliah kebudayaan Indonesia. “Keberadaaan kita di luar negeri tak berarti kita tidak cinta Indonesia, tapi justru kita sebagai duta Indonesia,” kata dia.

Selama mengajar kebudayaan Indonesia, ia banyak mendengar berbagai komentar tentang tanah airnya. Ada yang memuji Indonesia, tentu, ada pula yang menghujat. Untuk mereka yang sering menghujat, ia biasanya menjawab dalam bahasa Jepang: Indonesia ha mada ganbatteimasu (Indonesia sedang berusaha dan berjuang).

Khoirul Anwar dan Keluarga Khoirul tinggal di Nomi, Ishikawa, Jepang, tak jauh dari tempat kerjanya, bersama istrinya, Sri Yayu Indriyani, dan tiga putra tercintanya. “Semua anak saya memenuhi formula deret aritmatika dengan beda 1,5 tahun,” Khoirul menjelaskan.

Anak pertamanya lahir di Yokohama, 1,5 tahun kemudian lahir anak keduanya di Nara, disusul anak ketiganya yang lahir 1,5 tahun setelah anak keduanya lahir. Ia tak sependapat dengan beberapa rekan Jepangnya, yang mengatakan kehadiran keluarga justru akan mengganggu risetnya.
Baginya keluarga banyak memberikan inspirasi dalam menemukan ide-ide baru. “Belakangan ini saya berhasil menemukan teknik baru dan sangat efisien untuk wireless network saat bermain dengan anak-anak,” katanya.

Mudah-mudahan dengan mengulas cerita Prof. Dr. Khoirul Anwar, Sang penemu jaringan 4G dari Kediri ini menjadi inspirasi untuk anak muda untuk terus b[truncated by WhatsApp]

Terlepas dari profesi apa yang sedang Anda lakoni atau ingin Anda raih di kemudia hari, Anda harus memiliki satu prinsip dasar yang Anda yakini bahwa itu harus dijalankan agar meraih yang terbaik dan sukses. Ini berlaku tak hanya dalam hal kita bekerja di dunia ini maupun dalam hal spritiual tentang penciptaan kita hidup di dunia ini untuk kemudian kita meninggal dunia menghadap sang Khaliq, Allah Subhanahu Wa Taala. Satu hal yang harus diingat mengapa kita harus pegang teguh prinsip dasar ini karena pada dasarnya bekerja atau mencari nafkah untuk keluarga itu adalah menjalankan amanah karena kita hidup di dunia juga tak lain adalah untuk beribadah kepadaNya. Untuk itu harus ada yang kita pegang sebagai dasar berpijak sehingga setiap langkah yang kita jalani memijak pada prinsip dasar tersebut.

Dalam hal profesi atau pekerjaan, saya percaya sepenuhnya bahwa segala sesuatu harus dimulai dengan apa yang sebenarnya ingin kita capai dalam hidup ini. Artinya, saya harus memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan akhir yang ingin saya capai. Bahwa tujuan itu nanti tak tercapai, itu bukan menjadi masalah. Seperti pepatah mengatakan bahwa bila Anda tak memiliki tujuan, maka kemanapun Anda melangkah pasti akan tiba di suatu tempat. Dimana tempat tersebut, tak jadi masalah karena Anda tak pernah mendfinisikan. Saya tak bisa menerima keadaan seperti ini karena bagi saya, hidup harus memiliki tujuan akhir sejelas mungkin. Pada saat saya menetapkan ingin menjadi seorang CEO, saat itu (sekitar tahun 1985) saya yakin sekali bahwa ini merupakan tujuan jelas bagi saya. Namun, dengan berjalannya waktu dan pembelajaran yang saya alami selama berprofesi di dunia kerja, saya melihat semakin jelas bahwa tujuan saya sebelumnya itu harus saya lakukan definisi ulang. Ternyata, menjadi CEO hanya merupakan salah satu cara atau peran untuk berkontribusi dalam upaya menyehatkan kinerja suatu perusahaan atau organisasi. Peran lainnya, bisa sebagai konsultan atau sebagai penasehat (advisor). Bahasa gaulnya, mana lebih keren sih, menjadi CEO atau “Penasehat CEO”? Kok, saya lebih suka yang kedua dan tetap tujuan akhir saya jelas bahwa saya ingin memajukan efektivitas sebuah organisasi atau perusahaan mencapai tujuannya.

Dari contoh saya di atas, jelas bahwa dalam mendefinisikan tujuan akhir, perlu proses yang panjang untuk penyempurnaannya dimana dalam kasus saya memerlukan waktu sekitar sepuluh tahun bahwa ternyata yang saya ingnkan bukannya menjadi seorang CEO namun berkontribusi dalam perbaikan kinerja bisnis sebuah perusahaan. Menjadi CEO memang memberikan kontribusi langsung, sedangkan konsultan atau advisor memberikan kontribusi tak langsung. Namun ini semua tergantung pilihan kita, apakah mau langsung atau tidak langsung.

Setelah kita tahu tujuan akhir, selanjutnya kita harus membangun kompetensi atau skill set yang benar-benar dibutuhkan agar kita bisa mencapai apa yang kita tuju. Dalam kasus saya, mempelajari lebih lanjut tentang pengelolaan bisnis suatu perusahaan merupakan subyek yang harus saya perdalam. Saya melakukannya dengan banyak membaca buku serta menghadiri seminar atau pertemuan bisnis agar saya selalu mengikuti perkembangan dan tantangan baru dunia bisnis. Bahkan, saya melakukan hal yang mungkin orang lain menganggap saya gila karena dari kegetolan membaca buku, saya sekaligus memilih kasus-kasus strategic management yang bagus dan relevan dengan kondisi Indonesia untuk kemudian dibahas bersama dengan teman-teman saya. Inipun bukan suatu hal yang mudah karena saya harus mengumpulkan teman-teman, di luar kantor, yang memiliki passion yang sama. Saat itu teman-teman kantor saya tak ada yang memiliki passion yang sama sehingga saya mulai bekrja keras mengkontak beberapa teman sekolah maupun teman sosial yang akhirnya terkumpul sekitar sepuluh orang yang mau bergabung. Pada saat itu email belum merupakan hal yang biasa dilakukan sehingga saya foto copy kasus-kasus bisnis dari buku-buku yang saya miliki kemudian saya sebarkan ke 10 orang tersebut. Kemudian kita jadwalkan setiap sebulan sekali bertemu membahas kasus-kasus tersebut. Ini meruspakan salah satu saja dari upaya saya membangun kompetensi menjadi konsultan yang handal.

Dari ilustrasi tersebut, yang saya lakukan adalah mengetahui tujuan akhir yang ingin saya capai dan kemudian mengambil tindakan (action) untuk membuat saya mampu mencapainya. Setelah lama saya renungkan akhirnya saya menemukan sebuah singkatan dahzyat dan menjadi prinsip dasar saya yaitu VALUE yang merupakan singkatan Vision and Action Lead Us to Excellence. Maknanya adalah: bila kita memang bersungguh-sungguh ingin mencapai tujuan akhir kita maka kita harus memiliki visi yang jelas disertai dengan langkah-langkah rapi yang direncanakan dengan baik agar visi tercapai dengan baik. Tak mungkin bila saya hanya memiliki tujuan akhir namun tak disertai dengan tindakan (action) mencapainya. Itu namanya hanya mimpi. Sebuah mimpi terburuk adalah bila kita tak memiliki kendali terhadapnya sama sekali. Tentu, saya tak mau itu, maka saya harus menyertainya dengan tindakan nyata. Kalaupun saya hanya “just do it” alias menjalankan tindakan tanpa cantolan visi yang jelas, maka yang saya lakukan adalah sekedar aktivitas tanpa makna. Saya juga tak mau menjalani hidup hanya sekedar bertindak tanpa tujuan yang jelas. Untuk itulah saya pegang teguh prinsip VALUE tersebut.

Salah satu yang menjadi persyaratan seorang konsultan manajemen, menurut saya adalah membaca buku. Buku adalah jendela dunia. Tanpa buku, saya merasa ketinggalan jauh. Mungkin ini bagi beberapa orang bukan merupakan hal yang mutlak bila ingin berprofesi sebagai konsultaan. Namun menurut saya, membaca buku adalah harga mati agar kita bisa terus inovasi memberikan solusi terbaik untuk klien. Mungkin tak sekedar untuk memberikan solusi, membaca buku jelas terbukti membuka wawasan kita tentang kasus-kasus yang menimpa perusahaan. Memang, saya jarang sekali menemukan solusi permasalahan klien yang saya jumpai hanya dari buku belaka karena setiap perusahaan memiliki permasalahan yang unik dan tak bisa digeneralisir pemecahannya. Setiap perusahaan memiliki dinamika tersendiri dan sebuah solusi di suatu perusahaan bukan jaminan untuk solusi yang tepat untuk perusahaan lainnya meski jenis usahanya sama. Buku pun tak bisamemberikan jawaban definitif terhadap kasus yang saya jumpai di sebuah perusahaan. Yang bisa dilakukan oleh buku adalah:

  • membantu dalam proses menetapkan pendekatan yang tepat terhadap kasus yang saya jumpai di perushaan klien, karena biasanya buku menguraikan contoh-contoh kasus yang benang merahnya bisa kita ambil untuk memnyelesaikan permasalahan klien saya;
  • memberikan kerangka kerja yang baik dan terstruktur yang bisa saya adaptasikan sesuai kebutuhan dari klien saya;
  • membantu memberikan perangkat analisis untuk memudahkan saya dalam mengkaji permasalahan klien yang sedang saya jumpai.

Di bawah ini saya uraikan beberapa buku yang mempengaruhi saya dan kemudian meletakkan dasar yang kokoh dalam menjalankan tugas saya sebagai konsultan. Sebagian besar yang saya uraikan adalah buku-buku klasik dan selanjutnya tak perlu saya uraikan lagi karena, sesuai perkembangan jaman, beberapa teknik analisa sudah mengalami perubahan. Namun prinsip-prinsip dasar yang diuraikan oleh buku-buku klasik ini masih tetap berlaku hingga kini. Pemutakhiran lebih lanjut memang saya lakukan karena memang saya tergolong rajin memburu buku-buku baru sebagai referensi.

  1. Competitive Strategy: Techniques for Analyzing Industries and Competitors” oleh Michael E Porter. Buku yang edisi pertamanya diterbitkan pada tahun 1980 oleh Free Press ini sungguh sangat fenomenal bagi saya dan utamanya bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan bisnis. Yang istimewa dari buku ini adalah pengenalan suatu pisau bedah analitis yang sangat mudah dari segi visual maupun penggunaannya yang biasa disebut dengan five forces. Istilah ini sangat biasa dikenal oleh beberapa orang pebisnis utamanya bila mereka ingin mengetahui posisi tawar bisnis mereka relatif terhadap pesaing. Lima gaya yang dimaksud oleh Porter adalah: posisi tawar pembeli, posisi tawar pemasuk, ancaman dari pemanin baru, ancaman dari produk substitusi dan intensitas persaingan dari pemain yang ada. Masing-masig dari gaya ini oleh Porter diuraikan lebih rinci lagi ke dalam beberapa aspek yang akhirnya membantu kita untuk merumuskan menarik atau tidaknya suatu industri (industry attractiveness) dan posisi relatif kita terhadap pesaing.
  2. Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance” oleh Michael E Porter (1985). Dengan pengarang yang sama, buku ini orientasinya lebih kepada perusahaan yang bersangkutan dengan memfokuskan kepada mata-rantai nilai (value-chain) perusahaan tersebut dalam memberikan produk atau jasanya kepada pelanggan. Memang harus saya akui, Porter adalah pemikir strategi yang sangat jenius karena dia bisa mematakan sebuah pisau bedah yang tepat untuk masing-masing permasalahan yang dihadapi perusahaan. Bila masalah itu terkait eksternal, yakni bagaimana perusahaan berkiprah terhadar pesaing maka gunakan pisau bedah five forces. Bila sudah tahu posisi persaingan dan strategi menghadapinya, bagaimana proses internal perusahaan dibenahi agar sinkron dengan strategi yang dicanangkan sehingga memenangkan persaingan. Porter memetakan setiap perusahaan dengan value-chain yang merupakan mata rantai penciptaan nilai (value creation) mulai dari input hingga output dan didukung oleh proses-proses pendukung seperti fungsi SDM, Keuangan, Legal, TIK, dan sebagainya.
  3. The Strategy Process: Concepts and Contexts: 1st (First) Edition” (1992) by James Brian Quinn and Henry Mintzberg. Sebenarnya, ini juga buku strategi seperti dua buku di atas namun dengan gaya penyajian yang berbeda. Buku ini lebih menekankan kepada pengenalan konsep dasar terkait manajemen strategi dilengkapi dengan kasus-kasus yang relevan dengan konsep yang sedang dibahas. Saya masih terkesan sekali dengan kasus pertama yang dibahas oleh buku ini “The Guns of August” yang merupakan strategi perang dari permusuhan antara Prancis dan Jerman di Perang Dunia pertama. Ini merupakan kasusu pertama yang dibahas dan merupakan pengenalan kepada pembaca bahwa setiap pasukan tentara memiliki gaya perang yang berbeda tergantung dari analisis mereka tentang kondisi peperangan. Menarik juga untuk ditekankan di sini sebuah konsep yang dikenalkan oleh Henry Mintzberg tentang adanya strategi yang sifatnya dinamis atau disebut dengan emergent strategy maupun yang telah direncanakan sebelumnya (planned strategy). Menurut Mintzberg, strategi tak sekedar diformulasikan dan kemudian dijalankan namun harus digabung juga dengan kondisi terakhir dari persainagn maupun perusahaan, jadi ada yang sifatnya emergent, tidak sepenuhnya sesuai yang direncanakan.
  4. Thriving on Chaos: Handbook for a Management Revolution” oleh Tom Peters (1991). Buku ini juga fenomenal karena idenya brilian, yakni menggugurkan sebagian dari pemikiran yang ditulis oleh pengarang yang sama yang pada dekade sebelumnya menulis buku bersama Robert waterman tentang “In Search of Excellence”. Premis yang ditawarkan oleh Tom Peters di sini adalah tak ada perusahaan yang prima (excellent) karena dunia sudah berputar balik dan bahkan perusahaan yang tadinya jaya bisa bangkrut. Ia memberi contoh kasus IBM, People Express, Digital Equipment pada saat itu. Peters menyarankan dua strategi: pertama, menjual atau membeli bisnis seperti yang dilakukan GE pada periode itu; kedua, dengan fokus pada kualitas terbaik seperti yang dilakukan dalam proses transformasi di Ford. Memang kasus yang dibahas berorientasi pada raksasa di Amerika. Namun prinsip-prinsip dasarnya sangat relevan bagi saya sebagai konsultan saat itu memahami situasi bisnis saat itu. Apalagi Peters menekankan perlu adanya keahlian dalam menghadapi kekacauan (thriving on chaos).
  5. Reengineering the Corporation: A Manifesto for Business Revolution” oleh Michael Hammer dan Jim Champy (1990). Pada jaman itu buku ini meledak dan menjadi buah bibir hampir semua orang. Istilah reengineering menjadi buzzword yang laku laris manis karena setiap orang membicarakannya. Bahkan majalah bisnis Fortune menurunkan artikel khusus tentang buku yang mendobrak dunia bisnis saat itu. Meski buku ini berorientasi pada analisis terhadap proses bisnis dan upaya penyederhanaan proses agar pelayanan ke pelanggan bisa lebih cepat dan tepat, namun banyak juga hal lain yang menarik dari buku ini yakni tentang restrukturisasi alias perombakan struktur organisasi dari perusahaan karena proses bisinis yang berubah menjadi lebih sederhana. Hal yang menarik bagi saya adalah kisah terkait Federal Express dalam merumuskan visinya yang berorientasi kepada operasional, bersifat radikal karena belum pernah ada yang bisa melakukan, dan terukur. Visi Federal express saat itu adalah “We deliver your package next day before 10:30”. Sungguh ini merupakan deskripsi visi perusahaan yang jelas dan inspiratif karena pada saat itu belum ada yang bisa mengirimkan paket di Amerika dalam waktu sehari. FedEx berani melakukannya.
  6. The Paradox Principles: How High Performance Companies Manage Chaos Complexity and Contradiction to Achieve Superior Results” oleh Price Waterhouse (1995). Buku karya Price Waterhouse ini memberikan keyakinan ke saya tentang pentingnya membangun budaya perusahaan (corporate culture) karena pada akhirnya perusahaan yang bisa bersaing dan menghasilkan produk atau jasa berkualitas adalah mereka yang memiliki budaya kerja solid serta adaptif dalam menyikapi perubahan. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, di sini memang kandungannya lebih kepada sisi lunak dari perusahaan, termasuk di dalamnya nilai-nilai inti (core values) dari perusahaan.
  7. The Trusted Advisor”  oleh David H. Maister et al. (2001). Kalau Anda ingin menjadi konsultan sukses, Anda harus membaca buku ini karena memang sangat mendasar dalam memberi pelajaran kepada kita tentang tiga kompetensi inti seorang konsultan atau dia menyebutnya sebagai the trusted advisor. Pertama, ia harus bisa mendapatkan kepercayaan (trust) dari klien dimana ia bekerja. Kedua, ia harus bisa membangun dan membina hubungan baik dengan klien. Ketiga, ia harus bisa memberi rekomendasi atau nasehat yang efektif kepada kliennya. Tanpa tiga ketrampilan dasar ini, maka sulit seorang konsultan bisa bertahan lama dalam profesinya sebagai konsultan.
  8. Managing The Professional Service Firm” oleh David H. Maister. Bila pada The Trusted Advisor, David Maister menekankan kepada individu sebagai konsultan atau advisor, sedangkan di buku Managing The Professional Service Firm Maister memfokuskan kepada bagaimana mengelola lembaga konsultan yang sukses. Bila Anda memang bermaksud membentuk sebuah lembaga konsultan, taka ada hal lain selain Ada wajib membaca buku ini dan mencermatinya dengan baik kandungannya.
  9. Mintzberg on Management” oleh Henry Mintzberg (1989). Henry Mintzberg mendobrak pemahaman kita tentang apa tugas seorang manager dengan mengajak pembaca menelusuri lebih dalam ke dalam isi perut sebuah organisasi perusahaan. Didalam buku ini ia mengupas tentant strategi, struktur, kekuasaan dan politik dalam suatu kajian terkait organisasi. Menarik sekali buku ini memmbahas peran manager daam pengembangan strategi, perlunya analisisi dan intuisis dalam perusahaan, Kemudian ia juga menguraikan konfigurasi struktur organisasi yang pemikirannya fenomenal dan banyak dikenal dengan istilah Stuctures in Five. Di bagian akhir dari buku ini ia membahas tentang peran organisasi di masyarakat.
  10. Corporate Culture and Performance”  oleh John P. Kotter dan James L. Heskett (1992). Yang menarik dari buku ini adalah analisis terkait bagaimana budaya organisasi bisa mempengaruh kinerja finansial sebuah organisasi, baik itu menjadi lebih baik ataupun lebih buruk. Salah satu kasus yang memikat saya adalh kisah Xerox yang membangung budayanya begitu solid hingga menjadi pemain pasar dominan sehingga menimbulkan arogansi di dalam organisasinya. Pesaing mencuri persainagn Xerox dengan memperkenalkan konsep “meminjamkan mesin photo copy” kepada klien dan bukannya menjualnya. Tentu ini merupakan suatu model radikal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Xerox. pesaing-pesaing dari Jepang ini sedikit demi sedikit menggerus pangsa pasar mesin photo copy di Amerika kala itu. John Kotter adalah pakar manajemen perubahan yang hingga kini karya-karyanya masih digunakan sebagai referensi.

Masih banyak buku-buku lain yang pada ahirnya juga mempengaruhi saya, terutama dalam menjalankan profesi saya sebagai konsultan. Beberapa buku tersebut juga dulu secara rutin saya buat resensinya di Koran Tempo melalui edisi Ruang Baca yang terbit dua minggu sekali. Sayang sekali sekarang sudah tak ada lagi edisi tersebut.

Saya sudah menguraikan panjang lebar mengenai pekerjaan sebagai konsultan manajemen dan mengapa saya akhirnya tertambat di pekerjaan ini dari tahun 1994 hingga sekarang. Lalu, apa hubungannya dengan Anda? Justru itulah saya sebenarnya ingin menggali tentang hal ini karena yang penting adalah bagaimana Anda menyikapi kehidupan ini, khususnya dalam hal memilih bidang kerja yang pas bagi Anda. Dalam hal ini saya tak memaksakan diri bahwa Anda harus menjadi konsultan namun sekurangnya saya ingin membantu Anda sedikit membuka diri tentang potensi Anda khususnya dalam karir pekerjaan Anda ke depan.

Pertama, saya ingin menekankan kepada Anda, jangan pernah menggantungkan rencana karir Anda kepada orang lain, apalagi kepada perusahaan dimana Anda bekerja. Pakailah pepatah yang digunakan oleh Jack Welch yang pada saat menjabat sebagai CEO GE pernah berujar: Control your destiny, or someone else will. Sebuah ungkapan yang bagi saya sangat menohok ulu ati paling dalam dan membuat saya berpikir terus menerus mengenai kehidupan karir saya kedepan. Maksud saya begini: bila Anda mau mengarungi kehidupan ini sesuai dengan apa yang Anda inginkan, maka Anda harus mengendalikan sendiri perjalanan hidup Anda dan bukan secara pasif menerima perlakuan perusahaan tempat Anda bekerja untuk melakukan rencana karir Anda. Saya tak berniat membuat Anda berontak kepada perusahaan Anda. Sama sekali tidak. Perusahaan baik, tentu memiliki jalur karir yang baik dalam program talent management mereka. Rekomendasi alur karir yang mereka sampaikan kepada Anda bukan dimaksudkan memberi batasan bergerak Anda tapi justru membantu Anda menggali potensi Anda berdasarkan pengalaman Anda di perusahaan tersebut maupun pengalaman sebelumnya.  Saran saya, Anda harus berterima kasih telah disediakan alur karir (career path) yang jelas mengenai masa depan Anda di perusahaan tersebut. Namun, jangan hanya berhenti di sini, Anda harus gali diri Anda lebih lanjut terhadap potensi-potensi diri tersebut terutama dalam hal kemungkinan pengembangannya. Bisakah Anda mengembangkan diri lebih jauh lagi dari potensi yang ada? bila selama ini Anda terpaku pada bagian produksi terus menerus kemudian disediakan alur karir hingga Manajer Produksi dan akhirnya pada Product Development, misalnya; Anda juga harus kembangkan lebih lanjut. Apakah hanya terbatas pada masalah produksi saja? Bisakah saya melakukan hal baru misalnya kajian produksi dan memberi rekomendasi efisiensi produksi? Lebih jauh lagi, apakah Anda menyukai pekerjaan analisis dan pemecahan masalah? Bila jawabannya ya, maka Anda perlu pertimbangkan karir sebagai konsultan manajemen.

Kedua, jangan pernah merasa ragu tentang kemampuan atau potensi Anda karena itu semua bisa dipelajari asalkan memang Anda menginginkannya sepenuh hati. Ada teman saya yang bekerja di suatu perusahaan namun selalu mengeluh terus menerus tanpa ada tindak-lanjut dari keluhannya. Ia memang lebih mengeluh kepada kebijakan perusahaan yang tidak konsisten dan seringnya mengutamakan penghematan daripada kepedulian kepada karyawan atau perluasan usaha. Namun teman saya tersebut tak juga pernah punya rencana keluar mencari perusahaan lain yang lebih baik. Dia terpaksa loyal kepada perusahaan tersebut. Teman saya yang lain lagi begitu loyalnya pada perusahaan sehingga seringkali ia mesti merasa takut kepada atasan bila ada missed call bahkan bila itu pada akhir pekan sekalipun. Memang dengan berjalannya waktu hingga puluhan tahun dia bekerja di situ akhirnya dia menjadi salah satu direktur di perusahaan tersebut. Herannya, setiap bertemu dengan saya dia selalu menggebu-gebu ingin sekali menjadi konsultan seperti yang saya tekuni. Dalam dua kasus ini, dua teman saya meragukan kemampuan dirinya menekuni dunia konsultan sebagai pilihan hidup. Mereka menginginkannya, mereka bisa melakukannya, namun mereka takut mengambil sikap.

Ketiga, cobalah tuliskan apa yang sebenarnya ingin lakukan dalam hidup ini. Saya yakin sebenarnya Anda pasti punya sederet daftar keinginan dalam hidup ini namun takut menulikannya karena takut tak bisa mendapatkannya atau merasa tak perlu menuliskannya. Percayalah ke saya bahwa menuliskan tujuan hidup itu lebih penting daripada mengingatnya di dalam hati atau pikiran saja karena suatu saat Anda akan lupa dengan sendirinya. Dengan menulisnya, maka Anda akan lebih mudah menemukan pilihan yang tepat. Bahkan ada sebuah buku yang mengatakan bahwa setiap hari tuliskan 10 gagasan hingga akhirnya Anda menemukan gagasan tersebut. Menulis artikel ini merupakan salah satu gagasan yang saya tulis dari beberapa hari menulis 10 gagasan. Saya menulisnya di dalam HP saya sehingga saya dengan mudah mengingatnya, juga saya memiliki buku khusus untuk menulis gagasn tersebut agar saya bisa membuat sketsa tentang apa yang saya lakukan. Menulis buku tentang profesi konsultan meruakan gagasan ke 6 dari 40 gagasan yang saya tulis. Saya juga tidak tahu bagaimana akhirnya mengerucut ke gagasan nomer 6 ini. Tentunya hal ini tak terlepas dari cita-cita sejak dulu untuk menulis sebuah buku namun tak juga terlaksana karena selalu saja ada perubahan subyek yang ingin saya tulis. Semoga artikel-artikel yang saya tulis ini merupakan bahan pokok dalam menulis buku terkait profesi konsultan.

Keempat, bila Anda ragu tentang potensi sebagai konsultan karena ketakutan Anda untuk bisa mendapatkan penghasilan yang layak, segeralah sadarkan diri bahwa banyak orang yang justru bisa berhasil secara finansial sebagai konsultan. Anda juga bisa memulai profesi konsultan dengan bekerja di perusahaan lain yang memang bidang usahanya adalah konsultan manajemen. Alternatif lain juga menjadi konsultan lepas independen. Harus diingat, salah satu kenikmatan menjadi konsultan adalah otak selalu berpikir terus menerus unuk menghasilkan yang terbaik dari pekerjaan kita agar klien mendapatkan solusi terbaik dari jasa kita. Selain itu, tentunya seorang konsultan akan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang profesi. Jangan kaget suatu hari Anda akan bertemu dengan dokter dengan berbagai spesialisasi bila Anda sedang menggeluti jasa konsultansi di klien yang bergerak di bidang kesehatan atau rumah sakit. Ini merupakan kesempatan langka untuk mengembangkan diri dan belajar tentang berbagai dinamika usaha dari berbagai bidang.

Sampai di sini, mulailah ANda pikirkan untuk menuliskan semua gagasan Anda.

Sebelum lebih jauh menguraikan profesi ini, maka lebih baik saya ungkapkan dulu alasan saya memilih profesi ini. Sebenernya semua bermula dari ketidaksengajaan dalam artian bahwa memilih profesi ini sudah lama saya pikirkan. Kenyataannya tidak. Masalah cita-cita, memang bagi saya merupakan hal paling rumit ketika saya ditanya oleh ibu saya, kakak-kakak aya (karena saya anak bungsu dari empat bersaudara, laki-laki semuanya), maupun oleh teman-teman atau calon atasan saya. Pelik untuk menjawabnya dan sebagai manusia yang tak punya kuasa tentang apa yang akan terjadi di masa depan, saya sering menjawabnya dengan ngglethek (sederhana, sekenanya – red.). Misalnya ketika kecil saya ditanay oleh ibu kalau nanti besar saya ingin jadi apa, dengan mudah saya jawab “Ingin jadi manten”. Lho? Iya, ini semua karena masa kecil saya penuh dengan nuansa membantu ibu mencari nafkah, salah satunya dalam usaha jasa-boga (catering) termasuk dalam kegiatan pesta pernikahan. Di mata saya, manten itu seperti raja karena pada saat pesta dialah yang menjadi pusat perhatian dan dimanjakan. Betapa nikmatnya jadi mantesn, pikir saya saat itu.

Ketika beranjak ke SMP bahkan SMA saya semakin agak fokus bila pertanyaan yang sama dilontarkan karena jawaban saya semakin agak pasti yakni ingin menjadi insinyur. Namun begitu ditanya insinyur apa, saya plengak-plengok tak bisa menjawab. Sekali lagi yang ada di otak saya adalah betapa asiknya kalau suatu hari bisa membangun jembatan dengan rancangan seorang insinyur atau bis amembuat mesin untuk mobil bahkan mesin pesawat terbang. Namun apakah itu yang sebenarnya saya inginkan? Tidak begitu jelas juga ketika akhirnya saya masuk di jurusan Teknik Industri ITB pada tahun 1979. Ketika itu pikiran saya terfokus pada betapa enaknya bisa mengatur pabrik sehingga menghasilkan produk prima dan pabriknya makin lama makin besar.

Namun, setelah saya lulus kuliah, keinginan berprofesi di pabrik kok menjadi surut karena setelah saya amati justru yang penting bukan mengurus pabrik tapi mengurus perusahaan yang memiliki tak hanya satu pabrik namun banyak pabrik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan perusahaan tersebut menang dalam kancah kompetisi. Oh …kalau begitu sebenernya saya ingin menjadi CEO sebuah perusahaan. Keinginan tersebut semakin membuncah hari ke hari bahkan setelah saya bekerja di PT Metro Data Indonesia, meski selama 6 bulan saja, berlanjut kemudian ke PT McDermott Indonesia selama 5 tahun dan seterusnya konsisten di bisnis rekayasa dan konstruksi baja untuk membangun anjungan lepas pantai (offshore platforms) untuk perusahaan migas.

Selama sepuluh tahun karir saya sebagai engineer di perusahaan2 konstruksi baja tersebutlah saya memiliki keyakinan bahwa jalan terbaik menjadi seorang CEO adalah menjadi konsultan manajemen terlebih dulu. Saya yakin sekali itu. Bahkan untuk membekali diri, saya mengambil program MBA sore hari agar saya tak ketinggalan dengan perkembangan manajemen modern. Keinginan itu semakin hari semakin kuat hingga akhirnya pada bulan Agustus 1994 saya memulai karir sebagai Senior Consultant di area Strategy, Marketing & Operations di PT Price Waterhouse Indonesia Konsutan.

Mengapa saya begitu yakin bahwa menjadi konsultan merupakan jenjang karir untuk menjadi CEO?

Dari beberapa pengalaman bergaul dengan teman2 profesional, banyak sekali para jebolan perusahaan konsultan yang akhirnya menjadi CEO di perusahaan terkemuka. Selain itu tentunya saya banyak baca buku dan majalah manajemen kala itu, misalnya World Executive’s Digest, Fortune, juga membaca banyak case study di buku-buku strategic management yang saat itu selalu menemani saya. Ambillah contoh, misalnya Lou Gestner yang jebolan konsultan dan kemudian melakukan turn around saat ia menjadi CEO di IBM. Perusahaan konsultan manajemen McKinsey merupakan gidang calon-calon CEO perusahaan terkemuka, termasuk Lou Gestner yang sebelumnya di McKinsey juga. Hal serupa juga terjadi di Indonesia dimana menjadi konsultan manajemen memberi peluang besar untuk menduduki jabatan CEO.

Keyakinan ini berdasarkan pertimbangan berikut, sebagai dasar pemikiran saya:

  • Seorang konsultan manajemen telah terbiasa menjadi seorang analis dari permasalahan kompleks sebuah perusahaan karena pengalamannya terhadap berbagai jenis klien yang menghadapi situasi perubahan pasar mendadak, persaingan semakin ketat, permintaan pelanggan yang semakin tinggi dan bervariasi, masalah internal perusahaan yang juga tak mudah dicari jalan keluarnya. Seorang konsultan manajemen terbiasa melakukan analisis dan mengusulkan beberapa alternatif penyelesaian dari kasus yang kompleks ini. Hal ini tentu berbeda dengan mereka yang sepanjang karirnya melakukan pekerjaan struktural dari sebuah funsgi organisasi tertentu, misalnya produksi, pemasaran atau pembelian yang sudah terkotak-kotak pada funsi tersebut sehingga keterkaitan dengan fungsi lainnya sering kali kurang bisa terlihat dalam analisisnya. Seorang konsultan manajemen mealkukan diagnosa terlebih dahulu dengan mengumpulkan data dan informasi terkait perusahaan, pelanggan, persaingan, ancaman produk baru maupun posisi tawar pemasok, kemudian membuat analisis komprehensif sebelum mengajukan alternatif rekomendasi.
  • Seorang konsultan terbiasa dengan melihat permasalahan dengan melihatnya secara menyeluruh (helicopter view) untuk meyakinkan setiap aspek dalam dinamika perusahaan telah ditelususri dengan baik, serta kemudian dilakukan kajian mendalam dari masing-masing permasalahan yang dihadapi sebelum menyampaikan usulan rekomendasi. Dengan perkataan lain, seorang konsultan manajemen memiliki kemampuan berpikir strategic serta mengaplikasikannya dalam bentuk alternatif rekomendasi. Mengapa alternatif? Karena pada akhirnya klien yang bersangkutan dengan pekerjaan konsultan tersebutlah yang membuat keputusan. Tentu seorang konsultan manajemen harus tuntas dalam menyajikan setiap alternatifnya, yakni dampak dari setiap alternatif dan mitigasinya agar dampak negatif bisa dihindari. Seorang yang sepanjang karirnya tak pernah menjadi konsultan akan kesulitan melakukan analisis strategic karena belum terbiasa melakukannya dan sepanjang karirnya lebih banyak mengambil keputusan yang kadangkala didasari hanya dari intuisi belaka. Memang tak sepenuhnya jelek bila mengambil keputusan berbasis intuisi. Namun, semakin maju sebuah perusahaan, diperlukan suatu alasan kuat (rationale) dari sebuah keputusan bisnis.

Untuk itulah menjadi konsultan merupakan batu loncatan terbaik bagi saya untuk emncapai posisi CEO. Untuk itulah saya menjalani karir sebagai konsultan di Price Waterhouse agar selanjutnya bisa mengantarkan saya menjadi CEO yang kompeten. Memang, menjadi konsultan beresiko pada kerja keras dimana jam kerja sering kali tak bisa dibatasi sekedar dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore, bahkan berdasarkan pengalaman saya akhir pekanpun masih beerja, paling tidak terus memikirkan bagaimana pendekatan yang benar dalam menyelesaikan permasalahan klien.

Saat awal karir saya sebagai konsultan Price Waterhouse, saya langsung menghadapi dua klien yang karakteristiknya berbeda. Klien pertama saya adalah sebuah BUMN yang bergerak pada penyediaan komoditi penting bagi petani, yakni penyediaan pupuk, yang pada saat itu menghadapi pasar bebas dengan kemungkinan dibukanya keran impor pupuk dari luar. Klien tersebut perlu menyiapkan diri terhadap kemungkinan persaingan bebas karena selama berpuluh tahun telah beroperasi sebagai distributor tunggal untuk seluruh Indonesia. Tak sebatas peyiapan secara strategik dari perubahan pasar dan kompetisi, klien ini juga membutuhkan business process reengineering yang memang saat itu sedang booming melalui buku kondang revolusioner Reengineering The Corporation karya James Champy. Tugas saya sebagai Lead Consultant melakukan industry analysis, kemudian menganalisa dinamika strategis perusahaan dan persaingan yang akan dihadapi, menyusun business processes yang sesuai (TO BE). Sangat menarik dan menantang karena saya beerja dengan Senior Managers serta Board of Directors dari BUMN tersebut. Salah satu rekomendasi saat itu adalah perlunya menetapkan daerah tumpuan yakni titik distribusi yang memberikan kontribusi finansial terbaik bagi BUMN tersebut serta rencana ke depan membentuk Holding Company.

Klien kedua adalah sebuah bisnis konglomerasi yang saat itu sedang melakukan ekspansi dan memerlukan dana dari bank sebesar 225 juta dollar agar ekspansinya tercapai. Untuk melakukan kelayakan bahwa ekspansi tersebut memang perlu dilakukan, diperlukan studi kelayakan oleh lembaga konsultan independen berkualifikasi internasional. Maka dipilihlah Price Waterhouse sebagai pelaksananya. Sunnguh, saya sangat menikmati pekerjaan ini karena sangat kental dengan analisis strategik terhadap bidang usaha yang saat itu sedang dipertimbangkan untuk ekspansi, termasuk dalam rekayasa alat berat (heavy engineering), peralatan otomotif, dan permesinan industri. Untuk tiga area tersebut saya melakukan kajian terhadap dinamika pasar dari segi demand (permintaan) serta forecastnya sepuluh tahun ke depan, posisi tawar pemasok yang ada, intensitas persaingan dan kemungkinan ancaman produk substitusi. Sebuah pekerjaan melelahkan karena harus mengumpulkan data terkait semua itu dan seperti Anda ketahui bahwa di negeri kita ini sulit sekali mencari data yang valid. Hasil dar analisis saya ini kemudian digunakan oleh konsultan pemodelan rencana keuangan yang merupakan rekan kerja saya saat itu untuk menentukan kelayakan finansial dari ekspansi tersebut. Dari klien ini saya juga bekerja dengan CEO kelompok konglomerasi ini, memberikan pandangan-pandangan serta rekomendasi terkait rencana ekspansi tersebut.

Dari dua klien tersebut bibit-bibit baru tentang arah karir saya ke depan semakin jelas terlihat karena saya merasakan sendiri bahwa ternyata bekerja sama dengan CEO atau “C” level serta akhirnya memberikan rekomendasi langkah-lanjut tentang masalah tertentu merupakan hal menarik dan sekaligus menantang. Yang jelas, saya sangat menikmati pekerjaan sebagai konsutan manajemen. Selama tiga tahun lebih saya di Price Waterhouse dengan tipe penugasan yang berbeda-beda, menangani klien yang berasal dari industri yang sangat bervariasi mencakup komoditas strategis, engineering, automotive component, manufactiring, property, real estate, perkebunan, industri jasa keuangan saya justru akhirnya tenggelam menikmati profesi sebagai konsultan manajemen hingga kini.

Sudah lama saya sering menulis topik ini di alam pikiran saya namun tak pernah juga terlaksana karena gangguan untuk selalu ingin sempurna yang selalu menunda saya menulisnya. Padahal semakin sering ditunda, maka semakin hilanglah ide dasar dari penulisan sehingga sulit mengembangkan lebih lanjut menjadi hal yang menarik bagi pembaca dan juga tentunya saya sendiri. Tanpa terasa, saya sudah melakoni profesi sebagai konsultan ini selama dua puluh satu tahun sejak saya bergabung dengan Price Waterhouse Consulting di bulan Agustus 1994. Itupun merupakan lompatan karir yang luar biasa bagi saya mengingat sebelumnya selama sepuluh tahun saya berkarir di area konstruksi sebagi production engineer di PT McDermott Indonesia hingga akhirnya menjadi Business Development Manager di PT Gema SemBrown (jont venture antara Fael Muhammad, Sembawang Singapore dan Brown & Root UK dalam rentang waktu antara 1985 hingga 1994. Sebuah lompatan luar biasa bagi saya karena secara cepat harus merubah pola pikir sebagai insinyur yang membangun barang fisik (anjungan minyak lepas pantai) ke konsultan yang memberi rekomendasi yang sifatnya managerial. Tentu saya punya alasan mengapa melakukan perubahan drastis tersebut dan bagaimana saya bisa meyakinkan Price Waterhouse Consulting mau merekrut saya. Tapi hal itu tak perlu saya bahas sekarang, nanti akan saya uraikan di kesempatan lain.

Yang lebih penting adalah mengapa saya menulis artikel ini. Tentu ada beberapa alasan.

  1. Profesi yang disukai oleh sarjana baru. Sering sekali saya menjumpai sarjana baru, baik itu lulusan S1 maupun S2 ketika ditanya ingin melakukan apa setelah lulus. Jawaban paling mereka sering ungkapkan adalah menjadi konsultan manajemen. Mengapa? Bagi mereka, menjadi konsultan memberikan kesempatan luas untuk mengeksplorasi ilmu yang mereka peroleh di bangku kuliah untuk dipraktekkan dalam dunia nyata. Memang, mereka mengakui bahwa menjalani profesi lain bisa juga mendekati apa yang mereka pelajari. Namun, dengan menjadi konsultan mereka merasa tertantang untuk selalu berpikir memberikan rekomendasi manajemen yang terbaik untuk klien.
  2. Profesi konsultan merupakan tujuan akhir setelah pensiun. Ini juga sangat sering saya jumpai dari teman-teman saya yang mendekati masa pensiun menyatakan diri akan menjadi konsultan selepas ia purna tugas di perusahaan mereka berkarir, atau sekurangnya menjadi dosen di perguruan tinggi. Artinya di sini jelas bahwa sesorang berkarir di suatu perusahaan memiliki rencana jangka panjang menjadi konsultan pada akhirnya.
  3. Banyak perusahaan membutuhkan jasa konsultan. Dari segi pasar atau permintaan, tak bisa disangkal lagi bahwa banyak sekali perusahaan yang membutuhkan jasa konsultan, seperti kebutuhan sehari-hari mereka karena banyak yan merasakan perlunya konsultan agar kegiatan usaha tetap berjalan lancar mencapai sasaran-sasaran usaha. Pertanyaannya, mengapa perusahaan-perusahaan membutuhkan jasa konsultan? Tentu banyak alasannya, antara lain:
    • Karena tak adanya keahlian tertentu yang dimiliki oleh konsultan sedangkan keahlian tersebut bukan merupakan hal yang selalu atau setiap waktu dibutuhkan, namun pada periode tertentu keahlian tersebut dibutuhkan. Salah satu contohnya adalah, misalnya konsultan transformasi organisasi yang diperlukan selama periode tertentu, misalnya dari enam bulan hingga dua tahun. Selebihnya, setelah transformasi berjalan maka perusahaan tak membutuhkan lagi keahlian tersebut karena pekerjaan trnsformasi telah selesai. Contoh lain adalah konsultan komunikasi pemasaran atas peluncuran produk baru dalam jangka waktu tertentu. Juga, misalnya konsultan pajak yang diperlukan hanya pada akhir tahun saja. Masih banyak contoh lainnya.
    • Karena perusahaan tak memiliki sumber daya tertentu untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, meskipun sebenarnya bisa dikerjakan oleh SDM yang ada karena tak perlu keahlian khusus untuk hal ini.
    • Karena perlunya independensi dari hasil suatu kajian atau rekomedasi tertentu. Hal ini tentunya untuk menghindari dugaan adanya campur tangan pihak yang berpengaruh, misalnya pemilik perusahaan berbasis keluarga. Contoh paling mudah adalah konsultan restrukturisasi orghanisasi yang membutuhkan konsultan independen agar kajian organisasi yang dilakukan bersifat obyektif, bebas dari campur tangan pihak yang berpengaruh di dalam perusahaan.

Tiga hal tersebut rasanya sudah cukup kuat sebagai pemicu perlunya menulis artikel ini. Cukuplah kiranya tiga hal ini memicu pembaca untuk mempertimbangkan karir sebagai konsultan. Mengapa tidak?

Tentu, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menetapkan pendirian.

✨:: “Nasehat Warren Buffett, Salah Satu Orang Terkaya di Dunia” :: ✨

Berikut ini adalah wawancara yang pernah Warren Buffett lakukan dengan CNBC. Dalam wawancara tersebut ditemukan beberapa aspek menarik dari hidupnya:

“Anjurkan anak untuk berinvestasi”
Ia membeli saham pertamanya pada umur 11 tahun dan sekarang ia menyesal karena tidak memulainya dari masih muda.

“Dorong anak untuk mulai belajar berbisnis”
Ia membeli sebuah kebun yang kecil pada umur 14 tahun dengan uang tabungan yang diperolehnya dari hasil mengirimkan surat kabar.

“Ia masih hidup di sebuah rumah dengan 3 kamar berukuran kecil di pusat kota Omaha, Nebraska, yang ia beli setelah ia menikah pada 50 tahun yang lalu”

“Jangan membeli apa yang tidak dibutuhkan, dan dorong anak untuk berbuat hal yang sama”
Ia berkata bahwa ia mempunyai segala yang ia butuhkan dalam rumah itu. Meskipun rumah itu tidak ada pagarnya.

“Jadilah apa adanya”
Ia selalu mengemudikan mobilnya seorang diri jika hendak berpergian dan ia tidak mempunyai seorang supir ataupun keamanan pribadi.

“Berhematlah”
Ia tidak pernah berpergian dengan pesawat jet pribadi, walaupun ia memiliki perusahaan pembuat pesawat jet terbesar di dunia. Berkshire Hathaway, perusahaan miliknya, memiliki 63 anak perusahaan.

“Ia hanya menuliskan satu pucuk surat setiap tahunnya kepada para CEO dalam perusahaannya, menyampaikan target yang harus diraih untuk tahun itu”

“Tugaskan pekerjaan kepada orang yang tepat”
Ia tidak pernah mengadakan rapat atau menelpon mereka secara reguler. Warren Buffet tidak pernah membawa handphone dan di meja kerjanya tidak ada komputer.

“Buat tujuan yang jelas dan yakinkan mereka untuk fokus ke tujuan”
Ia hanya memberikan 2 peraturan kepada para CEOnya.
Peraturan nomor satu: Jangan pernah sekali pun menghabiskan uang para pemegang saham.
Peraturan nomor dua: Jangan melupakan peraturan nomor satu.

“Jangan pamer, jadilah diri sendiri dan nikmati apa yang kamu lakukan”
Ia tidak banyak bersosialisasi dengan masyarakat kalangan kelas atas. Waktu luangnya di rumah ia habiskan dengan menonton televisi sambil makan pop corn.

Bill Gates, orang terkaya di dunia bertemu dengannya untuk pertama kalinya 5 tahun yang lalu. Bill Gates pikir bahwa ia tidak memiliki keperluan yang sangat penting dengan Warren Buffet, maka ia mengatur pertemuan itu hanya untuk selama 30 menit.
Tetapi ketika ia bertemu dengan Warren Buffet, pertemuan itu berlangsung selama 10 jam dan Bill Gates tertarik untuk belajar banyak darinya.

Berikut ini adalah nasihatnya untuk orang-orang yang masih muda:

“Jauhkan dirimu dari pinjaman bank, utang, cicilan atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yang kau miliki, serta ingat:

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apa pun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

4. Jangan memakai merk, pakailah yang benar, nyaman untukmu.

5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

6. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life.

7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain.”

“Orang yang Berbahagia Bukanlah Orang yang Hebat dalam segala Hal, Tapi Orang yang Bisa Menemukan Hal Sederhana dalam Hidupnya dan selalu Mengucap Syukur.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.