
—
Berdasarkan transkrip rekaman acara talk show “BREED Goes To Campus – UI”, berikut adalah uraian detail mengenai poin-poin percakapan dan argumen yang disampaikan oleh masing-masing narasumber [0:1.2]:
💻 1. Kang Deni Yulian (Narasumber Bidang Teknologi / AI Engineer)
Kang Deni berbicara secara mendalam mengenai perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI), tantangan karier masa depan, serta bagaimana manusia harus memposisikan diri [0:1.6, 0:1.32].
- Pengalaman di Bidang AI: Beliau telah mendalami dunia AI sejak 10 tahun yang lalu (jauh sebelum tren AI seramai sekarang) dan perusahaannya saat ini aktif membuat solusi berbasis teknologi AI untuk sektor pemerintahan (government) [0:1.6, 0:1.8].
- Gen Z sebagai AI Native: Berbeda dengan generasi sebelumnya yang merupakan digital native, mahasiswa saat ini (Gen Z) sudah menjadi AI native [0:1.9, 0:1.11]. Mereka mencari informasi langsung melalui tools seperti ChatGPT atau Claude alih-alih menggunakan Google Search [0:1.12, 0:1.14]. Gen Z memiliki kelebihan berupa kecepatan adaptasi yang luar biasa terhadap tools teknologi baru [0:1.17, 0:1.18].
- Kecepatan Evolusi AI: AI saat ini diibaratkan seperti masa awal kemunculan website di internet [0:1.21]. Namun, kurva perkembangannya jauh lebih eksponensial dan cepat daripada sejarah internet dahulu [0:1.22, 0:1.23].
- Sudut Pandang Kompetisi: Mengutip pernyataan Wakil Presiden, AI bukanlah musuh [0:1.24, 0:1.25]. Di masa depan, persaingan kerja terjadi antara orang yang menggunakan AI dengan baik dan optimal melawan orang yang tidak menggunakan AI sama sekali [0:1.28, 0:1.29].
- Perubahan Struktur Karier (Career Ladder): Pekerjaan administratif level bawah (low-level atau clerical job) akan digantikan oleh AI [0:1.35, 0:1.38]. Akibatnya, lulusan baru tidak akan merangkak dari staf terbawah, melainkan bisa langsung melakukan jumping (lompatan karier) ke level manajemen atau analisis terbantu AI [0:1.34, 0:1.37].
- Kelebihan Manusia yang Tak Tergantikan: Manusia tidak akan menang jika bersaing dengan AI dari segi kecepatan dan efisiensi [0:1.43, 0:1.44]. Tetapi manusia bisa menang di sisi aspek kemanusiaan seperti rasa ingin tahu (curiosity), kreativitas (creativity), resiliensi (resilience), agilitas (agility), serta adaptabilitas [0:1.44, 0:1.47]. AI bekerja berdasarkan data historis (masa lalu), sedangkan manusia mampu beradaptasi dengan ketidakpastian masa depan [0:1.48, 0:1.52].
- Tips Memberikan Feedback Kerja: Di dunia pengembangan produk, beliau menggunakan metode one-on-one meeting yang terjadwal secara personal [0:1.654]. Fokus pembahasannya adalah mengevaluasi proses kerja, hambatan yang dihadapi, serta rencana ke depan secara objektif tanpa melakukan pelabelan personal (no labeling) [0:1.656, 0:1.658].
- Rekomendasi Buku: The 7 Habits of Highly Effective People (Stephen Covey), buku-buku karya Malcolm Gladwell, serta literatur mengenai nilai-nilai tasawuf/religi sebagai fondasi personal [0:1.799, 0:1.800, 0:1.804].
🏫 2. Mbak Ulie (Narasumber Bidang Psikologi Pendidikan / Praktisi Sekolah)
Mbak Uli menyampaikan cerita personal mengenai emosi di balik dunia pendidikan, pentingnya iklim kerja yang aman, serta cara mengapresiasi proses belajar anak [0:1.58, 0:1.123].
- Kisah Emosi di Balik Sekolah Cita Bangsa: Mbak Uli mendedikasikan pendirian sekolah ini dari rasa marah, dendam positif, dan penderitaan masa lalunya [0:1.59, 0:1.82]. Semasa SD di sekolah unggulan, ia selalu mendapat peringkat terbawah dari belakang dan dicap “bodoh” oleh gurunya [0:1.62, 0:1.63, 0:1.77]. Pola pikirnya berubah total saat ia mendapat beasiswa sekolah musim panas di Amerika Serikat [0:1.69, 0:1.70]. Di sana ia berhasil meraih nilai A+ karena guru-gurunya selalu memberikan validasi serta kalimat yang memotivasi (encouraging) [0:1.72, 0:1.81].
- Visi dan Tagline Sekolah: Berangkat dari dendam agar tidak ada anak lain yang merasakan penderitaannya, ia membangun Sekolah Cita Bangsa dengan tagline “Semua anak adalah cerdas tanpa terkecuali” [0:1.82, 0:1.83]. Sekolah ini bertransformasi menjadi sekolah inklusi (di cabang Cibubur) yang sukses membantu anak-anak berkebutuhan khusus bertumbuh dengan luar biasa [0:1.90, 0:1.92].
- Penerapan Psychological Safety di Lingkungan Kerja: Pada awal berdiri, sekolahnya sempat mengalami tingkat turnover (pergantian) guru yang sangat tinggi [0:1.138]. Untuk mengatasinya, ia membangun budaya “rumah kedua” [0:1.145]. Ia membuat aturan ketat: siapa pun boleh mengajukan komplain/masalah, asalkan membawa minimal dua solusi konkret agar tidak hanya sekadar bisa mengkritik [0:1.147, 0:1.148]. Ia juga mewajibkan stafnya untuk saling mengapresiasi satu sama lain saat briefing pagi dan sore [0:1.150].
- Pentingnya Menghargai Proses (Mencegah Toxic Positivity): Toxic positivity muncul karena seseorang mengabaikan proses kerja [0:1.507]. Mengacu pada eksperimen psikologi, anak-anak yang dipuji secara konstan dengan kata “hebat” atau “pintar” cenderung takut gagal dan memilih tantangan yang mudah di kemudian hari [0:1.514, 0:1.517]. Sebaliknya, anak-anak yang diapresiasi karena proses usahanya akan tumbuh menjadi anak yang tangguh (self-driven) dan menyukai tantangan baru [0:1.511, 0:1.518].
- Tips Komunikasi & Jalur Karir: Di dunia kerja korporasi, komunikasi antar-generasi harus memiliki kesepakatan tertulis (misal: penggunaan WhatsApp dan email) untuk menghindari distorsi kognitif atau benturan budaya [0:1.604, 0:1.620]. Karyawan muda juga harus diarahkan sejak awal apakah ingin mengambil jalur karier spesialis (tenaga ahli) atau jalur struktural (pemimpin bisnis) [0:1.628, 0:1.630]. Menjadi pemimpin struktural membutuhkan kompetensi tinggi dalam memimpin manusia dan organisasi (leading people & organization) [0:1.636, 0:1.638].
- Rekomendasi Buku: Buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman [0:1.783].
🩺 3. Mbak Shirley (Narasumber Bidang Psikologi Klinis / Kesehatan Mental)
Mbak Shirley berfokus memaparkan sejarah kesehatan mental, fenomena bias di media sosial, serta teknik regulasi emosi mandiri [0:1.159, 0:1.167].
- Hakikat Kesehatan Mental: Konsep kesehatan mental sudah lama dikenal sejak landmark tahun 1950-an [0:1.168, 0:1.171]. Kesehatan manusia bersifat Paripurna, yang artinya tidak bisa berdiri sendiri melainkan terdiri atas kesehatan fisik, kesehatan mental, dan kehidupan sosial [0:1.171, 0:1.172]. Ketiganya berada dalam satu garis kontinuum yang dinamis (bisa bergeser ke arah sehat atau tidak sehat tergantung ujian hidup) [0:1.179, 0:1.181].
- Kritik terhadap Tren Self-Diagnosis di Media Sosial: Masa pandemi COVID-19 melambungkan isu kesehatan mental ke publik karena orang kehilangan ruang untuk menghindar (escape) dari masalah rumah [0:1.183, 0:1.187]. Sayangnya, tren ini ditangkap secara keliru di media sosial (seperti TikTok) [0:1.196, 0:1.200]. Banyak anak muda yang melakukan self-diagnosis penyakit mental berat (seperti Narcissistic Personality Disorder atau kecemasan) hanya berdasarkan video singkat, padahal penegakan diagnosis psikologi memiliki syarat klinis yang sangat rumit [0:1.192, 0:1.195].
- Bahaya Edukasi Tanpa Otoritas: Fenomena pencampuran intervensi (seperti menyembuhkan Skizofrenia hanya dengan rukiah bersama atau mengaitkannya dengan kurang ibadah/bersyukur) justru berpotensi memperparah emosi negatif pasien [0:1.204, 0:1.206]. Untuk itu, masyarakat butuh kecerdasan memilah informasi [0:1.215, 0:1.216]. Jalur terbaik untuk curhat adalah berbicara dengan sesama manusia atau psikolog profesional, bukan berkonsultasi dengan ChatGPT atau AI yang minim sentuhan rasa (feel) [0:1.223, 0:1.226].
- Dua Tahap Penanganan Emosi Negatif: Saat seseorang terjebak di lingkungan kerja atau keluarga yang sangat negatif, kepala harus ditenangkan terlebih dahulu menggunakan tahap fokus emosi (emotion-focused coping) [0:1.725, 0:1.735]. Caranya dengan pergi ke tempat aman (safe place, bahkan sesederhana kamar mandi atau alam terbuka) untuk memulihkan energi emosi positif [0:1.716, 0:1.729]. Jika kepala sudah jernih, barulah masuk ke tahap fokus pada solusi (problem-focused) untuk memikirkan jalan keluar terbaik [0:1.725, 0:1.733].
- Metode Burger Feedback: Terkait pemberian evaluasi kerja di korporasi agar karyawan tidak merasa mentalnya dijatuhkan, gunakan struktur roti-daging-roti [0:1.645]. Buka dengan sesuatu yang positif, masukkan kritik atau area yang harus ditingkatkan (improve) di bagian tengah, lalu tutup kembali dengan kalimat apresiasi yang memotivasi [0:1.646, 0:1.650].
- Rekomendasi Buku: Buku-buku lembar kerja intervensi klinis praktis, salah satunya adalah Anxiety Workbook [0:1.792, 0:1.793].
TANYA-JAWAB
Berdasarkan transkrip rekaman acara “BREED Goes To Campus – UI”, berikut adalah uraian dialog sesi tanya-jawab (Q&A) secara rinci antara penanya dan narasumber:
❓ Penanya 1: Rahmat Bowo
- Pertanyaan:
Beliau membuka dengan perkenalan nama dan latar belakangnya [0:1.327, 0:1.328]. Ia membahas konsep filosofis dari Bhagavad Gita mengenai tiga sifat manusia (Tri Guna): kebaikan (Sattvam), gairah (Rajas), dan kebodohan (Tamas) [0:1.331, 0:1.333]. Pak Rahmat mengaitkannya dengan kondisi zaman sekarang di mana banyak orang mengalami RSD (Rejection Sensitivity Dysphoria) serta menjadi cepat menghakimi (cruel) karena merasa tahu segalanya (omnipotence) setelah menggunakan AI [0:1.333, 0:1.337]. Padahal, AI menganut prinsip garbage in, garbage out dan diperparah oleh kurangnya literasi manusia sehingga memicu banyak kesesatan logika (logical fallacy) [0:1.337, 0:1.339].Inti Pertanyaan: “Bagaimana cara kita membuat kritik yang beradab dan memberikan balasan yang penuh welas asih? Serta apa sebenarnya masalah terbesar dalam emosi hubungan antar-manusia saat ini dan bagaimana cara mengelola emosi yang benar dari manusia ke manusia?” [0:1.334, 0:1.341, 0:1.343]. - Jawaban (Mbak Shirley):
Mbak Shelly merespon bahwa manusia itu tidak sederhana karena kita semua adalah produk dari pola asuh, lingkungan, dan cara orang-orang terdekat meregulasi emosinya di masa tumbuh kembang awal (di mana anak kecil seperti spons yang menyerap segalanya) [0:1.345, 0:1.348]. Kita memang tidak bisa memilih lahir di keluarga atau lingkungan seperti apa [0:1.350, 0:1.352].Namun, setelah dewasa, manusia memiliki kemampuan 100% penuh untuk memilih respon dan mengendalikan apa yang ada di bawah kendalinya sendiri. Mbak Shelly menegaskan bahwa hanya ada tiga hal yang bisa kita kendalikan: pikiran kita, perasaan kita, dan perilaku kita [0:1.355, 0:1.356]. Kita tidak akan pernah bisa mengendalikan perkataan atau penolakan orang lain terhadap kita [0:1.356, 0:1.359]. Masalah emosi manusia saat ini adalah karena kita masing-masing kurang diingatkan untuk mempraktikkan kontrol diri terhadap tiga aspek tersebut [0:1.365, 0:1.366].
❓ Penanya 2: Mukhlis Ahmad Yusuf (Professional Coach)
- Pertanyaan:
Sebagai seorang bapak yang memiliki anak generasi alpha/Z, ia menceritakan pengalamannya belajar kompetensi coaching profesional (seperti hadir penuh, mendengar aktif, dan bertanya) [0:1.373, 0:1.375, 0:1.377]. Ia melihat era digital membawa disrupsi berupa banjir pilihan informasi yang luar biasa bagi anak muda [0:1.378, 0:1.379].Inti Pertanyaan:- “Bagaimana tips di era digital ini agar opsi yang begitu banyak tidak membuat anak-anak kita terdistraksi, dan membuat mereka bisa kembali fokus pada apa yang sebenarnya mereka inginkan?” [0:1.380, 0:1.381]
- “Dari success story para pemimpin yang memahami manusia (transformational leadership), pelajaran apa yang bisa kita tumbuhkan untuk memunculkan pemimpin dari dalam diri seseorang (bukan sekadar karena ketik mengetik peran atau role typing)?” [0:1.383, 0:1.385].
- Jawaban (Mbak Shelly & Mbak Uli):
- Mbak Shelly: Remaja sering bertindak impulsif karena dorongan hormon dan emosi sesaat [0:1.387, 0:1.389]. Tips praktisnya adalah ajarkan anak untuk berhenti sejenak (stop) ketika emosinya sedang meluap [0:1.390]. Caranya bisa dengan meminta mereka berhitung mundur (misal dari 20 ke 1) [0:1.391, 0:1.393]. Berhitung mundur memaksa prefrontal korteks (otak berpikir) bekerja dan mengalihkan intensitas emosi [0:1.393, 0:1.394]. Setelah 30 detik berlalu dan emosi mereda, mereka baru bisa memilih respon perilaku yang lebih baik [0:1.394, 0:1.395]. Selain itu, tips paling efektif adalah keteladanan orang tua (do what we preach) [0:1.401].
- Mbak Uli: Kunci sukses mendampingi remaja adalah mengajarkan delay gratification (menunda kepuasan instan) [0:1.425, 0:1.426]. Di sinilah peran seorang ayah untuk mengajak anak berdiskusi mengenai dampak dan konsekuensi dari setiap pilihan yang mereka ambil [0:1.428, 0:1.430]. Terkait leadership, tindakan paling aplikatif dari seorang pemimpin adalah meruntuhkan egonya dan selalu bertanya kepada timnya saat sebuah proyek selesai (baik berhasil atau gagal): “What did we learn?” (Apa yang kita pelajari dari sini?), karena di dunia kerja tidak ada yang namanya gagal, yang ada adalah proses belajar [0:1.433, 0:1.436].
❓ Penanya 3: Muhammad Alamadani / Nabil (Mahasiswa Semester 7 Psikologi UI)
- Pertanyaan:
Nabil aktif berkegiatan bersama anak-anak [0:1.497]. Ia setuju dengan pandangan Mbak Uli mengenai pentingnya membangun psychological safety dalam mendidik anak untuk menghapus pola asuh/pola didik yang konservatif-negatif dari guru zaman dulu [0:1.497, 0:1.499].Inti Pertanyaan: “Bagaimana cara menyeimbangkan hal baik seperti psychological safety ini agar tidak kebablasan menjadi toxic positivity? Bagaimana cara memberi tahu anak-anak bahwa tindakan mereka salah agar mereka tahu batasannya, tetapi tanpa harus membuat mental mereka down atau dengan cara marah-marah?” [0:1.499, 0:1.502, 0:1.504]. - Jawaban (Mbak Uli):
Mbak Uli menjelaskan bahwa toxic positivity muncul karena kita hanya fokus pada hasil akhir dan mengabaikan proses [0:1.507]. Beliau menceritakan eksperimen psikologi mengenai dua kelompok anak yang diberi tes [0:1.512]. Kelompok pertama diberikan pujian bersifat toxic (“Kamu pintar banget, kamu hebat”), sementara kelompok kedua diapresiasi karena proses usahanya (“Kamu bagus karena kamu tadi melakukan langkah ini”) [0:1.514, 0:1.515]. Hasilnya, saat diminta memilih tes selanjutnya, kelompok pertama yang dipuji “pintar” justru memilih tes yang mudah karena takut kehilangan label “pintar” tersebut [0:1.516, 0:1.518]. Sedangkan kelompok kedua memilih tes yang lebih sulit karena mereka tahu keberhasilan adalah buah dari proses berjuang [0:1.518].Oleh karena itu, cara mendidik anak agar tahu batasan tanpa toxic positivity adalah dengan fokus mengapresiasi proses usahanya dan memvalidasi emosinya terlebih dahulu saat mereka gagal, baru kemudian bersama-sama mengevaluasi apa langkah perbaikan yang belum dilakukan [0:1.524, 0:1.527, 0:1.528].
❓ Penanya 4: Peserta Wanita / Alumni (Rekan Angkatan Mbak Uli)
- Pertanyaan:
Beliau memiliki latar belakang karier di perusahaan Telco dan FMCG [0:1.582]. Ia menyoroti tantangan pemberian apresiasi di dunia korporasi [0:1.583]. Korporasi memiliki standar target ketat yang harus dicapai (expectation score) [0:1.587]. Pemimpin dituntut untuk menjadi jujur dan baik (be kind), bukan sekadar ramah (be nice) yang justru menutupi kualitas kerja buruk karyawan [0:1.585]. Karyawan Gen Z saat ini seringkali merasa knowledge-nya sudah sangat cukup hanya karena sering diberikan penguatan positif, sehingga baru bekerja 1–2 tahun sudah menuntut untuk langsung dipromosikan [0:1.596, 0:1.598].Inti Pertanyaan:- “Bagaimana tips memberikan umpan balik (feedback) yang pas untuk generasi sekarang agar mereka tidak merasa ‘diterbangkan ke langit ketujuh lalu dibanting ke basement 2’ saat dievaluasi?” [0:1.591, 0:1.592]
- “Bagaimana sudut pandang dunia pendidikan/sekolah melihat tren generasi sekarang yang pengetahuannya cepat tapi dangkal (suka berpindah-pindah kerja/move terus) dibandingkan generasi dulu yang pengetahuannya menghujam dalam?” [0:1.594, 0:1.602, 0:1.603].
- Jawaban (Mbak Uli, Mbak Shelly, & Kang Deni):
- Mbak Uli: Feedback (baik positif maupun negatif) itu wajib disampaikan karena itu yang membuat orang maju [0:1.609, 0:1.611]. Aturan utamanya adalah dilarang melabel personal karyawan (misal kata-kata menyerang seperti: “Kamu itu orangnya malas/buruk”), melainkan gunakan teknik I-message yang berbasis fakta objektif pekerjaan [0:1.612, 0:1.613, 0:1.619]. Terkait masalah karier yang suka berpindah, perusahaan harus mengomunikasikan dengan jelas sejak awal mengenai peta jalur karier: apakah karyawan ingin menjadi spesialis (tenaga ahli yang ilmunya menghujam dalam ke bawah) atau jalur struktural (memimpin bisnis dan organisasi) [0:1.628, 0:1.630, 0:1.633]. Menjadi pemimpin struktural tidak cukup hanya pintar konsep bisnis, melainkan harus menguasai keahlian memimpin manusia (leading people & organization) [0:1.634, 0:1.638].
- Mbak Shelly: Menyarankan penggunaan teknik lama yang tetap efektif, yaitu “Burger Feedback” [0:1.645]. Lapisan roti atas adalah pembuka dengan hal-hal positif yang telah dicapai karyawan [0:1.646]. Lapisan daging (patty) di tengah adalah umpan balik mengenai apa yang perlu ditingkatkan (improve) secara jujur [0:1.646, 0:1.648]. Kemudian lapisan roti bawah adalah penutup yang berisi dorongan motivasi agar mereka kembali ke performa terbaik (ground floor) [0:1.646, 0:1.650].
- Kang Deni: Menambahkan dari sisi praktisi teknologi bahwa umpan balik terbaik dilakukan lewat sesi one-on-one meeting yang terjadwal [0:1.654]. Di sesi personal tersebut, diskusikan bagaimana perasaan mereka saat mengerjakan tugas, apa masalah konkretnya mengapa target tidak tercapai, dan apa solusi ke depannya tanpa ada unsur pelabelan [0:1.655, 0:1.658]. Mengenai tipe keahlian, di dunia teknologi dikenal struktur “T-shaped skill” [0:1.595]. Seseorang boleh memiliki keahlian yang menghujam dalam di satu bidang teknis (batang vertikal T), namun mereka tetap wajib melebarkan sayap pengetahuannya ke bidang horizontal (seperti bisnis, komunikasi, atau manajemen proyek) agar muncul kreativitas dalam menyelesaikan masalah (problem solving) [0:1.663, 0:1.671, 0:1.672].
❓ Penanya 5: Kiki (Mahasiswa Semester Akhir / Dunia Kreatif)
- Pertanyaan:
Kiki menceritakan bahwa ia lahir dari latar belakang keluarga yang tidak memiliki hak istimewa (no privilege) untuk menempuh pendidikan tinggi [0:1.683, 0:1.684]. Ia merasa sangat terinspirasi oleh kisah Mbak Uli yang berhasil mendirikan sekolah berawal dari rasa marah terhadap ketidakadilan sistem pendidikan [0:1.684, 0:1.685].Inti Pertanyaan: “Saya belum mampu membuat sekolah yang besar seperti Ibu, tetapi bagaimana tipsnya agar saya bisa membuat satu gerakan atau kegiatan kecil di lingkungan rumah saya untuk membantu adik-adik merasakan pendidikan, tetapi pendidikannya tidak terasa kaku seperti sedang diajarkan di kelas formal?” [0:1.686, 0:1.687]. - Jawaban (Mbak Uli):
Mbak Uli merespon dengan penuh haru dan kekaguman [0:1.689]. Beliau menegaskan: “Lakukan saja, Mbak! (Just do it!) Tidak usah dibuat rumit.” [0:1.691]. Niat baik untuk menolong sesama agar tidak mengalami kesulitan seperti yang kita rasakan di masa lalu pasti akan menemukan jalannya sendiri [0:1.692, 0:1.693]. Masalah kurikulum atau metode pengajaran bisa dikembangkan secara mandiri dan santai, tidak perlu langsung memikirkan izin formal sekolah formal (seperti SD) yang rumit di awal [0:1.695, 0:1.698]. Yang terpenting adalah aksi nyatanya terlebih dahulu [0:1.698].
❓ Penanya 6: Artisya (Fresh Graduate Universitas Jenderal Soedirman)
- Pertanyaan:
Menyambung penjelasan Mbak Shelly sebelumnya bahwa manusia itu seperti spons yang menyerap energi dan lingkaran pengalaman (circle of experience) dari orang-orang di sekitarnya [0:1.702, 0:1.703].Inti Pertanyaan: “Bagaimana cara terbaik bagi kita untuk mengelola emosi diri sendiri ketika kita terpaksa berada di dalam lingkungan sekitar yang keadaannya sedang sangat negatif? Apakah ada tolak ukur tertentu?” [0:1.704, 0:1.705]. - Jawaban (Mbak Shelly):
Mbak Shelly menjelaskan bahwa jawaban atau strategi keluar dari emosi negatif tidak boleh dicari saat kita sedang berada di titik terendah (negatif), melainkan harus sudah kita siapkan saat kondisi mental kita sedang netral atau positif [0:1.708]. Kita harus sadar bahwa hidup itu dinamis dan kita pasti akan mengalami momen “jatuh” [0:1.710]. Oleh karena itu, kita wajib menyiapkan “tempat jatuh” atau ruang aman (safe place) kita sendiri sejak awal [0:1.710, 0:1.716]. Ruang aman ini bisa berupa aktivitas fisik (seperti berolahraga, lari), berjalan-jalan ke alam terbuka, mendengarkan musik, atau ruang fisik sesederhana menyendiri di kamar mandi agar emosi bisa ditumpahkan tanpa terlihat orang lain [0:1.713, 0:1.718, 0:1.729].Strategi penanganannya wajib melalui dua tahapan: terapkan pendekatan fokus emosi (emotion-focused coping) terlebih dahulu untuk menenangkan diri dan menjernihkan kepala dari segala hal negatif luar yang tidak bisa kita ubah (seperti watak orang tua atau rekan kerja) [0:1.725, 0:1.731, 0:1.732]. Setelah emosi stabil dan kepala dingin, barulah kita masuk ke pendekatan fokus pada masalah (problem-focused) untuk berpikir logis mencari solusi jalan keluar konkretnya (misal: memutuskan belajar giat agar bisa merantau mandiri keluar kota) [0:1.725, 0:1.733, 0:1.735].
❓ Penanya 7: Siswa Kelas 11 SMA
- Pertanyaan:
Inti Pertanyaan: “Tema hari ini adalah ‘Leading with Emotional Intelligence’, lalu bagaimana caranya agar kita bisa mengatasi rasa cemas dan overthinking karena di lingkungan sekolah saya semuanya sudah menggunakan AI, sehingga hasil kerja teman-teman kelihatan serba sempurna dan jauh lebih bagus daripada hasil kerja saya?” [0:1.737, 0:1.738]. - Jawaban (Mbak Shelly & Kang Deni):
- Mbak Shelly: Overthinking bukan hanya masalah remaja zaman sekarang, melainkan masalah psikologis klasik manusia yang bersumber dari teori social comparison (selalu membanding-bandingkan diri) [0:1.740, 1:1.742]. Di era digital, pemicu overthinking menjadi berkali-kali lipat lebih parah karena adanya eksposur budaya pamer di media sosial [0:1.743, 0:1.747]. Cara paling sederhana untuk menekannya adalah bijaksana dalam mengonsumsi informasi dan membatasi eksposur media sosial jika dirasa sudah tidak sehat bagi mental kita [0:1.748, 0:1.754]. Ingat kembali pada tujuan personal diri kita sendiri serta tanamkan logika dasar bahwa segala pencapaian hebat yang terlihat di luar sana pasti membutuhkan proses yang panjang, tidak ada yang sifatnya instan muncul begitu saja seperti lampu Aladin [0:1.755, 0:1.758].
- Kang Deni: Menambahkan dengan tegas bahwa kita tidak boleh menghindari teknologi AI [0:1.770]. Mengulang kembali prinsip kompetisi masa depan: orang yang menggunakan AI akan mengalahkan orang yang tidak menggunakan AI [0:1.765, 0:1.767]. Maka, solusi terbaik untuk mengatasi rasa minder dan mengejar ketertinggalan adalah ikut mempelajari cara menggunakan tools AI tersebut secara baik, benar, dan bijak agar hasil kerja kita pun bisa ikut berkembang optimal [0:1.768, 0:1.773].
TESTIMONI
Berdasarkan transkrip rekaman acara “BREED Goes To Campus – UI”, di penghujung acara pembawa acara (host) meminta sukarelawan (volunteer) dari para peserta untuk maju ke depan panggung dan membagikan kesan, pesan, serta insight yang mereka dapatkan selama mengikuti sesi talk show [0:1.823, 0:1.824].
Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian mereka memberikan testimoni, pihak panitia memberikan hadiah e-wallet senilai Rp100.000 per orang [0:1.823, 0:2.022]. Berikut adalah uraian rincian testimoni dari tiga perwakilan peserta:
🎙️ 1. Testimoni dari Muhammad Alamadani / Nabil (Mahasiswa Semester 7 Fakultas Psikologi UI)
Nabil memberikan testimoni pertama dengan penuh antusias dan menyampaikan poin-poin berikut [0:1.826]:
- Apresiasi Kolaborasi: Ia membuka testimoninya dengan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada komunitas BREED sebagai penyelenggara utama acara hari ini [0:1.827]. Ia juga berterima kasih kepada Rohmi yang bertindak sebagai kolaborator utama, serta Peri Plus yang turut mendukung penuh jalannya acara tersebut [0:1.828].
- Keberagaman Perspektif: Nabil merasa diskusi hari ini berjalan sangat seru karena menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang ilmu yang sangat kontras dan bervariasi [0:1.829]. Hasilnya, para peserta bisa mendapatkan sudut pandang (perspektif) yang kaya dan bermacam-macam [0:1.829].
- Diskusi yang Hidup & Tidak Linier: Poin paling menarik menurut Nabil adalah adanya perbedaan pendapat antar-narasumber selama talk show berlangsung [0:1.830]. Bagi Nabil, perbedaan pendapat tersebut justru membuat jalannya diskusi menjadi sangat menyenangkan [0:1.830]. Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa mempelajari suatu cabang ilmu itu tidak harus selalu linier (kaku) [0:1.831]. Justru melalui gabungan berbagai cabang ilmu (psikologi klinis, psikologi pendidikan, dan teknik/AI), peserta disadarkan bahwa kebenaran sebuah ilmu itu tidak saklek (misalnya: jika A pasti hasilnya A), melainkan bisa dinamis berkembang menjadi konsep B, C, dan D [0:1.831, 0:1.832, 0:1.834].
- Interaktivitas Peserta: Nabil juga memuji antusiasme para penanya yang hadir [0:1.834]. Meskipun jumlah audiens yang datang tidak sampai membeludak di atas 100 orang (namun ruangan tetap terisi penuh), keterlibatan peserta yang sangat aktif dan penuh perhatian (atentif) membuat seluruh rangkaian diskusi berjalan dengan sangat lancar dan interaktif [0:1.835, 0:1.836, 0:1.837].
🎙️ 2. Testimoni dari Inayah (Fresh Graduate Psikologi UNES)
Inayah menjadi perwakilan dari peserta wanita yang maju untuk membagikan kesannya [0:2.001]:
- Sangat Relevan dengan Latar Belakang: Sebagai lulusan baru (fresh graduate) dari jurusan Psikologi UNES, Inayah merasa seluruh materi talk show hari ini sangat berhubungan (relate) erat dengan program studi yang selama ini ia pelajari di bangku perkuliahan [0:2.013, 0:2.035]. Ia merasa bersyukur bisa mendapatkan banyak sekali insight (wawasan) baru yang bermanfaat [0:2.040].
- Sangat Membantu Pencari Kerja: Inayah menambahkan bahwa materi mengenai manajemen emosi, regulasi diri, dan komunikasi di dunia kerja yang disampaikan oleh Mbak Uli serta narasumber lainnya sangat membantu dirinya yang saat ini sedang aktif mencari pekerjaan (job seeker) [0:2.040, 0:2.041]. Pengetahuan tersebut memberikannya bekal mental yang baik untuk menghadapi dunia kerja nyata [0:2.041].
- Harapan ke Depan: Inayah menutup testimoninya dengan memberikan saran positif kepada panitia agar acara-acara serupa yang bermanfaat dan edukatif seperti ini bisa terus diadakan kembali di masa mendatang dengan konsep yang jauh lebih seru lagi [0:2.104, 0:2.111].
🎙️ 3. Testimoni dari Ilham (Siswa Kelas 11 SMA)
Ilham memberikan perspektif yang unik sebagai peserta yang paling muda di dalam ruangan tersebut [0:1.844]:
- Pengalaman Pertama yang Seru: Ilham menceritakan bahwa ini adalah pengalaman pertama kalinya ia menghadiri acara talk show komunitas seperti ini [0:2.146]. Meskipun masih berstatus sebagai siswa SMA kelas 11, ia menilai jalannya acara terasa sangat menyenangkan, seru, dan tidak membosankan [0:1.737, 0:2.146].
- Mendapatkan Banyak Ilmu: Ilham merasa mendapatkan banyak sekali tambahan ilmu baru yang inspiratif [0:2.153]. Ia juga sangat senang karena pertanyaan yang diajukannya mengenai rasa cemas terhadap AI dijawab dengan sangat baik oleh para narasumber [0:2.153, 0:2.201].
- Hadir Didampingi Ibu: Fakta menarik yang terungkap dalam testimoninya adalah Ilham datang ke acara talk show kampus UI ini ditemani langsung oleh ibunya yang ikut duduk di barisan audiens [0:2.201]. Kehadiran Ilham diapresiasi oleh pembawa acara dan Pak Gatot (founder BREED) sebagai wujud antusiasme belajar yang luar biasa sejak usia sekolah [0:2.047, 0:2.236].
Sesi testimoni ini diakhiri dengan penyerahan hadiah buku gratis secara simbolis dari sponsor Peri Plus dan Pak Muklis (penulis buku The Art of Heroic Leadership) kepada para peserta yang aktif [0:1.858, 0:1.874, 0:1.878].



